Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Lebih Pahit dari Obat Puyer

Rizal Widiya P oleh Rizal Widiya P
12 Maret 2026
A A
Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Lebaran Membosankan Adalah Fase Pendewasaan yang Pahit (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Ada satu momen yang akan membuat kita langsung tersadar kalau Lebaran kali ini terasa begitu membosankan. Polanya begini:

Lebaran hari pertama, kita sibuk persiapan salat Id sejak subuh. Setelah itu, momen sungkem dengan orang tua sambil nangis bombay. Bersamaan dengan itu, beban dosa-dosa kita luntur seketika. Katanya.

Acara lanjut dengan makan-makan, menikmati makanan khas Lebaran seperti opor, rendang, dan lain-lain. Selesai makan, kita sibuk menerima kunjungan dari tetangga sekitar atau berkeliling rumah tetangga di kampung untuk silaturahmi.

Setelah waktu menunjukkan lewat pukul 12 siang di hari pertama Lebaran, kamu rebahan di karpet. Kegiatanmu adalah menonton rangkuman berita Lebaran di TV. Biasanya, ini momen yang pas untuk mengedit foto-foto bareng keluarga inti buat di-share ke media sosialmu plus tambahan caption khas “Mohon Maaf Lahir Batin dan Met Idul Fitri”. 

Tidak lupa, setoples cookies kastengel dan nastar menemani rebahan kamu. Kita melihat acara TV, jajanan, menu makanan, yang itu-itu saja, seluruh aktivitas yang sama berulang. Jika kamu merasakan semua hal yang saya sebut. Saya ucapkan, “Selamat! Anda mengalami sindrom Lebaran Membosankan”.

Lebaran yang membosankan dan kamu nggak sendirian

Eitss, tunggu dulu. Ada kabar baiknya. Iya, kamu tidak sendirian. Kenapa? Karena tandanya, kamu memasuki fase pendewasaan. 

Sebuah fase yang bahkan lebih pahit daripada resep obat puyer. Pertanyaan kenapa kok bisa membosankan? Masalah utama dari sindrom Lebaran membosankan adalah bahwa sebagian besar dari kita terjebak pada ritual yang berulang. 

Semuanya sudah bisa kita prediksi. Ayo kita coba urutan aktivitasnya! Bangun pagi, mandi, pakai baju Lebaran hasil uang beli dari THR, buru-buru berangkat salat Id, sungkem, foto keluarga dengan posenya dari tahun-ketahun itu-itu saja (yang berubah wajahmu tambah semakin tua), lalu makan hidangan Lebaran. 

Baca Juga:

5 Dosa Warung Bakso yang Bikin Hilang Nafsu Makan, Bahkan Sebelum Sendok Pertama

Kapok Naik PO Handoyo Kelas Eksekutif, Niat Cari Kenyamanan dengan Bayar Mahal Malah Berakhir Trauma dan Menderita

Saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Selain sudah tidak sanggup, kamu sudah dapat memprediksi aktivitas berikutnya sebelum saya selesai menuliskannya.

Kebosanan itu muncul juga karena rasa penasaran kita sudah mati

Kita sudah hafal setiap sudut rumah nenek, percakapan apa yang terlontar sewaktu momen Lebaran, hingga warung mie ayam bakso mana yang selalu buka di hari pertama. 

Kita juga hafal betul sudut-sudut rumah, kebun belakang yang dulu semasa kecil sebagai area bermain, benda apa saja dalam imajinasi kita bisa menjadi alat bermain yang seru. 

Kini, kita hanya bisa mengenangnya dan justru berubah menjadi pengingat kalau kita sudah dewasa. Saat dewasa, justru tidak banyak aktivitas menyenangkan yang bisa kita lakukan. Kebanyakan dari kita hanya akan duduk, makan, mengobrol, atau bahkan melamun mikirin kerjaan yang numpuk setelah libur Lebaran selesai.

Tanggung jawab sosial ketika Lebaran

Fase dewasa berarti kita bukan lagi sebagai penerima angpao Lebaran dari Tante, Bulek, Paklek, Pakde, Uti, tapi kitalah sekarang berperan menjadi mereka. Kitalah sekarang yang harus memikirkan berapa dana untuk budget angpao Lebaran, jajanan apa yang akan disuguhkan, dan keperluan pernak-pernik lainnya. 

Tanggung jawab sosial beralih begitu saja tanpa kita sadari. Lebaran yang dulu membuat kita happy tanpa beban sekarang berubah menjadi beban pikiran. Kita justru ingin momen ini segera berlalu, berganti ke tanggal gajian berikutnya.

Sewaktu kecil, tidak peduli pertanyaan orang lain ke kita, dan kita pun bebas tanpa beban menjawab pertanyaan dengan asbun sambil cengengesan dan disambut gelak tawa keluarga yang mendengarnya. Ketika dewasa, kita sadar pertanyaan yang diarahkan ke kita bukanlah seperti pertanyaan kepada anak kecil. 

Pertanyaan yang menghujam ke kita memiliki seribu makna tersembunyi. Terasa seperti audit internal dadakan yang membuat batin jadi drop kelelahan dan ingin berteriak, “Cukup hentikan!”

Tanpa makna, cuma repetitif

Fase pendewasaan akan menuntun kita pada sebuah kesadaran. Kita mulai sadar banyak hal di dunia ini sejatinya hanya bersifat repetitif, minim makna, dan hanya sekadar menjalankan tradisi. 

Menjadi dewasa berarti belajar berdamai dengan rasa bosan. Jika memikirkannya ulang, Lebaran yang gitu-gitu aja sejatinya adalah sebuah kemewahan yang patut disyukuri. 

Setidaknya, kita masih bisa melakukan ritual yang itu-itu saja lengkap bersama keluarga dengan sajian kuah kental opor dan lauk rendang yang penuh kolesterol. Bersyukur, kamu tidak makan obat puyer yang pahitnya naudzubillah.

Penulis: Rizal Widiya P

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Warlok Jakarta Orang Paling Kasihan Saat Lebaran, Cuma Jadi Penonton Euforia Mudik, Tidak Pernah Merasakannya Langsung

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 12 Maret 2026 oleh

Tags: BaksoketupatLebaranlebaran hari pertamaMie Ayamoporsalat idsungkem
Rizal Widiya P

Rizal Widiya P

Kang gambar lepas. 12 tahun makan bangku sekolah. Suka nulis apa saja.

ArtikelTerkait

Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga Berlutut dan Pakai Bahasa Jawa Kromo Adalah The Real Sungkeman saat Lebaran Selain Hati, Alam Juga Harus Kembali Fitrah di Hari yang Fitri Nanti Starter Pack Kue dan Jajanan saat Lebaran di Meja Tamu Mengenang Keseruan Silaturahmi Lebaran demi Mendapat Selembar Uang Baru Pasta Gigi Siwak: Antara Sunnah Nabi Atau Komoditas Agama (Lagi) Dilema Perempuan Ketika Menentukan Target Khataman Alquran di Bulan Ramadan Suka Duka Menjalani Ramadan Tersepi yang Jatuh di Tahun Ini Melewati Ramadan dengan Jadi Anak Satu-satunya di Rumah Saat Pandemi Memang Berat Belajar Gaya Hidup Eco-Ramadan dan Menghitung Pengeluaran yang Dibutuhkan Anak-anak yang Rame di Masjid Saat Tarawih Itu Nggak Nakal, Cuma Lagi Perform Aja Fenomena Pindah-pindah Masjid Saat Buka Puasa dan Salat Tarawih Berjamaah 5 Aktivitas yang Bisa Jadi Ramadan Goals Kamu (Selain Tidur) Nanti Kita Cerita tentang Pesantren Kilat Hari Ini Sejak Kapan sih Istilah Ngabuburit Jadi Tren Ketika Ramadan? Kata Siapa Nggak Ada Pasar Ramadan Tahun Ini? Buat yang Ngotot Tarawih Rame-rame di Masjid, Apa Susahnya sih Salat di Rumah? Hukum Prank dalam Islam Sudah Sering Dijelaskan, Mungkin Mereka Lupa Buat Apa Sahur on the Road kalau Malah Nyusahin Orang? Bagi-bagi Takjil tapi Minim Plastik? Bisa Banget, kok! Nikah di Usia 12 Tahun demi Cegah Zina Itu Ramashok! Mending Puasa Aja! Mengenang Kembali Teror Komik Siksa Neraka yang Bikin Trauma Keluh Kesah Siklus Menstruasi “Buka Tutup” Ketika Ramadan Angsle: Menu Takjil yang Nggak Kalah Enak dari Kolak Nanjak Ambeng: Tradisi Buka Bersama ala Desa Pesisir Utara Lamongan

Lebaran Tahun Ini: Meski Raga Tak Bersama, Silaturahmi Tetap Harus Terjaga

23 Mei 2020
Purwokerto, Purwakarta, Purworejo- Dilema karena Sebuah Nama (Unsplash.com)

4 Rekomendasi Warung Bakso Paling Enak Di Purwokerto

24 Desember 2022
Orang-orang yang Beri Maaf Duluan padahal Nggak Ada yang Minta Maaf Itu Kenapa, sih? terminal mojok.co

Orang-orang yang Beri Maaf Duluan padahal Nggak Ada yang Minta Maaf Itu Kenapa, sih?

15 Mei 2021
5 Mie Ayam Manis di Yogyakarta Paling Direkomendasikan (Shutterstock.com) warung mie ayam, jogja

5 Mie Ayam Manis di Yogyakarta Paling Direkomendasikan: Awas Jatuh Cinta!

12 November 2022
Penting tapi Kadang Dilupakan: Kursi Tunggu di Tempat Belanja terminal mojok.co

Belanja Lebaran Bareng Om Baudrillard

4 Juni 2019
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

Siapa sih yang Memulai Kebiasaan Cetak Buku Yasin buat Tahlilan? Ujungnya Cuma Menumpuk di Rumah, yang Tahlilan pun Bawa Sendiri Juga kan?

21 April 2026

Di Balik Cap Manja, Anak Bungsu Sebenarnya Dilema antara Kejar Cita-cita atau Jaga Ortu karena Kakak-kakak Sudah Berumah Tangga 

17 April 2026
Cerita Pahit 25 Tahun Hidup di Kabupaten Ngawi yang Aneh  Mojok.co

Ngawi Sangat Berpotensi Menjadi Kota Besar, Tinggal Pilih Jalan yang Tepat Saja

17 April 2026
Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai Mojok.co

Kursus Setir Mobil yang Dikit-dikit “Pakai Feeling Aja” Itu Pertanda Red Flag, Patut Diwaspadai

19 April 2026
Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup (Unsplash)

Nasi Uduk Itu Nostalgia, Nasi Padang Itu Strategi Bertahan Hidup

19 April 2026
Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna Mojok.co

Derita Jadi Satu-satunya Sarjana di Kampung: Ekspektasi Warga Ketinggian, Dikira Serba Bisa dan Sempurna

18 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • WNA Malaysia Pilih Lanjut S2 di UNJ, Penasaran Ingin Kuliah di PTN karena Dosen Indonesia yang “Unik”
  • Membangun Rumah Megah demi Penuhi Standard Kesuksesan di Desa Malah Bikin Ibu Tersiksa: Terasa Sepi, Cuma “Memuaskan” Mata Tetangga
  • Sesal Dulu Kasar dan Hina Bapak karena Miskin, Kini Sadar Cari Duit Sendiri dan Berkorban untuk Keluarga Ternyata Tak Gampang!
  • Saat Pencak Silat Dianggap Biang Kerok, Saya Bersyukur Jadi Bagian Tapak Suci Unair yang Anti Tawuran
  • Lulusan SMK Kerja di SPBU Diremehkan, Malah Jadi Tempat Ngutang buat Kuliah Anak Saudara karena Dikira Punya Segepok Uang
  • Supra Fit: Motor Honda yang Nggak Bisa Saya Banggakan Bahkan Sempat Bikin Kecewa, tapi Justru Paling Berjasa Sampai Sekarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.