Rangkaian Penderitaan Naik Bus Mila Sejahtera dari Jogja Menuju Jember: Disiksa Selama 15 Jam, Berakhir Demam Tinggi dan Diare. Sialan!

Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam MOJOK.CO

Ilustrasi Mila Sejahtera Bus Sialan, 15 Jam Disiksa Berakhir Demam. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.CONiatnya ingin hemat, naik bus Mila Sejahtera justru menghadirkan rentetan derita. Sejak saat itu, saya memutuskan putus hubungan dengan Mila.

Faktanya, Jogja ke Jember memiliki jarak hampir 500 kilometer. Sewajarnya, kamu bisa menempuh jarak itu via jalan tol dengan estimasi waktu normal sekitar delapan jam. Kalau naik kereta api, kamu bisa stay chill di dalam gerbong selama kurang lebih 11 jam. Atau, kalau mau ekstrem, dengan mode berjalan kaki selama 4 hari.

Saya dan Rosyid sepakat untuk mengunjungi Jogja di akhir tahun 2025 kemarin. Tujuan utama kami adalah untuk tilik kawan lama, karena ada satu hal urusan, dan bonusnya bisa beribadah mengunjungi Jogja Asian Film Festival (JAFF). Maklum, kami dulunya adalah bocah komunitas film saat masih mahasiswa.

Rencana awal, kami hanya ingin tinggal dua hari di Jogja; Sabtu dan Minggu. Seperti kebanyakan wisatawan lokal, teman di Jogja memandu kami untuk mengunjungi beberapa destinasi mainstream. Yang bikin berbeda, kami berangkat dengan mengendarai sepeda onthel. Dan ternyata seru.

Di hari Minggu, kami sebenarnya ada agenda mengunjungi JAFF, lalu pulang ke Jember malam harinya. Namun, takdir sungguh berkata lain.

Baca juga: Jangan Pesan 3 Kursi Ini Saat Naik Bus Mila Sejahtera kalau Mau Nyaman Sepanjang Perjalanan

Tak ada pilihan lain selain bus Mila Sejahtera

Sejak bangun tidur hingga sore, gerimis yang tak kunjung reda. Jadi, mau tak mau, kami membatalkan niat menghadiri JAFF. Akhirnya, sebagai pelipur lara, kami pergi kulineran dan bertemu kawan lama hingga lupa waktu. Kami pulang larut dan memutuskan untuk pulang di Senin pagi.

Keesokan paginya, kami bangun lebih awal untuk persiapan pulang. Satu-satunya moda transportasi yang memungkinkan adalah menunggangi bus. Sebelumnya, saya sempat cek jadwal kereta pagi, tapi tiket terpesan penuh hingga tiga hari sampai hari Rabu.

Setelah observasi dan riset di media sosial, kami bertemu bus Mila Sejahtera dengan jadwal keberangkatan pukul 08:50 WIB dari Terminal Giwangan

Awalnya semua berjalan serba cepat. Namun, situasi berubah jadi menyebalkan setelah harus mengontak awak bus bus Mila Sejahtera yang tertera di poster akun Instagram resmi. 

Celakanya, nomor yang saya hubungi malah mengoper saya ke nomor lain sampai empat kali. Sudah begitu, saya tidak mendapatkan kejelasan perihal jadwal. Ketimbang semakin emosi, saya dan Rosyid memantapkan diri berangkat ke Terminal Giwangan. Nanti di sana pasti ketemu bus Mila Sejahtera. Begitu pikir kami.

Derita di Terminal Giwangan 

Awal penderitaan itu berlanjut dengan kondisi perut saya dan Rosyid. Sebelumnya, di Minggu ketika kulineran, kami terlalu banyak mengonsumsi pedas.

Pagi di rumah teman, saya dan Rosyid bergantian masuk kamar mandi untuk memantaskan buang hajat. Sampai pada akhirnya, kami bisa berangkat dari tempat menginap kami di Kaliurang pada pukul 08:15 via Gocar. 

Kalau melihat dari GMaps, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jadi, kami mencoba tenang saat sudah duduk di dalam mobil.

Sialnya, jalanan Jogja di Senin pagi sedang padat-padatnya. Mobil tidak bisa melaju kencang. Kami hanya bisa memasang raut wajah sepaneng karena tidak berbakat dalam menyembunyikannya. 

Sudah begitu, sepanjang perjalanan, kami hanya mampu mendengarkan curhatan kisah hidup Mas Driver, tanpa sanggup membalasnya. Pikiran saya hanya tertuju kepada jam keberangkatan bus Mila Sejahtera dari Giwangan.

Singkat cerita, kami tiba di Giwangan sekitar pukul 08:45. Saat baru masuk pintu terminal, perut saya mendadak mules. Saran saya, kalau kulineran di Jogja, jangan terlalu banyak makan yang pedas-pedas, deh. 

Satu-satunya solusi adalah menuntaskannya di toilet terminal. Masih ada waktu lima menit untuk menyelesaikannya, sepertinya masih cukup mengejar bus Mila Sejahtera. 

Setelah urusan di toilet selesai, kami dengan buru-buru menuju ke tempat pemberangkatan. Tapi sayang, sial betul.

Salah satu petugas terminal bilang kalau jadwal bus Mila Sejahtera pagi sudah tidak ada. Sekarang, jadwal keberangkatan berubah ke pukul 12:50. Sial. Dioper-oper oleh admin bus Mila Sejahtera sampai empat kali berakhir seperti ini. Pupus sudah harapan ini. Kami harus sabar menunggu, tidak ada pilihan lain.

Alasan memilih bus Mila Sejahtera

Sebetulnya, jika memang harus naik bus dari Jogja ke Jember, saya lebih suka naik Sugeng Rahayu. Bus mereka punya formasi kursi 2-2. Jadi, tempat duduk mereka jadi lebih lega.

Untuk saya yang berpostur tinggi, seenggaknya kaki ini bisa bebas selonjoran tanpa mengganggu penumpang lain. Belum lagi kita bisa memiringkan sandaran kursi. Ini menambahkan kenikmatan lain saat naik Sugeng Rahayu. 

Berbeda dengan bus Mila Sejahtera trayek Jogja-Banyuwangi yang akan kami tumpangi. Ia memiliki formasi tempat duduk tiga kanan, dua kiri, plus smoking area

Ini membuat luas tempat duduk berkurang, sehingga kaki saya cenderung ketekuk dan tidak bisa diluruskan. Memang secara harga, bus Mila Sejahtera lebih murah Rp10 ribu. Tapi, sensasi kesemutan dan berdesakan dengan penumpang lain, akan menjadi derita tambahan yang mungkin sulit saya hindari.

Sebenarnya ada opsi lain. Kami bisa berangkat Surabaya dulu, lalu oper bus menuju Jember atau Banyuwangi di Terminal Bungurasih. Tapi, berhubung sudah pasrah dengan keadaan, saya dan Rosyid sepakat memilih bus Mila Sejahtera.

Belum lagi momen saat menunggu di terminal. Kami merasa akrab dengan para awak bus Mila Sejahtera. Mungkin karena masih satu rumpun bahasa daerah Tapal Kuda, Jawa Timuran. 

Ada secercah tawaran kenyamanan dari mereka yang berasal dari daerah yang sama. Meskipun pada akhirnya, faktor tersebut tidak menjamin kebahagiaan di dalam perjalanan.

Perjalanan ke Jember

Setelah menunggu selama hampir empat jam, akhirnya bus Mila Sejahtera kami berangkat pukul 12:45 WIB. Kami duduk pas di belakang kursi kemudi sopir. Kabin terasa lengang karena belum banyak penumpang.

Sejak berangkat dari Jogja sampai Sragen, hanya ada lima penumpang. Saking kosongnya, kami bahkan sempat pecicilan, mondar-mandir, atau tidur-tiduran di smoking area. Kondisi mulai berubah saat bus Mila Sejahtera masuk Terminal Kertonegoro, Ngawi. 

Serbuan penumpang untuk tujuan Lumajang, Jember, dan Banyuwangi membludak. Situasi ini membuat kami mulai meringkuk dan duduk manis di kursi penumpang.

Selama perjalanan, saya memaksa diri untuk tidur. Saya harus mengalihkan pikiran agar perjalanan bersama bus Mila Sejahtera ini tidak begitu menyiksa karena kaki saya mulai kesemutan.

Belum lagi, bus hanya lewat jalur bawah, tidak naik jalur tol. Ini membuat waktu perjalanan semakin panjang. Mungkin, kru bus Mila Sejahtera ingin menghemat ongkos perjalanan. Selain itu, kayaknya, mereka juga berburu penumpang.

Derita bersama bus Mila Sejahtera yang terus berlanjut

Singkat cerita, sekitar pukul 21:30, kami tiba di Pasuruan. Ini waktunya ishoma. Kami berhenti di depot makan dengan sajian menu model prasmanan. 

Karena dalam perjalanan sudah kelaparan, kami mesti mengganjal raungan di perut. Sayangnya, tidak ada papan menu harga dan saya harus merogoh kocek sebesar Rp25.000 kepada kasir. 

Padahal, komposisi menu makanan terbilang cukup minimalis. Cuma ada nasi, sayur sop, telur, tahu, dan sambal. Jujur, soal rasa, agak aneh menyebut sebagai ini makanan karena sangat hambar. Bonus teh hangat tidak mengubah apapun. Jatuhnya saya malah tidak ikhlas. 

Setelah makan, kami melanjutkan perjalanan kembali. Celakanya, saat menuju Probolinggo, salah satu komponen di ban belakang bus Mila Sejahtera mengalami kerusakan. Akhirnya, bus harus berhenti.

Setelah kondektur bus melakukan menjelaskan apa yang terjadi, mau tidak mau, kami harus oper bus. Paling tidak, kami mendapat jaminan tidak membayar lagi saat naik bus berikutnya.

Akhirnya, kami pindah bus di Probolinggo. Masih tetap nama yang sama, Mila Sejahtera. Awak bus tetap memaksa kami masuk, meskipun kursi penumpang sudah terisi penuh. 

Untungnya, saya dan Rosyid masih mendapatkan jatah kursi meskipun kami duduk berjauhan. Di sisi lain, penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, akhirnya memakai tambahan kursi plastik pecel lele warna hijau lorong tengah. 

Saya tidak bisa membayangkan betapa duduk mereka pasti tidak nyaman. Apalagi kalau sangat mengantuk dan ketiduran. Butuh skill mumpuni kalau mau tidur pakai kursi plastik. Belum lagi kalau kursinya tiba-tiba pecah. Derita banget.

Tiba di Terminal Tawangalun, Jember

Dengan sisa-sisa semangat dan masih mengantuk, alhamdulillah, bus Mila Sejahtera sukses mengantar kami sampai di Terminal Tawangalun, Jember. Waktu menunjukkan pukul 04:00 pagi. 

Saya turun di terminal, sementara Rosyid turun di Jalan Sultan Agung. Dia akan lanjut naik bus antar-kota untuk sampai di dekat rumahnya.

Setelah mencari warung terdekat untuk menggenapi jiwa yang baru bangun tidur ini, saya meminum teh hangat dan memesan ojek online. Usut punya usut, ternyata perseteruan ojol dan opang di Jember hanya selesai tabayun di area stasiun, tidak di teritorial terminal. 

Ini memaksa saya jalan kaki 500 meter ke arah luar terminal. Hanya untuk bisa naik ojek online. Sial.

Baca juga: Mila Sejahtera Banyuwangi-Jogja: Bus Ekonomi Paling Efektif dan Efisien, Juga Nggak Ugal-ugalan!

Demam tinggi dan penyesalan

Setelah sampai di rumah, saya hanya bisa terkapar dan menatap langit-langit kamar. Selanjutnya, selama tiga hari, saya mengalami demam, mual, dan diare parah di hari pertama. 

Mungkin, ini akibat saya tidak ikhlas saat makan makanan hambar di Pasuruan. Sisanya, hanya membuat saya merinding, meringkuk lemas di ranjang kamar, dan harus izin tidak masuk kerja. 

Ingin hemat ongkos Rp10 ribu dengan memilih bus Mila Sejahtera justru membuat saya menderita. Selama hampir 15 jam, bus Mila menyiksa saya. Saat demam tinggi masih menguasai, saya membuat ikrar untuk tidak lagi naik bus Mila Sejahtera. Kapok.

Penulis: Elmi Auliya Bayu Purna

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Pengalaman Buruk Naik Rosalia Indah Tua Rombakan: Empat Kali Mogok, Menghadirkan Kekecewaan di Akhir Perjalanan dan kisah penderitaan lain di rubrik OTOMOJOK.

Exit mobile version