MOJOK.COHidayat Nur Wahid ada baiknya belajar dari Cak Nun dalam memanfaatkan privilese yang dia miliki. Bukan malah belokkan isu bahaya virus corona.

Cak Nun adalah salah satu manusia dengan hak istimewa sosial yang jarang dimiliki manusia lain. Dalam satu kasus, Cak Nun cukup fasih memanfaatkan privilese tersebut. Contohnya? Hm, saya ceritakan sedikit salah satunya.

Setelah gelaran pilkades, sebuah desa di dekat daerah saya di Bantul sempat bersitegang. Hasil pilkades menjadi penyebab, karena persoalan antara pendukung lurah A dengan pendukung lurah B. Usai penghitungan suara, pendukung calon yang menang memprovokasi pendukung calon yang kalah. Jumlah pendukungnya sih tak banyak, cuma berisiknya nggak ketulungan.

Kerumunan ini pun suka “mbleyer” knalpot bobok-an, motornya mirip orang kampanye sambil melewati posko pemenangan kompetitor yang kalah. Hla yo opo sing ora umub? Diceritakan secara mutawatir, sampai ada yang sudah siapkan arit buat bikin perhitungan.

Singkat cerita, lurah terpilih didorong oleh Pak Polisi dan tokoh masyarakat lain untuk rekatkan hubungan buruk antar-warganya. Lalu sowan lah si lurah terpilih, “tawasul” pada Cak Nun. Minta kehadiran beliau ke desa yang sedang berkonflik untuk dinginkan suasana.

Semua tahu jika Cak Nun mengisi, persiapan kudu optimal. Lapangan, panggung, tamu undangan, bazar, kantong parkir, dll. Jamaah Maiahan juga biasanya mbludag. Acara Cak Nun luar daerah saja ada banyak, apalagi masih di bilangan Jogja.

Rangkaian persiapan itulah jadi momentum warga kembali gotong royong. Yang tadinya membuang muka, kini kudu atur kantong parkir bersama. Ditambah isi petuah Cak Nun, yang kebetulan saya juga hadir, berisi ajakan bertema kebangsaan dan guyub rukun yang sangat relevan.

Hadirin yang terpecah karena pilihan lurah pun diajak nyanyi bareng. Ditawarkan secara demokratis siapa pengen nyanyi apa? Siapa yang mau ke depan sampaikan uneg-uneg. Sekilas tak tampak lagi suasana mencekam di antara mereka. Atmosfer akrab keluar, tawa haha-hihi terdengar.

Lur, satu hal yang sampeyan harus tahu. Cak Nun itu bukan pejabat atau penegak hukum. Dia hanya manusia dengan hak istimewa (privilese). Namun dia mainkan peran itu dengan tepat dalam kasus ini. Bahkan melebihi apa yang bisa dilakukan pejabat daerah atau politisi.

Baca juga:  Pemerintah Berencana Memberikan Bantuan Langsung Tunai Untuk Masyarakat Terdampak Corona

Ya kita tahu, privilese yang dimiliki pejabat daerah dan politisi jelas lebih banyak dari seorang Cak Nun. Sayangnya, tak cukup banyak yang piawai menggunakan hak istimewa tersebut. Ini salah satunya.

Membaca kicauan Hidayat Nur Wahid ini saya sangat khawatir. Padahal beliau sebetulnya punya hak istimewa yang luar biasa. Politikus cum ulama. Wajar kalau apa yang mucul dari lidah atau kicauan dari akun Twitternya siap ditampani dan diamplifikasi oleh followers-nya yang bisa jadi jauh lebih hiperbol.

Sayangnya, dalam kasus virus corona Hidayat Nur Wahid malah misleading. Dan ketidaktepatan membelokkan isu ini bagi saya sangat berbahaya.

Awalnya Hidayat Nur Wahid mengapresiasi sikap Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) yang stop penerbangan dari dan ke Cina. Juga melarang warga Cina atau turis yang pernah singgah di Cina belakangan ini untuk kunjungi Indonesia.

Tapi blio malah akhiri itu semua dengan sebuah pertanyaan: Bagaimana dengan turis dan tenaga kerja Cina yang sudah telanjur masuk ke Indonesia? Sambil membandingkan dengan dijemputnya warga Cina dari Malaysia dan Thailand oleh Pemerintah Cina.

Jaka Sembung bawa talenan, nggak nyambung kok kebangetan.

Oke, oke, mari kita bedah di mana misleading-nya.

Pertama, apa sih sebab orang-orang WN Cina tidak boleh ke Indonesia? Tentu karena risiko  “dihinggapi” virus corona. Hanya itu. Lalu apa relevansinya dengan turis atau tenaga kerja Cina yang sudah ada di Indonesia sebelum merebaknya corona? Memangnya epidemi ini sumbernya dari pabrik atau proyek garapan Cina di Indonesia? Haaaya kan bukan.

Justru kalau pilih jalan kemanusiaan, mereka jangan dipulangkan ke Cina. Tunggu dulu di sini. Sampai wabah mereda. Rak ngono? Namun entah kenapa, hanya karena persoalan kewarganegaraan, kemanusiaan Hidayat Nur Wahid malah jadi nomor sekian.

Kedua, kejadian di Malaysia dan Thailand tak seutuhnya disampaikan oleh Hidayat Nur Wahid. Mereka yang dijemput adalah warga Wuhan atau Provinsi Hubei yang memang ingin pulang kampung. Kebetulan, mereka ini kesulitan di negara terkait.

Baca juga:  Fahri Hamzah Tak Setuju Sandiaga Uno Disebut Ulama, Lah Kok?

Apalagi setelah sejumlah maskapai menghentikan penerbangan dari Malaysia/Thailand ke Wuhan. Oleh karena itu, cara satu-satunya untuk bisa pulang ya dijemput dari Cina.

Menurut hemat saya, kedua hal itu perlu diluruskan oleh yang bersangkutan. Sebab saya yang membaca itu menerka dampak buruk. Bagaimana jika followers-nya yang militan itu turut berpikir seperti dirinya?

Bakal banyak orang yang alih-alih membenci virus corona, tapi jadi ikut-ikutan membenci orang Cina. Yang paling parah—mudah-mudahan tak terjadi—sweeping WN Cina atas nama pencegahan virus.

Ketakutan saya ini tak berlebihan. Di Eropa sedang ramai tagar #JeNeSuisPasUnVirus yang artinya I am not a virus. Aku bukan virus.

Histeria publik atas corona membuat warga Asia (tak hanya Cina) di Eropa sana merasa terdiskriminasi. Alih-alih virusnya yang dimusuhi, namun justru manusianya yang dimusuhi.

Padahal kita tahu, tak semua orang Asia adalah Chinese. Tak semua yang sipit adalah orang Cina. Bahkan tak semua Chinese lahir di Cina. Mungkin bagi orang-orang Eropa, kita orang Asia ini mirip Jacky Chan semua. Padahal Jacky Chan saja bukan orang Cina, tapi orang Hongkong.

Di Indonesia, sejauh ini belum ada gejala-gejala itu. Sebelum-sebelumnya memang sempat ada sentimen anti-chinese kayak gitu, tapi awalnya muncul atas dasar rasa ketidakadilan ekonomi. Kalau yang dasarnya virus corona sih, sampai sekarang belum ada.

Meski begitu,  bukan berarti kita jadi boleh memunculkan rasa sentimen itu. Terutama kalau kamu pejabat negara, berasal dari partai yang kuat basis agamanya, bahkan juga masuk kategori ulama macam Hidayat Nur Wahid.

Itulah kenapa, saya merasa perlu untuk mendorong beliau agar menggunakan privilese-nya sebagai pejabat, politisi, dan ulama dengan sebaik-baiknya.

Sebab, di saat Cak Nun hadir dari desa ke desa di daerah saya untuk menenangkan suasana karena persoalan rumit yang diselesaikan dengan cara sederhana, Hidayat Nur Wahid malah muncul di media sosial untuk menegangkan situasi sederhana dengan cara merumitkan suasana.

Duh, duh, yang wakil rakyat itu sebenarnya yang mana sih, Pak Hidayat?

BACA JUGA Guyonan Virus Corona dan Akal Kiyowo Kita Sebagai Umat Islam atau tulisan Miftakhur Risal lainnya.