Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Otomojok

Selalu Kangen Naik Kereta Api Sri Tanjung Zaman Dulu yang Setiap Gerbongnya Berisi Kekacauan

Arman Dhani oleh Arman Dhani
19 September 2023
A A
Potret Sedih di KA Sri Tanjung, Kereta Murah Jogja-Surabaya yang Menolong Banyak “Wong Kalahan”. MOJOK.CO

Ilustrasi Potret Sedih di KA Sri Tanjung, Kereta Murah Jogja-Surabaya yang Menolong Banyak “Wong Kalahan” (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Kacaunya kereta api Sri Tanjung saat itu

Kalimat pembuka novel Moby Dick selalu bisa menggambarkan bagaimana rasanya naik kereta api Sri Tanjung pada akhir 2010. Saat itu, sebelum perbaikan sistem oleh Ignasius Jonan, Sri Tanjung sebagai kereta api yang melayani rute dari Banyuwangi menuju Yogyakarta, lebih mirip palagan perang daripada gerbong kereta. Jumlah penumpang dan kursi bisa berbanding 2 kali lipat. Dua kali penumpang untuk 1 kursi, belum muatan lain yang menambah sesak.

Saya ingat betul, saat itu, kereta api ini sering penuh dengan barang di setiap gerbong. Penumpang yang harus mengalah. Kardus atau kandang burung memenuhi kursi. Kursi yang seharusnya tersedia secara teratur sering diisi oleh orang yang tak memiliki tiket. Saat itu, siapa saja bisa naik meski tanpa tiket karena stasiun tak memiliki sistem check in seperti saat ini.

Kamu akan terkejut ketika melihat berbagai benda atau hewan milik penumpang. Ada sepeda lipat, trenggiling, kucing anggora, ayam kate, musang, dan saya pernah melihat 2 kursi penumpang penuh dengan karung goni yang ternyata berisi sarung. Dulu, aturan maksimal kargo penumpang itu belum ada. Asal bisa masuk, cukup, dan kamu kuat membawanya, silakan masuk kereta api Sri Tanjung.

Saya pernah bertengkar dengan bapak-bapak tua yang membawa ayam jago. Ayam sialan itu duduk di kursi saya. Setengah mati saya menunjukkan tiket bernomor, sementara dia bilang dengan muka datar. “Yang duluan, yang duduk.” Akhirnya, ibu yang duduk di sebelahnya mengalah dan mempersilakan saya istirahat. Sementara itu, di sepanjang perjalanan, si bapak tua itu duduk tegak tak peduli. Belakangan saya baru kalau dia adalah penumpang gelap yang naik dengan membayar orang dan tidak memiliki tiket.

Keindahan di balik kekacauan

Saya pernah tidur di depan toilet kereta api Sri Tanjung dalam perjalanan pulang dari Yogyakarta ke Jember. Airnya mati, bau pesing, sisa koran, dan berbagai tisu yang ada tak membuat saya jijik. Rasa lelah karena semalaman begadang, takut ketinggalan kereta, membuat saya tak bisa tidur. Tapi menariknya, saya tak sendiri, ada seseorang yang nekat membawa anak kambing di dalam toilet. Sebuah keberanian yang membikin saya jadi girang belaka.

Meski demikian ada yang unik. Sesuatu yang indah dari kekacauan itu. Misalnya, penjual makanan dan minuman yang mondar-mandir di lorong sempit, penumpang random dengan cerita yang tak diduga, hingga petugas yang menjual bir dingin dalam botol kaca dengan setengah berteriak “Wayahe! Wayahe!”. Kereta api zaman dulu ya seperti itu. Bikin kereta api Sri Tanjung makin padat dan kadang terasa sesak.

Jika ada satu hal yang membuat rindu, barangkali makanan yang berseliweran. Kamu bisa tahu sedang berada di mana hanya dari makanan yang dijual. Jika ada penjual pecel, kemungkinan kamu ada di Madiun. Kalau ada yang menjual nasi krawu, kemungkinan kamu ada di Gresik. Nah, kalau ada yang menjual suwar-suwir, kamu sedang masuk Jember. Inilah yang membuat saya kecewa ketika KAI “mengusir” para penjual makanan ini.

Kemudahan yang muncul seiring zaman

Saat ini, KAI Access memberikan kemudahan bagi calon penumpang kereta api Sri Tanjung dengan menyediakan pemesanan beragam masakan tradisional. Perkembangan ini menunjukkan bahwa hidup memang tak sedih-sedih amat. 

Meski tak ada lagi interaksi dengan penjual, tapi ya mau bagaimana lagi? Setidaknya kita bisa makan.

Untuk memesan makanan tradisional, calon penumpang dapat mengakses aplikasi KAI Access dan memasukkan booking code tiket mereka. Pemesanan bisa dilakukan secara pre-order dengan maksimal 3 jam sebelum keberangkatan di stasiun keberangkatan yang menyediakan menu pesanan. Selain itu, untuk menu pilihan kuliner khas kereta api lainnya, pemesanan dapat dilakukan maksimal 23 jam sebelum keberangkatan.

Kemudahan dalam memesan masakan tradisional ini memungkinkan para penumpang untuk menikmati hidangan favorit tanpa perlu repot mencari di luar stasiun. Barangkali dengan modernisasi, dengan segala perubahan yang ada, naik kereta api Sri Tanjung dari Jember ke Jogja, bisa memungut lagi nostalgia yang ada, minus panas terik dan segala kegilaannya.

Penulis: Arman Dhani

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kereta Ekonomi: Pemersatu Hati yang Rindu, Pemisah Hati yang Tak Ingin Terpisah dan pengalaman menarik lainnya di rubrik OTOMOJOK.

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 September 2023 oleh

Tags: JemberJogjaka sri tanjungkereta api Sri Tanjungkereta ekonomikuliner kereta apiPT KAIsri tanjungstasiun jemberStasiun TuguYogyakarta
Arman Dhani

Arman Dhani

Arman Dhani masih berusaha jadi penulis. Saat ini bisa ditemui di IG @armndhani dan Twitter @arman_dhani. Sesekali, racauan, juga kegelisahannya, bisa ditemukan di https://medium.com/@arman-dhani

Artikel Terkait

Ada potensi anomali ketika wisata Jogja diserbu 8,2 juta wisatawan. Daya beli rendah, tapi ada ancaman masalah MOJOK.CO
Urban

Anomali Wisata Jogja saat Diserbu 8,2 Juta Wisatawan: Daya Beli Tak Mesti Tinggi, Tapi Masalah Membayangi

19 Maret 2026
Mahasiswa UGM hidup nomaden sambil kuliah di Jogja demi gelar sarjana
Edumojok

Mahasiswa UGM Kena DO dan Tinggal Nomaden karena Kendala Ekonomi, Kini Raih Gelar Sarjana Berkat “Menumpang” di Kos Teman

17 Maret 2026
burjo atau warmindo bikin rindu anak rantau dari Jogja ke Jakarta. MOJOK.CO
Urban

Anak Rantau di Jogja Menyesal ke Jakarta, Tak Ada Burjo atau Warmindo sebagai Penyelamat Karjimut Bertahan Hidup

16 Maret 2026
Kuliner khas Minang, rendang, di rumah makan Padang di Jogja rasanya berubah jadi kuliner Jawa
Kuliner

Nasi Padang Versi Jogja “Aneh” di Lidah, Makan Rendang Tanpa Cita Rasa Gurih dan Asin karena Dominasi Kuliner Manis Jawa

16 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

Kebahagiaan Semu Gaji 5 Juta di Jakarta: Dianggap “Sultan” di Desa, Padahal Kelaparan dan Menderita di Kota

15 Maret 2026
Gaji Cuma 8 Juta di Jakarta Jaminan Derita, Tetap Miskin dan Stres MOJOK.CO

Kerja di Jakarta dengan Gaji Nanggung 8 Juta Adalah “Bunuh Diri” Paling Dicari karena Menetap di Kampung Bakal Tetap Nganggur dan Miskin

19 Maret 2026
Rela utang bank buat beli mobil keluarga Suzuki Ertiga demi puaskan mertua. Ujungnya ribet dan sia-sia karena ekspektasi. MOJOK.CO

Rela Utang Bank buat Beli Mobil Ertiga demi Puaskan Ekspektasi Mertua, Malah Jadi Ribet dan Berujung Sia-sia

20 Maret 2026
Sekolah penerima manfaat beasiswa JPD Pemkot Jogja

Beasiswa JPD Jadi Harapan Siswa di Jogja untuk Sekolah, padahal Hampir Berhenti karena Broken Home

17 Maret 2026
Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali MOJOK.CO

Grand Hotel De Djokja, Hotel Tertua di Jogja Hidup Kembali 

17 Maret 2026
Memelihara kucing.MOJOK.CO

Memelihara Kucing adalah Patah Hati yang Direncanakan, Tapi 1.000 Kali pun Diulang Saya Akan Tetap Melakukannya

20 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.