Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Kasus Anak Rohis Teror Siswi Tak Berjilbab, Cocok Dijuduli ‘Senjakala si Kompas Moral’

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
9 Januari 2020
A A
rohis jilbab sma sragen teror intoleransi radikalisme agama islam mojok.co

rohis jilbab sma sragen teror intoleransi radikalisme agama islam mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Kasus intoleransi naik dari waktu ke waktu. Tapi kasus intoleransi yang dilakukan anak Rohis di SMA Sragen ini unik dan ironis.

Untuk memahami kasus intoleransi di Sragen ini, sekarang duduk dan coba bayangkan skenario ini di kepalamu.

Kamu baru pulang dari kerja ketika mendapati anak perempuanmu menangis. Pelan-pelan kamu bertanya, ada apa?, dan dia menunjukkan isi chat di hapenya. Kamu terkejut, anakmu diteror orang anonim hanya karena tidak mengenakan jilbab di sekolah.

Kamu berusaha tenang dan meminta anakmu mengabaikannya. Tapi makin hari teror makin gencar. Apa kamu akan tinggal diam? Mestinya sih tidak. Lalu kamu mencoba berkomunikasi dengan si pengirim pesan. Alih-alih menemui pencerahan, justru kapasitasmu sebagai orang tua malah dihujat.

Sudah bisa membayangkannya? Kayak gitu kira-kira yang dirasakan Agung, orang tua siswa SMAN 1 Gemolong, Sragen, Jawa Tengah yang tidak terima anaknya diteror semata karena tidak mengenakan jilbab. Yang menjadi pelaku kasus intoleransi di Sragen? Teman satu sekolahnya, anak-anak di organisasi masjid sekolah Rohis (Rohani Islam).

Sebagai anak sekolah, dirundung teman sendiri itu sialnya sial.

Agung melabrak ke sekolah karena tidak terima anaknya diteror pesan bernada pemaksaan menggunakan jilbab. Ia mulai kehilangan kesabaran semenjak dibilang orang tua tidak tahu aturan dan tidak paham dalil agama oleh si pengirim pesan.

Agung sempat mengajak si pengirim pesan untuk ketemuan, namun malah dibilang, “Buat apa ketemu orang tua yang tidak paham dalil agama.” Akhirnya Agung memilih membawa semua bukti percakapan ke sekolah dan minta masalah ini diselesaikan para guru.

Pertemuan diadakan. Yang hadir, kepala sekolah, pengurus Rohis, kepala dinas pendidikan. Agung menyampaikan semua yang ia alami. Si pengurus Rohis mengaku memang mereka yang mengirim pesan tersebut. Kepala sekolah cuma bisa bilang kalau mereka kecolongan.

Saya jadi teringat masa SMA. Selalu saja ada orang atau gerombolan yang dianggap preman di sekolah. Orang-orang yang dianggap penguasa sekolah tersebut sering berbuat seenaknya dan memaksa orang lain menuruti keinginan mereka hingga di titik yang di luar nalar. Saya bahkan masih ingat, mau ngambil tendangan bebas aja harus minta izin daripada kena masalah.

Anak-anak Rohis ini nggak berbeda dengan preman sekolah saya jaman dulu. Mereka memaksa orang menuruti apa yang mereka yakini benar. Bedanya, preman sekolah memakai kekerasan, anak Rohis pakai dalil dan modal keras kepala.

Dulu sih saya menaruh respek tinggi pada anak-anak Rohis. Mereka tetap bisa membaur dengan siswa yang dianggap nakal dan tidak memaksakan pandangan mereka. Bahkan anggota band masa sekolah saya anak Rohis. Preman-preman sekolah pun punya hubungan baik dengan mereka.

Di situ tuh ironinya. Anak Rohis yang dianggap kompas moral sekarang malah jadi preman itu sendiri.

BACA JUGA Google Memata-matai dan Menjual Data Kita tapi Kita Merasa Baik-baik Saja dan artikel menarik lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 5 Januari 2026 oleh

Tags: intoleransipremanradikalisme agamarohisSMA
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Hobi main game dan suka nulis otomotif.

Artikel Terkait

ibu dua anak, SMA Internasional Budi Mulia Dua, sekolah islam yang tidak mewajibkan siswinya berjilbab.
Ragam

Ibu Dua Anak Nekat Balik Masuk SMA Demi “Memutus Kemiskinan”, Cita-Cita Ingin Kuliah Kedokteran

29 Januari 2026
sekolah negeri, sekolah swasta.SALAM, sekolah di Jogja. MOJOK.CO
Mendalam

Sekolah Negeri Makin Tak Diminati, Mengapa Sekolah Swasta Kian Seksi di Mata Orang Tua?

28 Januari 2026
intoleransi, ormas.MOJOK.CO
Ragam

Pemda dan Ormas Agama, “Dalang” di Balik Maraknya Intoleransi di Indonesia

19 September 2025
Jakarta Timur, Kawasan dengan SDM Paling Mumpuni tapi Sebaiknya Jangan Ditinggali Kalau Tak Punya Sembilan Nyawa.MOJOK.CO
Ragam

Jakarta Timur, Kawasan “Penuh Ironi” yang Sebaiknya Jangan Ditinggali, Kecuali Kalau Nyawamu Sembilan

5 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gaji 8 Juta di Jakarta Jaminan Miskin, Kamu Butuh 12 Juta MOJOK.CO

Gaji 8 Juta di Jakarta Tetap Bisa Bikin Kamu Miskin, Idealnya Kamu Butuh Minimal 12 Juta Jika Ingin Hidup Layak tapi Nggak Semua Pekerja Bisa

2 April 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Kursi kereta eksekutif dibandingkan kereta ekonomi premium lebih nyaman untuk mudik Lebaran

Saya Kapok Naik Kereta Ekonomi Premium, Ditipu Embel-embel Mirip Eksekutif padahal Hampir “Mati” Duduk di Kursi Tegak

1 April 2026
Lolos Unair lewat jalur golden ticket tanpa SNBP. MOJOK.CO

Kisah Penerima Golden Ticket Unair dari Ketua Padus hingga Penghafal Al-Qur’an, Nggak Perlu “Plenger” Ikut SNBP-Mandiri untuk Diterima di Jurusan Bergengsi

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.