Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Chef Juna Adalah Bukti Terbaru Bahwa Tren Lelaki Idaman Perempuan Mulai Bergeser dari Pria Romantis Menuju Pria Demokratis

Agus Mulyadi oleh Agus Mulyadi
24 Juli 2021
A A
chef juna
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Pernyataan Chef Juna dalam wawancara dengan Deddy Corbuzier tentang keinginan memiliki anak mendapatkan pujian dari banyak orang.

Sejak semalam sampai setidaknya pagi hari tadi, di Twitter, nama Chef Juna mendadak menjadi trending topic selama beberapa waktu. Usut punya usut, hal tersebut ternyata karena potongan video wawancaranya bersama Deddy Corbuzier tentang pandangannya terhadap keinginan untuk memiliki anak diunggah kembali oleh beberapa akun dan menjadi viral.

Dalam potongan video wawancara tersebut, Chef Juna ditanya pendapatnya oleh Deddy terkait keinginan untuk punya anak.

Jawaban Chef Juna oleh banyak orang dianggap luar biasa. Chef Juna mengatakan bahwa ia hanya ingin punya anak jika memang istrinya berniat punya anak.

“If my wife wants kids, we have kids. Is my wife doesn’t want kids, then we don’t have kids.” Kata Chef Juna.

Chef Juna mengatakan bahwa dirinya tidak mungkin memaksa istrinya untuk mau hamil dan punya anak.

Kenapa mempunyai anak jadi keharusan?
Apa yang salah dengan keputusan tidak mempunyai anak?

Source: Instagram Nurul Bahrul Ulum pic.twitter.com/BEm7ng6XIO

— EA Books (@EA_Books) July 23, 2021

Jawaban Chef Juna tersebut tak pelak langsung melahirkan banyak pujian utamanya dari para perempuan.

“Sebagai perempuan, rasanya tersanjung dengan pemikiran Chef Juna ini. Masih banyak masyarakat yang menganggap perempuan pasti menginginkan anak, perempuan harus memiliki anak, dan perempuan gak sempurna tanpa anak.” Tulis pegiat Komunitas Puan Menulis Wanda Roxanne.

Kolom komentar maupun kutipan twit potongan video Chef Juna tersebut pun tak butuh waktu lama untuk penuh dengan aneka sanjungan dan bahkan curahan hati para perempuan yang berharap bisa punya suami dengan pemikiran seperti Chef Juna.

Fenomena tersebut tentu amat bagus, setidaknya sebagai sebuah udaha untuk meningkatkan kesadaran orang-orang terkait relasi gender dalam pernikahan.

Dalam masyarakat yang masih amat kental dengan budaya patriarki, perempuan memang masih kerap dianggap sebagai subordinat di dalam pernikahan.

Posisi istri masih kerap hanya diposisikan untuk memberikan pelayanan kepada suami. Istilah “Dapur, sumur, kasur” pun sebenarnya lahir sebagai konsekuensi penerapan konsep pelayanan terhadap suami tersebut. Bahwa perempuan cukup bertugas memasak, mencuci, menyapu, melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik, dan kemudian dipungkasi dengan melalukan pelayanan jasmani untuk suami.

Konsep yang sangat konservatif itu pun kemudian mulai disingkirkan pelan-pelan seiring dengan makin aktifnya iklim diskursus kesetaraan gender. Banyak pegiat gender, baik dengan fondasi teologi maupun tidak yang mulai mengkampanyekan pentingnya kesetaraan gender. Mulai banyak ulama-ulama perempuan dan perempuan-perempuan ulama yang tampil ke publik untuk menawarkan interprestasi baru terhadap naskah-naskah keagamaan dengan perspektif keadilan gender.

Iklan

Istilah Mubaadalah atau kesalingan pun mulai akrab terdengar.

Konsep keadilan gender ini pun mulai diterapkan pada banyak hal. Isu-isu penting terkait, sosial, ekonomi, politik, dan tentu saja perkawinan juga mulai mempertimbangkan perspektif gender.

Kesadaran akan perlunya pengambilan keputusan dua pihak (suami dan istri) dalam pernikahan menjadi hal yang semakin dipahami betul oleh masyarakat.

Banyak lelaki yang mulai mau paham bahwa perempuan memiliki pengalaman biologis dan pengalaman reproduksi yang berbeda dengan dirinya. Mereka pun semakin sadar untuk aktif dan mendukung pasangan mereka dalam melewati pengalaman-pengalaman reproduksi tersebut.

Mulai muncul aktivitas-aktivitas mengkampanyekan pentingnya keadilan relasi hubungan antar pasangan. Hadirnya gerakan-gerakan kolektif berbasis kesadaran atas kesetaraan gender seperti Laki-laki Baru, Komunitas Ayah ASI, dan gerakan- gerakan kolektif lainnya menjadi bukti yang tak terbantahkan.

Kini semakin banyak lelaki yang tak lagi malu melakukan tugas-tugas rumah tangga. Hal yang dulu mungkin amat sangat dihindari oleh para lelaki sebab terkesan “tunduk” pada istri. Hal-hal tersebut dalam beberapa tahun terakhir menjadi diskursus yang baik.

Maka, pernyataan-pernyataan dari para pesohor yang secara tidak langsung mendukung gagasan kesetaraan gender seperti pernyataan Chef Juna terkait keinginannya mempunyai anak tentu akan semakin disukai oleh publik.

Chef Juna secara tidak langsung ikut memberikan pemahaman tentang perencanaan kehamilan dua pihak, tentang pentingnya pengambilan keputusan bersama dalam rumah tangga, juga tentang pentingnya antar pasangan untuk saling menghargai.

Dalam beberapa tahun ke depan, rasanya memang bukan tak mungkin akan muncul pesohor-pesohor lain yang mengikuti langkah Chef Juna untuk ikut mengkampanyekan kesetaraan relasi gender dalam hubungan pernikahan yang kian hari semakin menjadi isu yang populer.

Melihat respons-respons yang muncul di kolom reply video wawancara Chef Juna di atas, tampaknya memang hanya tinggal menunggu waktu bagi para perempuan untuk mulai mengubah standar “pria idaman” di mata mereka.

Jika dulu pria keren itu adalah pria yang romantis, maka sebentar lagi, tren pria idaman itu akan bergeser menjadi pria yang demokratis.

Akan makin banyak perempuan yang menganggap bahwa pria yang bisa membebaskan pasangannya bakal menjadi standar baru. Dan itu tentu saja adalah perubahan yang baik dan menyenangkan.


BACA JUGA MasterChef Indonesia Rekayasa Saja? Ya Bodo Amat yang Penting Bisa Belajar Tentang Kehidupan dari Chef Juna dan artikel AGUS MULYADI lainnya. 

Terakhir diperbarui pada 24 Juli 2021 oleh

Tags: Chef Junakesetaraan genderpernikahan
Agus Mulyadi

Agus Mulyadi

Blogger, penulis partikelir, dan juragan di @akalbuku. Host di program #MojokMentok.

Artikel Terkait

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya? MOJOK.CO
Esai

Dear KUA, Apa Alasan Terbaik bagi Kami untuk Menikah saat Situasi Dunia Sedang Kacau-Kacaunya?

18 Maret 2026
gen z, biaya nikah, nikah di gedung, pernikahan.MOJOK.CO
Sehari-hari

Lebih Baik Nikah di Gedung daripada di Desa: Lebih Praktis dan Murah, tapi Harus Siap Dinyiyiri Tetangga

22 Februari 2026
Sumbangan pernikahan di desa, jebakan yang menjerat dan membuat warga menderita MOJOK.CO
Ragam

Sumbangan Pernikahan di Desa Tak Meringankan tapi Mencekik: Dituntut Mengembalikan karena Tradisi, Sampai Nangis-nangis Utang Tetangga demi Tak Dihina

20 Januari 2026
Saat banyak teman langsungkan pernikahan, saya pilih tidak menikah demi fokus rawat orang tua MOJOK.CO
Ragam

Pilih Tidak Menikah demi Fokus Bahagiakan Orang Tua, Justru Merasa Hidup Lebih Lega dan Tak Punya Beban

15 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja gen Z matikan centang biru WhatsApp dicap kepribadian buruk

Pekerja Gen Z Matikan Centang Biru WhatsApp demi Privasi, Malah Dicap Kepribadian dan Etos Kerja Buruk padahal Berusaha Profesional

5 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Ribetnya lolos seleksi CPNS dan jadi PNS/ASN di desa: dibayangi standar hidup sukses yang merepotkan MOJOK.CO

Derita Jadi PNS atau ASN di Desa: Awalnya Bisa Sombong Status Sosial, Tapi Berujung Ribet karena “Diporoti” dan Dikira Bisa Jadi Ordal

1 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Anak PNS kuliah di PTN top seperti UGM masih menderita karena UKT nggak masuk akal

Derita Jadi Anak PNS: Baru Bahagia Diterima PTN Top, Malah “Disiksa” Beban UKT Tertinggi Selama Kuliah padahal Total Penghasilan Orang Tua Tak Seberapa

4 April 2026
Jurusan Antropologi Unair selamatkan saya usai ditolak UGM. MOJOK.CO

Ditolak UGM Jalur Undangan, Antropologi Unair Selamatkan Saya untuk Tetap Kuliah di Kampus Bergengsi dan Kerja di Bali

6 April 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.