Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
24 Maret 2026
A A
Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Lebaran 2026, Lebaran Penuh dengan Kabar Buruk dan Sakit Hati

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Lebaran tahun ini begitu hambar. Tak ada senyum yang benar-benar terpancar, tak ada kabar yang benar-benar baik, tak ada yang tiba-tiba sejahtera, dan paling jelas, tak ada kebahagiaan yang benar-benar terpampang nyata. Yang tak berbeda dari sebelumnya hanyalah harga-harga yang naik tanpa nalar, sedangkan pondasinya sudah kelewat ambyar.

Salah satu saudara kemarin berkunjung ke rumah Ibu, dan cerita kalau bosnya bangkrut, yang bikin dia 3 bulan menganggur tak ada penghasilan. Padahal, dia bekerja sebagai jagal sapi. Di masa-masa yang normal, dia biasanya mengeluh kurang tidur karena permintaan memotong sapi meningkat secara signifikan menuju Lebaran. Tahun ini, tidak ada yang dia potong selain kesedihan-kesedihan yang menghampiri.

Tahun ini juga, Bapak saya tidak berani menaikkan harga rental mobil secara signifikan di Lebaran, karena beliau berpikir di masa daya beli yang hancur-hancuran, rasanya tak elok tetap aji mumpung. Hapenya memang berdering kencang terus-terusan karena sepertinya, hanya beliau yang cukup gila tidak menaikkan harga di masa seperti ini, tapi apa mau dikata, mobil hanya satu saja.

Tiap orang yang berkunjung ke rumah orang tua saya, semua berbagi kesedihan yang sama. Saya yang sempat mengeluh kenapa THR saya tersisa hanya setengah, jadi mengucap syukur. Di sisi lain, saya benar-benar trenyuh, karena Lebaran, saya kira, haruslah tentang kebahagiaan. Sedangkan kali ini, justru tentang kesedihan hari ini dan kegelisahan akan apa yang ada di depan.

BACA JUGA: Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

Lebaran yang biasa saja

Tapi memang saya sudah mengira bahwa tahun ini adalah tahun yang biasa saja. Kecuali war tiket KAI sebelum Ramadan, hampir-hampir tak ada berita atau persiapan tentang mudik yang muncul di berita. Seakan-akan, segala tentang mudik ini tidak muncul di perencanaan mana pun.

Kantor saya memang sudah memberikan informasi hari libur jauh hari, sepertinya malah di minggu awal Ramadan. Tapi kantor-kantor lain, bahkan belum membicarakan itu. Apalagi pemerintah, yang saya anggap pemegang palu paling sakti untuk memutuskan apa pun. Tidak ada berita berarti, tidak ada perdebatan berarti.

Kalau ada kabar yang muncul, justru tentang sembako yang harganya gila-gilaan. Saya sempat misuh-misuh perkara harga daging ayam yang menyentuh 45 ribu sekilo. Ya saya masih bisa beli, tapi kalau hanya untuk makan ayam saja semahal itu, apalagi makan yang lain. Bagi saya pribadi, daging ayam adalah bahan makanan yang wajib bisa dibeli oleh orang dengan penghasilan paling minim. Kalau kelas menengah (yang bisa terpeleset miskin kapan saja) saja misuh-misuh, apalagi yang di bawah?

Jadinya Lebaran kali ini, bagi saya, adalah pengingat bahwa masa gelap baru merangkak menuju puncak, esok hari, bisa jadi belum cerah. Ibaratnya, kita masih di jam 11 malam, masih jauh menuju subuh, itu pun belum tentu sejam kemudian, kita melihat semburat matahari.

Bersyukur

Di masa saya masih anak-anak, saya menunggu Lebaran karena saya bisa dapat uang banyak. Bisa bertemu sanak saudara yang hanya bisa saya temui paling banter 2 kali setahun. Begitu dewasa, sebenarnya, rasa kebahagiaannya masih sama. Bedanya, kini saya ingin melihat anak saya dapat salam tempel yang banyak, dan melihat dia pakai baju cantik yang dia pilih sendiri kapan hari di Shopee.

Kali ini, yang terjadi seperti ini: kabar kecelakaan di jalan tol yang meningkat, cerita orang yang tak bisa mudik karena di-PHK menuju hari H, bisnis-bisnis yang basah malah bangkrut, saudara yang tak lagi bekerja, kabar kacau dari negara, dan THR yang disunat gila-gilaan.

Dulu, kabar seperti ini ya ada, tapi tak jadi headline, karena itu bukan sesuatu yang dialami banyak orang. Tapi entah kenapa, terutama perkara yang bersangkutan dengan ekonomi, seakan-akan jadi pandemi.

Dan ini yang bikin sedih, dulu semua orang tak satu suara terkait Covid, tapi sepakat bahwa sekarang adalah masa-masa mengerikan.

Besok, saya sudah harus bekerja. Tak ada masalah dengan itu, justru ini masa-masa saya bersyukur. Saya masih punya pekerjaan, kantor yang memberikan benefit yang saya butuhkan, serta stabilitas ekonomi yang jadi barang mewah di masa-masa mengerikan.

Iklan

Tapi tak bisa mungkiri, saya sedih melewati Lebaran yang begitu kelabu. Kesibukannya masih sama, capeknya masih sama, tapi dihiasi kabar buruk dan mengerikan, masih harus mengutuk diri tiap kali melihat harga bahan makanan yang naik begitu drastis, padahal kantong mulai menipis.

Atau bisa jadi kesedihan ini muncul karena saya menulis sembari mendengarkan “Stick Season” dan hati makin anjlok tiap part “my other half was you” beralun. Ah, Lebaran kali ini memang isinya penuh dengan sakit hati.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN

Terakhir diperbarui pada 24 Maret 2026 oleh

Tags: arus mudik lebaranharga daging ayamLebaranlebaran 2026
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

Pengunjung Candi Pramabanan di Jogja selama Lebaran 2026. (sumber: InJourney)
Kilas

InJourney Sukses Dapat Untung selama Arus Mudik dan Lebaran 2026 dengan Tata Kelola yang Optimal

2 April 2026
Menyesal Sarapan Gudeg Jogja setelah Jadi Korban Nuthuk Rega (Unsplash)
Pojokan

Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

25 Maret 2026
Stasiun Tugu Jogja lebih buruk dari Stasiun Lempuyangan. MOJOK.CO
Catatan

Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”

25 Maret 2026
Ironi silaturahmi Lebaran bersama keluarga
Catatan

Sisi Gelap Lebaran: Melelahkan karena Harus Tampak Bahagia, padahal Menderita Bersikap “Baik” dan Kehabisan Energi Sosial

23 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living MOJOK.CO

Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

8 April 2026
Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
slow living, desa, warga desa.MOJOK.CO

Warga Desa Sebenarnya Muak dengan Orang Kota yang Datang Buat Sok Slow Living: Arogan, Tak Membaur, Anggap Warga Asli Cuma “Figuran”

7 April 2026
Gagal kerja di Jakarta sebagai musisi. MOJOK.CO

Nekat ke Jakarta Hanya Modal Ambisi sebagai Musisi, Gagal dan Jadi “Gembel” hingga Bohongi Orang Tua di Kampung

11 April 2026
PNS tetap WFO saat WFH

PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM

8 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi

8 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.