Saya percaya kuliner bisa membuat seseorang betah merantau di suatu daerah. Setidaknya itulah yang saya rasakan ketika merantau ke Jakarta dari Jogja. Sebenarnya, lidah saya itu nggak rewel, saya hampir bisa menyantap berbagai jenis makanan alias semua doyan. Dan, di Jakarta banyak pilihan makanan yang sesuai dengan palet lidah Jogja yang cenderung suka rasa manis ini. Mungkin itu mengapa saya betah bertahun-tahun hidup di sana.
Hanya satu hal yang bikin saya syok dan tidak kunjung terbiasa saat merantau ke Ibu Kota: tidak sarapan soto bening. Saya ingat-ingat kembali, selama bertahun-tahun merantau, tidak pernah sekalipun saya sarapan soto bening di Jakarta. Pertama, sulit menemukan penjual soto di pagi hari, sepertinya sarapan soto bukanlah budaya orang Jakarta. Kedua, sekalipun ada penjual soto, biasanya soto yang dijajakan bukan soto bening. Susah banget cari soto bening enak di Jakarta!
Orang Jakarta sarapan mi ayam, bukan soto bening!
Awal merantau saya kaget karena jarang ada penjual soto di pagi hari. Kebanyakan penjual menjajakan bubur ayam Jakarta dan mi ayam. Sarapan bubur ayam mungkin masih masuk akal, tapi tidak dengan sarapan mi ayam.
Di lidah saya, dan mungkin banyak orang Jogja lain, mi ayam untuk sarapan itu terlalu berat. Rasanya terlalu kompleks untuk memulai hari. Selain itu, mi ayam terlalu mengenyangkan. Bukannya bertenaga di pagi hari, mi ayam membuat badan jadi malas untuk melakukan banyak hal karena terlalu mengenyangkan.
Berbeda dengan soto bening. Makanan ini memang mengandung nasi di dalamnya, tapi pembeli bisa request untuk menguranginya kalau memang dirasa terlalu banyak. Dengan kata lain, menu sarapan ini bisa menyesuaikan kebutuhan perut pembeli. Terlebih kuah beningnya memberikan sensai segar yang pas untuk memulai hari.
Bagi saya, mi ayam lebih pas untuk makan siang. Makanan mengenyangkan dengan rasa kompleks dan topping beragam lebih cocok untuk mengembalikan energi yang sudah terpakai untuk bekerja. Belum lagi kuahnya yang panas dan segar bisa bikin mata kembali melek setelah setengah hari bekerja.
Itu mengapa, sarapan mi ayam masih saja aneh di lidah saya walau sudah bertahun-tahun merantau ke Jakarta.
Tidak ada soto bening enak
Ada begitu banyak pilihan soto bening enak di Jogja. Misalnya, Soto Ngadiran, Soto Pak Parno, Soto Pak Min, Soto Pak Soleh, Soto Bathok, hingga Soto Bu Cip yang jadi langganan artis ibu kota Dian Sastro. Bahkan, soto-soto bening belum terkenal yang ada di pinggir jalan pun biasanya juga enak.
Itu mengapa, sebelum merantau saya merasa sarapan soto bening adalah hal lumrah. Namun, setelah tinggal di Jakarta, sarapan soto bening enak jadi suatu kemewahan tersendiri. Sebab, tidak banyak pilihan soto bening enak di Jakarta.
Mayoritas penjual menyajikan soto Lamongan atau soto Bogor. Saya pernah mencoba menyantapnya, dan di lidah saya rasanya terlalu kompleks dan berat, tidak memberikan kesegaran. Soto semacam ini juga tidak cocok untuk memulai hari.
Saya kira, kesulitan menemukan soto bening enak di Jakarta jadi keresahan saya sendiri. Ternyata, teman-teman lain yang berasal dari Jogja dan Jawa Tengah seperti Solo dan Boyolali juga merasakannya. Kasta soto bening yang “menggoyang” lidah masih ditempati oleh warung-warung yang ada di Jogja dan Jawa Tengah.
Itu mengapa, dahulu, ketika saya pulang kampung (pulkam) ke Jogja, hal pertama yang akan saya lakukan adalah sarapan soto. Sebab, saya tahu, ketika balik ke Jakarta, akan sulit mendapatkan pengalaman ini lagi ketika merantau. Bisa jadi saya kurang eksplore atau mainnya kurang jauh selama merantau di Jakarta. Namun, itulah yang saya rasakan. Itu mengapa, buat teman-teman yang tahu soto bening enak di Jakarta, tolong rekomendasikan agar bisa jadi panduan bagi para perantau Jogja di Ibu Kota lainnya.
Penulis: Kenia Intan
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA Penyesalan Pindah Kerja dari Jakarta ke Jogja: Selain Gaji Kecil, Budaya Pekewuh Ternyata Memperlambat Kerjaan dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.
