Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
    • Bidikan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Curhat Anak Milenial: Kenapa Anak Generasi Z Suka Promosi Teman di Medsos Sih?

Audian Laili oleh Audian Laili
9 September 2019
A A
Generasi Z yang Suka Promosi Akun Medsos Temannya, Ngapain Sih? MOJOK.CO
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Anak-anak generasi Z suka banget promosi akun medsos temannya itu buat apa, sih? Apa temen-temennya sudah se-despreate itu buat cari followers?

Ada satu hal yang membuat saya tidak paham setelah mengamati aktivitas adik saya—kelahiran 1999 yang biasa disebut generasi Z (generasi yang lahir di rentang tahun 1995 sampai 2014)—di media sosialnya. Satu hal tersebut adalah promosi akun medsos temannya untuk di-follow oleh followers adik saya. Saya tidak terlalu dapat memahami, apa alasan yang melatarbelakangi adik saya meng-upload foto dirinya bersama temannya atau malah foto temannya sendiri dengan caption, semisal, “Gaes, follow IG temen aku dong! Dia baik, salehah, dan bla bla bla, lohhh….”

Maksudnya, apakah teman-teman adik saya se-despreate itu hingga akhirnya akun media sosial saja harus minta tolong buat dipromosikan oleh temannya, supaya followers-nya bisa bertambah? Mohon maaf nih, itu hanya akun pribadi, loh! Bukan akun yang isinya memang barang-barang jualan. Jadi, bukankah aneh kalau menempatkan diri sendiri seolah-olah seperti “barang” yang bisa dijual?

Karena gatel, akhirnya saya menanyakan hal ini langsung pada adik saya yang saat itu sedang bersama sepupu saya yang juga sepantaran dengannya. Saya tanya, alasan mereka sering promosi akun medsos temannya itu sebetulnya kenapa, sih?

Sayangnya, saya tidak menemukan jawaban yang melegakan. Seperti biasa, kalau adik saya ditanya hal-hal semacam ini, dia akan memulai menjawab dengan nada tinggi dengan kalimat, “Ya nggak apa-apa.” Alias, itu artinya adik saya tidak nyaman ditanya-tanya. Ditanya-tanya itu sama artinya dengan menganggu kekhusyukannya scrolling timeline Instagram.

Tentu saya tidak puas dengan jawabannya itu. Saya tanya lebih lanjut, apakah itu ia lakukan atas keinginan pribadi, semacam merasa kasihan dengan temannya yang kekurangan followers? Ataukah karena dipaksa oleh si temannya yang bersangkutan?

Adik saya menjawab, bisa keduanya. Bisa terjadi karena paksaan ataupun karena kerelaan. Ia menambahkan hal kayak gini terjadi karena ada semacam hubungan timbal balik. Dulu temannya pernah melakukan itu padanya jadi dia ingin membalas (((kebaikan) temannya yang sudah memberikan sumbangsih membuatnya lebih tenar, dengan melakukan hal serupa.

Oke, jadi ini semacam srawung atau silaturahmi ala generasi Z? Sama seperti zaman awal-awal saya dan teman-teman seumuran saya bermain Instagram. Tanpa ada aturan tertulis, aturan berbalas like seolah telah menjadi srawung itu sendiri. Jadi, kalau teman saya nge-like postingan saya, itu artinya tanpa perlu diminta saya punya tanggungan untuk nge-like postingan teman saya.

Tipe srawung semacam ini memang terlihat aneh. Apalagi, karena adanya gap usia, apa yang dilakukan oleh adik saya dan teman-temannya ini menjadi sulit dipahami. Bentuk perhatian yang mereka berikan ke temannya justru terlihat seperti orang-orang yang desperate seolah-olah kebahagiaan hanya bisa didapatkan dari engagement di media sosial: Dunia yang selama ini kita kenal maya, palsu.

Jadi kalau dirasa-rasa, apa yang mereka lakuin ini juga bukan suatu hal yang salah. Mereka sudah terpapar internet di usia yang lebih muda dibandingkan kita. Jadi, mau nggak mau, interaksi yang mereka lakukan tentu berdasarkan si paparan teknologi ini.

Kalau dipikir-pikir, promosi akun medsos teman mereka di media sosial mungkin tidak jauh berbeda dengan konsep mengenalkan teman ke teman-temannya yang lain. Namun, karena identitas diri yang digunakan adalah akun media sosial, jatuhnya malah terkesan kayak promosi. Bukannya memperluas jaringan pertemanan.

Mungkin mereka terjebak dalam ilusi bahwa jumlah followers sama dengan jumlah teman yang dimiliki. Jadi, ada anggapan, kalau memang betul-betul berteman, kenapa nggak nge-follow akun media sosial teman sendiri? Ini beneran temen apa, nggak sih? Saling follow dan saling promosi akun medsos teman ini kebutuhan buat srawung generasi Z loh ini~

BACA JUGA Hukum Tak Tertulis di Media Sosial yang Sebaiknya Kita Ketahui atau tulisan Audian Laili lainnya

 

Terakhir diperbarui pada 9 September 2019 oleh

Tags: promosi akun medsos
Audian Laili

Audian Laili

Redaktur Terminal Mojok.

Artikel Terkait

No Content Available
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO

Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

8 Januari 2026
Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas, Pemutar Ekonomi Bangsa MOJOK.CO

Mitsubishi L300: Simbol Maskulinitas Abadi yang Menolak Fitur Keselamatan demi Memutar Ekonomi Bangsa

13 Januari 2026
Santri penjual kalender keliling dan peminta-minta sumbangan pembangunan masjid meresahkan warga desa MOJOK.CO

Santri Penjual Kalender dan Peminta Sumbangan Masjid Jadi Pengganggu Desa: Datang Suka-suka, Ada yang Berbohong Atas Nama Agama

8 Januari 2026
literasi rendah di Papua dan upaya mahasiswa BINUS. MOJOK.CO

Tantangan Mahasiswa BINUS bikin Cerita Bergambar Soal Kehidupan Sehari-hari Anak Papua dan Guru Relawan

8 Januari 2026
Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa. MOJOK.CO

Kisah Wisudawan Terbaik ITB, Berhasil Selesaikan Kuliah S2 dari Ketertarikan Menyusuri Kampung Tua di Pulau Jawa

12 Januari 2026
Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

Saya Memutuskan Kuliah di Jogja Bukan Hanya untuk Cari Ilmu, tapi Juga Lari dari Rumah

12 Januari 2026

Video Terbaru

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

Elang Jawa dan Cerita Panjang Kelestarian yang Dipertaruhkan

11 Januari 2026
Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

Serat Centhini: Catatan Panjang tentang Laku dan Pengetahuan

8 Januari 2026
Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

Mukti Entut dan Keputusan-keputusan Kecil yang Bikin Hidup Masuk Akal

6 Januari 2026
Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Kilas
  • Pojokan
  • Otomojok
  • Konter
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.