Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Harga Gudeg Jogja Naik, Berpotensi Menguatkan Sisi Gelap kalau Kuliner Jogja Ini Memang Bukan Makanan Murah Lagi

Yamadipati Seno oleh Yamadipati Seno
9 April 2026
A A
Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Gudeg, Kuliner Jogja yang Makin Tak Cocok untuk Orang Miskin (Unsplash)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Entah sejak kapan antrean di gudeg Jogja langganan saya semakin panjang. Melihat situasi ini, kadang saya jadi agak besar kepala. Pasalnya, sebelum saya tulis profilnya secara singkat di dalam sebuah artikel, antreannya nggak sepanjang itu. Apakah salah satu kuliner Jogja ini jadi ramai karena saya?

Sudah pasti jawabannya: mana mungkin. Toh saya hanya pernah menulis semacam petunjuk lokasi gudeg Jogja andalan saya itu. Sudah begitu, saya tidak mendetailkan informasi. Cuma ia ada di Jalan Pandanaran, Sleman. Ia berdekatan SPBU dan Kopi Pandan Arang. Yah, di sana, memang cuma ada satu tempat makan gudeg, sih.

Saya percaya diri untuk menegaskan kalau gudeg Jogja andalan saya ramai karena dua hal paten. Pertama, harganya sangat terjangkau. Kedua, rasanya agak melenceng dari pakem gudeg Jogja. Yang “celakanya”, justru semakin saya cintai, yaitu perpaduan rasa pedas, gurih, nuansa smoky, dan manisnya minimal.

Jadi, melihat antrean di sana semakin hari semakin panjang, hati saya bungah. Bahagia karena artinya semakin banyak orang akan tahu bahwa gudeg Jogja itu nggak dominan manis. Maklum, dominasi rasa manis ini menjadi salah satu aspek yang membuat kuliner khas ini sukses mendapatkan banyak haters.

Namun, di suatu pagi, ketika ikut mengantre, ada sebuah kekhawatiran menyeruak di dalam hati saya. Ternyata, harga gudeg Jogja andalan saya sudah baik. Celakanya, naiknya agak signifikan jika saya membandingkan dengan harganya di beberapa bulan yang lalu. Saya juga sempat khawatir kalau kelak, kuliner Jogja ini semakin nggak cocok untuk orang miskin.

BACA JUGA: Gudeg Adalah Makanan Khas Jogja Paling Mengecewakan

Gudeg Jogja itu (masih banyak yang) murah

Sebagai warga lokal, saya mendapatkan banyak informasi terkait gudeg murah dari ibu saya. Biasanya, titiknya ada di sekitar daerah rumah saya yang di Kota Jogja. Nah, untuk gudeg Jogja di Pandanaran ini, saya menemukan sendiri, di suatu pagi enam bulan yang lalu, dalam perjalanan menuju kantor Mojok.

Pagi itu, sekali lagi, saya diyakinkan oleh semesta bahwa masih banyak gudeg Jogja murah. Saya adalah pengganyang gudeg yang minimalis. Isian yang saya suka hanya gudeg+tahu+krecek. Sudah, murah, dan itu saja. Pagi itu, saya hanya perlu membayar Rp8 ribu.

Saya agak shock ketika rasa gudeg Jogja yang kelak jadi andalan ini melenceng dari pakem. Dan saya suka. Pedasnya menggigit tapi masih sopan. Gurihnya pas, melengkapi manis yang khas. Dua hari kemudian, saya menambah sebutir telur bacem. Harganya jadi Rp12 ribu.

Harga Rp12 ribu untuk seporsi gudeg Jogja yang seimbang antara protein dan karbohidrat tentu tidak mahal. Menurut saya, harga Rp12 ribu seharusnya menjadi standar untuk isian gudeg+tahu+krecek+telur bacem.

Masalahnya begini. Banyak warung gudeg Jogja, baik di kaki lima maupun ternama, mematok harga yang bikin kecewa. Iya, di kaki lima pun ada saja yang mengecewakan dari sisi harga. Isian gudeg andalan saya tadi bisa naik sampai Rp15 atau 18 ribu. Belum lagi kalau ketemu pedagang yang suka upselling. Saya pernah kena pedagang beginian.

Ini saya belum ngomongin yang sudah ternama. Rata-rata, paling murah itu Rp18 ribu. Dan kebanyakan, ada di Rp25 ribu untuk isian minimalis. Maka, dari fenomena tersebut, lahir anggapan gudeg Jogja itu mahal.

Kenaikan harga salah satu kuliner Jogja yang bikin saya khawatir

Saya suka telur. Semua olahan, rata-rata saya suka. Apalagi telur bacem di gudeg Jogja. Maka, ketika saya mendapati sebuah warung yang murah, saya menambah telur menjadi dua. Jadi, isinya jadi gudeg+telur+krecek+telur 2 butir. Harganya? Naik menjadi Rp15 ribu. Untuk isian dua telur? Masih terjangkau untuk saya.

Nah, selama beberapa bulan, isian ini menjadi andalan. Dalam seminggu, saya bisa mampir sampai tiga kali. Sesuka itu saya sama gudeg.

Iklan

Lalu, tiga hari yang lalu, saya terkejut. Harga isian yang jadi andalan saya naik jadi Rp18 ribu. Kenaikan dari Rp15 ribu ke Rp18 ribu entah kenapa, ternyata, bisa bikin saya tertegun selama sedetik. Saya bahkan mengulangi pertanyaan saya ke ibunya: “Berapa, Bu?” untuk kembali mendapat jawaban “Rp18 ribu, Mas.”

Untung saja saya masih bisa menguasai diri untuk tidak mempertanyakan soal kenaikan harga salah satu kuliner Jogja kesukaan saya ini. Selain tidak elok karena antrean panjang, saya juga nggak mau dianggap pelit. Duit Rp18 ribu aja jadi perkara. Mungkin akan ada yang berpikir seperti itu.

Rasa khawatir yang muncul adalah lebih banyak orang percaya kalau gudeg Jogja itu mahal. Meski memang, pesanan saya agak absurd, yaitu pakai dua telur. Saya juga gerah dengan berbagai omongan orang, yang sukanya memukul rata, kalau gudeg itu mahal. Dan itu adalah golongan orang tolol, pemalas untuk riset, pikirannya sempit.

BACA JUGA: Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega

Memaklumi kenaikan harga gudeg Jogja

Selama beberapa menit menuju kantor saya berpikir. Dan akhirnya bisa memahami kenaikan harga gudeg Jogja andalan saya. Pertama, kondisi ekonomi Indonesia memang menyedihkan. Harga bahan baku naik secara serentak. Kebetulan keluarga istri saya petai cabai. Jadi saya tahu kegelisahan yang terjadi terkait kenaikan harga salah satu kuliner Jogja favorit saya.

Kedua, kejahatan Israel dan Amerika di Timur Tengah mengerek harga bahan. Selain minyak, ada juga kenaikan harga plastik. Di Indonesia ini, pedagang kaki lima mana yang nggak pakai plastik sebagai wadah take away? Pedagang gudeg Jogja juga pasti terdampak. Sialan betul dua negara laknat itu.

Begitulah. Saya bisa memahami. Namun, kekhawatiran akan masa depan kuliner Jogja itu belum juga padam. Sampai akhirnya saya menulis artikel ini sebagai pengingat kepada semua orang tolol yang memukul rata kalau semua gudeg Jogja itu mahal.

Begitulah dunia tolol ini bekerja. Penuh orang tolol dan nggak tahu terima kasih. Slipknot memang benar, bahwa people equal shit!

Penulis: Yamadipati Seno

Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Gudeg Jogja yang Rasanya Enak dan Cocok di Lidah Wisatawan dan artikel menarik lainnya di rubrik POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 9 April 2026 oleh

Tags: gudeggudeg basahGudeg JogjaJogjaKuliner Jogjakuliner khas jogjaMakanan khas Jogjarekomendasi gudeg Jogja
Yamadipati Seno

Yamadipati Seno

Redaktur Mojok. Koki di @arsenalskitchen.

Artikel Terkait

Jogja Bisa Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung MOJOK.CO
Esai

Jogja Ditinggalkan Wisatawan kalau Mengandalkan Jebakan Aji Mumpung 

8 April 2026
Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer MOJOK.CO
Catatan

Deles Indah, Bukti Klaten Punya Harga Diri yang Bisa Kalahkan Jogja dan Solo sebagai Tempat Wisata Populer

7 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO
Urban

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO
Sosial

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Di umur 30 cuma punya motor Honda Supra X 125 kepala geter. Dihina tapi jadi motor tangguh yang bisa bahagiakan orang tua MOJOK.CO

Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia

8 April 2026
Mahasiswa muak dengan KKN di desa. Mending magang saja MOJOK.CO

Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu dan Tak Dibutuhkan Warga

9 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Gagal seleksi PPPK dan CPNS meski daftar di formasi PNS atau ASN sepi peminat. Malah dapat kerja yang benefitnya bisa bungkam saudara yang sebelumnya menghina MOJOK.CO

Gagal Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat Dihina Bodoh, Malah Dapat Kerjaan “di Atas” ASN Langsung Bungkam Penghina

9 April 2026
Mio M3: Motor Yamaha Paling Menderita dan Dianggap Murahan MOJOK.CO

10 Tahun yang Indah Bersama Mio M3: Motor Yamaha yang Dianggap Murahan, Diremehkan Orang, dan Katanya Bikin Orang Menyesal

7 April 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.