Salah satu ingatan saya terkait Ramadan tahun ini adalah soal kentut. Bukan kentut di dalam air yang kontroversial itu, melainkan kentut biasa. Kentut reguler.

Tahun ini saya bertemu dengan orang yang meyakini bahwa buang gas tidak hanya membatalkan wudu, tapi juga puasa. Saya pikir ia sedang melucu, ternyata tidak. Ia bersungguh-sungguh dengan pendiriannya.

Tentu saja pandangan ini terdengar aneh. Bahkan puasa orang-orang yang mencapai tingkat khawas tidak menyinggung soal kentut. Logikanya, kalau kentut bikin batal, berarti kencing atau berak juga demikian.

Sulit membayangkan penderitaan lahir batin yang harus ditanggung orang yang berpuasa seperti itu. Ia tidak hanya harus menahan lapar dan dahaga, tapi juga hajat biologis lain. Ia juga pasti menghindari bobok siang yang nikmat itu agar tidak kebobolan. Menu buka atau sahur harus dipilih dengan ekstra hati-hati agar terhindar dari kelebihan gas atau mules di siang hari. Maka, saya maklum jika kemudian, katanya, ia tidak pernah bisa menuntaskan puasanya barang seminggu dalam sebulan.

Lagi pula, kalau model puasa seperti itu yang diberlakukan, Ramadan pasti menjadi bulan paling muram. Spanduk-spanduk menyambut bulan suci akan ditulis dengan nada sedih. Imbauan agar kita tidak kentut selama siang Ramadan akan menjadi lelucon di pinggir-pinggir jalan. Kemungkinan terburuknya, ada juga razia orang kentut.

Baca juga:  Puasa Ramadan di Indonesia dari Pengamatan Kawan Bule Saya

Untungnya “kebenaran” yang rancu itu tak pernah terjadi. Jika tidak, saya pasti akan lebih memilih membayar fidiah.

Kerancuan itu bisa jadi akibat salah guru atau keliru follow grup. Bisa juga karena hasrat yang menggebu-gebu menampilkan ibadah yang sempurna tapi tanpa disertai pengetahuan yang cukup. Atau punya pengetahuan tapi dengan kecemasan akut. Bisa pula oplosan dari semuanya.

Kecemasan yang berlebihan bisa menyebabkan patologi kognitif. Almukarrom Abraham Maslow pernah menulis beberapa ciri penderita ini, di antaranya: kebutuhan kompulsif terhadap kepastian; suka membuat generalisasi prematur; menolak ketidaktahuan karena gengsi dikatakan bodoh, lemah, atau naif; kecenderungan untuk memegahkan diri, megalomania, arogansi atau egoisme, dan ketidakmampuan bersikap rendah hati.

Soal hasrat yang menggebu, saya ingat salah satu cerita Gus Mus tentang hal ini. Beliau mengilustrasikan lewat kisah awal-awal perkawinan beliau. Sebagai pengantin baru, Nyai Fatma berupaya menyenangkan suaminya. Ia ingin mempersembahkan yang terbaik, tak terkecuali soal masakan.

Suatu hari Nyai Fatma membuat masakan bersantan. Agar mencapai rasa yang puncak Nyai Fatma memperbanyak santan. Makanan siap. Tapi malang, respons yang didapatnya tak sesuai harapan. Gus Mus hanya mencicipinya sedikit saja. Tidak selahap yang ia bayangkan. Nyai Fatma gundah. Ia merasa gagal memberikan pelayanan dan diabaikan.

Ibu mertuanya menangkap kesedihan menantunya. Nyai Fatma mengadukan masalahnya. Sambil tersenyum, ibu mertua menjelasan bahwa Gus Mus memang tidak terlalu suka makanan bersantan. Nyai Fatma pun mafhum. Cinta yang menggebu-gebu tanpa pengetahuan yang cukup pun bisa keliru.

Baca juga:  Pak Quraish Shihab dan Pak Gus Mus, dan Bapa dari Bapa dari Bapa Sy

Kasus serupa acap terjadi dalam kehidupan beragama kita. Didorong oleh keinginan yang besar untuk menjaga kemurnian agama, menjunjung kemurnian iman, atau menyenangkan Tuhan, banyak yang melakukan sesuatu tapi belum tentu membuat Tuhan berkenan. Larangan menyalatkan jenazah yang berbeda pandangan di masjid tertentu, menghalalkan darah dan kehormatan saudara sesama agama yang dicap sesat, atau memprovokasi orang lain agar tidak menghadiri salat di sebuah masjid karena keislaman khatibnya dianggap tidak segagah keislaman dirinya adalah sedikit contoh dari aktualisasi diri yang tidak sehat.

Orang-orang yang tidak memiliki cukup informasi memang cenderung mempunyai plafon diri yang rendah. Mereka jadi mudah merasa gerah, pandangannya jadi sempit, dan selera humornya hilang.

Orang-orang itu pasti juga berpuasa, menahan lapar, dahaga, bahkan mungkin kentut, tapi tidak—meminjam ungkapan khotbah Pak Quraish Shihab: menempa hati, mengasuh jiwa, dan mengasah nalar. Mereka pasti bertakbir sepanjang malam, tapi bukan untuk mengagungkan Tuhan, melainkan memompa ego mereka.

Ya, semoga puasa kita dijauhkan dari menjadi serupa kentut.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles