MOJOK.CO – Niatnya ingin hemat, naik bus Mila Sejahtera justru menghadirkan rentetan derita. Sejak saat itu, saya memutuskan putus hubungan dengan Mila.
Faktanya, Jogja ke Jember memiliki jarak hampir 500 kilometer. Sewajarnya, kamu bisa menempuh jarak itu via jalan tol dengan estimasi waktu normal sekitar delapan jam. Kalau naik kereta api, kamu bisa stay chill di dalam gerbong selama kurang lebih 11 jam. Atau, kalau mau ekstrem, dengan mode berjalan kaki selama 4 hari.
Saya dan Rosyid sepakat untuk mengunjungi Jogja di akhir tahun 2025 kemarin. Tujuan utama kami adalah untuk tilik kawan lama, karena ada satu hal urusan, dan bonusnya bisa beribadah mengunjungi Jogja Asian Film Festival (JAFF). Maklum, kami dulunya adalah bocah komunitas film saat masih mahasiswa.
Rencana awal, kami hanya ingin tinggal dua hari di Jogja; Sabtu dan Minggu. Seperti kebanyakan wisatawan lokal, teman di Jogja memandu kami untuk mengunjungi beberapa destinasi mainstream. Yang bikin berbeda, kami berangkat dengan mengendarai sepeda onthel. Dan ternyata seru.
Di hari Minggu, kami sebenarnya ada agenda mengunjungi JAFF, lalu pulang ke Jember malam harinya. Namun, takdir sungguh berkata lain.
Baca juga: Jangan Pesan 3 Kursi Ini Saat Naik Bus Mila Sejahtera kalau Mau Nyaman Sepanjang Perjalanan
Tak ada pilihan lain selain bus Mila Sejahtera
Sejak bangun tidur hingga sore, gerimis yang tak kunjung reda. Jadi, mau tak mau, kami membatalkan niat menghadiri JAFF. Akhirnya, sebagai pelipur lara, kami pergi kulineran dan bertemu kawan lama hingga lupa waktu. Kami pulang larut dan memutuskan untuk pulang di Senin pagi.
Keesokan paginya, kami bangun lebih awal untuk persiapan pulang. Satu-satunya moda transportasi yang memungkinkan adalah menunggangi bus. Sebelumnya, saya sempat cek jadwal kereta pagi, tapi tiket terpesan penuh hingga tiga hari sampai hari Rabu.
Setelah observasi dan riset di media sosial, kami bertemu bus Mila Sejahtera dengan jadwal keberangkatan pukul 08:50 WIB dari Terminal Giwangan.
Awalnya semua berjalan serba cepat. Namun, situasi berubah jadi menyebalkan setelah harus mengontak awak bus bus Mila Sejahtera yang tertera di poster akun Instagram resmi.
Celakanya, nomor yang saya hubungi malah mengoper saya ke nomor lain sampai empat kali. Sudah begitu, saya tidak mendapatkan kejelasan perihal jadwal. Ketimbang semakin emosi, saya dan Rosyid memantapkan diri berangkat ke Terminal Giwangan. Nanti di sana pasti ketemu bus Mila Sejahtera. Begitu pikir kami.
Derita di Terminal Giwangan
Awal penderitaan itu berlanjut dengan kondisi perut saya dan Rosyid. Sebelumnya, di Minggu ketika kulineran, kami terlalu banyak mengonsumsi pedas.
Pagi di rumah teman, saya dan Rosyid bergantian masuk kamar mandi untuk memantaskan buang hajat. Sampai pada akhirnya, kami bisa berangkat dari tempat menginap kami di Kaliurang pada pukul 08:15 via Gocar.
Kalau melihat dari GMaps, perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Jadi, kami mencoba tenang saat sudah duduk di dalam mobil.
Sialnya, jalanan Jogja di Senin pagi sedang padat-padatnya. Mobil tidak bisa melaju kencang. Kami hanya bisa memasang raut wajah sepaneng karena tidak berbakat dalam menyembunyikannya.
Sudah begitu, sepanjang perjalanan, kami hanya mampu mendengarkan curhatan kisah hidup Mas Driver, tanpa sanggup membalasnya. Pikiran saya hanya tertuju kepada jam keberangkatan bus Mila Sejahtera dari Giwangan.
Singkat cerita, kami tiba di Giwangan sekitar pukul 08:45. Saat baru masuk pintu terminal, perut saya mendadak mules. Saran saya, kalau kulineran di Jogja, jangan terlalu banyak makan yang pedas-pedas, deh.
Satu-satunya solusi adalah menuntaskannya di toilet terminal. Masih ada waktu lima menit untuk menyelesaikannya, sepertinya masih cukup mengejar bus Mila Sejahtera.
Setelah urusan di toilet selesai, kami dengan buru-buru menuju ke tempat pemberangkatan. Tapi sayang, sial betul.
Salah satu petugas terminal bilang kalau jadwal bus Mila Sejahtera pagi sudah tidak ada. Sekarang, jadwal keberangkatan berubah ke pukul 12:50. Sial. Dioper-oper oleh admin bus Mila Sejahtera sampai empat kali berakhir seperti ini. Pupus sudah harapan ini. Kami harus sabar menunggu, tidak ada pilihan lain.
Baca halaman selanjutnya: Niat ngirit, berakhir derita tiada akhir.














