Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Cara agar Milenial Miskin Bisa Punya Rumah

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
27 Januari 2020
A A
cara agar milenial bisa punya rumah public housing mojok.co

cara agar milenial bisa punya rumah public housing mojok.co

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Cara biar milenial bisa punya rumah adalah dengan memenangkan kebijakan public housing! Bikin gerakan yang mendesak pemerintah biar rumah nggak mahal-mahal.

Di kelas saya pernah diberi tahu kalau di masa depan, salah satu ancaman terbesar yang akan dihadapi umat manusia adalah perebutan sumber daya. Argumennya berhubungan dengan jumlah populasi manusia yang naik setiap harinya, tidak dibarengi dengan ukuran bumi yang sampai kapan pun bakal segitu-segitu aja. Nanti tanah untuk hunian dan segala hal yang terkandung di dalamnya bakal jadi sumber daya yang paling diperebutkan.

Di Indonesia, saya pikir nggak harus nunggu masa depan biar skenario itu kejadian. Kenyataannya, kita (hah, kita??) sudah mulai kesulitan untuk bisa punya rumah dari sekarang.

Berdasarkan data dari Bappenas, baru 40,05% rumah tangga saja yang bisa menghuni rumah yang layak. Artinya, lebih dari separuhnya tidak punya rumah, dan dari separuh itu, 81 jutanya adalah milenial.

Padahal nih ya, di Indonesia itu, punya rumah adalah hak asasi manusia yang dijamin oleh negara melalui UU 39/1999 Pasal 40 berbunyi, “Setiap orang berhak untuk bertempat tinggal serta berkehidupan yang layak.”

Kira-kira, apa yang bikin milenial ini pada nggak punya rumah?

Bukan, bukan karena nggak ada yang jualan rumah. Atau jumlah rumah di Indonesia masih terlalu sedikit. Rumah mah banyak! Yang nggak ada itu, duit buat belinya hahaha.

Eh serius! Sekarang, yang jualan rumah itu banyak banget, tapi harganya mahal banget karena pembangun matok harga yang jauh di atas ongkos produksi–dengan perhitungan bahwa meskipun dijual mahal pasti laku karena, siapa sih yang nggak butuh rumah??

Berdasarkan data Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Bank Indonesia (BI), harga hunian naik 39,7% dalam satu dekade terakhir.

Nah, lonjakan harga properti ini sayangnya nggak sebanding dengan kenaikan upah para pekerja. Karena belakangan inflasi cukup bisa dikontrol, akhirnya kenaikan upah juga segitu-segitu aja. Dampaknya, daya beli masyarakat ya nggak meningkat.

Konsekuensi logis harga rumah mahal dan pendapatan pas-pasan inilah yang akhirnya bikin banyak rumah kosong. Di Jakarta sendiri, ada sekitar 60.949 unit apartemen dan 5.334 rusunawa yang tidak terisi.

Kok bisa sih rumah harganya mahal-mahal?

Karena alih-alih dilihat sebagai kebutuhan, rumah ini sekarang dianggap sebagai barang mewah dan tempat berinvestasi yang dijamin tidak akan merugikan. Akhirnya, para pembangun memperlakukan rumah seperti saham. Digoreng sedemikian rupa sehingga banyak makelar yang bermain–yang bukan hanya membuat rantai informasi bertambah panjang dengan meningkatkan biaya marketing melalui iklan-iklan–tapi juga membuat masyarakat (yang punya uang) tidak banyak berpikir panjang karena kalau mikir dulu, nanti kelamaan padahal minggu depan harga sudah naik!

Jadinya, konsentrasi kepemilikan rumah jadi makin nggak merata karena yang butuh rumah tetep nggak punya rumah, yang nggak butuh rumah (karena udah punya) jadi punya banyak rumah.

Yang makin jadi masalah, yang udah punya banyak rumah ini akhirnya membiarkan rumah mereka kosong begitu saja. Dan ini jadi merugikan karena selain nggak dibayar PBB-nya, rumah ini akan lebih berguna kalau dimanfaatkan oleh orang lain yang membutuhkannya.

Sayangnya di Indonesia, nggak ada yang aturan yang mengatur masalah rumah kosong ini. Beda dengan Jepang yang bisa bikin kebijakan membagikan rumah kosong itu secara gratis, di Indonesia, rumah kosong tetap hak milik orang yang memilikinya.

Iklan

Jadi gimana dong solusinya biar milenial bisa punya rumah?

Ya milenial harus merebut hak untuk punya rumah laaah. Caranya, kita harus memenangkan kebijakan public housing! Bikin gerakan yang mendesak pemerintah untuk membuat aturan mengenai hunian ini biar harganya nggak mahal-mahal.

Pembangunan rumah yang terjangkau penting untuk mempengaruhi harga rumah di pasaran sekarang. Ingat, dalam logika liberal, produsen yang matok harga mahal akan ditinggalkan ketika ada yang menujual dengan harga yang lebih murah.

Semakin banyak negara membuat hunian murah, permintaan akan rumah murah semakin tinggi, jadinya, pengembang yang suka goreng-goreng harga tadi bakal nurunin harga rumah mendekati nilai aslinya. Soalnya kalo keukeuh jual mahal nanti dia yang rugi sendiri karena nggak ada yang mau beli.

Tapi kok kayaknya susah? Nggak bisa yang gampang aja gitu, yang bisa dikerjakan sambil rebahan?

Di tulisan saya yang sebelumnya, ketika saya bilang milenial terancam nggak punya rumah, ada pembaca yang memberikan komentar bahwa milenial seharusnya tidak perlu khawatir tidak punya rumah karena Tuhan Mahakaya, rezeki sudah diatur oleh-Nya. Lagi pula, rumah tuh nggak akan dibawa mati!

Baca komen itu bikin saya ngerti kenapa punya rumah atau nggak punya rumah nggak pernah dianggap sebagai masalah sama milenial di Indonesia hahaha.

Saya sepakat sih, jangan meragukan kuasa Tuhan. Tapi masalahnya…

… sekarang kita nggak bisa langsung menempati (((kuburan))) sebagai satu-satunya tempat mengistirahatkan diri di masa depan.

Jadi ya mau nggak mau, suka nggak suka, selama kita hidup, kita harus mikirin di mana kita bisa hidup, dan berlindung dari hujan, badai, dan kesedihan….

BACA JUGA Milenial Terancam Nggak Punya Rumah dan Dana Pensiun, Yakin Mau Tetap Rebahan Aja? atau artikel lainnya di POJOKAN.

Terakhir diperbarui pada 24 Februari 2021 oleh

Tags: Ekonomimilenialrumah
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Mahasiswa S2 Kajian Terorisme, Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif MOJOK.CO
Urban

Slow Living di Perumahan Jauh Lebih Nyaman Ketimbang Desa yang Malah Bikin Stres, tapi Harus Rela Dicap Sombong dan Sok Eksklusif

9 April 2026
Ibu hamil kondisi mengandung bayi
Catatan

Hampir Memiliki Anak Sudah Jadi Anugerah, Ibu Tak Apa Berjuang Mati-matian demi “Buah Hati” yang Belum Tentu Lahir ke Dunia

29 Maret 2026
Metode Soft Saving ala Gen Z dan Milenial bahaya untuk pensiun. MOJOK.CO
Sehari-hari

Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban

28 Maret 2026
Anak pulang ke rumah dari perantauan ditunggu, tapi justru sakiti dan beri duka karena sepelekan masakan ibu MOJOK.CO
Sehari-hari

Anak Pulang Justru Lukai Hati Ibu: Pilih Makan di Luar dan Sepelekan Masakan Ibu karena Lidah Sok Kota-Banyak Gaya

11 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ribetnya urusan sama pesilat. Rivalitas perguruan pencak silat seperti PSHT dan PSHW (SH Winongo) bikin masalah sepele jadi alasan rusuh MOJOK.CO

Makin Muak ke Ulah Pesilat: Perkara Tak Disapa Duluan dan Beda Perguruan Langsung Dihajar, Dikasih Fakta Terang Eh Denial

7 April 2026
Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah.MOJOK.CO

Geger Sepehi 1812: Bukti Keteguhan Sri Sultan Hamengkubuwono II Menolak Tunduk pada Penjajah

5 April 2026
Bekerja di Jakarta vs Jogja

Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental

10 April 2026
Horor, Evolusi Kelelawar Malam di Album "Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata.MOJOK.CO

Evolusi Kelelawar Malam di Album “Kesurupan”: Menertawakan Hantu, Melawan Dunia Nyata

9 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Susahnya cari kerja sebagai fresh graduate Unair. MOJOK.CO

Kuliah Kebidanan sampai “Berdarah-darah”, Lulus dari World Class University Masih Sulit Cari Kerja dan Diupah Nggak Layak

7 April 2026

Video Terbaru

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

Keropak Ferrara dan Warisan Islam Jawa yang Tumbuh dari Kedalaman Batin

9 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.