Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Anies Baswedan Lebih Punya Etika, Tidak Akan Seperti Jokowi Jilid Dua

Redaksi oleh Redaksi
7 Juli 2018
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sedang laris-larisnya. Mantan Menteri Pendidikan ini dijagokan untuk maju sebagai calon presiden (capres) tahun depan. Meski begitu, Gerindra yakin Anies tidak akan mengkhianati mereka, tidak seperti Presiden Jokowi pada Pilpres 2014 silam.

Menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2018 nama Anies Baswedan muncul ke permukaan sebagai calon presiden (capres) potensial. Kemenangan Anies pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta melawan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dianggap merupakan sebuah gambaran bahwa PDI-P dan Jokowi sudah tidak lagi begitu dominan di negeri ini.

Terlebih, perjalanan Anies mengingatkan pada perjalanan Presiden Jokowi saat Pilpres 2014. Seperti yang sudah diketahui, sebelum maju sebagai capres yang diusung PDI-P, Jokowi adalah pemenang Pilgub DKI Jakarta pada periode 2012. Saat itu Jokowi berpasangan dengan Ahok mengalahkan gubernur petahana Fauzi Bowo yang berpasangan dengan Nachrowi Ramli dan diusung oleh Partai Demokrat.

Melihat track record ini, tidak menutup kemungkinan Anies Baswedan akan meniru langkah Jokowi. Sebab, dengan elektabilitas yang masih tinggi—terlebih fakta bahwa mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini pernah mengalahkan jagoan PDI-P di Jakarta—tahun depan adalah waktu yang cukup berpeluang mengingat popularitas ini belum tentu bisa dipertahankan untuk beberapa waktu ke depan.

Lagi pula, Jokowi saat maju Pilgub DKI 2012 juga diusung oleh Partai Gerindra dan dua tahun setelahnya malah melawan salah satu partai yang mengusungnya. Keputusan Megawati Soekarnoputri untuk memberi mandat “petugas partai” untuk maju Pilpres 2014 juga didasarkan pada—salah satunya—aji mumpung. Mumpung sedang populer-populernya, mumpung lagi tinggi elektabilitasnya. Sehingga masuk akal kalau situasi sebenarnya PDI-P yang dikatrol perolehan suaranya oleh nama Jokowi, bukan sebaliknya.

Skenario ini hampir mirip-mirip dengan situasi sekarang. Apalagi secara populartas, nama Anies punya basis massa cukup lumayan dari dua sisi. Sebagai salah satu tim sukses Jokowi saat Pilpres 2014, Anies masih punya sedikit suara dari kubu pendukung Jokowi dan sebagian besar suara dari kubu pendukung Prabowo. Rekomendasi cawapres oleh Persaudaraan Alumni (PA) 212 yang memasukkan nama Anies adalah salah satu contohnya.

Meski begitu, Partai Gerindra sebagai pengusung Anies Baswedan untuk Pilgub 2012 masih yakin bahwa Anies tidak akan meniru langkah Jokowi.

“Saya rasa Mas Anies tidak akan menjadi ‘Jokowi Jilid Dua’ bagi Pak Prabowo. Karena Mas Anies lebih punya etika,” terang Andre Rosiade, Badan Komunikasi DPP Partai Gerindra. Lagian, menurut Andre, situasi yang terjadi pada Pilgub 2012 sebagian besar merupakan desain dari Prabowo.

Jika bukan karena Prabowo yang mendesak Megawati agar mau menyetujui Jokowi maju sebagai Cagub DKI Jakarta 2012, maka Jokowi tidak akan jadi Gubernur DKI Jakarta dan mustahil pula Jokowi akan maju menjadi presiden yang mengalahkan Prabowo pada Pilpres 2014.

“Kalau nggak karena Pak Prabowo, nggak mungkin (Jokowi) jadi gubernur. Kalau kita buka-bukaan, Bu Mega itu nggak setuju dengan Pak Jokowi. SK pencalonan Jokowi gubernur itu ditandatangani PDI-P last minute,” tutur Andre.

Bagi Andre, apa yang dilakukan Jokowi dan Megawati adalah salah satu pengkhianatan yang mencederai koalisi PDI-P dan Gerindra. Hal yang kemudian memperuncing permasalahan kedua partai ini meski sebelumnya sempat begitu mesra. Bahkan diungkapkan bahwa untuk mengamankan suara PDI-P di DPRD Jakarta pada waktu itu, Megawati awalnya ingin mendukung Fauzi Bowo (Foke), hanya atas desakan Prabowo yang bersikeras mendukung Jokowi Megawati pun memilih permainan berisiko dengan ikut melawan petahana.

Situasi ini sebagian sudah tercapai pada sosok Anies Baswedan. Sebagai sosok yang dipromosikan oleh Prabowo, kejadian bisa saja terjadi lagi, meski untuk sebagai capres hal ini dianggap mustahil oleh Gerindra. “Kalau maju pun, mungkin jadi cawapres Pak Prabowo,” kata Andre.

Satu hal yang mungkin diingat Gerindra, tidak seperti Jokowi yang terikat sebagai “petugas partai” PDI-P, Anies Baswedan bukan kader partai siapa-siapa. Benar memang Partai Gerindra mengusungnya bersama Sandiaga Uno di DKI Jakarta, hanya saja Anies bukanlah seorang kader partai.

Artinya secara keterikatan, Anies jadi lebih punya keluwesan dalam menentukan langkah politik dibandingkan Jokowi. Lompatan dari tim sukses dan menteri di kabinet Presiden Jokowi ke Gubernur DKI Jakarta yang diusung Prabowo adalah salah satu contoh bahwa segalanya bisa saja terjadi untuk satu tahun ke depan. (K/A)

Terakhir diperbarui pada 7 Juli 2018 oleh

Tags: ahokAnies Baswedandemokratdki jakartaFauzi BowogerindrajokowiMegawatiMenteri PendidikanMenteri Pendidikan dan KebudayaanPDI-PpilgubPilgub Jakartapilpres 2014prabowoSandiaga Uno
Redaksi

Redaksi

Artikel Terkait

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO
Urban

Karet Tengsin, Gang Sempit di Antara Gedung Perkantoran Jakarta yang Menjadi Penyelamat Kantong Para Pekerja Ibu Kota

3 Februari 2026
Mens Rea, Panji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme MOJOK.CO
Esai

Mens Rea, Pandji Pragiwaksono sebagai Anak Abah, dan Bahaya Logika Fanatisme

12 Januari 2026
Busuknya Romantisasi ala Jogja Ancam Damainya Salatiga (Unsplash)
Pojokan

Sisi Gelap Salatiga, Kota Terbaik untuk Dihuni yang Katanya Siap Menggantikan Jogja sebagai Kota Slow Living dan Frugal Living

5 Januari 2026
kapitalisme terpimpin.MOJOK.CO
Ragam

Bahaya Laten “Kapitalisme Terpimpin” ala Prabowonomics

21 Oktober 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Toyota Avanza Perusak Gengsi, Gak Waras Gak Berani Beli MOJOK.CO

Toyota Avanza Bekas Perusak Gengsi, tapi Orang Waras Pasti Tidak Ragu untuk Membeli Mobil yang Ramah Ekonomi Keluarga Ini

24 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Perbandingan pengguna iPhone vs Android (Infinix dan Samsung)

8 Tahun Pakai iPhone, Ternyata Saya Dibutakan Gengsi padahal Android Lebih Praktis dan Nyaman

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri MOJOK.CO

Rela Melepas Status WNI demi Hidup Sejahtera di Norwegia, Karier Melejit berkat Beasiswa Luar Negeri

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.