Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kobe Bryant dan Tiga Anak Kembar yang Mengidolakannya

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
27 Januari 2020
A A
Kobe Bryant NBA basket black mamba MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kobe Bryant sudah tiada. Tetapi tantangan yang dia gelar di laga pamungkas masih bergema dan kelak menjadi inspirasi bagi calon legenda dunia bola basket.

Beberapa tahun yang lalu, saya sering menghabiskan banyak waktu dengan anak-anak basket. Kebanyakan dari mereka berasal dari sebuah klub basket di Wonosari, DIY. Klub basket itu bernama Steeler. Logo klub berupa kepala pasukan romawi, dengan warna dominan hijau. Di sana, ada tiga anak kembar. Semuanya gila basket. Ketiganya mengidolakan Kobe Bryant.

Awan, Adi, dan Ari, nama ketiga anak kembar itu. Ketiganya hampir selalu bersama. Berbagi sebungkus rokok bersama, makan bersama. Cuma pacar aja yang untungnya nggak dibagi rata. Terutama soal basket, ketiganya lumayan jago.

Dua dari tiga anak itu pernah lolos ke sebuah SMA favorit di Kota Jogja berkat kecapakan bermain basket. Beasiswa. Namun, karena ada satu anak yang gagal lolos, keduanya memutuskan untuk tidak mengambil beasiswa tersebut. Akhirnya, ketiganya menyelesaikan SMA di Wonosari, sebelum berkualiah di Jogja.

“Kenapa suka banget sama Kobe Bryant?” Tanya saya yang awam dengan dunia basket.

Ketiganya hampir menjawab bersamaan ketika saya mengangkat tangan dan berkata, “Satu orang aja yang jawab. Jangan semuanya.” Mereka tertawa.

Saya lupa siapa yang akhirnya menjelaskan. Mungkin Ari yang terlihat paling dewasa, bisa juga awan yang penuh antusias ketika ngobrol dengan siapa saja, atau Adi yang kolokan, tapi paling menyenangkan kalau diajak “nakal”, mabuk misalnya.

Dari ketiganya, saya mulai mengenal Kobe Bryant. Legenda NBA yang disebut paling mendekati Michael Jordan itu itu tidak berhenti ke “bakat alam saja”. Jordan adalah salah satu legenda dengan kekerasan hati paling paripurna. Bahkan terkadang dianggap arogan. Kobe pun begitu. Dia dianggap sulit bekerja sama. Dianggap terlalu menonjol di LA Lakers.

“Saya memang sulit (bekerja sama, bersosialsasi) di mata banyak orang. Tapi, itu terjadi kepada orang-orang yang tidak bisa bekerja dengan saya,” kata Kobe Bryant menjelaskan sifatnya itu.

Bekerja bersama Black Mamba adalah bekerja semaksimal mungkin, mendekati kesempurnaan. Hanya mereka yang bisa mendekati limit itu yang akan bertahan bersama Kobe.

Sebagai atlet, hidup Kobe adalah tentang determinasi dan totalitas kepada bola basket. Begini rutinitas Kobe: Bangun pukul 4 pagi. Latihan dari pukul 5 sampai 7 lalu sarapan dan istirahat. Latihan lagi dari pukul 9 pagi sampai 11 siang. Jeda istirahat dan makan siang. Latihan dimulai lagi pukul 1 sampai 3 sore. Istirahat. Terakhir, latihan dari pukul 7 sampai 9 malam.

Ketatnya jadwal latihan setiap hari itu merupakan wujud ambis Kobe Bryant: “Saya ingin menjadi yang terbaik. Sederhana dan cukup jelas.”

Kobe sadar kalau bakat alam saja tidak cukup untuk mendaki sampai ke puncak. Bakat akan kalah oleh orang yang bekerja lebih keras dan berkorban lebih banyak. Tiga anak kembar yang saya kenal tahu betul rutinitas idolanya. Mereka punya komitmen sangat besar ketika main basker. Jauh lebih besar ketimbang tugas-tugas mereka di bangku kuliah.

Saking mengidolakan Kobe Bryant, komputer mereka banyak berisi video hasil mengunduh dari Youtube. Isinya soal kompilasi clutch moment dan buzzer beater dari Kobe. Ada juga kompilasi teknik menembak Kobe yang hampir selalu mereka tiru di lapangan latihan.

Iklan

Suatu ketika, salah satu senior dan pelatih tiga anak kembar itu di Steeler pernah marah. Namanya Coach Amri. Dia marah karena ketika anak itu terlalu berusaha meniru teknik menembak Kobe Bryant. “Nggak usah ngikutin Kobe. Kalian itu fokusnya ke cara main sendiri-sendiri.”

Dasarnya ndablek, ketiganya masih sering mencoba teknik-teknik sulit yang ditunjukkan Kobe, bahkan di pertandingan, dan gagal. Mereka tahu akan dimarahi oleh pelatih. Mereka tahu akan gagal. Namun, di titik yang berbeda, mereka merasakan kebahagiaan dan keseruan bermain basket.

Terkadang, apapun perjuangan yang tengah dihadapi, kalau kamu menikmatinya, semuanya terasa lebih mudah. Kegagalan adalah titik yang akan selalu ada di setiap perjuangan. Paling tidak, kamu menikmati dinamika usaha keras itu. Awan, Adi, dan Ari menikmatinya, meskipun karier basket mereka hanya mentok sampai kompetisi basket antar-kampus.

Mereka mendapatkan satu nilai penting dari Kobe Bryant tentang makna rasa sakit. Suatu ketika di sebuah kompetisi di Wonosari, Steeler bertemu lawan berat. Salah satu pemain lawan adalah pebasket senior yang jago melukai lawan untuk menggembosi mental. Mereka merasa gentar.

Steeler akhirnya kalah di pertandingan itu. Namun, ketiganya, setidaknya sudah berusaha sekeras mungkin menghadapi rasa takut. Tahukah kamu, di pertandingan terakhir sebelum pensiun, Kobe mencetak 60 angka!

Kobe Bryant, di laga pamungkas kariernya, melakukan 50 shots, menghasilkan 60 poin. Dia melakukanya sambil menahan rasa sakit di punggung dan pundak yang mati rasa, sebagai bentuk rasa sakit yang menumpuk setelah 20 tahun kariernya bersama LA Lakers.

Orang mengira laga pamungkas Kobe Bryant akan berjalan melankolis. Banyak tangis yang mewarnai. Namun, yang ditunjukkan Kobe adalah esensi dari kerasnya persaingan para profesional. “Apa yang kamu lihat di pertandingan terakhir adalah adegan pembuka dari pengantin yang berlumuran darah versi basket. Seperti adegan pembuka dari film Kill Bill!”

Kobe Bryant pensiun dengan meninggalkan tantangan terbesar bagi rekan dan rival. Basket bukan sekadar kompetisi, tetapi juga palagan perang bagi mereka yang terseleksi oleh alam. Sebuah tantangan yang diteruskan oleh LeBron James dan jagoan lapangan basket lainnya.

Kobe Bryant sudah tiada. Tetapi tantangan yang dia gelar di laga pamungkas masih bergema dan kelak menjadi inspirasi bagi calon legenda dunia bola basket.

Mamba out!

BACA JUGA Kronologi Kobe Bryant dan Putrinya Meninggal dalam Kecelakaan Helikopter atau tulisan Yamadipati Seno lainnya.

Terakhir diperbarui pada 27 Januari 2020 oleh

Tags: basketblack mambaKobekobe bryantkobe bryant meninggalmambamamba outNBA
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Gojek 3x3 Indonesia Tour Seri Yogyakarta
Olah Raga

Prawira Juara IBL Gojek 3×3 Indonesia Tour Seri Yogyakarta

12 September 2022
bill russell mojok.co
Olah Raga

Bill Russell, Legenda NBA dan Boston Celtics Tutup Usia

1 Agustus 2022
golden state warriors mojok.co
Olah Raga

Golden State Warriors Juara NBA, Stephen Curry Jadi MVP

17 Juni 2022
5 Olahraga Terberat di Olimpiade Tokyo 2020 MOJOK.CO
Pojokan

5 Olahraga Terberat di Olimpiade Tokyo 2020

27 Juli 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

alfamart 24 jam.MOJOK.CO

Alfamart 24 Jam di Jakarta, Saksi Para Pekerja yang Menolak Tidur demi Bertahan Hidup di Ibu Kota

14 Januari 2026
Cara wujudkan resolusi 2026 dengan finansial yang baik. MOJOK.CO

Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026

19 Januari 2026
InJourney salurkan bantuan pascabencana Sumatra. MOJOK.CO

Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM

17 Januari 2026
indonesia masters 2026, badminton.MOJOK.CO

Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu

19 Januari 2026
Ilustrasi Mie Ayam di Jogja, Penawar Kesepian dan Siksaan Kemiskinan (Unsplash)

Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam

19 Januari 2026
Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut MOJOK.CO

Dracin Disukai Dunia karena di Surabaya Kaos Oblong dan Sandal Jepit Simbol Kekayaan, di Cina Tanda Orang Bangkrut

14 Januari 2026

Video Terbaru

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

18 Januari 2026
Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

Bob Sadoni dan Hidup yang Terlalu Serius untuk Tidak Ditertawakan

13 Januari 2026
Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.