Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Godaan untuk Memelihara Kucing Ras Setelah Sekian Lama Memelihara Kucing Kampung

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
24 Juli 2021
A A
nama kucing
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Memelihara kucing memang persoalan yang dilematis, apalagi perkara dilema dalam memilih kucing ras atau kucing kampung.

Saya bukan tipikal orang yang sangat menyukai kucing. Bahwa ada sembilan ekor kucing yang tinggal di rumah saya, itu semata karena saya tidak membenci kucing dan selalu mengizinkan siapa pun kucing yang datang untuk menjadikan rumah saya sebagai tempat bernanung. Monggo-monggo saja. Kebetulan saya bukan orang yang melarat-melarat amat sehingga tak mampu membelikan makanan bagi kucing-kucing yang datang untuk berkumpul dan berserikat.

Hal ini sudah saya lakukan sejak dulu. Sejak saya belum menikah dan masih tinggal di kampung, saya sudah sering menampung kucing-kucing yang datang ke rumah saya, baik yang sukarela maupun kesasar.

Orang Islam yang baik kan katanya harus memuliakan tamu. Nah, kucing-kucing yang datang ke rumah saya tentu saya anggap tamu juga. Perkara beberapa dari mereka adalah jenis tamu yang kurang ajar karena kemudian nggak pamit-pamit, biarlah itu menjadi urusan dia dengan Tuhan.

Seluruh kucing yang tinggal di rumah saya adalah kucing kampung. Kucing yang, saya yakin kita semua sepakat, bahwa penampilan mereka tentu tak seimpresif kucing ras. Bulu mereka tak selentik bulu kucing-kucing persia, anggora, siam, ragdoll, dan jenis-jenis kucing “indah” lainnya.

Hal ini berbeda dengan tetangga belakang rumah saya, Prima, yang juga memelihara banyak kucing di rumahnya, namun semuanya jenis kucing ras. Dan selayaknya kucing ras, penampilan mereka lucu-lucu dan menggemaskan semuanya.

Saya jadi sering berinteraksi dengan kucing-kucing milik Prima, sebab kadang, mereka juga sering ikut makan bersama kucing-kucing kampung yang saya pelihara.

Lama-kelamaan, kok ya timbul juga niatan untuk memelihara kucing ras. Kelihatannya kok lucu, gemes, enak diajak main, dan yang pasti, kalau difoto, tentu jauh lebih Instagramable.

Sudah beberapa kali kawan saya yang punya kucing ras menawarkan anak-anak kucingnya untuk saya adopsi, namun saya selalu menolaknya.

Alasan saya satu: saya takut memelihara kucing ras karena konon perawatannya yang sangat kompleks dan repot. Harus dimandiin setiap beberapa hari sekali, makannya harus teratur, selain itu juga harus tepat jenis makanannya agar bulunya tak rontok, dan seterusnya, dan seterusnya. Kasihan kucingnya nanti. Ego estetikanya tercoreng.

Tetangga mbah saya di kampung suatu ketika juga pernah diberi dua anak kucing ras yang amat lucu. Tiap kali mampir ke rumah mbah, saya selalu menguyel-uyel kucing lucu tersebut. Namun beberapa waktu terakhir saat saya datang ke rumah mbah, kucing tersebut ternyata tumbuh dengan sangat buruk. Bulunya memprihatinkan, buluk, tidak impresif. Tentu ini hal yang wajar, sebab memang kucing tersebut diberi makanan sekedarnya oleh mbah saya. Dia tak peduli dengan makanan buat dua kucingnya itu. Yang penting dikasih makan, beres perkara.

Hal itulah yang kemudian membuat saya sampai sekarang masih terus berpikir keras dan ragu untuk memelihara kucing ras.

Namun, tiap kali melihat Prima bermain dengan kucing-kucingnya yang lucu itu, pelan-pelan, keraguan saya saya itu perlahan tertutupi oleh kemolekan dan kelucuan kucing-kucing ras itu.

Tentu ini bukan bentuk main serong dan mengkhianati kucing-kucing kampung yang sudah lebih dulu saya pelihara. Namun memang kelihatannya, godaan untuk memelihara kucing-kucing ras ini terus muncul, seiring dengan makin seringnya kucing-kucing ras milik Prima ikut mampir makan bersama kucing-kucing kampung.

Iklan

Pasti akan lebih estetik kalau saya memfoto buku-buku jualan saya dengan latar belakang kucing-kucing lucu tersebut. Pasti akan lebih menggemaskan kalau foto kucing-kucing lucu saya jadikan sebagai foto untuk kebutuhan instastory. Juga tentu akan bikin pengunjung rumah saya lebih betah main di rumah saya kalau ada kucing ras yang lucu dan menggemaskan.

Ini bukan maksud saya merendahkan kucing-kucing kampung saya. Namun memang saya harus sadar, bahwa kucing-kucing kampung milik saya itu punya daya tarik pada kesederhanaan mereka, yang tidak terlalu pilih-pilih makanan, yang tidak terlalu butuh perawatan. Bukan pada penampilan fisik mereka.

Semua punya daya tarik sendiri. Kucing ras menarik karena estetika. Kucing kampung menarik karena “sederhana”.

Nah, pada titik inilah, saya tampaknya masih tetap butuh waktu yang agak lama sebelum memutuskan untuk berani memelihara kucing ras. Saya tampaknya belum siap banyak berkorban untuk bisa mendapatkan ke-esetetika-an yang mereka tawarkan.

Tapi itu sekarang. Nggak tahu kalau besok.


BACA JUGA Dari Bolt Sampai Royal Canin, Urusan Memilih Memang Tak Pernah Sederhana dan tulisan AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2021 oleh

Tags: kucingkucing kampungkucing ras
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Kucing, hewan peliharaan
Catatan

Memelihara Kucing Membuat Saya Menjadi Manusia: Tak Saling Bicara, tapi Lebih Memahami ketimbang Sesama Manusia

26 Maret 2026
Trauma memelihara kucing sampai meninggal. MOJOK.CO
Sehari-hari

Trauma Pelihara Kucing: Penuhi Ego di Masa Kecil, Saat Dewasa Malah Merasa Bersalah usai Anabul Kesayangan Mati

26 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO
Catatan

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026
Kucing peliharaan anak kos Jogja
Catatan

Anak Kos Jogja Pilih Hidup Miskin demi Hidupi Kucing, Lebih dari Setengah Gaji Habis untuk Piaraan

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ibu hamil kondisi mengandung bayi

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Mending Kerja di Bali daripada Jogja, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Vario 160 Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Honda MOJOK.CO

Vario 160 Adalah Motor Buruk Rupa yang Menyalahi Kodrat Motor Honda, tapi Sejauh Ini Menjadi Matik Terbaik yang Tahan Siksaan

3 April 2026
KA Eksekutif, Kereta eksekutif KAI Jogja ke Jakarta nggak nyaman. MOJOK.CO

Penyesalan Penumpang Kereta Eksekutif: Bayar Mahal untuk Layanan Mewah, Malah Lebih Nyaman Pakai Kereta Gaya Lama

31 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.