MOJOK.CO – Voltaire, si penulis naskah, memilih hanya memanggungkan agresivitas sang Nabi (Muhammad) dalam mencapai tujuan politiknya. Sebatas itu saja.

Drama pertama Islam yang dipentaskan di Amerika ditulis oleh Francois-Marie Arouet, yang lebih dikenal sebagai Voltaire (1694-1778).

Le Fanatisme, ou Mahomet le Prophete, yang pura-puranya tentang era berdirinya Islam, perdana dipentaskan di Paris pada 1742, dua tahun sebelum munculnya sebuah produksi berbahasa Inggris di London. Titimangsa 1776, pementasan ulang drama itu menjadi kecoh di panggung London.

Selama masa Perang Revolusi, Mahomet akan dipentaskan di kedua belah pihak, pertama oleh pasukan Inggris pada 1780, dan untuk pasukan sekutu Amerika dan Prancis dua tahun berikutnya.

Di Prancis, Inggris, dan Amerika, drama ini sesuai sebagai sebuah pola untuk serangan agama dan politik terhadap berbagai musuh, asing dan domestik, yang semuanya Kristen.

Robert J. Allison dalam bukunya, The Crescent Obscured: The United States and the Muslim World, 1776-1815 (2000: 43-46), mendedahkan bahwa Voltaire memilih memanggungkan hanya agresivitas sang Nabi (Muhammad) dalam mencapai tujuan politiknya, sebuah karikatur seorang penipu agamais maupun seorang fanatik politis.

Melalui saringan tempo dulu Islam yang sudah terdistorsi, Voltaire bermaksud agar khalayak Prancis menerima pesan yang lebih umum perihal keburukan penganiayaan dan intoleransi agama.

Pada suatu masa ketika kekerasan Katolik terhadap Protestan merupakan kebijakan nasional, Voltaire menggunakan sebuah konteks Islam imajiner untuk menghindari kecaman langsung dari para gerejawan dan penguasa.

Akan tetapi, taktiknya ini suak untuk mengelabui sensor Katolik. Drama itu akan mendapat khalayak yang lebih reseptif jika ditafsirkan dalam konteks Inggris dan Amerika.

Pada konteks pertama, penambahan prolog baru, iklan-iklan surat kabar, dan pelbagai ulasan, drama yang pura-puranya ihwal Muhammad ini menjadi sarat dengan persoalan kebebasan agama dan politik. Amerika yang sedang berperang dengan Inggris akan menyesuaikan dalam mengadaptasi penjahat muslim dalam drama itu demi memenuhi tujuan-tujuan ideologis mereka.

Dalam Mahomet, Voltaire mengisahkan tentang berdirinya Islam sebagai sebuah kisah polemik tentang seorang penjahat tidak bermoral, yang nafsunya nan keji dan pengejarannya terhadap kekuasaan mengorbankan semua yang menghalanginya.

Sejak abad ke-18, umat Kristen telah menuduh bahwa pernikahan sang Nabi yang berkali-kali itu semata-mata menjadi bukti dari hasratnya yang tidak terkendali, dengan menekankan perbedaan yang kentara terhadap kehidupan selibat yang dijalani Yesus Kristus.

Kritik terhadap pernikahan sang Nabi telah menjadi sebuah landasan dari biografinya yang penuh polemik dalam sumber-sumber Katolik abad pertengahan, dan akan terulang dalam teks-teks Protestan abad ke-17 dan 18.

Baca juga:  Prabowo Bisa Belajar dari Donald Trump agar Kesalahan Tak Berujung Kekalahan

Sebagian besar karakter dalam Mahomet adalah kreasi Voltaire, tidak ada hubungannya dengan kenyataan sejarah. Alurnya membayangkan kembali bagaimana orang-orang pagan Mekkah yang berpendirian keras pada abad ke-7 dipaksa melalui kekerasan untuk menyerahkan keimanan dan kedaulatan mereka kepada Muhammad, nabi palsu dan bermuka dua.

Faktanya, penyerahan diri orang-orang pagan Mekkah kepada pasukan monoteis sang Nabi pada 630 telah dirundingkan dalam sebuah perjanjian dua tahun sebelumnya. Ketika kota itu menyerah, hanya empat penduduknya yang benar-benar dibunuh (Jonathan A. C. Brown, Muhammad: A Very Short Introduction, 2011: 54).

Namun, pesan Voltaire tentang fanatisme agama tidak akan berguna dengan menceritakan kembali resolusi yang pada dasarnya damai ini. Dengan membayangkan pembunuhan kaum pagan, Voltaire justru mengecam bukannya merayakan kemenangan Islam sebagai agama monoteistik anyar.

Untuk lebih merangsang kemarahan terhadap muslim “penindas”, dia melukiskan kaum pagan Mekkah sebagai para martir sejati, jujur, dan heroik .

Sebaliknya, menurut Ahmad Gunny dalam Images of Islam in Eighteenth-Century Writings (1996: 156), Voltaire melukiskan Muhammad versinya sebagai predator cabul, yang berahi kepada seorang perempuan muda cantik bernama Palmira, sebuah nama yang diambil bukan dari bahasa Arab tetapi dari sebuah situs pra-Islam di Palmyra, Suriah.

Ditangkap oleh Muhammad sewaktu masih anak-anak, Palmira tumbuh tanpa mengetahui bahwa ayahnya, Zopire, adalah pemimpin oposisi pagan Mekkah. Walaupun Palmira menghormati Muhammad sebagai telatah ayah, penguasa, dan seorang nabi, gadis itu tidak membalas kasih sayangnya.

Sebaliknya dia mencintai Seide, yang juga diambil sewaktu masih anak-anak, tetapi dia tidak tahu bahwa Seide adalah kakaknya.

Muhammad memerintahkan Seide untuk membunuh Zopire, ayahnya sendiri. Karena setia kepada Muhammad, Seide melaksanakan perintah, tapi Muhammad yang bermuka dua itu kemudian meracuni saingannya.

Pada adegan terakhir, Palmira terlambat menyadari bahwa ayah dan kakaknya meninggal dunia atas perintah dari orang fanatik itu. Sedih sampai sinting, ia bunuh diri, dengan membeberkan sifat asli Muhammad bersama napas terakhirnya:

Kau penipu berlumur darah … Algojo dari semua orang yang aku cintai … Nabi suci, raja yang aku layani, tuhan yang aku sembah! Monster yang rencana liciknya yang gila dan berbahaya telah membuat dua orang tak bersalah menjadi dua orang pembunuh! (Voltaire, Mahomet, 2013: 57)

Sementara khalayak turut merasakan penderitaan ini, Voltaire memperjelas visinya tentang Mahomet, yang sendirian di atas panggung, dengan mengakui bahwa dia seorang penipu yang durkarsa: “Pedang dan al-Quran di tanganku yang berlumur darah, akan membungkam seluruh umat manusia (?).

Baca juga:  Melihat Dunia dari Isi Kepala Mahatma Gandhi

Tatkala aktor yang pertama kali dipilihnya untuk memerankan Muhammad mengundurkan diri, Voltaire menemukan aktor liyan yang menurutnya bahkan lebih baik tinimbang pilihan awalnya karena “penampilannya yang mirip kera”. Di atas panggung, karakter Muhammad dibayangkan oleh sang dramawan itu sebagai sosok yang lebih rendah dari manusia sekaligus tak berperikemanusiaan.

Namun, Voltaire memungkiri pengetahuannya tentang sejarah Islam dan doktrin agama yang sebenarnya. Menurut Denise A. Spellberg dalam bukunya, Thomas Jefferson’s Qur’an: Islam and the Founders (2013: 35-36), pada 1738, Voltaire juga memiliki al-Quran terjemahan Inggris karya George Sale, yang menyertakan sebuah bagian penjelasan panjang ihwal sejarah dan agama.

Dengan mengabaikan informasi yang relatif akurat yang tersedia baginya, Voltaire mengkhianati sebuah keputusan yang disengaja dalam mendistorsi sejarah Islam sebagai sarana peringatan terhadap penganiayaan agama dan despotisme.

Walaupun kecaman Voltaire terhadap penganiyaan Katolik terhadap Protestan disampaikan secara tidak langsung, otoritas gereja mengenali analogi itu dan dengan cepat melarang drama itu pasca pementasan perdananya di Paris pada 1742 (Nicholas Cronk, The Cambridge Companion to Voltaire, 2009: 6-7).

Mereka benar dalam menuduh bahwa maksud Voltaire adalah menyerang agama Kristen bukannya Islam; beberapa bahkan berpendapat bahwa dia sedang memperkenalkan Deisme.

Voltaire membenci sensor Katolik terhadap dramanya, tetapi dia setuju bahwa duta besar Turki Utsmani di Paris pastinya punya alasan yang sah untuk keberatan. Dalam hal ini, dia mengakui, “Rasanya tidak akan patut untuk merendahkan sang Nabi sambil menghibur utusan itu.”

Akan tetapi, fitnah terhadap Islam itu terbukti terlalu bermanfaat untuk dibantah. Tahun 1745, berusaha agar larangan itu dicabut, Voltaire menulis surat langsung kepada Paus Benediktus XIV, memberi hormat kepadanya dalam bahasa Italia sebagai “kepala agama sejati” dan mengecap sang Nabi, secara tidak mengejutkan, sebagai “pendiri sekte palsu dan barbar”.

Namun strategi kepausan Voltaire suak, dan drama itu tidak akan dipentaskan lagi di Paris hingga 1751.


Sepanjang Ramadan MOJOK.CO akan menampilkan kolom khusus soal hikayat dan sejarah peradaban Islam dari sejarahwan Muhammad Iqbal.



Tirto.ID
Loading...

No more articles