Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Hubungan Tes DNA dengan PKI ala Fadli Zon Universe

Ahmad Khadafi oleh Ahmad Khadafi
27 November 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Presiden Jokowi curcol karena sering dituduh keturunan PKI. Bagi Fadli Zon, biar jelas mending segera tes DNA aja. Dalam Fadli Zon Universe mah itu hukum yang berlaku.

Memang ajaib Wakil Ketua DPR RI kita tercinta, Bapak Fadli Zon.

Usai menunjukkan kepiawaian ala musisi dengan menggubah lirik lagu “Potong Bebek Angsa”, lalu jadi penyair dengan beberapa puisi kritis, lalu saat ini menjadi saintis dengan meminta Presiden Jokowi tes DNA.

Lah, untuk apa tes DNA segala?

Ya tak lain tak bukan agar Presiden Jokowi terbebas dari segala macam tuduhan bahwa beliau memang bukan keturunan PKI. Hedeh, masa begitu aja kalian nggak paham sih, dasar Cebi (Cebong Jokowi)?

Tes DNA itu penting untuk mengetahui apakah benar Presiden kita benar-benar keturunan orang PKI atau tidak? Wah, ini kan penting demi kelangsungan kehidupan ideologi Pancasila yang sudah kita jaga-jaga selama puluhan tahun di Indonesia. Bahaya dong jika diam-diam kita dipimpin sama orang yang jebulnya keturunan PKI.

Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati, Bapak Fadli Zon meminta dengan sopan agar Pak Jokowi merealisasikan hal ini. Lagian kalau memang betul nggak ada DNA PKI, ya harusnya Pak Jokowi mengiyakan usulan ini dong. Kalau nggak salah ngapain takut ya kan?

Lagian, Pak Jokowi juga malah curcol ke mana-mana, kata Presiden; mana ada PKI balita? Ya memang tidak ada sih PKI balita, tapi kan ada anak keturunan PKI di seluruh Indonesia. Dan ini kan berbahaya demi kehidupan bangsa. Jauh lebih berbahaya daripada ideologi Khilafah yang jelas-jelas bilang Pancasila dan Demokrasi thogut dan ada di mana-mana.

Berikut kicauan Wakil Ketua Partai Gerindra ini:

Agar tak terus-menerus curcol soal PKI mmg sebaiknya tes DNA saja. Atau lapor polisi. Gitu aja kok repot (ingat Gus Dur)… https://t.co/8aoQlBv0vU

— Fadli Zon (@fadlizon) 24 November 2018


Usai berkicau demikian, ada ratusan komentar yang rata-rata menyerang Bapak Fadli Zon. Padahal mereka nggak tahu saja, bahwa kompetensi Fadli Zon dalam hal demikian sungguh expert. Sebagai seorang sastrawan, musisi, sekaligus penyair yang menyaru menjadi seorang politisi, sosok semultitalenta seperti Fadli Zon tentu punya banyak referensi.

Ya tentu referensi beliau bukan novel Salah Asuhan karya Marah Rusli yang melenda itu. Apaan itu, novel kok lawas banget? Referensi beliau jelas lebih kekinian, seperti sinetron Putri Yang Ditukar atau sinetron Anakku Bukan Anakku (lha terus anaknya siapa, Setaaaan?). Referensi yang sangat kekinian dan dekat dengan referensi rakyat kebanyakan.

Yah, namanya juga wakil rakyat ya kan? Ya harus menyesuaikan dengan tontonan masyarakatnya dong. Dengan referensi demikian, maka jelas betapa dekat Fadli Zon dengan rakyatnya. Camkan baek-baek hal itu, kisanak.

Melalui referensi semacam itu, wakil rakyat tercinta ini ingin menunjukkan bahwa bisa jadi Presiden kita perlu membuktikan bahwa beliau bukanlah anak yang ditukar oleh gerombolan pengkhianat. Lagian sebagai seorang presiden, apa sih susahnya tes DNA? Gitu aja kok repot, gitu kalau kata Fadli Zon menirukan gaya-gaya Gus Dur.

Yang menarik tentu saja pertanyaan-pertanyaan yang mempertanyakan apakah dengan tes DNA seseorang bisa diketahui adalah PKI?

Iklan

Loh, bagi Fadli Zon, hal ini tentu jelas. Sebagai sosok multitalenta seperti Fadli, beliau juga pasti bisa membedakan mana DNA PKI, pro khilafah, Pancasila. Jadi barangkali di mata beliau gambaran DNA itu bisa terlihat jelas melalui mata batin beliau.

Kalau kromosomnya berbentuk bendera hitam; nah itu pro khilafah, jika kromosomnya bentuknya burung; wah, itu Pancasilais, yang bahaya kalau bentuk kromosomnya melengkung kayak sambit sama palu; wah itu pasti DNA PKI tuh.

Terus kalau ada yang masih nanya, kalau pun misal (misalnya lho ini) ada anak seorang PKI, apakah dengan otomatis si anak bakal PKI juga? Wah, iya dong. Dalam Fadli Zon Universe apa pun ideologi si bapak, so pasti bakal nurun ke anak. Namanya juga universe sendiri.

Misalnya (misalnya lho ini) bapakmu merupakan anggota PRRI/Permesta, ya walaupun kamu kelihatan seorang patriot bangsa dalam kehidupannya. Bahkan menjadi seorang perwira di TNI sekalipun, ya selama-lama-lama-lamanya kamu punya ideologi sama bapakmu. Itu nggak bisa diganggu gugat. Lha wong Fadli Zon Universe. Bebas.

Lagian ada satu fakta lagi yang akan mencengangkan kita semua. Bahwa ternyata selama ini Fadli Zon tahu konspirasi di balik penamaan DNA selama ini. Apa itu?

Jenderal, DNA itu singkatan lain dr DN Aidit. https://t.co/wOtJG6xPqV

— Fadli Zon (@fadlizon) 23 November 2018


Tuh, dibilang juga apa. Kalau Fadli Zon mah bebas, lha wong punya Fadli Zon Universe.

Terakhir diperbarui pada 27 November 2018 oleh

Tags: DNAdpr riFadli ZongerindrajokowiPermestaPKIpresidenTes DNAwakil rakyat
Ahmad Khadafi

Ahmad Khadafi

Redaktur Mojok. Santri. Penulis buku "Dari Bilik Pesantren" dan "Islam Kita Nggak ke Mana-mana kok Disuruh Kembali".

Artikel Terkait

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika MOJOK.CO
Esai

Ini Bukan Perkara Sunni vs Syiah, PKI Belapati dengan Iran karena Senasib sebagai Negeri Anti-imperialisme Amerika

11 Maret 2026
Menteri Kebudayaan Fadli Zon dan Wali Kota Agustina Wilujeng ajak anak muda mengenal sejarah Kota Semarang lewat kartu pos MOJOK.CO
Kilas

Kartu Pos Sejak 1890-an Jadi Saksi Sejarah Perjalanan Kota Semarang

20 Desember 2025
Gedung Sarekat Islam, saksi sejarah dan merwah Semarang sebagai Kota Pergerakan MOJOK.CO
Kilas

Upaya Merawat Gedung Sarekat Islam Semarang: Saksi Sejarah & Simbol Marwah yang bakal Jadi Ruang Publik

20 Desember 2025
Doktor termuda di UGM, Jogja ingin jadi presiden. MOJOK.CO
Sosok

Doktor Termuda UGM Usia 25 Tahun Ingin Jadi Presiden RI, Meneruskan Sepak Terjang BJ Habibie di Bidang Eksakta

6 November 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut

3 April 2026
Punya rumah besar di desa jadi simbol kaya tapi terasa hampa MOJOK.CO

Punya Rumah Besar di Desa: Simbol Kaya tapi Percuma, Terasa Hampa dan Malah Iri sama Kehidupan di Rumah Kecil-Sekadarnya

2 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
kerja di kafe Jogja stres. MOJOK.CO

Kerja di Kafe Bikin Stres karena Bertemu Gerombolan Mahasiswa Jogja yang Nggak Beradab, Sok Sibuk di Depan “Budak Korporat”

1 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.