Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Pojokan

Surat terbuka untuk Agni dan Korban Kekerasan Seksual Lainnya Yang Angkat Berbicara

Nia Lavinia oleh Nia Lavinia
8 November 2018
A A
agni-mojok

depresi-mojok

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Untuk Agni dan korban kekerasan seksual lainnya, terima kasih sudah berani untuk angkat bicara dan membuat kami sadar bahwa masalah kekerasan seksual sudah saatnya berhenti untuk diabaikan.

Halo, Agni. Di mana pun kamu berada, saya harap keadaanmu baik-baik saja dan kamu tetap kuat menjalani hari-hari berat setelah memutuskan untuk menceritakan apa yang terjadi padamu. Terima kasih karena berkat keberanianmu bercerita, orang-orang mulai membicarakan bahwa kejahatan seksual bukanlah sebuah kejahatan yang bisa diabaikan begitu saja.

Terima kasih telah menyadarkan betapa pengabaian kita terhadap masalah ini berdampak pada kasus kekerasan seksual yang seakan-akan tidak pernah terjadi, seakan-akan tidak pernah menjadi masalah. Padahal Satu dari empat perempuan nyatanya pernah menjadi korban kekerasan seksual. Tapi, hanya sedikit dari mereka yang berani melaporkannya seperti kamu. Jangankan melaporkan, membicarakannya pun mereka takut dan malu.

Kenapa korban kekerasan seksual itu takut dan malu melaporkan apa yang terjadi pada mereka?

Alasan pertama, mereka takut tidak didengar dan dipercaya. Apalagi jika pelaku adalah orang-orang terdekat. Keluarga, kerabat, orang yang mereka kenal. Bukan orang-orang jahat yang selalu tampil dalam bayangan kita seperti seorang berandalan, kriminal, atau preman bersenjata. Bagaimana orang lain mau percaya kalau pelakunya adalah orang-orang biasa, yang hidup dan ada dalam keseharian mereka?

Alasan kedua, cerita-cerita korban kekerasan seksual adalah cerita yang terlalu menyeramkan. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh orang lain yang belum merasakannya. Bahkan untuk membayangkannya saja sudah membuat kita tidak nyaman.

Cerita mereka bukan sesuatu yang bisa dengan mudah diterima, sehingga sulit untuk orang lain benar-benar bisa mendengarkan dan berempati. Bukankah lebih mudah untuk menghindari pembicaraan tentang hal ini?

Ketika membicarakan kasus kekerasan seksual, perkosaan khususnya, yang orang lain ingin dengar adalah cerita tentang seorang perempuan yang tidak sengaja bertemu orang jahat ketika berpapasan di sebuah jalan yang sepi. Kejadian yang hampir mirip dengan ketika seseorang dirampok atau dijambret. Kejadian yang murni karena sebuah kemalangan.

Mereka tidak mengharapkan sebuah cerita tentang perempuan yang disakiti oleh temannya sendiri. Tidak bisa menerima cerita seperti yang kamu alami, atau cerita yang diungkapkan seorang penyintas seperti ini:

“Aku terpaksa harus pulang malam karena sesuatu hal. Seorang teman lelaki kemudian menawarkan diri untuk mengantarku pulang dengan mobilnya,” katanya.

“Tapi dia membawaku ke sebuah jalan yang bukan menuju rumahku.”

“Saat itu, aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi ketika dia mulai mendekatiku, sangat dekat. Tapi aku tidak bisa apa-apa, aku ingin melawan dan teriak, tapi bagaimana jika dia merasa tersinggung dan mulai melakukan hal jahat padaku? Dia bisa saja melukai diriku.”

“Aku sudah memohon dan berkata aku tidak mau, lalu aku berusaha menenangkannya dengan berkata aku menyukainya karena dia teman yang baik. Aku meyakinkannya bahwa dia seperti saudaraku sendiri.”

“Tapi dia menutup mulutku, dan mulai membuka ikat pinggang dan celananya.”

Iklan

“Hal pertama yang aku pikirkan adalah jika aku melawan, bagaimana jika ikat pinggang itu dia gunakan untuk mencekikku? Aku tidak pernah merasa setakut itu, aku merasa sendirian, satu-satunya yang bisa kulakukan adalah berkata: tolong lakukan itu dengan cepat, lalu segera antar aku pulang.”

Persis seperti yang kamu alami. Reaksi banyak orang ketika mendengar cerita itu adalah menyalahkan korban dengan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Kenapa kamu mau diantar sama cowok?”, “Kenapa kamu nggak melawan dari awal?”, atau “Kamu kan perempuan, kenapa kamu malah pulang malam?”

Pertanyaan itu kemudian diikuti pertanyaan-pertanyaan lain yang sesungguhnya bukan sebuah pertanyaan, tapi penghakiman.

“Memangnya waktu itu kamu pakai baju apa? Baju lengan pendek? Rok pendek? Apa yang kamu harapkan dengan pakai baju itu di malam hari?”

Pertanyaan yang semakin menyalahkan korban, menunjukan bahwa korban sendirilah yang memancing kejadian itu terjadi. Atau bahkan korban “mengharapkan” kejadian itu terjadi.

Lebih jauh, korban akan semakin tersudut karena dianggap tidak melakukan perlawanan atau menghidari pemerkosaan, yang artinya itu adalah sebuah hubungan yang dilakukan berdasarkan konsensus. Perkataan korban tetang “lakukan dengan cepat” dianggap sebagai sebuah konsensus. Lalu, bagaimana kasus ini bisa disebut pemerkosaan?

Memang, cara paling mudah untuk menghindari ketidaknyamanan terhadap kejadian ini adalah dengan menyalahkan si korban. Ya mau gimana lagi, menyalahkan adalah cara yang paling cepat.

Padahal, jika benar-benar mendengarkan ceritanya, kita tidak akan mengabaikan bahwa korban melakukan perlawanan. Ketika dia “merelakan” badannya untuk mengganti nyawanya yang bisa saja terancam, itu adalah sebuah perlawanan. Mengatakan “lakukan dengan cepat” adalah sebuah perlawanan.

Alasan ketiga, kenapa banyak korban yang tidak melapor? Yang sering terjadi adalah pelaporan kekerasan seksual terlalu merepotkan dan menyakitkan bagi korban. Bahkan untuk melapor, korban harus membuktikan terlebih dahulu bahwa dia “benar-benar korban”. Iya, lucu memang. Seorang korban harus membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.

Korban harus menjalani berbagai pemeriksaan medis, menunjukan bekas atau tanda di badannya bahwa dia sudah melakukan perlawanan ketika pelaku menyakitinya. Dan, perlawanan yang tidak menghasilkan bekas, tidak dianggap sebagai sebuah perlawanan.

Alasan keempat, jika korban kekerasan seksual berani mengungkap kebenaran seperti yang kamu lakukan, mereka harus berhadapan dengan pandangan-pandangan ragu dan curiga. Jika muncul dari orang terdekat, kecurigaan ini tentu akan menghancurkan perasaan korban.

Agni, perjuanganmu untuk melawan empat alasan yang menakutkan demi mendapatkan keadilan adalah hal yang sangat berarti bagi korban-korban lainnya untuk berani angkat bicara.

Dengan mereka saling berbagi atas apa yang mereka alami, mereka tidak akan merasa berdiri sendiri dan terus menerus merasa bersalah. Membuka diskusi tentang kekerasan seksual juga dapat membantu kita mengurangi stigma yang menempel pada isu ini, khususnya dalam melawan victim blaming untuk meyakinkan korban bahwa apa yang terjadi bukanlah salah mereka sehingga korban bisa terus melanjutkan hidupnya.

Agni, bersama dengan keberanian kamu dan harapan akan lebih banyak korban yang angkat bicara, saya yakin suara kalian bisa semakin didengar untuk sampai kepada orang-orang yang punya otoritas supaya mereka mengerti dan melakukan sesuatu untuk menyelesaikan masalah ini.

Apalagi yang menyangkut mekanisme pelaporan terhadap kasus kekerasan seksual yang bahkan kamu sendiri butuh waktu setahun supaya ceritamu bisa didengar. Kalau pelaporan yang lamban ini bisa diubah, pelaku bisa langsung dihukum. Ini akan menjadi upaya yang sangat berarti untuk mencegah kasus kekerasan seksual lainnya karena pelaku kekerasan seksual yang berkeliaran bebas punya potensi melakukan kejahatan yang sama ke orang lain.

Sekali lagi, terima kasih Agni karena telah angkat bicara. Terima kasih karena telah memulai pembicaraan yang penting ini. Saya harap kamu tahu bahwa kami selalu ada di belakang kamu dan mendukung kamu untuk mendapatkan keadilan.

 

Terakhir diperbarui pada 9 November 2018 oleh

Tags: kekerasan seksualkorban kekerasan seksualUGMugm darurat kekerasan seksual
Nia Lavinia

Nia Lavinia

Mahasiswa S2 Kajian Terorisme, Universitas Indonesia.

Artikel Terkait

Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO
Edumojok

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan.MOJOK.CO
Urban

GoCar Instant di RSUP Sardjito Anti Ribet: Jawaban Buat Kamu yang Ingin Cepat, Murah, dan Tetap Aman di Jalan

12 Februari 2026
Kesulitan korban kekerasan seksual dalam berbicara
Ragam

Korban Kekerasan Seksual Sering Jatuh Ditimpa Tangga: Sulit Bicara, Bukan Dipahami, tapi Malah Dihakimi

11 Februari 2026
Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan Lebih Mudah Diterima daripada Gagal Jadi Sarjana Hukum UGM MOJOK.CO
Edumojok

Perjuangan Ojol sambil Kuliah: Pernah Diancam Pihak Resto karena Telat Antar Makanan, Kini Lulus Jadi Sarjana Hukum UGM

5 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pertama kali merantau ke Jogja: kerja palugada di coffee shop dengan gaji Rp10 ribu MOJOK.CO

Pertama Kali Merantau ke Jogja: Kerja di Coffee Shop 12 Jam Gaji Rp10 Ribu Perhari, Capek tapi Tolak Pulang karena Gengsi

24 Februari 2026
kuliah di austria, rasisme.MOJOK.CO

Kuliah di Austria Bikin Kena Mental: Sistem Pendidikannya Maju, tapi Warganya “Ketus” dan Rasis

20 Februari 2026
Yamaha Mio Sporty 2011 selalu mogok di Jogja. MOJOK.CO

Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru

20 Februari 2026
Upaya 1 tahun Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang kerja untuk warga, apa hasilnya? MOJOK.CO

Upaya 1 Tahun Pemkot Semarang Bekerja untuk Warga di Tengah Ragam Tantangan dan Keterbatasan, Apa Hasilnya?

23 Februari 2026
Takjil bingka dari Kalimantan

Seloyang Bingka di Jogja: Takjil dari Kalimantan yang Menahan Saya agar Tetap “Hidup” di Perantauan

23 Februari 2026
merantau di Jogja.MOJOK.CO

Cerita Perantau Jatim: Diremehkan karena Tinggal di Kos Kumuh Jogja, Bungkam Mulut Tetangga dengan Membangun Rumah Besar di Desa

25 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.