• 222
    Shares

MOJOK.CO – Cara anak-anak menanggapi konten media merupakan hasil dari cara didik kedua orang tua, termasuk saat mereka melihat rok mini di iklan BLACKPINK Shopee.

Pro dan kontra iklan BLACKPINK Shopee yang diputar pada jam tayang acara anak-anak masih terus bergulir. Baku balas puisi macam Fadli Zon, eh petisi maksudnya, pun terjadi. Padahal, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) telah melayangkan surat peringatan kepada 11 stasiun teve yang di dalamnya memuat larangan tayangnya iklan Lisa cs tersebut sebagai respon dari tuntutan petisi “Hentikan Iklan BLACKPINK Shopee”.

Kedua kubu punya argumentasi kuat nan masuk akal, kalau nggak bisa dibilang ngeyel. Di pihak yang pro petisi, perhatian utama lebih pada kepentingan anak-anak yang sangat perlu konten media positif (baca: lebih Pancasilais), meski rasa-rasanya kalau berharap pada stasiun teve kok, ya, kayak ngarep sama gebetan yang tukang PHP, ya?

Di kubu kontra, tuntutan petisi iklan BLACKPINK Shopee dinilai berlebihan. Isu objektifikasi perempuan dalam petisi dinilai nggak ada hubungannya dengan persepsi bocah yang masih kinyis-kinyis—a.k.a jiwa-jiwa putih—tentang citra tubuh perempuan. Apalagi, jika menilik di masa-masa Sailormoon dan kawan-kawannya—yang kostum supergirl-nya mini-mini gitu—masih ampuh mengeluarkan kekuatan bulan di layar kaca, semua baik-baik saja. Teman saya yang sangat menggemari animasi itu bahkan sekarang berhijab superrapat. Tetap saja, ia masih setia menjadi kolektor segala item berbau Usagi Tsukino dan kucingnya, si Luna. Ah, tapi itu, kan, cuma teman saya, ya. Kok digeneralisir buat yang lain, sih!

Eh, tapi gimana, dong, dengan film-film Warkop DKI—lengkap dengan para wanita seksi di dalamnya—yang justru hadir di momen-momen kumpul keluarga, seperti libur Lebaran, Natal, Tahun Baru, bahkan libur sekolah semester genap? Bagi sebagian besar anak yang nggak bisa holiday ke luar rumah atau objek wisata lainnya dan cuma leyah-leyeh di rumah, momen-momen tersebut dipastikan dipakai untuk mereka turut mengakses film-film trio Dono-Kasino-Indro itu. Iya, kan?

Ah, sudahlah! Saya tidak bermaksud larut terlalu dalam pada perdebatan pro dan kontra iklan Blankpink Shopee tersebut.

Tapi menarik bagi saya karena yang menjadi soal salah satunya adalah “jiwa-jiwa putih” yang merujuk ke anak-anak. Justru karena masih berjiwa putih-putih melati ali baba merah-merah delima pinokio itulah, pemahaman anak-anak pada suatu konten media sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitif yang dirangsang oleh lingkungan sebagai hasil interaksi sosial pada sekitar.

Karena lingkungan pertama seorang anak adalah keluarga, yang di dalamnya terdapat orang tua, jelaslah bahwa orang tua acap dianggap punya peran yang tak main-main dalam mengembangkan kemampuan berpikir seorang anak. Termasuk pula dalam hal ini: kemampuan memahami pesan yang diterima, mengurai persepsi, dan bertumbuhnya perspektif atas suatu objek di sekelilingnya.

Dengan demikian, mylov, bagaimana anak-anak mengonsumsi media yang ada adalah hasil adopsi dari cara-cara orang tuanya mengonsumi media. Begitupun dengan bagaimana anak-anak menangkap pesan pada sebuah tontonan atau konten suatu media: bergantung pada bagaimana orang tua memberikan pemahaman terhadap tafsiran di balik sajian media tersebut. Jadi, pada tahap awal, apa yang anak-anak pahami atas konten media yang mereka akses juga amat dipengaruhi oleh tafsiran-tafsiran serta norma dan nilai yang diyakini orang tuanya. Ibarat buah mangga, jatuhnya jelas nggak mungkin di sekitar pohon toge—pasti di dekat-dekat pohon mangga, lah!

Baca juga:  Woody di Toy Story Itu Hiperbolis: Lebih Susah Jadi Anak-Anak!

Sebagai contoh, saya yang semasa kecil senang sekali nonton aksi prajurit Seiya dalam animasi Saint Seiya, justru sulit mengaitkan ceritanya dengan tema reinkarnasi yang bisa mengganggu akidah saya yang masih seorang bocah ketika itu. Atau, sebagai penikmat serial Shin Chan, saya tidak lantas mencontoh perilaku-perilaku Shin Chan yang kadang ceroboh, pemalas, dan mesum. Begitupun sebagai seorang anak yang keranjingan nonton Dragon Ball, saya abai pada Kame Sennin si kakek kura-kura pencipta jurus Kamehameha yang cabul.

Yang saya ingat sampai saat ini adalah bagaimana Andromeda, satu-satunya prajurit Seiya yang menggunakan senjata (rantai) dalam melawan musuh. Saya yang sering kali mengira Andromeda Shun adalah bocah perempuan, juga pernah berhasrat menguasai jurus rantai nebula yang keren, atau beraksi sebelum mengeluarkan jurus debu-debu intan ala Cygnus Hyoga.

Pada serial Shin Chan, saya justru belajar tentang ironi sebagai bentuk pesan implisit dari tampilan atau kenyataan yang tampak. Tak jarang juga saya jadi bisa menertawakan diri sendiri yang kadang sebadung Shin Chan. Pun, hal terbaik yang saya ingat dari Dragon Ball adalah bagaimana tokoh antagonis macam Bezita nggak selamanya konsisten dengan perbuatan buruknya. Ya, ia juga mampu berproses menjadi baik jika diberi kesempatan—selain mungkin karena menikahi wanita jenius dan punya anak.

Sangat mungkin, hal-hal itulah yang terekam dalam memori masa kecil saya (dan bukan bagian buruk seperti yang dikhawatirkan oleh orang dewasa) karena proses dialog yang dibangun oleh orang tua. Ayah saya tetap membekali saya buku-buku kisah para nabi dan rasul yang penuh mukjizat. Setiap kali ayah dan ibu saya bercerita tentang mukjizat-mukjizat itu, saya selalu terkagum-kagum dibuatnya.

Paling-paling, sesekali saya pernah memikirkan bahwa rantai Andromeda itu mungkin lebih keren jika Nabi Musa menggunakannya, untuk membelah Laut Merah saat dikejar-kejar Firaun. Atau berandai-andai tentang mukjizat yang Tuhan berikan kepada Nabi Musa dalam wujud jurus Kamehameha. Mungkin Firaun akan dihalau pakai jurus itu oleh Nabi Musa saat aksi kejar-kejaran berlangsung. Artinya, Firaun nggak perlu sampai tenggelam di Laut Merah. Ya, paling-paling nyangsang di bukit Thursina.

Pun, dari ayah sayalah, saya tahu bahwa nama-nama tokoh dari serial Saint Seiya itu seluruhnya berkaitan dengan dunia astrologi. Sejak saat saya menggemari Saint Seiya, saya jadi selalu gandrung mempelajari segala hal tentang bintang dan benda langit lainnya. Saya juga kerap membayangkan bahwa debu-debu intan milik Cygnus Hyoga adalah sekumpulan bintang atau pergerakan supernova yang sama yang pernah saya intip melalui teleskop Scmidt Bimasakti di Bosscha.

Baca juga:  Susahnya Jadi Emak-Emak Jaman Sekarang: Mulai Dari Operasi Sesar Sampai Buka Hape Suami

Perilaku Shin Chan yang suka bikin onar, bangun siang, membantah Hiroshi dan Misae; ayah dan ibunya, bukanlah representasi perilaku yang perlu saya ikuti karena nilai-nilai yang terjadi di rumah saya justru menunjukkan kebalikannya. Namun, ibu saya kerap bilang, “Shin Chan aja bisa jaga Shiro, masa cuma kasih sisaan tulang ayam ke kucing aja kamu pelit begitu,” ketika saya mulai menunjukkan sikap bengis pada kucing yang mengeong di sekitar saya.

Dari Shin Chan pula saya justru memahami ketika ibu saya mulai menyampaikan pesan bernada ironi; itu artinya ia sudah berada di ambang batas sabarnya. Ketika saya mulai mendengar ibu saya mengomel halus, “Mainnya sampai malam, ya, nggak usah pulang sekalian. Kan, kalau nggak belajar Emih juga bahagia,” saya nggak polosan banget untuk memaknai itu secara literally karena pesan tersiratnya justru sebaliknya. Mana ada ibu saya bahagia kalau saya nggak belajar? Ngamuk, iya!

Dan, soal Master Roshi si Kakek Kura-Kura di Dragon Ball yang kerap mimisan saat melihat gadis cantik berpakaian mini, scene-scene mesum tersebut justru hampir saya—dan mungkin pencinta Dragon Ball lainnya—lewatkan. Karena, cerita keseluruhan soal Goku dan kawan-kawan serta musuh-musuhnya dalam memperebutkan tujuh bola ajaib yang mampu mengabulkan seluruh permintaan lebih seru dan mengakar kuat dalam satu kesatuan cerita anime yang punya tiga sekuel tersebut. Kecentilan Kakek Kura-Kura bisa jadi justru dibuat Akira Toriyama sebagai hiburan bagi orang dewasa yang mungkin mendampingi anak-anaknya saat menonton seri Dragon Ball ini.

Barangkali, pengalaman saya saat masih bocah dalam mengonsumsi program-program televisi tersebut akan berbeda dengan pengalaman anak lainnya. Hal ini karena nilai, norma, dan interaksi yang terjadi dalam lingkungan keluarga saya dengan anak lainnya pun tak sama.

Namun, yang juga tidak boleh dilupa adalah bahwa anak-anak juga telah aktif memproduksi imajinasi sejak usia 12 bulan. Imajinasi ini awalnya bersifat netral, kemudian berkembang seiring proses belajar sosial yang dipengaruhi (lagi-lagi) oleh tafsir-tafsir orang-orang dewasa di sekitarnya.

Jadi, barangkali awalnya imajinasi anak-anak pada konsep citra tubuh, misalnya, netral saja. Ketika melihat anak perempuan mengenakan pakaian kasual; celana pendek dan kaus santai, tiada terpikir di benak anak-anak itu label seksi atau tidak seronok hingga informasi mengenai indikasi seksi itu sampai. Anak-anak mungkin tidak sampai berpikir soal busana yang memenuhi standar kepatutan atau tidak, tapi norma dan nilai telah disosialisasikan sehingga tertanam sebagai pijakan yang dianut oleh lingkungannya.

Yang jelas, sampai di ambang masa balignya kelak, ragam pemahaman anak-anak ini, akan terus diisi oleh informasi, perspektif, dan tafsiran-tafsiran dari orang-orang dewasa di sekitarnya, sebelum menjadi sesuatu yang benar-benar solid, alih-alih menetap.

Cieee menetap, kayak hatiku padamu~