MOJOK.CORamadan di Libya mungkin biasa aja buat kamu, tapi gimana kalau menghabiskan Ramadan saat Muammar Qadafi masih berkuasa? Wuidiiih.

Ramadan itu satu dan universal, tapi praktik ber-Ramadan bisa berbeda di tiap wilayah. Desa mawa cara, negara mawa tata. Tiap daerah memiliki adat yang berbeda dalam mengisi bulan Ramadan.

Novriantoni Kahar, sambil mengutip Hassan Hanafi (seorang intelektual Mesir) mengenalkan istilah fenomenologi Ramadan. Suatu pendekatan untuk melihat Ramadan dalam kerangka praktik masyarakat. Bukan melulu soal ayat atau hadis tentang anjuran ibadah.

Kalau di Indonesia, ya sodara pasti sudah pada tahu lah. Penampakan Ramadan mulai iklan sirup, pasar tiban aneka takjil, sinetron religi, klote’an bocah-bocah bangunin sahur, sampai tradisi mudik.

Dalam suasana PSBB, ditambah maraknya pengajian online yang tak bisa lagi dihitung jari. Besar kemungkinan hanya kita yang punya.

Kali ini sodara sekalian perlu menyimak Ramadan fil Mumaratsat al Ijtima’iyyah’ (Ramadan dalam praktik sosial kemasyarakatan) warga Libya. Negara di wilayah Afrika Utara yang untuk puluhan tahun dipimpin sosok kharismatik, Muammar Qadafi itu. Tiga di antaranya saya ceritakan berikut ini.

Pertama, tarawih yang unik.

Tak seperti yang berlaku di Indonesia, tarawih di Libya dimulai setelah berpuasa, alias malam tanggal dua Ramadan. Jadi tidak ada tarawih malam tanggal 1 Ramadan. Mereka meyakini bahwa perhitungan “hari” dimulai sejak Subuh. Konsekuensinya adalah tetap berlangsungnya tarawih di malam takbiran.

Selain itu, jumlah rakaat tarawih juga lain dari yang lain. Jika kita biasa mendengar tarawih dengan 8, 20, atau 36 rakaat; di Libya pada umumnya terselenggara dalam 10 rakaat. Praktik seperti itu tidak hanya terjadi masjid-masjid Tripoli—tempat saya dan sebagian besar mahasiswa Indonesia kuliah—tapi juga di wilayah lain.

Saya sempat bingung dan mencari referensi. Tapi senior saya membisiki:

“Tidak usah nyari di kitab, ini instruksi langsung dari Qadafi. Konon biar beda sama Saudi.”

Memang waktu itu Qadafi sering terlibat perang komentar dengan petinggi-petinggi Saudi. Walhasil, sejumlah kebijakan negara Libya sebisa mungkin harus berbeda dengan Saudi. Saya tidak menyangka, situasi itu berdampak ke jumlah rakaat tarawih. Mudah-mudahan senior saya keliru. Sampai sekarang, saya juga belum mencari lagi referensi jumlah rakaat di atas. Lain kali saja lah.

Kedua, maraknya pertanyaan, “di mana Allah?”

Sopir, pedagang, pengangguran, hingga mahasiswa Libya banyak sekali yang memulai diskusi dengan pertanyaan “di mana Allah?”. Biasanya diajukan oleh mereka dengan penampilan khas: celana cingkrang, jenggot tebal, dan jidat hitam. Pada bulan Ramadan, pertanyaan itu kian gencar.

Sudah perut lapar, diberi pertanyaan yang bikin mumet.

Sebagai mahasiswa jurusan keislaman, saya sudah tahu pilihan jawabannya ada dua: di singgasana (arsy) atau di mana-mana (fi kulli makan). Saya juga tahu jawaban yang dikehendaki penanya adalah jawaban pertama. Masalahnya, kedua jawaban itu tetap melahirkan konsekuensi yang tidak ringan untuk ukuran orang yang sedang puasa.

Baca juga:  Khotbah Jumat: Unduh Gratis Hikmah Membatasi Nafsu

Kalau saya jawab: Allah ada di mana-mana, sudah pasti lahir debat sengit. Jika kebetulan lawan bicaramu sopir taksi, dia akan mengemudi dengan pelan jika melewati tempat pembuangan sampah atau toilet umum, lalu bilang…

“Tuh, masak di situ ada Allah? Yang benar saja?”

Kalau saya jawab: Allah ada di Arsy, seperti yang mereka kehendaki, persoalan juga tidak selesai. Lawan bicara hampir pasti menambahinya dengan ceramah keagamaan. Sambil menyindir mereka yang tidak sepaham. Ceramahnya sendiri bisa lebih panjang dari debat versi pertama.

Pun demikian kalau saya jawab: Tidak tahu. Siap-siaplah dapat siraman rohani. Masak Tuhannya sendiri tidak tahu?

Nah, satu-satunya jalan keluar adalah…

…pura-pura tidak bisa bahasa Arab. Itu.

Di antara materi debat keislaman yang tidak terbatas itu, entah kenapa kelompok tersebut suka sekali ambil tema keberadaan Tuhan. Seolah jadi standar minimal dalam menentukan arah pertemanan (juga permusuhan). Lain kali, di ruang yang lebih longgar saya ceritakan aspek teologis dari diskursus tersebut.

Hal unik selanjutnya adalah sering munculnya TPM alias Tim Pemburu Musa’adah (bantuan) selama Ramadan.

Selain di Tripoli, saya bersama empat kawan (3 dari Indonesia, 1 dari Thailand)  pernah menghabiskan Ramadan di sebuah kota bernama Zellletin. Berjarak sekitar 180 km dari ibu kota negara. Rasa-rasanya Zelletin ini isinya orang baik semua, khususnya di bulan Ramadan. Nyaris tak pernah kami buka puasa dengan nelangsa. Selalu ada yang mengundang atau (paling tidak) mengantar makan ke asrama.

Sayangnya warga Libya tidak punya referensi memadai mengenai kapasitas perut orang Asia seperti kami. Makanan pembuka puasa biasanya sudah berat Syurbah (semacam sayur bersantan yang kadang berisi kacang-kacangan versi Timur Tengah) ditambah roti, kurma, susu. Itu standar minimal.

Pertama kali diajak buka di rumah warga Libya, kami mengira itulah hidangan utama. Kami santap dengan lahap. Kenyang maksimal. Baru lanjut salat magrib seperti biasa.

Lha kok habis salat mak bedunduk muncul nasi, olahan daging domba atau unta, sayuran, lalapan, dan lainnya. Kami saling pandang, “Iki tenanan rek?”

Saya kira sudah selesai dengan syurbah, ternyata baru pemanasan. Kawan saya yang perutnya sudah penuh sampai tak sengaja keluar kentut. Betul-betul kentut hasil kekenyangan—bukan masuk angin. Besar, menggelegar, tanpa ampas. Hajindul tenan.

Setelah itu kami jadi punya strategi untuk mengatur perut menjadi 3 bagian: sepertiga air, sepertiga makanan, sepertiga dosa. Itu rumus survive di tengah samudera hidangan buka puasa ala Libya.

Kami juga akhirnya mengikuti cara teman-teman kami di Mesir. Membentuk tim pencari musa’adah. Tim pecari bantuan. Bantuan yang bisa berupa dua hal. Sebut saja Bantuan Langsung Tunai (BLT) berupa dinar dan Bantuan Langsung Makan (BLM) berupa buka bersama. Sebisa mungkin tim yang bertugas mendapatkan tawaran yang pertama daripada yang kedua.

Baca juga:  Aja Kakehan Nyumet Mercon

Ya mohon maaf, ini saya terus terang saja. Bagaimanapun, kami lebih memilih versi “mentah” kala itu. Sebabnya ya seperti yang saya utarakan di atas. Butuh banyak penyesuaian untuk makan bareng orang Libya.

Pembentukan tim seperti itu terbukti efektif. Rekan saya, entah bagaimana, berhasil mendapat undangan buka puasa di sebuah kota terpencil bernama Tarhunah. Dari Zelletin sekitar 3 jam perjalanan.

Sebagai gambaran terpencilnya daerah itu, kata Tarhunah atau Tarhuni digunakan orang Libya untuk mengejek mereka yang terlihat kampungan. Ya mirip ungkapan: jamet, ndeso!

Semula saya ragu, ini beneran mau ke Tarhunah? Tapi rekan saya meyakinkan: biasanya dapat dinar, Pakcik!

Untuk diketahui, rekan saya tadi orang Thailand yang sudah 3 tahun lebih dahulu tiba di Libya. Ya sudah saya percaya saja. Sambil mbatin: awas nek ngapusi. Hari itu hari Jumat. Kami diminta sampai di Tarhunah sebelum Jumatan. Sebab kalau sore, sulit mencari armada.

Sesuai arahan, kami sampai di Tarhunah tepat jelang adzan Jumat. Rupanya yang menjadi khatib adalah Syeikh yang tadi menelpon kami. Dalam khutbah singkat, beliau memuji Indonesia. Bahwa masyarakatnya baik. Perilaku jemaah hajinya seperti malaikat. Kompak dan tepo seliro. Sebagai pendengar saya bangga.

Namun itu tak berlangsung lama. Di khutbah kedua, khatib menyinggung kami. Bahwa ada beberapa orang Indonesia yang hadir dalam Jumatan ini.

“Mereka mahasiswa yang butuh pertolongan kita. Mereka miskin dan jauh dari orang tua. Di bulan Ramadan ini, mari kita keluarkan sedikit rejeki kita untuk mereka,” ujar Syeikh Khatib.

Semua mata melihat ke arah kami yang memang duduk bergerombol. Hajindul isin tenan.

Rasa bangga berubah jadi malu yang luar biasa. Mau mundur kok ya posisi pas di tengah-tengah. Saya misuh-misuh dalam hati. Tadi rekan saya ngomong apa di telepon? Seumur-umur belum pernah saya ada di posisi seperti ini sebelumnya.

Meski begitu, harus saya akui, apapun yang ia ceritakan di telepon, nyatanya ampuh. Setelah buka bersama, kami benar-benar diberi sangu, hasil penggalangan dana pasca khutbah tadi. Masing-masing membawa 70 dinar Libya (sekitar 600 ribu rupiah) dan ragam hasil bumi. Itu posisi paling awkward dalam hidup saya. Bangga, malu, dan gembira di saat bersamaan.

Saya tanya apa yang ia ceritakan di telepon?

“Biar jadi rahasia saja, hehehe,” jawabnya.

Mulai dari situ saya sadar, kualitas Ramadan tak melulu ditentukan oleh seberapa banyak kamu beribadah; tapi juga seberapa lihai kamu pilih-pilih temen.

BACA JUGA Tradisi Begal di Sudan saat Buka Puasa dan Kecepatan Makan Orang Afrika atau tulisan Miftakhur Risal lainnya.