Lebih nggak punya hati
Entah sudah berapa banyak saya menerima curhatan dari kawan-kawan yang bekerja di Jakarta. Kebanyakan dari mereka mengeluhkan hubungan antara pekerja maupun atasan yang seolah-olah nggak punya hati. Teguran bisa disampaikan secara terbuka dan tidak pandang bulu. Pemilihan katanya bisa begitu menyakitkan. “Sikut-sikutan” demi jabatan atau kesempatan jadi hal yang biasa.
Sungguh situasi kerja yang kurang ideal, terutama bagi mereka orang-orang Jogja yang terbiasa nggak enakan atau pekewuh. Melihat, atau bahkan mengalami langsung peristiwa semacam itu, benar-benar menguras hati dan energi.
Baca juga 4 Oleh-Oleh Khas Malioboro Jogja yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Membeli.
Pada akhirnya, banyak dari kawan saya yang menyesuikan dengan lingkungan kerjanya. Membuang jauh-jauh “baper” dan bekerja sesuai dengan jobdesc. Di satu sisi, mode kerja semacam ini baik karena pekerjaan jadi cepat selesai dan tidak perlu banyak drama.
Di sisi lain, mereka yang sulit menyesuaikan diri menemukan pola kerja semacam ini sungguh melelahkan. Tidak sedikit yang akhirnya memutuskan pindah tempat kerja atau pulang ke Jogja demi jiwa yang lebih waras. Di samping kehidupan di Jakarta juga keras. Iya, tidak semua orang cocok dengan macetnya Jakarta atau sesaknya KRL. Mau dibayar
Sekali lagi, tulisan ini tidak bermaksud membandingkan kerja di Jakarta atau Jogja yang lebih mending. Hanya saja setiap tempat punya tantangannya masing-masing. Dan, pastikan kalian siap sebelum benar-benar nyemplung ke dalamnya. Tidak hanya soal lingkungan kerja, pastikan juga kalian siap dengan kehidupan Jakarta. Terlebih kalau sehari-hari kalian menggunakan transportasi publik atau menempuh perjalanan jauh. Kata teman saya, jalanan Jakarta benar-benar lain level dengan jalanan Jogja. Saya pun setuju soal itu.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Rawa Belong Jakarta Barat Bikin Orang Kabupaten seperti Saya Nggak Takut Merantau di Ibu Kota dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.













