Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Jalan Kaliurang, Jalan Paling Tidak Ramah Pejalan Kaki 

Kenia Intan oleh Kenia Intan
4 Oktober 2025
A A
Jalan Kaliurang, Jalan Paling Tidak Ramah Pejalan Kaki Mojok.cp

Jalan Kaliurang, Jalan Paling Tidak Ramah Pejalan Kaki (unsplash.com)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Siap-siap energi dan kesabaran kalau jalan kaki di Jalan Kaliurang.

Saya malas tiap kali riset tentang orang Indonesia paling malas jalan kaki di dunia muncul di medsos atau berita online. Ada dua alasannya. Pertama, konten tersebut tidak merujuk pada riset terbaru. Konten-konten itu biasanya berdasar penelitian dari University of Stanford pada jurnal Nature yang di-publish 2017. 

Artinya, sudah lebih dari 7 tahun isu tersebut digoreng melulu. Kenyataan di lapangan memang orang-orang Indonesia masih ogah berjalan kaki. Tapi, tolonglah, masak nggak ada riset terbaru soal itu sih? 

Kedua, saya agak nggak cocok dengan kata “malas” pada judul konten dan pemberitaan. Saya pikir, bukannya malas jalan kaki, orang Indonesia memang “dipaksa” tidak suka berjalan kaki. Saya pernah menuliskan uneg-uneg ini dalam tulisan berjudul Bukannya Malas, Orang Indonesia Memang “Dipaksa” Nggak Suka Jalan Kaki.

Keyakinan itu semakin menguat ketika sehari-hari melewati Jalan Kaliurang. Belakangan saya baru menyadari, jalan ini benar-benar tidak ramah pejalan kaki. Tiap kali lewat Jalan Kaliurang menuju tempat kerja atau menuju sisi selatan Jogja, saya ngebatin dalam hati, “Siapa ya yang betah jalan kaki di tempat seperti ini?”

Gambaran Jalan Kaliurang

Saya beri sedikit gambaran tentang jalan yang kerap disingkat Jakal ini ya. Jalan Kaliurang adalah salah satu jalan yang menghubungkan Pakem dan daerah lain yang berada di bawah kaki Gunung Merapi dengan Kota Jogja. Jalan sepanjang 25 km ini lurus membentang dari utara hingga selatan. 

Pada 2023 Dinas Perhubungan (Dishub) DIY mencatat, Jakal menjadi jalan terpadat di DIY. Nilainya di atas angka 0,87 derajat kejenuhan, tepatnya 0,9. Kapasitas Jalan Kaliurang adalah 2.177 kendaraan. Namun, volume kendaraan yang melintas sudah mencapai 1.954.

Dishub DIY mengungkapkan, ada beberapa alasan yang membuat jalan semakin padat. Pertambahan jumlah kendaraan adalah salah satunya. Faktor lain, banyaknya tempat parkir di bahu jalan, serta tidak ada penambahan lebar dan ruas jalan. 

Terkait pertumbuhan kendaraan pribadi, sebenarnya ada transportasi umum yang melewati Jakal. Ada Trans Jogja yang melayani hingga halte Pasar Pakem. Hanya saja, armadanya tidak banyak. Waktu tunggunya bisa mencapai 30 menit antar armada bus. Selain itu, tempat pemberhentiannya pun alakadarnya.Sudah begitu, tidak ada area pejalan kaki yang memadai setelah penumpang turun dari bus.  

Jalan sepanjang itu tidak ada trotoar dan pepohonan

Selain jalan terpadat, saya rasa Jakal bisa juga disebut sebagai jalan paling tidak ramah pejalan kaki. Bayangkan saja jalan sepanjang dan sepenting itu tidak memiliki area pejalan kaki seperti trotoar. Pejalan kaki hanya bisa menyusuri perbatasan trotoar dengan toko-toko atau bangunan yang ada sepanjang Jakal. 

Asal tahu saja, menyusuri jalan seperti itu tidak mudah. Selain tidak rata, banyak juga kendaraan yang terparkir di sana. Dengan kata lain, pejalan kaki mesti super awas mencermati batas dengan jalan raya, menghindari kendaraan terparkir, hingga menghindari kendaraan bermotor yang ngebut. 

Sebagai warlok yang melintasi jalan ini sehari-hari, saya bisa bilang pengendara yang melewati Jakal itu “pembalap” alias banyak yang ngebut. Mungkin karena jalan yang lurus-lurus saja dan mayoritas beraspal mulus ya, orang-orang jadi memacu kendaraannya sesuka hati. 

Kalau mau merasakan betapa menyiksanya jalan ini. Cobalah sekali-kali jalan kaki di tengah siang bolong. Selain menyusuri jalan tanpa trotoar, awas terhadap kendaraan yang parkir dan melintas, kalian juga harus tahan terhadap paparan sinar matahari. Asal tahu saja, sepanjang jalan Kaliurang sangat jarang pepohonan besar yang meneduhkan. 

Iseng saya pernah jalan kaki dari pertigaan Jalan Damai hingga Pasar Colombo, jaraknya kurang lebih 1 km lebih dikit. Tidak jauh memang, tapi rasanya sangat menyiksa karena tidak ada trotoar dan pepohonan. Terik matahari membakar kulit dan angin yang berhembus panas. Sudah begitu, sesekali saya harus menghadapi kendaraan yang terpakir maupun melaju kencang. Duh, pokoknya menguras energi sekali, rasanya tidak ingin mengulanginya lagi. 

Iklan

Penulis: Kenia Intan
Editor: Intan Ekapratiwi 

BACA JUGA Alasan Warlok Sleman Malas Berwisata ke Kaliurang dan catatan menarik lainnya di rubrik POJOKAN.  

 

Terakhir diperbarui pada 5 Oktober 2025 oleh

Tags: jalanjalan jogjajalan kaliurangjogja jalan padatKaliurangpejalan kaki Jogja
Kenia Intan

Kenia Intan

Content Writer Mojok.co

Artikel Terkait

Dari Indomaret Point Jakal km 9, menguak fakta orang-orang yang merasa iri hati pada standar orang lain MOJOK.CO
Ragam

Duduk di Kursi Indomaret Ternyata Juga bikin Orang Makin Nelangsa dan Iri Hati karena Standar Orang Lain

11 November 2025
Aturan Tidak Tertulis di Perempatan Jogja yang Sebaiknya Dituliskan Aja, Banyak Pengendara Nggak Peka Mojok
Pojokan

Aturan Tidak Tertulis di Perempatan Jogja yang Sebaiknya Dituliskan Aja karena Banyak Pengendara Nggak Peka

19 Oktober 2025
Alasan Warlok Sleman Malas Berwisata ke Kaliurang Mojok.co
Pojokan

Alasan Warlok Sleman Malas Berwisata ke Kaliurang

2 Oktober 2025
Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja Mojok.co
Pojokan

Toyota Fortuner, Mobil yang Saya Harap Lenyap dari Jalanan Jogja

14 September 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gen Z rela sise hustle

Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

30 Maret 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Backpackeran Naik KA Eksekutif Jogja-Jakarta Demi Menyembuhkan Luka, Malah Dibuat Kesal dengan Kelakuan Norak Penumpangnya

1 April 2026
Pilih side hustle daripada pekerjaan kantoran

Pilih Tinggalkan Kerja Kantoran ke “Side Hustle” demi Merawat Anak, Kini Kantongi Rp425 Juta per Bulan dan Lebih Dekat dengan Keluarga

31 Maret 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.