Lebaran tahun ini begitu hambar. Tak ada senyum yang benar-benar terpancar, tak ada kabar yang benar-benar baik, tak ada yang tiba-tiba sejahtera, dan paling jelas, tak ada kebahagiaan yang benar-benar terpampang nyata. Yang tak berbeda dari sebelumnya hanyalah harga-harga yang naik tanpa nalar, sedangkan pondasinya sudah kelewat ambyar.
Salah satu saudara kemarin berkunjung ke rumah Ibu, dan cerita kalau bosnya bangkrut, yang bikin dia 3 bulan menganggur tak ada penghasilan. Padahal, dia bekerja sebagai jagal sapi. Di masa-masa yang normal, dia biasanya mengeluh kurang tidur karena permintaan memotong sapi meningkat secara signifikan menuju Lebaran. Tahun ini, tidak ada yang dia potong selain kesedihan-kesedihan yang menghampiri.
Tahun ini juga, Bapak saya tidak berani menaikkan harga rental mobil secara signifikan di Lebaran, karena beliau berpikir di masa daya beli yang hancur-hancuran, rasanya tak elok tetap aji mumpung. Hapenya memang berdering kencang terus-terusan karena sepertinya, hanya beliau yang cukup gila tidak menaikkan harga di masa seperti ini, tapi apa mau dikata, mobil hanya satu saja.
Tiap orang yang berkunjung ke rumah orang tua saya, semua berbagi kesedihan yang sama. Saya yang sempat mengeluh kenapa THR saya tersisa hanya setengah, jadi mengucap syukur. Di sisi lain, saya benar-benar trenyuh, karena Lebaran, saya kira, haruslah tentang kebahagiaan. Sedangkan kali ini, justru tentang kesedihan hari ini dan kegelisahan akan apa yang ada di depan.
BACA JUGA: Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer
Lebaran yang biasa saja
Tapi memang saya sudah mengira bahwa tahun ini adalah tahun yang biasa saja. Kecuali war tiket KAI sebelum Ramadan, hampir-hampir tak ada berita atau persiapan tentang mudik yang muncul di berita. Seakan-akan, segala tentang mudik ini tidak muncul di perencanaan mana pun.
Kantor saya memang sudah memberikan informasi hari libur jauh hari, sepertinya malah di minggu awal Ramadan. Tapi kantor-kantor lain, bahkan belum membicarakan itu. Apalagi pemerintah, yang saya anggap pemegang palu paling sakti untuk memutuskan apa pun. Tidak ada berita berarti, tidak ada perdebatan berarti.
Kalau ada kabar yang muncul, justru tentang sembako yang harganya gila-gilaan. Saya sempat misuh-misuh perkara harga daging ayam yang menyentuh 45 ribu sekilo. Ya saya masih bisa beli, tapi kalau hanya untuk makan ayam saja semahal itu, apalagi makan yang lain. Bagi saya pribadi, daging ayam adalah bahan makanan yang wajib bisa dibeli oleh orang dengan penghasilan paling minim. Kalau kelas menengah (yang bisa terpeleset miskin kapan saja) saja misuh-misuh, apalagi yang di bawah?
Jadinya Lebaran kali ini, bagi saya, adalah pengingat bahwa masa gelap baru merangkak menuju puncak, esok hari, bisa jadi belum cerah. Ibaratnya, kita masih di jam 11 malam, masih jauh menuju subuh, itu pun belum tentu sejam kemudian, kita melihat semburat matahari.
Bersyukur
Di masa saya masih anak-anak, saya menunggu Lebaran karena saya bisa dapat uang banyak. Bisa bertemu sanak saudara yang hanya bisa saya temui paling banter 2 kali setahun. Begitu dewasa, sebenarnya, rasa kebahagiaannya masih sama. Bedanya, kini saya ingin melihat anak saya dapat salam tempel yang banyak, dan melihat dia pakai baju cantik yang dia pilih sendiri kapan hari di Shopee.
Kali ini, yang terjadi seperti ini: kabar kecelakaan di jalan tol yang meningkat, cerita orang yang tak bisa mudik karena di-PHK menuju hari H, bisnis-bisnis yang basah malah bangkrut, saudara yang tak lagi bekerja, kabar kacau dari negara, dan THR yang disunat gila-gilaan.
Dulu, kabar seperti ini ya ada, tapi tak jadi headline, karena itu bukan sesuatu yang dialami banyak orang. Tapi entah kenapa, terutama perkara yang bersangkutan dengan ekonomi, seakan-akan jadi pandemi.
Dan ini yang bikin sedih, dulu semua orang tak satu suara terkait Covid, tapi sepakat bahwa sekarang adalah masa-masa mengerikan.
Besok, saya sudah harus bekerja. Tak ada masalah dengan itu, justru ini masa-masa saya bersyukur. Saya masih punya pekerjaan, kantor yang memberikan benefit yang saya butuhkan, serta stabilitas ekonomi yang jadi barang mewah di masa-masa mengerikan.
Tapi tak bisa mungkiri, saya sedih melewati Lebaran yang begitu kelabu. Kesibukannya masih sama, capeknya masih sama, tapi dihiasi kabar buruk dan mengerikan, masih harus mengutuk diri tiap kali melihat harga bahan makanan yang naik begitu drastis, padahal kantong mulai menipis.
Atau bisa jadi kesedihan ini muncul karena saya menulis sembari mendengarkan “Stick Season” dan hati makin anjlok tiap part “my other half was you” beralun. Ah, Lebaran kali ini memang isinya penuh dengan sakit hati.
Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN













