Analisis dangkal, tapi masuk akal
Suatu kali saya dan Wisnu pernah makan rawon, salah satu makanan khas Jawa Timur, berdua saja di Taman Bungkul, Surabaya. Momennya memang pas. Saya sedang ke Surabaya dan dia mudik dari Jogja. Kami janjian di Rawon Kalkulator yang terkenal itu. Iya, memang bukan rawon terbaik, tapi masih enak kok buat lidah Jogja saya.
Salah satu topik obrolan kami adalah berusaha menjawab pertanyaan ini: “Kenapa rata-rata bebek dan semua makanan khas Jawa Timur yang ada di Jatim itu enak semua?”
Wisnu yang pertama membuat analisis, yang kami sama-sama tahu, pasti dangkal. Maklum, kami ini sebatas penikmat, bukan ahli kuliner.
Jadi, kalau soal bebek, adalah Surabaya dan Madura yang merajai. Kenapa begitu? Mungkin, kata Wisnu: “Orang Surabaya dan Madura itu kayaknya sama kalau soal gengsi. Jelas gengsi kalau makanan yang mereka sajikan itu kalah enak.”
Maka, yang terjadi kemudian adalah “pemerataan rasa enak” di mana sebagai orang Jogja, saya sangat bersyukur. Dulu, saya dan istri itu hanya tahu kalau mau makan bebek enak ya ke Bebek Purnama. Namun, hanya dalam beberapa bulan, kami belajar bahwa semua warung bebek itu rata-rata enak.
Bagi saya juga, analisis dangkal dari Wisnu ini sudah cukup masuk akal. Sebagian orang Jawa Timur dan Madura yang saya kenal di Jogja memang begitu. Gengsi mereka besar dan berdaya saing. Meski terlihat santai dan kerjaannya ngopi saja, tapi pekerjaan mereka pasti beres dan terbilang bagus.
BACA JUGA: 4 Makanan Khas Jawa Timur yang Sebaiknya Nggak Buru-buru Ditawarkan pada Teman Bulemu
Berharap di Jogja lahir makanan khas Jawa Timur yang “konsisten”
Warung rawon, sebagai salah satu makanan khas Jawa Timur, di Jogja itu ada banyak. Salah satu yang masih terbilang baru ada di Jalan Magelang, tepatnya di halaman parkir toko pakaian De Kosmo. Namanya Kedai Rawon Bergelora. Ulasan yang saya temui di media sosial terbilang bagus.
Namun, nasib rawon di Jogja ya sama seperti bebek. Nggak semua enak, banyak yang jauh di bawah standar sebagai makanan khas Jawa Timur. Wisnu, sebagai orang Surabaya yang resah, pernah punya cita-cita mulia.
Dia pernah ingin membuka sebuah food court di Jogja. Isinya adalah parade makanan khas Jawa Timur. Wisnu yakin usahanya ini akan ramai karena banyak orang Jogja “tersiksa” oleh makanan khas-nya sendiri. Banyak yang suka asin, gurih, dan pedas. Saya sendiri termasuk di sana.
Namun, cita-citanya mentok di dana dan ilmu pengetahuan. Kembali lagi, kami ini penikmat, bukan ahli kuliner. Oleh sebab itu, hanya di momen mudik Lebaran, lidah Wisnu bisa menuntaskan rasa kangen kepada bebek goreng.
Saat artikel ini tayang, Wisnu sudah mudik ke Surabaya. Saya yakin, dia nggak akan nunggu waktu lama untuk segera mengganyang bebek dan rawon.
Kadang saya ingin titip bungkus sambal di Bebek Purnama yang pedasnya paripurna itu. Namun, kok nggak mungkin kalau titip cuma sambalnya saja.
Ah, sebagai orang Jogja, saya jadi pengin merasakan mudik. Berburu makanan khas dan memuaskan dahaga rindu. Seperti kawan saya si omnivora satu itu, mudik ke Surabaya untuk kangen-kangenan dengan makanan khas Jawa Timur.
Penulis: Yamadipati Seno
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 3 Makanan Khas Jawa Timur Paling Red Flag, Cukup Sekali Dicoba atau Sekalian Nggak Usah Dicoba Sama Sekali dan pengalaman menarik lainnya di rubrik POJOKAN.













