Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Mendukung Langkah KPK Menggandeng Napi Koruptor dalam Program Penyuluhan Antikorupsi

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
23 Agustus 2021
A A
Mendukung Langkah KPK Menggandeng Napi Koruptor dalam Program Penyuluhan Antikorupsi

koruptor

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Rencana KPK melibatkan napi koruptor sebagai bagian dari program penyuluhan antikorupsi sudah selayaknya didukung dan diapresiasi

Dalam urusan hukum, Indonesia adalah negeri yang lucu. Karena itulah, selalu terselip kelucuan-kelucuan dalam setiap upaya penegakan hukum yang terjadi di Indonesia.

Di Indonesia ini, seperti yang kita tahu, ketika seseorang melakukan pelanggaran hukum, maka dirinya punya kesempatan besar untuk menjadi duta hukum itu sendiri.

Diawali dari Zaskia Gotik yang pernah tersandung kasus pelecehan lambang negara yang kelak justru diangkat menjadi duta Pancasila. Lalu ada Sonya Depari, siswi yang merayakan kelulusan dengan pawai ugal-ugalan dan sempat membentak polwan dan mengaku sebagai anak Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Irjen Arman Depari yang kemudian diangkat sebagai duta antinarkoba, lalu ada Marwan, lelaki yang kedapatan berkendara dengan duduk bersila dan lepas tangan di Pondok Aren yang belakangan justru dinobatkan sebagai duta keselamatan lalu lintas.

Tak ketinggalan sosok Putu Arimbawa, lelaki yang menghina para pengunjung mal yang pakai masker dengan sebutan tolol yang ternyata justru diangkat menjadi duta prokes, atau remaja Nawir yang mengusir jemaah bermasker di Masjid Al-Amanah, Bekasi, yang kemudian diangkat sebagai duta masker.

Entah apa salah Akhdiyat Duta Modjo terhadap band Sheila on 7 itu sehingga ia kemudian dikenal sebagai Duta Sheila on 7.

Dengan rekam jejak seperti itu, maka bukan hal yang mengherankan jika kemudian muncul berita tentang Komisi Pemberantasan Korupsi yang berencana akan menggandeng para narapidana kasus korupsi untuk ikut serta dalam kegiatan penyuluhan antikorupsi.

Dis! Loker ngab pic.twitter.com/fxbDkIsPGu

— AREA JULID (@AREAJULID) August 22, 2021

Deputi Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat KPK, Wawan Wardiana, menyatakan bahwa saat ini, KPK memang tengah menyeleksi para napi korupsi untuk bisa digandeng dalam kegiatan penyuluhan antikorupsi.

Di media sosial, respons orang-orang tentu saja mengejek dan menghujat apa yang dilakukan oleh KPK tersebut. Kepanjangan KPK yang Komisi Pemberantasan Korupsi sampai diplesetkan menjadi Komisi Perekrutan Korupsi.

Pelaksana tugas (Plt) Jubir KPK bidang Pencegahan, Ipi Maryati Kuding menyatakan bahwa pihaknya tidak merekrut para napi koruptor, melainkan melibatkan mereka dalam usaha pencegahan dan pemberantasan korupsi.

“Seluruh masyarakat dapat berperan serta memberantas korupsi sesuai dengan kapasitas masing-masing, termasuk mantan narapidana korupsi,” terangnya kepada Liputan6.

Walau terkesan lucu dan menyebalkan, namun saya pribadi mendukung penuh langkah KPK dalam perekrutan, eh, pelibatan napi korupsi dalam kegiatan penyuluhan antikorupsi itu.

Ada beberapa alasan kenapa mereka, para napi korupsi ini memang layak dilibatkan dalam program KPK itu.

Iklan

Menciptakan koruptor berprestasi

Korupsi bukanlah kejahatan biasa. Ia adalah kejahatan yang terstruktur, kejahatan yang membutuhkan intelektualitas. Ia kejahatan yang melibatkan kesetiakawanan, kesempatan, kekuasaan, kedegilan, ketegaan, kemanusiaan, bahkan sampai kebangsaan. Ia tak layak disamakan dengan kejahatan maling ayam, misalnya, yang murni hanya butuh keberanian.

Karena itulah, pelaku kejahatan ini, selain berhak mendapatkan hukuman, juga layak mendapatkan semacam pengakuan apresiasi atas kejahatan mereka.

Nah, pelibatan para koruptor ini bisa menjadi bentuk apresiasi yang paling masuk akal. Bayangkan, dari 50 napi korupsi di Lapas Sukamiskin dan Lapas Tangerang, hanya 7 napi korupsi yang layak dilibatkan menjadi penyuluh antikorupsi. Ini bukti bahwa bisa menjadi penyuluh antikorupsi bukanlah prestasi yang main-main.

Hal ini tentu bisa menjadi sedikit kebanggaan bagi para koruptor terhadap anak-anak mereka.

“Dulu, walau bapak jadi koruptor, tapi setidaknya, bapakmu ini terpilih menjadi koruptor berprestasi, koruptor yang juga ikut dalam usaha pencegahan dan pemberantasan korupsi, Nak.”

“Wah, hebat banget, aku jadi semakin bangga sama ayah.”

Penerapan jenjang karier

Dalam hierarki jabatan, banyak pekerjaan yang memang mempunyai jenjang karier. Nah, koruptor penyuluh ini tentu bisa menjadi alternatif jenjang karier bagi para koruptor.

Dengan menjadi seorang penyuluh antikorupsi, diharapkan, para koruptor ini nantinya bisa berkarya di bidang lain yang masih ada hubungannya dengan penyuluhan. Bisa penyuluh pertanian khusus penggunaan obat anti-wereng, penyuluh program pembibitan lele, penyuluh vaksinasi Covid-19, atau penyuluh sosialisasi penggunaan kondom sebagai bagian dari program Keluarga Berencana.

Ini bisa menjadi harapan yang baik bagi para koruptor terpilih. Nomor kontak mereka yang mungkin disimpan oleh kawan mereka dengan nama “Yanto koruptor” misalnya, setidaknya bisa perlahan diubah menjadi “Yanto lele” atau “Yanto kondom”

Semua manusia berhak menjadi teladan

Menjadi teladan adalah hal baik yang seharusnya bisa dilakukan oleh semua orang. Maka, dipilih menjadi seorang penyuluh antikorupsi bisa menjadi kesempatan yang baik bagi mereka, para koruptor, yang walaupun budi pekerti dan kelakuannya seperti tahi, namun mereka tetap bisa menjadi contoh.

Tentu bukan sebagai contoh yang baik, namun tetap saja itu contoh.

Ada kalanya, orang tua butuh memberikan petuah pada anaknya bukan hanya dengan “Nak, besok kalau sudah gedhe, belajarlah yang pinter, biar bisa bermanfaat seperti bapak itu”, tapi juga dengan “Nak, besok kalau sudah gedhe, sering-sering ngaji ya, biar akhlak dan kelakuanmu tidak busuk seperti bapak itu.”

BACA JUGA Saya Meyakini Kasus Korupsi Edhy dan Juliari Memang Sudah Didesain oleh Jokowi dan tulisan AGUS MULYADI lainnya.

Terakhir diperbarui pada 23 Agustus 2021 oleh

Tags: korupsiKoruptorKPK
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

korupsi bikin buruh menderita. MOJOK.CO
Aktual

Korupsi, Pangkal Penderitaan Buruh dan Penghambat Penciptaan Lapangan Kerja

9 Desember 2025
bantul, korupsi politik, budaya korupsi.MOJOK.CO
Ragam

Budaya Korupsi di Indonesia Mengakar karena Warga “Belajar” dari Pemerintahnya

16 September 2025
nadiem makarim, pendidikan indonesia, revolusi 4.0.MOJOK.CO
Aktual

Kasus Nadiem Makarim Menunjukkan Kalau Lembaga Pendidikan Sudah Jadi “Inkubator Koruptor”

8 September 2025
Dear, Prabowo: Koruptor Itu Dikasih Efek Jera, Bukan Malah Diampuni.MOJOK.CO
Aktual

Dear, Prabowo: Koruptor Itu Dikasih Efek Jera, Bukan Malah Diampuni

2 Januari 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jombang itu kota serba nanggung MOJOK.CO

Jombang Kota Serba Nanggung yang Bikin Perantau Bingung: Menggoda karena Tenteram, Tapi Terlalu Seret buat Hidup

12 Januari 2026
Ngerinya jalan raya Pantura Rembang di musim hujan MOJOK.CO

Jalan Pantura Rembang di Musim Hujan adalah Petaka bagi Pengendara Motor, Keselamatan Terancam dari Banyak Sisi

12 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
Ilustrasi Honda Beat Motor Sial: Simbol Kemiskinan dan Kaum Tertindas (Shutterstock)

Pengalaman Saya Menyiksa Honda Beat di Perjalanan dari Jogja Menuju Solo lalu Balik Lagi Berakhir kena Instant Karma

7 Januari 2026
Resign kerja di Jakarta pilih di Bali. MOJOK.CO

Baru Satu Tahun Kerja di BUMN, Pilih Resign karena Nggak Kuat “Ugal-ugalan” di Jakarta sampai Temukan Peluang Karier Lebih Baik di Bali

6 Januari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.