MOJOK.COKalau ditranslate lewat Google, lagu “religi” yang dicover Nissa Sabyan “Ya Tabtab memang artinya “ya montok”. Wajar kalau orang awam pada protes.

Jika almarhum Didi Kempot mengajak kita merayakan patah hati tanpa perlu jatuh cinta; maka Nancy Ajram—bisa dibilang—mengajak kita joget tanpa perlu paham lirik. Paling tidak itu yang berlaku pada lagu “Ya Tabtab”.

“Ya Tabtab Wa Dalla” merupakan satu dari 11 lagu dalam album kelima Nancy Ajram yang rilis tahun 2006 silam. Album yang kemudian juga diberi judul Ya Tabtab Wa Dalla’. Lagu itu kembali populer belakangan ini setelah dibawakan oleh Sabyan Gambus di acara Syiar Ramadan.

Sebagian orang keberatan karena lirik lagu itu jauh dari nafas Islami. Ia bukan lagu religi—katanya, yang berarti tak pantas dinyanyikan dalam panggung Syiar Ramadan. Apalagi di hadapan para ustaz.

Orang-orang juga mulai mencari tahu makna liriknya. Kalau kita googling dan langsung ditranslate lewat jasa robot Google, arti ya tabtab memang “ya montok”. Wajar jika publik nyinyir. Kok bisa-bisanya lagu macam itu tampil di panggung religi?

Sebagian orang lainnya juga mengulik di Youtube. Sontak mereka kaget karena lagu yang sama disetel sebagai pengiring tari perut.

Anehnya, orang-orang yang protes mayoritas bukan berasal dari kelompok kanan—yang biasanya memang religius. Sepanjang perselancaran linimasa saya, gelombang protes justru datang dari kelompok moderat dan kiri. Dugaan saya, ini karena sentimen politis aja. Maklum, Nissa Sabyan pernah deklarasikan dukungan politik pada capres tertentu di 2019 silam.

Terlepas dari translate dan maknanya yang dianggap nggak religius, lagu “Ya Tabtab” sebenarnya pernah dibuatkan video klip yang amat filosofis oleh penyanyi aslinya.

Dalam video-video klip sebelumnya, penyanyi asli lagu ini, yakni Nancy memang sempat mendapat sejumlah kritik. Nancy dianggap hanya modal cantik plus bentuk tubuh yang seksi. Hal itu dianggap jadi sebab lagu-lagunya laris. Padahal menurut kritikus Nancy, lagu-lagunya biasanya saja.

Memang, kalau kamu memutar video klip “Enta Eh” misalnya, Nancy benar-benar tampak seksi dalam balutan pakaian tidur yang minim.

Atas kritik itu, Nancy seperti tidak terima. Timnya memutar ide bagaimana membuktikan bahwa hal itu keliru.

Lalu muncullah video klip “Ya Tabtab”. Dalam klip itu, Nancy tampil jauh dari kata seksi. Dia mengenakan setelan badut dengan perawakan gemuk yang tampil dalam sirkus keliling. Cemang-cemong, hidung terong, perut gendut, gidal-gidul. Rambutnya dalam banyak scene juga dibiarkan morat-marit. Singkatnya, Nancy keluar dari comfort zone.

Apa hasilnya?

Baca juga:  Tradisi Begal di Sudan saat Buka Puasa dan Kecepatan Makan Orang Afrika

Kritikus musik Arab memberi bintang lima dalam aspek “Muhtawa Adabi” atau kandungan Sarat makna dan “Ittijah Jadid” atau arah baru permusikan Arab. Tahun 2007 klip itu diberi penghargaan sebagai video klip terbaik di Syibh Jazirah Arabiah (Semenanjung Arab). Diputar berkali-kali dalam program musik di seantero Arab.

Taktik tim Nancy yang menampilkan banyak anak dalam video klip juga terbukti sukses. Selain sebagai tambahan stempel bahwa lagu itu untuk semua kalangan, taktit itu juga sanggup sedot pemirsa dari kalangan anak dan remaja. Orang tua tak merasa risih anaknya menonton video Nancy karena ada pertunjukan sirkus dan banyak anak dalam videonya. Cerdas!

Nancy berhasil membungkam para kritikus. Nancy tetaplah Nancy, terlepas dari apapun yang ia kenakan.

Sebentar, sebentar, lantas apa makna lagu yang dicover Nissa Syaban tersebut?

Seperti yang saya singgung di atas, jika ditranslate otomatis, Ya Tabtab memang berarti “Hei Montok”. Tapi sejatinya tidak demikian.

“Ya Tabtab” menggunakan dialek Mesir. Secara semantik “Ya Tabtab” adalah ungkapan tak resmi (lahjah) yang mirip dengan “pukpuk” atau “cupcup”. Tepukan di pundak untuk menghibur dan menguatkan lawan bicara.

Secara utuh, lirik lagu tersebut memang berisi kekecewaan terhadap kekasih yang terlalu over. Sosok egois dan selalu minta dinomorsatukan. Orang-arang Arab mengistilahkan dengan sebutan Al Qasii (Keras hati).

Lagu ini sebenarnya berisi curhatan yang menggambarkan bahwa mood seseorang bisa berubah-ubah. Tak bisa selalu bagus dan kooperatif di hadapan kekasihnya. Kadang bisa memperhatikan kekasih, tapi kadang tidak. Juga tidak selamanya orang bisa fokus pada kekasihnya masing-masing.

Maknanya memang 90% nelangsa. Menariknya justru dibawakan dengan ritme dan hentakan yang teramat ceria. Jedhug-jedhug. Sebab ritme itulah, lagu itu menjadi favorit untuk mengiringi belly dance.

Sekali lagi saya perlu singgung almarhum Didi Kempot. Nancy dan Didi Kempot dalam hal ini amat mirip. Sang maestro membawakan lagu patah hati dengan joget, begitu pula Nancy mengungkapkan keresahan hatinya juga dengan joget.

Baca juga:  Menu Ramadan di Meja Makan Komunis

Lalu apakah pantas dibawakan di panggung religi?

Ehm, sebelumnya apa itu religi? Musik religi itu yang seperti apa? Lebih jauh, busana, program, maupun acara yang religi itu sebetulnya seperti apa?

Apakah program pencarian da’i dengan cara mirip kontes dangdut adalah program religi? Apakah lagu “Aisyah Istri Rasulullah”—yang juga populer itu—bisa disebut religi? Ataukah—jangan-jangan—religi hanya stempel yang kita sematkan secara  arbitrer, alias mana suka. Mana yang berdasar konsensus mirip-mirip dengan nilai Al Quran dan Hadis kita sebut religi. Sedangkan yang lain tidak.

Masalahnya, kalau mau ketat soal religiusitas, tidak ada itu lagu religi. Mohon maaf, melagukan shalawat saja bisa disebut bid’ah (bagi beberapa kalangan). Shalawatnya memang tidak bid’ah, tapi melantunkannya dengan iringan hadrah dan rebana bisa aja dinilai bid’ah.

Segala musik juga haram kalau kita—lagi-lagi mau ketat. Nyatanya, kita baik-baik saja dengan nasyid, shalawat, acapella, atau lagu dangdut khas Bang Haji Rhoma Irama. Dalam taraf tertentu kita juga menerima shalawat yang dikoplo-kan oleh Mutik Nida.

Lagi-lagi kita kembalikan pada paradigma Adab Lil Fan (karya seni semata untuk seni) ataukah Adab lil Hayat (karya seni untuk kehidupan). Dalam dunia Arab, kedua aliran itu sudah ada sejak era Muhadram (peralihan zaman Jahiliyyah ke masa Islam).

Jika saudara adalah penganut yang pertama, maka karya seni hanya bisa tunduk oleh rambu-rambu seni. Pihak yang menikmati seni, kemudian menilainya, hanyalah seniman. Bukan (mohon maaf) agamawan apalagi politikus dengan dukungan penuh para buzzer-nya.

Namun, jika saudara mengikuti aliran kedua, seni harus memberi nilai dalam kehidupan. Seniman tidak boleh egois. Ia juga harus memberi dampak positif pada kehidupan masyarakat. Bisa disimpulkan, yang sedikit-sedikit doyan kasih label religi pada sebuah lagu adalah kelompok kedua.

Meski bagi saya, religi atau tidak sebuah lagu, “Ya Tabtab” itu kenyataannya memang lagu yang amat asyik. Saya tak pernah peduli itu. Sebab, seperti halnya tren agama yang suka dipolitisi, seni juga tak perlu ikut-ikutan dipolitisi dengan label-label religi.

BACA JUGA Menghitung Penghasilan Sabyan Gambus atau tulisan Mifatkhur Risal lainnya.