Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Prabowo yang Katanya Anti Asing, Pakai Asing, Lalu Diprotes Asing

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
13 Juni 2019
A A
prabowo anti asing MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Citra Pak Prabowo sebagai anti asing sudah sangat kuat. Malah pakai pendapat ahli asing. Lalu terakhir diprotes oleh si asing yang pendapatnya Bapak pakai. Duh!

Sidang gugatan hasil Pemilu 2019 di Mahkamah Konstitusi semakin dekat. Kubu Prabowo, dengan Bambang Widjojanto (BW) sebagai ujung tombak sempat memasukkan bukti tambahan di menit-menit akhir penutupan. Tepatnya 11 Juni 2019, bukti tambahan itu disetor oleh Denny Indrayana.

“Jadi kami melengkapi berkas sesuai hak konstitusional pemohon, yang memang diatur dalam Undang-Undang MK dan UU Pemilu,” kata Denny Indrayana waktu itu.

Melihat dokumen gugatan, di bagian petitum, pasangan Prabowo dan Sandiaga Uno menuntut tujuh hal kepada MK. Salah satu dari tujuh petitum tersebut adalah pasangan ini meminta MK mendiskualifikasi pasangan nomor urut 01 Joko Widodo dan Ma’ruf Amin sebagai peserta pemilihan presiden. Selanjutnya, MK menetapkan pasangan nomor urut 02 Presiden dan Wakil Presiden terpilih.

Berbagai kecurigaan disertai bukti mewarnai gugatan kubu 02. Salah satunya adalah kubu 02 mendapatkan nol suara di ribuan TPS. “Ada sekitar 5.268 TPS, di mana suara pemohon atau suara pasangan capres/cawapres 02 yang hanya berjumlah 0. Fakta ini merupakan hal yang mustahil tapi telah nyata terjadi dan hal tersebut menjelaskan adanya indikasi kuat terjadi kecurangan yang merugikan perolehan suara dari pemohon (bukti P-145),” demikian bunyi dalil gugatan yang ditandatangani oleh BW.

Tim Prabowo juga menuding KPU telah membuat TPS siluman hingga 2.984 buah. Hitungan itu didapat dari perbandingan TPS berdasarkan penetapan KPU dengan Situng KPU. Menengok surat KPU Nomor 860/PL.02.1-KPT/01/KPU/IV/2019, ada 810.352 TPS. Namun, dalam situng KPU, ada 813.336 TP di seluruh Indonesia.

Kubu 02 meminta MK menyatakan perolehan suara yang benar adalah Ir Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dapat 63.573.169 suara atau 48 persen dan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno dapat 68.650.239 suara atau 52 persen.

Hitungan KPU: pasangan 01 Jokowi dan Ma’ruf Amin 85.607.362 suara, sementara 02 sebanyak 68.650.239. Selisih suara sebanyak 16.957.123. “Menetapkan Pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih periode 2019-2024,” tuntut Prabowo.

Prabowo mengutip ahli asing untuk menuduh Jokowi itu Orba

Selain soal kecurangan itu, kubu 02 juga mengutip beberapa pendapat ahli. Pilihan ini dipilih untuk menggambarkan bahwa gaya pemerintahan Jokowi adalah otoriter seperti Orde Baru. Atas dasar tuduhan ini, Prabowo kembali meminta MK memerintahkan KPU untuk menetapkan dirinya sebagai presiden.

“Sejalan dengan pandangan bahwa pemerintahan Presiden Joko Widodo mempunyai gaya pendekatan otoritarian seperti Orde Baru adalah pendapat dari Tom Power, kandidat doktor dari Australian National University yang risetnya terkait dengan politik di Indonesia, termasuk gaya pemerintahan Joko Widodo.”

Menurut BW, hal itu tertuang dalam makalah Tom Power di konferensi tahunan ‘Indonesia Update’ di Canberra, Australia pada september 2018. Tom Power menyoroti hukum yang kembali digunakan oleh pemerintahan Jokowi untuk menyerang dan melemahkan lawan politik.

“Proteksi hukum juga ditawarkan sebagai barter kepada politisi yang mempunyai masalah hukum,” ujarnya. Proteksi lain, adalah menguatnya lagi pemikiran dwi fungsi militer. Hal-hal tersebut bagi Tom Power, adalah beberapa karakteristik otoritarian Orde Baru yang diadopsi oleh pemerintahan Jokowi.

Hmm…sebentar. Hati-hati Pak Prabowo, kalau pakai ahli asing untuk mendukung gugatan, pasti banyak yang nyinyir. Apalagi Pak Prabowo itu berhasil menciptakan citra kalau anti asing. Citra itu terbentuk dengan cepat ketika masa kampanye dan debat capres yang lalu.

Pasti banyak yang menyebut Bapak itu nggak konsisten. Bahkan sampai “ironi”: katanya benci, tapi pakai. Katanya anti, tapi menaruh hati. Apalagi netizen itu, Pak, terutama yang mendukung 01, nggak mau tahu kalau Bapak sebetulnya nggak anti asing. Ini lho, saya itu bukannya benci sama Bapak. Lha wong saya ingat kalimat Bapak, kok. Bunyinya begini kan:

Iklan

“Oh saya tidak anti, kita tidak anti asing, kita mau bersahabat dengan asing, tapi kita tidak mau dirampok, tidak mau dipecundangi asing,” kata Bapak suatu kali. Apalagi, Pak Hashim Djojohadikusumo, adik Bapak sendiri juga menegaskan kalau itu hanya hoaks saja. Bapak tidak pernah anti asing. Saya sih percaya saja, Pak. Tapi kan netizen di luar sana itu jahil betul. Nanti BPN perlu klarifikasi macam-macam lagi.

Saya cuma mau bilang kalau Bapak perlu hati-hati bikin narasi. Jangan sampai blunder. Kalau blunder, saya jadikan tulisan, nanti saya dikira Cebong. Sampai-sampai sudah ada yang ngirim email marah-marah ke saya karena nulis soal Bapak. Ya gimana ya, Bapak itu lucu, je. Sementara kubu Jokowi gitu-gitu aja, nggak blunder, lempeng. Nggak seru.

Prabowo diprotes asing

Oya, terakhir, Pak Prabowo. Hati-hati pakai kutipan. Itu kalau nggak komplet konteksnya, kutipan jadi nggak “berbunyi”, lho. Sudah konteks kutipan salah, pakai ahli asing lagi. Wah, komplet betul amunisi untuk menyerang Bapak.

Saya nggak mengada-ada lho. Lha wong Tom Power yang pendapatnya Bapak kutip itu marah-marah lho. Tom bilang kalau pendapatnya itu nggak kompatibel, nggak cocok dipakai sebagai materi penguat gugatan karena beda konteks. Naaahh kaaan, blunder maning.

Ini penjelasan Tom Power bahwa pendapatnya nggak cocok dipakai tim Prabowo.

Pertama, Tom Power menegaskan bahwa artikel yang ia tulis sama sekali tidak menyebut dan menunjukkan indikasi kecurangan pemilu. Artikel itu ditulis enam bulan sebelum coblosan.

“Kedua, sangat sulit sekali menyimpulkan bahwa tindakan pemerintahan Jokowi yang saya sebutkan bisa diterjemahkan sebagai bukti kecurangan pemilu yang masif dan terstruktur. Ketiga, saya sama sekali tidak mengatakan bahwa kualitas demokrasi di Indonesia akan lebih baik kalau Prabowo jadi presiden,” tegas Tom seperti dikutip oleh CNBC.

Penelitian Tom memang menunjukkan indikasi bahwa pemerintahan Jokowi menunjukkan sikap anti demokrasi. Namun, Tom tidak menyebut bahwa pemerintahan Jokowi adalah rezim otoriter. Apalagi mirip Orde Baru.

Bagi Tom, Prabowo menunjukkan indikasi kuat sejak 2014 ingin memukul mundur demokrasi Indonesia. Sementara itu, Jokowi makin menunjukkan kebijakan yang juga serampangan. Hmm…jadi ini soal lesser evil?

Begitulah, Pak Prabs. Citra bapak sebagai anti asing sudah sangat kuat. Malah pakai pendapat ahli asing. Lalu terakhir diprotes oleh si asing yang pendapatnya Bapak pakai. Duh, Pak. Hobi ya bikin blunder? Mending hobi filateli ja biar lebih namaste.

Terakhir diperbarui pada 13 Juni 2019 oleh

Tags: anti asingjokowiprabowo
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Kereta Cepat Whoosh DOSA Jokowi Paling Besar Tak Termaafkan MOJOK.CO
Esai

Whoosh Adalah Proyek Kereta Cepat yang Sudah Busuk Sebelum Mulai, Jadi Dosa Besar Jokowi yang Tidak Bisa Saya Maafkan

17 Oktober 2025
Hentikan MBG! Tiru Keputusan Sleman Pakai Duit Rakyat (Unsplash)
Pojokan

Saatnya Meniru Sleman: Mengalihkan MBG, Mengembalikan Duit Rakyat kepada Rakyat

19 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Nurul Fajriatussaadah, lulusan terbaik S2 di UIN Semarang

Dihina karena Hanya Anak Petani dari Pelosok Desa, Kini Berhasil Jadi Lulusan Terbaik S2 UIN Semarang berkat Doa Ayah

30 Maret 2026
Musik BTS bukan K-Pop. MOJOK.CO

Kisah Pembenci Musik K-Pop yang Hidupnya Terselamatkan oleh Lagu BTS: Mereka Itu Aslinya “Motivator Mental Health”

31 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Membuat ibu sangat menyayangi kucing padal awalnya sangat tak suka. Setelah memelihara malah merawat seperti anak sendiri dan sangat terpukul ketika si anabul mati MOJOK.CO

Ibu Jadi Sayang Kucing padahal Awalnya Benci: Dirawat Seperti Anak Sendiri, Terpukul dan Trauma saat Anabul Mati dalam Dekapan

27 Maret 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.