Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mengenal Herd Immunity dan Risikonya yang Seram

Ajeng Rizka oleh Ajeng Rizka
3 April 2020
A A
flu.mojok.co

Ilustrasi penyebaran flu (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Meski terdengar keren dan sering dipakai pejabat, herd immunity adalah sebuah istilah yang juga menyimpan kengerian. Katanya ini bisa menghentikan pandemi corona, tapi….

“Jumlah PDP di Jatim sampai hari ini tetap 420 orang, semoga menjadi tanda-tanda herd immunity atau kekebalan kawanan” kata Khofifah Indar Parawansa pada wawancara Liputan 6 (1/4).

Istilah herd immunity kemudian kian dicari banyak orang. Belum banyak yang tahu bahwa istilah ini bukan gambaran sederhana ketika sebuah virus tidak lagi bisa menyerang manusia, namun tetap ada risiko yang cukup seram di baliknya. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskannya sesederhana mungkin.

Andai ini adalah sebuah peperangan antara manusia melawan COVID-19, kita sedang bertarung habis-habisan. Kita yang mati atau virus corona yang mati. Bedanya, medan perangnya adalah tubuh kita. Virus akan berkembang biak dengan membabi buta sampai tubuh kita hilang fungsi kemudian mati, sebagian virus lain bertugas mencari tubuh lain dan menyebar, begitu terus sampai manusia punah. Iya, punah.

Tapi, tubuh kita bukan nggak bisa melakukan perlawanan apa pun. Kita punya antibodi, sistem kekebalan tubuh adalah tentara perang sesungguhnya. Mereka bakal bertarung melawan virus corona. Sebagian besar dari antibodi akan mati. Jika sistem kekebalan tubuh kita kuat, maka memori soal taktik serangan corona akan diingat, sementara sistem kekebalan tubuh yang tersisa sudah belajar dari kekalahan dan membentuk tameng yang akan membuat serangan virus tak lagi mempan. Alih-alih menyerang, virus corona justru akan dimatikan.

Hasilnya, kita yang akan menang dalam melawan corona. Tubuh menjadi kebal terhadap virus corona, si kurang ajar.

Jika sudah cukup banyak orang yang terjangkit virus dan menang, maka herd immunity akan terbentuk. Secara praktis herd immunity adalah sistem kekebalan kelompok. Bukan lagi individu yang akan kebal corona, namun hampir sebagian orang sudah nggak akan mempan sama serangan virus ini. Virus bakal kehilangan arah, mereka akan mati di medan perang yang mana itu adalah tubuh-tubuh orang yang sudah kebal.

Perlahan jumlah virus berkurang, secara bertahap virus corona bakal punah. Iya, mereka yang punah.

Masalahnya, kita tidak akan pernah tahu siapa orang yang punya sistem kekebalan tubuh bagus dan mampu bertahan, dan siapa orang yang justru bakal tewas saat tubuhnya tak mampu lagi berperang. Ingat, bahwa bukan hanya orang dengan usia renta dan punya penyakit bawaan aja yang rentan psoitif COVID-19. Usia dan kesehatan bukanlah faktor mutlak yang bisa menentukan seberapa kuat sistem kekebalan tubuh kita.

Berbagai ahli kesehatan dan berbagai sumber mengatakan bahwa herd immunity akan terbentuk setelah 60% populasi manusia sudah terserang COVID-19, ada juga yang mengatakan syaratnya butuh 80% populasi. Berapa pun persentasenya, yang jelas butuh banyak, saya ulangi, b-a-n-y-a-k orang agar mereka terinfeksi virus corona dulu.

Pada kasus flu Spanyol 1918, manusia terpaksa menjalani langkah-langkah agar herd immunity terbentuk. Ini adalah usaha terakhir, mengerahkan tubuh manusia untuk memerangi virus secara alami. Upaya ini ditempuh ketika manusia tidak bisa menciptakan vaksin dan pencegahan gagal dilakukan. Menjaga kebersihan, hingga disinfektan memang sudah diberikan  ketika itu, namun tidak bisa menyeluruh karena berbagai kendala.

Akibatnya sepertiga populasi manusia atau sekitar 500 juta manusia terpaksa terinfeksi virus ini dan menyebabkan sekitar 50 juta orang di antaranya meninggal. Herd immunity memang terbentuk, tapi sebagian orang yang tidak kuat akan tumbang terlebih dahulu. Rumah sakit akan dipenuhi orang-orang sakit, tenaga kesehatan berisiko tinggi tertular, dan… yang menyedihkan kita perlu mempersiapkan lebih banyak lahan kuburan.

Mari kita membuat perkiraan coba-coba tentang herd immunity untuk virus corona di Indonesia.

Jika dikatakan bahwa 60% populasi harus terinfeksi, maka dari jumlah 271 juta penduduk (proyeksi 2020), sekitar 162 juta orang Indonesia harus positif COVID-19. Dari sekian banyak, kita andaikkan 10% di antaranya butuh perawatan intensif di rumah sakit atau minimal menjalani isolasi. Maka 16,2 juta ranjang harus disediakan rumah sakit dengan jumlah tenaga kesehatan yang jugaharus disesuaikan.

Iklan

Menilik persentase kematian virus corona di Indonesia yang mencapai 8,9% dari jumlah positif COVID-19 saat ini, jika dihitung maka….

Lebih dari 14 juta kematian akan kita hadapi.

Namun tetap saja angka di atas hanya perkiraan hitung kasar yang kita semua berharap nggak akan jadi kenyataan. Semoga herd immunity bukanlah pilihan untuk ditempuh, karena rasanya kayak dark jokes April Mop. Jujur saja saya nggak tega membiarkan mereka yang kekebalan tubuhnya lemah ‘dikorbankan’ demi kita yang kuat.

Pola pembentukan herd immunity atau kekebalan kelompok memang bisa memenangkan umat manusia dalam perang melawan corona. Tapi sayang, akan banyak darah yang tumpah dan dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuatnya terwujud.

Menjalani swakarantina dengan pembatasan interaksi sosial udah paling benar bakal menolong kita selain juga menjalankan ketelitian untuk menjaga kebersihan badan. Sementara itu, kita tunggu ahli selesai melakukan uji coba terhadap temuan vaksinnya.

BACA JUGA Berbagai Prediksi Ahli tentang Kapan Berakhirnya Pandemi Corona atau artikel lainnya di POJOKAN. 

Terakhir diperbarui pada 3 April 2020 oleh

Tags: herd immunitypandemivirus corona
Ajeng Rizka

Ajeng Rizka

Penulis, penonton, dan buruh media.

Artikel Terkait

Subvarian XBB Sudah Terdeteksi di Indonesia Mojok.co
Kesehatan

Subvarian Omicron XBB yang Bikin Singapura Kewalahan Sudah Ditemukan di Indonesia

25 Oktober 2022
bakteri superbug mojok.co
Kesehatan

Superbug, Penyakit Kebal Antibiotik yang Menyerang India

17 Oktober 2022
endemi mojok.co
Kesehatan

Siap-siap, DIY Bakal Terapkan Endemi

20 September 2022
who mojok.co
Kesehatan

WHO: Anggapan Bahwa Pandemi Usai Salah dan Bisa Picu Risiko Baru

20 Juni 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

26 Februari 2026
lulusan LPDP, susah cari kerja.MOJOK.CO

Curhatan Alumni LPDP yang Merasa “Downgrade” Ketika Balik ke Indonesia, Susah Cari Kerja Hingga Banting Setir demi Bertahan Hidup

23 Februari 2026
Mie ayam surabaya untuk quality time. MOJOK.CO

Makan Mie Ayam, “Quality Time” Orang Surabaya dan Balas Dendam Terbaik untuk Melampiaskan Getirnya Hidup

25 Februari 2026
Pakai hp android Samsung S26 terintimidasi user iPhone. Tapi tak berpaling karena Samsung lebih berguna dari iPhone yang hanya memperdaya pengguna MOJOK.CO

Pakai Samsung Terintimidasi User iPhone, Tak Berpaling karena Lebih Berguna dari iPhone yang Memperdaya Penggunanya

26 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Innova Reborn Terlahir Jadi Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas (Wikimedia Commons)

Innova Reborn Bikin Orang Lupa Diri karena Ia Mobilnya Orang Bodoh dan Pemalas

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.