MOJOK.CODi saat banyak dari kita mencibir kinerja anggota DPR selama ini, ternyata ada tiga kebiasaan mereka yang efektif untuk cegah penyebaran virus corona.

Sebagian masyarakat Indonesia mencak-mencak ketika muncul berita anggota DPR yang iuran untuk membeli 40 ribu alat rapid test COVID-19 atau corona. Meski sudah dibilang dibeli pakai duit sendiri dan ketika nanti sisa akan dibagikan untuk masyarakat, tetap saja tidak menghalangi kemarahan masyarakat terhadap langkah anggota DPR ini.

DPR lantas dianggap angkuh, mementingkan diri sendiri, nggak peka, memanfaatkan privilege, dll, dsb, dkk, dst. Seharusnya rapid test itu ditujukan bagi masyarakat kecil yang tak mampu menjangkau harga tes di rumah sakit atau bagi petugas kesehatan dan keluarganya.

Meski, kalau saya pribadi nggak terlalu mencak-mencak sih. Ya udah tahu lah kelakuan DPR kita kayak apa. Toh kalau mau jujur dan dilihat dari sisi positifnya, langkah ini cukup tepat.

Bagaimanapun DPR secara khusus, pejabat negara secara umumnya, adalah orang-orang yang paling berpotensi baik menjadi carier alias pembawa atau korban virus itu sendiri.

Mengingat mereka sering sekali (((kunjungan kerja))) ke luar negeri dan berpotensi terkena saat di negara mana pun mereka berkunjung. Ketika kembali ke Indonesia bukan tidak mungkin mereka malah membawa virus tersebut.

Dari sisi positif lain setelah saya renungkan lebih lanjut, ternyata DPR ini sudah sejak lama lho mengajarkan kepada kita tentang bagaimana cara untuk mencegah penyebaran virus corona.

Sungguh mengagumkan sekali, di saat banyak dari kita mencibir kinerja mereka yang bikin ngelus dada, ternyata tindak-tanduk mereka sejak dulu sudah visioner, meramal apa yang akan terjadi di masa depan.

Lalu apa saja kebiasaan yang sudah dilakukan DPR yang bisa kita tiru dalam usaha mencegah penyebaran corona ini? Nah, berikut tiga di antaranya.

Suka hindari kerumunan rapat

Kecurigaan ilmuwan dan dokter tentang mengapa virus ini menular sangat cepat adalah karena manusia suka sekali berkerumun. Apalagi virus ini menular dari manusia ke manusia melalui droplets atau tetesan, lebih tepatnya tetesan seperti ludah saat sedang batuk atau bersin. Maka dari itu disarankan untuk tidak membuat kerumunan orang agar virus ini tidak menyebar.

Nongkrong di kafe, resepsi nikah, konser, bahkan ibadah sekalipun diminta untuk tidak dilakukan semata-mata untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Gerakan #diRumahAja digalakan agar orang-orang tidak pergi keluar rumah tanpa kepentingan yang mendesak.

Baca juga:  Simbah di Desa Tanya: ‘Social Distancing’ itu Makanan Apa?

Dan ternyata, sudah lama anggota DPR kita mengajarkan hal ini.

Hm, dalam bentuk apa emangnya?

Ya apalagi kalau bukan lewat rapat-rapatnya.

Bukan rahasia lagi kalau dalam rapat DPR banyak kursi-kursi kosong. Dari jumlah anggotanya yang 400-an lebih itu yang datang setengahnya saja udah pantas diacungi jempol. Maka, ketika kita ingat lagi kursi-kursi melompong kosong di gedung DPR bertahun-tahun lalu, ternyata setelah kita lacak kebiasaan ini merupakan salah satu langkah mencegah penyebaran corona.

Entah anggota DPR ini sedang work from home atau work from far away kita nggak tahu. Yang jelas mereka ini berdedikasi sekali untuk tidak membuat kerumunan. Tak menyangka ya, DPR ternyata benar-benar jadi contoh yang baik selama ini.

Rajin cuci tangan

Salah satu cara mudah mencegah penyebaran virus corona ini adalah dengan cuci tangan. Sesering mungkin. Gunakan hand sanitizer ketika keadaan mendesak, ketika tidak ada air yang bisa digunakan untuk mencuci.

Sebelum makan, sehabis keluar rumah, sehabis ketemu orang, sehabis dari kamar mandi pokoknya habis ngapa-ngapain langsung cuci tangan. Sesegera mungkin dan sebersih mungkin. Jangan sampai ada bagian tangan yang terlewat.

Nah, perkara cuci tangan kayak gini, ternyata anggota DPR juga ahlinya.

Lihat aja, kalau sedang terlibat kasus atau masalah hukum yang terkait KPK, mereka adalah contoh terbaik yang selalu rajin cuci tangan. Ya, gimana, kasus atau masalah ini kan ibarat kuman, bakteri dan virus. Kalau tidak segera dicuci bisa mendatangkan masalah. Urusannya bisa mati. Terutama mati karier politiknya.

Enggan tularkan penyakit ke orang lain dan menghindari orang miskin

Sebelum COVID-19 ini jadi pandemi, anjuran untuk memakai masker sudah jadi kebiasaan oknum anggota DPR sejak dulu. Hanya saja anjuran ini sering tidak diperhatikan. Anggota DPR sepertinya udah tahu betul kalau lagi diperiksa karena kasus hukum sakit, mereka kudu maskeran atau mengisolasi diri dulu.

Tujuannya apabila mereka sakit, mereka tak menulari orang lain. Saking niatnya menghindar, bahkan kadang sampai kudu dikejar-kejar pula. Padahal niatnya baik lho, biar nggak nularin.

Coba saja perhatikan. Terutama untuk oknum anggota DPR yang terkena kasus hukum, dan mendadak sakit ketika akan diperiksa. Beberapa ada yang tetap hadir untuk diperiksa tetapi memakai masker. Sedangkan yang lainnya berdiam diri di rumah (atau entah di mana sampai tak bisa dilacak), beristirahat agar keadaan tubuh membaik dulu.

Baca juga:  Di Masa Pandemi Seperti Sekarang Ini, Sambat Bareng-Bareng Adalah Obat Hati

Eit, jangan dikira itu tujuannya mangkir dari pemeriksaan lho. Plis deh, mbok ya kurang-kurangin lah berburuk sangkanya! Mereka ini tidak datang pemeriksaan ya tujuannya agar penyakitnya tidak menular ke petugas berwajib yang memeriksa.

Bayangkan, baru penyakit biasa aja anggota DPR nggak mau nularin, apalagi corona ya kan?

Mereka ini paham betul bahwa petugas itu tugasnya berat dan penting karena bisa jadi mengungkap kerugian negara, maka tidak boleh sakit. Jadi agar mereka tetap sehat segar waras bugar, para anggota DPR ini dengan sadar diri menarik diri dulu kalau mau diperiksa. Sungguh sebuah langkah mulia yang sangat patut diapresiasi.

Selain itu, sesuai dengan arahan Jubir Corona, Achmad Yurianto, yang bilang, “Yang kaya melindungi yang miskin agar bisa hidup dengan wajar, dan yang miskin melindungi yang kaya agar tidak menularkan penyakitnya,” maka anggota DPR juga sudah mempraktikkan untuk menghindari penyakit dari warga miskin itu sejak lama.

Ya kita tahu, kedekatan anggota DPR dengan orang miskin itu kan hanya ada saat kampanye aja, selain kampanye ya hubungannya kayak LDR belasan purnama.

Baru saya sadari kemudian, ternyata itu tanda bahwa DPR sudah mampu berpikir jernih untuk menghindari penyakit-penyakit yang bisa dibawa oleh orang miskin. Dan ini jelas langkah brilian dalam antisipasi corona.

Saya jadi curiga, jangan-jangan wakil rakyat kita tercinta ini punya ajian weruh sak durunge winarah ya? Tahu sebelum kejadian. Jadi pengen les privat nih lama-lama.

Untuk itulah, sebagai rakyat kere-miskin-dan-jadi-biang-kerok-penularan-corona-di-negara-ini, saya ikhlas kalau wakil rakyat mau tes corona dulu. Kita sebagai makhluk kere ini belakangan aja nggak apa-apa kok.

Santai, rakyatmu ini pasti bisa mengerti. Karena sudah jadi kewajiban bagi rakyat Indonesia, untuk peduli dengan keselamatan wakil-wakilnya. Bukan malah sebaliknya. Iya kan, Pak?

BACA JUGA Ada yang Menjabat Sampai 30 Tahun, Kenapa Masa Jabatan Anggota DPR Tidak Dibatasi? atau tulisan Oktavolama Akbar Budi Santosa lainnya.