Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Polisi di Kediri Dilarang Berkumis demi Meningkatkan Pelayanan

Audian Laili oleh Audian Laili
20 Oktober 2019
A A
Polisi di Kediri Dilarang Memelihara Kumis dan Cambang untuk Meningkatkan Pelayanan MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Bersikap sopan dan baik saja sepertinya memang tidak cukup. Untuk dapat melayani masyarakat dengan lebih cihuy, polisi di Kediri nggak boleh memelihara kumis dan cambang. Apa hubungannya?

Pada beberapa pekerjaan, penampilan menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan. Oleh karena itu, gaya asal-asalan atau yang mungkin “aku banget”, nggak bisa diterapkan begitu saja dengan mudah. Apalagi kalau tampilan kita yang sebetulnya bisa jadi media mengekspresikan diri harus dibatasi dengan aturan demi terlihat profesional dalam pekerjaan. Biasanya sih, bersih, sopan, dan rapi menjadi template tampilan yang diminta. Alasannya sih, supaya bisa bikin nyaman orang-orang sekitar dan syukur-syukur bisa kelihatan kompeten.

Mungkin hal ini juga lah yang bikin Kepolisian Resor Kediri, Jawa Timur melarang para anggotanya untuk memelihara cambang dan kumis. Katanya sih, kalau anggotanya sampai kedapatan melanggar bakal diberi sanksi. Menurut Kepala sub Bagian Humas Polres Kediri, Iptu Purnoma, selama ini polisi memang tidak diperbolehkan memelihara cambang dan jenggot. Hanya saja, aturan tersebut hanya berlaku bagi anggota kepolisian yang berdinas dengan mengenakan seragam.

Meskipun aturan ini kelihatan “apa banget”, ternyata didasarkan oleh tujuan yang begitu tulus: Biar mereka bisa meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Harapannya sih, dengan tampilan wajah yang bersih dari bulu bisa menciptakan rasa nyaman bagi masyarakat. Wow! Benarkah begitu?

Oke, mungkin sebagian orang memang nyaman dengan tampilan polisi yang tanpa kumis atau cambang. Tapi, tapi, percayalah nggak semua orang berpikir seperti itu. Fyi, banyak orang yang justru terlihat lebih kece dan bikin nyaman dilihat dengan kumisnya. Sebaliknya, ia malah jadi kelihatan aneh kalau kumis atau cambangnya dicukur. Jadi, menghilangkan kumis atau cambang (((demi meningkatkan pelayanan kepada masyarakat))) kok agak sulit untuk dipahami, ya?

Misalnya saja kayak teman dekat saya. Setiap kali dia mencukur kumisnya, saya justru jadi geli-geli sendiri ngelihatnya. Sungguh nggak pantes, blas! Bukannya terlihat lebih ramah dan bikin nyaman, dia malah jadi terlihat seperti lelaki polos yang masih duduk di bangku SMA. Dan karena memang pada dasarnya teman saya ini tipe orang yang gampang bete-an, meski kumis sudah dicukur habis, tetap saja aura ramah tak terpancar sama sekali.

Lagian nih, ya, daripada ribet-ribet ngurusin kumis dan cambang anggota kepolisian untuk meningkatkan pelayanan. Kenapa kok nggak ngurusin suatu hal yang lebih substansial lainnya? Misalnya, kayak ngatur dengan lebih serius “kelakuan” para anggota kepolisian ini saat berhadapan langsung dengan masyarakat.

Memang sih, dengan meniadakan kumis atau cambang bisa meminimalisir muka-muka gahar dan seram para anggota kepolisian. Jadi, (((mungkin))) sikap yang lebih ramah bisa lebih terasa. Akan tetapi, kalau hal ini nggak dibarengi dengan perilaku yang memang betul-betul pengin bersikap ramah, kan ya sama aja. Terus, apa gunanya tampilan fisik yang katanya untuk meningkatkan pelayanan kalau sikap tetap saja menunjukkan jarak? Lantas masih saja memunculkan kesan kalau kita selalu menjadi “pihak bersalah” saat berhadapan dengan mereka?

Begini loh, tampilan fisik yang serapi, sebersih apa pun, atau berusaha untuk kelihatan ramah bagaimana pun juga. Kalau dasarnya memang kesulitan untuk ramah dan mengambil jarak, ya yang dirasakan oleh masyarakat yang dilayani bakal gitu juga. Mohon maaf nih, kehangatan sikap itu nggak bisa dirasakan dengan polesan tampilan fisik semata~

BACA JUGA Jika Ada Sulam Alis, Mengapa Tidak Ada Sulam Kumis? atau artikel Audian Laili lainnya.

 

Terakhir diperbarui pada 20 Oktober 2019 oleh

Tags: cambangkumispelayanan masyarakatpolisi di kediri
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

jumat curhat mojok.co
Hukum

Polda dan Polres Gelar ‘Jumat Curhat’ untuk Wadah Uneg-uneg Warga

1 Februari 2023
perempuan berkumis mojok.co
Uneg-uneg

Stigma tentang ‘Perempuan Berkumis’ yang Mengganggu

27 November 2022
Dukcapil mojok.co
Liputan

Mungkinkah Dukcapil Buka Sampai Malam dan di Akhir Pekan?

30 November 2021
adam suseno
Kilas

Potong Kumis Adam Suseno yang Ternyata Bagian dari Iklan GoPay Indonesia

21 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

24 Maret 2026
Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur MOJOK.CO

Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

25 Maret 2026
Pekerja Jakarta WFH demi hemat BBM

Wacana WFH 1 Hari: Kesempatan Pekerja Kantoran Jakarta “Multitasking” dan Kabur WFC, padahal Tak Boleh Keluar Rumah

25 Maret 2026
Kerja WFH - WFA dengan kantor di Jakarta Barat. Awalnya enak karena slow living, ternyata menjebak MOJOK.CO

Tergiur Kerja WFH WFA karena Tampak Enak dan Slow Living tapi Ternyata Menjebak: Gaji, Skill, dan Karier Mentok

27 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Pintu timur Stasiun Tugu Jogja, titik keberangkatan kereta api terbaik dibandingkan Stasiun Lempuyangan

Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan

27 Maret 2026

Video Terbaru

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026
Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

Hantu Jawa dalam Naskah Kuno dan Maknanya di Zaman Modern

26 Maret 2026
Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

Tirta Aji Mulih Deso: Pemancingan Ikan Predator dengan Sistem Catch and Release (CNR)

23 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.