Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Betapa Sulitnya Tidak Membenci Suzuki, yang Katanya Pantas Kita Sayangi, Meski Kadang Bikin Jengkel Setengah Mati

Alan Kurniawan oleh Alan Kurniawan
28 November 2025
A A
Ilustrasi motor Suzuki MOJOK.CO

Ilustrasi Suzuki Lebih Mudah Dibenci karena Bikin Jengkel Setengah Mati. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Susah sekali rasanya untuk tidak meledek dan membenci produk Suzuki. Namun, di hati yang paling dalam, saya menaruh hormat kepada mereka.

Entah kebetulan atau tidak, dua artikel terakhir saya di Mojok membahas soal keburukan Suzuki. Yang pertama, membahas Satria Pro si “buruk rupa”. Kedua, Jimny yang bikin orang rela inden cuma buat akhirnya bikin dealer migren.

Berkat dua artikel tersebut, teman saya yang ikut membaca Mojok, memberi saya julukan “penulis PPS”. Sebuah kependekan dari “Pembenci Produk Suzuki.” 

Padahal sungguh, saya tidak ada niatan membenci Suzuki. Yang saya benci cuma kalau harga spare part nggak masuk akal dan inden mobil rasanya lebih lama daripada masa pendekatan ke gebetan yang akhirnya cuma bilang, “kita temenan aja, ya.”

Maka di artikel ini, saya mau menebus “dosa”. Semata biar saya tetap bisa mudik tanpa diburu klub Shogun dan komunitas Ertiga. Inilah lima alasan realistis kenapa kita semua harus mempertimbangkan untuk menyukai, bahkan mencintai, produk Suzuki, baik motor maupun mobilnya.

#1 Produk Suzuki Itu Awet. Saking awetnya, bengkelnya sampai banyak yang tutup

Ini bukan hinaan. Ini kenyataan yang diakui sendiri oleh banyak mekanik independen. Suzuki itu bikin produk yang awetnya kadang nggak masuk nalar. Dari era Crystal, Tornado, Shogun, Smash, hingga Satria F 150, rata-rata motornya punya reputasi “mesin badak”.

Bahkan di banyak daerah, bengkel resmi mereka tutup bukan karena nggak laku, tapi karena justru produknya kebangetan awet. Konsumen jarang servis, jarang ganti suku cadang. 

Motor Suzuki itu ibarat mahasiswa rajin: dipakai lima tahun, jarang keluhan, paling cuma minta ganti oli, ban, sama bensin. Lah kalau terlalu sehat, siapa yang mau dirawat?

Di dunia mobil, Ceria dan Carry generasi awal adalah bukti paling nyata. Carry itu saking awetnya, sampai dijadikan kendaraan serbaguna. Mulai dari angkut orang, kambing, tabung gas, bahkan pernah saya melihat dipakai angkut kulkas dua pintu sambil naik tanjakan. Mobilnya tetap jalan, walaupun sopirnya sudah pasrah.

#2 Bodi Suzuki memang lebih tebal. Ini bukan mitos, tapi kenyataan

Saat ini, banyak mobil Jepang lain beralih ke bodi ringan demi efisiensi bahan bakar. Namun, Suzuki, masih ngeyel mempertahankan struktur bodi yang lebih tebal dan solid. Entah ini keputusan sengaja atau karena engineer mereka malas bikin perubahan yang efeknya mobil Suzuki jadi lebih “ringkih”.

Coba ketok pintu Baleno lama atau SX4, rasanya kayak ketok lemari triplek tebal. Bandingkan dengan beberapa mobil modern rival yang diketok suaranya “ting-ting” mirip panci murah.

Di motor juga sama. Smash, Shogun, bahkan FU standar saja punya bodi panel yang lebih tebal, kokoh, nggak gampang getar atau copot sendiri. Banyak pemilik bilang, “Motor Suzuki itu kalau jatuh kadang yang luka bukan motornya, tapi yang ditabrak.”

Solid? Iya. Overbuilt? Mungkin. Tapi menyenangkan? Jelas.

#3 Handling produk selalu jadi yang paling menyenangkan di kelasnya

Jarang ada orang yang membahas fakta ini. Padahal sangat terasa begitu kita naik produknya. Suzuki, baik di motor maupun mobil, punya DNA handling yang enak banget.

Iklan

Naik Satria F? Suspensinya keras tapi track record stabilitasnya patut dipuji. Smash? Ringan, nurut, kayak sepeda motor yang disekolahkan di pesantren ketelitian. GSX Series? Sudah rahasia umum bahwa chasis Suzuki itu salah satu yang paling rigid di kelasnya.

Di mobil juga begitu. Ignis lincahnya kebangetan. Swift? Jangan ditanya, itu mobil hatchback rasa go-kart. SX4 masih jadi salah satu crossover dengan feel setir paling natural yang pernah saya coba. Bahkan Ertiga dan XL7, meski mobil keluarga, tetap terasa stabil dan tidak limbung-limbung amat.

Suzuki itu mungkin jarang juara soal fitur. Tapi soal fun to drive, mereka sering menang.

#4 Mesin mereka itu irit namun tetap bertenaga (tidak se-underpowered yang orang bilang)

Suzuki itu punya tradisi bikin mesin efisien. Dari motor kecil sampai mobil keluarga, mayoritas konsumennya mengaku iritnya keterlaluan.

Ertiga dan XL7 terkenal hemat, bahkan kadang lebih hemat dari rival utamanya. Carry? Jangan ditanya, itu mobil hematnya macam warteg dekat kos: murah, tapi bikin kenyang.

Motor juga begitu. Smash bisa dipakai ojol sehari penuh cuma isi bensin sekali. Shooter, meski kurang terkenal, punya konsumsi BBM sangat baik. GSX-R150 dan GSX-S150 irit, tapi nggak ngempos. Power-nya ada, torsinya cukup, dan mesin DOHC-nya halus ketika diajak ngegas panjang.

Kalau Suzuki punya kekurangan, mungkin hanya karena performanya lebih terasa stabil ketimbang sensasional, jadi sering dianggap kurang wah.

#5 Suzuki Itu berani beda. Kadang aneh, kadang brilian, tapi selalu orisinal

Kalau ada satu hal yang membuat saya diam-diam hormat pada Suzuki, itu adalah keberaniannya membuat produk yang nggak ikut-ikutan. Merek lain bikin mobil MPV yang bentuknya mirip semua, kan? 

Kalau Suzuki, bikin Karimun yang bentuknya kotak-polos-tanpa-dosa tapi dicintai banyak orang. Yang lain bikin city car “imut”, Suzuki bikin Ignis yang desainnya kayak mini SUV.

Di motor juga begitu. Produsen lain fokus di matik besar, Suzuki malah hadir dengan Address yang super simpel tapi keiritannya bikin takjub. Rival sibuk perang tampang, Mereka malah merilis GSX 150 series dengan keyless pertama di kelasnya padahal harganya kompetitif.

Suzuki itu ibarat teman kita yang gayanya nyeleneh, agak anti-mainstream, tapi justru itu yang bikin dia menarik. Kadang hasilnya gagal (iyalah, Jimny indent 2 tahun itu dosa besar), tapi sering juga hasilnya brilian. Dan setidaknya, mereka tidak pernah jadi follower yang cuma ikut-ikut tren.

Penutup: Saya bukan pembenci, cuma terlalu jujur saja

Dua artikel saya sebelumnya mungkin terkesan menyudutkan. Maklum, kalau ngomongin produk aneh, geli, atau membingungkan, Suzuki selalu punya bahan yang lezat untuk saya tulis. 

Tapi di sisi lain, Suzuki juga punya warisan, kualitas, dan karakter yang layak dibela. Produk-produknya awet, bodinya solid, handling-nya asyik, mesinnya irit, dan keberaniannya menjadi “beda” adalah sesuatu yang patut dipuji.

Kalau setelah membaca artikel ini ada yang masih nuduh saya penulis PPS, ya wis, saya pasrah. Tapi setidaknya saya sudah berusaha keras membela Suzuki, lebih keras dari perjuangan sales mereka menawarkan Ertiga di era persaingan berat MPV.

Suzuki bukan merek sempurna. Tapi siapa, sih, yang sempurna? Toh cinta itu bukan soal sempurna atau tidak, tapi soal bertahan dan bertanggung jawab. Dan mereka, dengan segala keanehannya, selalu bertahan meski bengkel resminya pada tutup dan itu sesuatu yang layak kita hormati.

Penulis: Alan Kurniawan

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Suzuki Memang Pabrik Motor Paling Aneh, Bukannya Jualan Cari Cuan, eh Mereka Malah Ibadah dan catatan menggelitik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Terakhir diperbarui pada 28 November 2025 oleh

Tags: bengkel resmi suzukibengkel suzukidealer Suzukimotor suzukisuzukisuzuki carrysuzuki ertigaSuzuki JimnySuzuki Satria ProSuzuki Shogunsuzuki smash
Alan Kurniawan

Alan Kurniawan

Jebolan lama UKSW Salatiga, yang garis takdirnya membawanya menjadi auditor di salah satu perusahaan otomotif terkemuka di (masih) Ibu Kota Jakarta. Seorang petrolhead garis keras yang sesekali menumpahkan isi kepalanya ke ruang-ruang sunyi di internet.

Artikel Terkait

Ambisi beli mobil sebelum usia 30. Setelah terbeli Suzuki Ertiga tetap tidak bisa senangkan orang tua dan jadi pembelian sia-sia MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Keluarga sebelum Usia 30, Setelah Kebeli Tetap Gagal Senangkan Ortu dan Jadi Pembelian Sia-sia

3 April 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO
Sehari-hari

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

21 Maret 2026
Suzuki S-Presso Mobil Tidak Menarik, tapi Tetap Laku MOJOK.CO
Otomojok

Menjawab Misteri Suzuki S-Presso Tetap Laku: Padahal, Menurut Fitra Eri dan Om Mobi, S-Presso Adalah Mobil Paling Tidak Menarik

26 Februari 2026
Hanya Orang “Tidak Waras” yang Mau Beli Suzuki APV MOJOK.CO
Otomojok

Misteri Adik Saya yang Berakal Sehat dan Mengerti Dunia Otomotif, tapi Rela Menebus Suzuki APV yang Isinya Begitu Mengenaskan

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Gelar Siswa Terpintar Tak Berarti buat Kuliah UB, Terdampar di UIN Malah Jadi Mahasiswa Goblok, Nyaris DO dan Lulus Tak Laku Kerja

3 April 2026
Jurusan Kebidanan Unair tolong saya dari kekecewaan gagal kuliah di Kedokteran. MOJOK.CO

Gagal Kuliah Kedokteran karena Bodoh dan Miskin, Malah Dapat Telepon Misterius dari Unair di Detik Terakhir Pendaftaran

6 April 2026
Innova Reborn: Mobil Keluarga yang Paling Punya Adab (Wikimedia Commons)

Ketika Bapak Semakin Ngotot Membeli Innova Reborn untuk Jadi Mobil Keluarga, Anak-anaknya Khawatir Hidup di Desa Jadi Cibiran Tetangga

4 April 2026
Aksi topeng ayam di Fore Coffee Jogja. MOJOK.CO

Di Balik Aksi Topeng Ayam Depan Fore Coffee Jogja: Menagih Janji Hak Ayam Petelur untuk Meraih Kebebasan

2 April 2026
kuliah s2.MOJOK.CO

Penyesalan Lanjut S2 Cuma karena Pelarian dan FOMO: Nganggur dan Dicap Overqualified, Sudah Kerja pun Gaji Setara Lulusan SMA

5 April 2026
Pekerja Jogja kaget pindah kerja di Purwokerto demi alasan slow living. Tapi kaget dengan karakter orang Banyumas MOJOK.CO

Pekerja Jogja Pindah Kerja ke Purwokerto Nyari Slow Living, Tapi Dibuat Kaget sama Karakter Orang Banyumas karena di Luar Ekspektasi

6 April 2026

Video Terbaru

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

Tirto Utomo, Aqua dan Kenapa Kita Tidak Bisa Minum Air Keran?

4 April 2026
Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

Parijoto Muria: Dari Buah Mitologi, Jadi Sumber Hidup Warga Lereng Gunung

2 April 2026
Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

Di Tengah Ribuan Kedai Kopi, Personal Branding dan Konsistensi Lebih Penting daripada Terlihat Keren

31 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.