MOJOK.CO – Seandainya peraturan dwifungsi TNI ala Muhadjir Effendy diterapkan saat Rangga AADC masih sekolah. Hm, aroma-aroma perlawanannya bakal kenceng nih.

Saat libur lebaran kemarin, adik saya cerewet betul bertanya tentang hal-hal yang harus dipersiapkan dan apa-apa yang menyenangkan dari jenjang pendidikan SMP. Dari mulai ekstrakulikuler yang menarik, seragam, kiat masuk OSIS sampai apa itu orientasi sekolah?

Itu wajar belaka, adik saya baru saja lulus SD dan memiliki semangat juang yang lumayan tinggi. Sesungguh saya dengan enteng bisa menjawab semua pertanyaannya, kecuali yang disebutkan terakhir.

Sebagai abang yang berakhlak baik, tak elok jika saya berbohong dengan mengatakan orientasi sekolah sebagai ritual yang menyenangkan. Tetapi, di lain sisi saya tak ingin membuat nyalinya melempem. Maka dengan berat hati, saya harus berkata, “Ah seru, kok. Paling-paling dijahilin sama senior.”

Jelas bahwa jawaban ini lebih aman, satu tipe dengan jawaban “rasanya kayak digigit semut, kok” untuk pertanyaan bagaimana rasanya disunat.

Sialnya, Pak Muhadjir Effendy, beberapa pekan lalu mengumumkan bahwa mulai tahun ini setiap sekolah, baik negeri maupun swasta—yang termasuk ke dalam tanggung jawab Kemendikbud—wajib melaksanakan program pengenalan lingkungan sekolah alias PLS didampingi tentara. Dari tingkatan SD, SMP dan SMA.

Dulu saya diorientasi abang senior saja sambatnya sampai lima waktu, lha ini nggak kebayang kalau adik saya sambat 50 waktu ke saya saat nanti harus diorientasi pakai dwifungsi TNI begini. Udah gitu, sambatnya ketambahan pakai qobliyah dan bakdiah lagi.

Sebenarnya hal-hal semacam ini adalah konsekuensi logis atas ditandatanganinya Perpres Nomor 37 Tahun 2019 tentang Jabatan Fungsional TNI.

Boleh saja Pak Muhadjir Effendy menampik bahwa peraturan ini tidak berarti mengembalikan Dwifungsi ABRI kaya jaman Pak Harto, tapi yang namanya militer ya tugasnya menjaga keamanan negara di luar daripada itu ya berarti sudah dwifungsi TNI, Bambang!1!1!1!!

Dan, maaf Pak Muhadjir, untuk kali ini netizen tak bisa dibohongi.

Saya tiba-tiba kebayang seandainya peraturan dwifungsi TNI kayak gini diterapkan saat Rangga AADC masih sekolah. Ya maklum, sampai detik ini rasanya Rangga masih menjadi representasi cowok SMA yang mbois.

Oke deh, kalian boleh tak setuju dan menawarkan Dilan sebagai alternatif. Tetapi bagi saya, kalau Dilan doang sih nggak ada apa-apanya dibanding Rangga. Mau bagaimana pun juga, Dilan ini berani petantang-petenteng karena anak kolong saja alias anak tentara.

Baca juga:  Guru yang Wajib 8 Jam di Sekolah, Bukan Murid

Kalau dibayang-bayangkan, barangkali bisa begini adegannya.

Hari pertama orientasi, Rangga langsung mendapatkan tekanan dan dihukum menyanyikan lagu Indonesia Raya. Alasannya sederhana, karena Rangga kurang interaktif dibanding murid lain.

Bahkan, Rangga lebih senang membaca Aku-nya Sjuman Djaya ketimbang memperhatikan Pak Tentara yang sedang menjelaskan empat pilar kebangsaan. Karena bising dan konsentrasinya membacanya terganggu oleh ceramah tersebut, Rangga ngamuk sambil mengancam lempar pulpen.

“Barusan saya lempar pulpen gara-gara ada yang berisik di ruangan ini. Saya nggak mau pulpen itu balik ke muka saya gara-gara saya berisik sama Bapak,” ucap Rangga dengan nada nyolot.

Lalu, karena dianggap mengganggu stabilitas negara dan terancam dijerat pasal 212 KUHP—melawan aparat, Rangga dihukum push-up dan menghafal seratus nama ikan dari Filum chordata. Dan ini bakal jadi pelajaran biologi pertama yang diterimanya.

Karena capek dan berkeringat, Rangga cabut dari ruangan dan mampir di kamar Pak Wardiman.

Lalu mencomot sebatang kretek sambil ndumel dalam hati “Selow lah, sebats duls biar kek Chairil Anwar. Xixixi.”

Dalam keadaan yang sungguh nikmat begitu pastilah penyair gesit menciptakan puisi yang apik, begitu pun dengan Rangga. Dia lalu menggoreskan tinta. Dan jadilah satu puisi utuh yang meski bernada perlawanan terhadap tentara yang seharian membuatnya bad mood, ia tetap bisa mendatangkan kenikmatan tekstasi alias katarsis bagi setiap pembaca. Kira-kira begini bunyi puisi yang diberi judul Tentang Orientasi.


Ku lari ke Kodim, kemudian menyanyiku

Ku lari ke Koramil, kemudian teriakku

Orientasi dan Dwifungsi

Aku benci

 

Aku ingin sebats,

Aku mau di kamar

Bosan aku dengan orientasi

Dan enyah saja kau Dwifungsi

Seperti berjelaga jika Ku sendiri

 

Pecahkan saja gelasnya biar ramai,

biar kuhafal nama-nama ikan,

Ada malaikat menyulam jaring laba-laba belang di tembok Koramil putih,

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya, biar terdera

Atau aku harus lari ke Kodim lalu belok ke Koramil?


Rangga pulang dan menaruh begitu saja karya adiluhung itu di meja Pak Wardiman, tetapi karena tukang sapu sekolah itu kelewat percaya diri dan rebbel, Pak Wardiman menempelnya di mading sekolah. Dan sudah bisa ditebak, keesokan harinya Rangga ditimpa kesialan-kesialan yang kelewat laknat.

Baca juga:  Mendikbud Berencana Melenyapkan PR Sekolah dari Bumi Indonesia

Kesialan pertama Rangga telat masuk. Alasan yang dipakai klise—walau tampak sastrawi—dia mengaku kesiangan karena membaca puisi Pablo Neruda berulang-ulang sampai pagi. Tapi tanpa diduga, alih-alih memaafkan, tentara yang sedang bertugas malah nyolot, “Terus kalau elu telat masuk salah siapa, salah gue? Salah, salah satu dari temen-temen gue?”

Kesialan ke dua, saat teman-temannya memakai seragam disertai pita berenda-renda, Rangga dengan percaya diri tampil menggunakan baju renang. Saat ditanya, Rangga mulai berani ngegas.

“Kayak nggak punya kepribadian aja. Nonton sama-sama, pulang sekolah sama-sama, berangkat sama-sama, sampai pakai baju harus samaan. Apa namanya kalau bukan mengorbankan kepentingan pribadi untuk hal yang kurang prinsipil?”

Rangga memang anti mainstream, seperti kita tahu, tapi jelas itu tak membuatnya kebal di mata hukum.

Kesialan ke tiga, tentu saja ulah Pak Wardiman yang seenak jidat nyebar puisinya. Ia dianggap melakukan ujaran kebencian. Karena kena pasal berlipat-lipat, sanksi yang pas menurut Mahkamah Militer adalah adu panco sambil bikin puisi yang isinya muji-muji tentara. Selain melelahkan, Rangga adalah satu-satunya penyair yang pernah melakukan hal ini. Keren euy.

Rangga nggak jadi berangkat ke toko buku Kwitang karena badannya asam urat. Mamam, Rangga, mamam. Makanya, janganlah sesekali melawan kehendak Dwifungsi TNI!

Besoknya Rangga nggak ikut orientasi sekolah. Rangga menghilang. Bukan karena masih asam urat, itu sudah sembuh sejak tadi malam. Usut punya usut, Rangga berasal dari keluarga yang berbahaya, rekam jejak masa lalu Sang Bapak sekaligus perangainya yang mencurigakan, membuat tentara kesal dan menyelidiki. Bahkan sore saat dia melihat senja, nyebats, kopi, dan puisi, rumahnya diteror oleh bom molotov mencurigakan.

Ternyata, menurut pengakuan Pak Wardiman—sobat kentalnya Rangga—Pak Yusrizal, Bapaknya Rangga, pada tahun 96 pernah membuat tesis tentang keburukan orang-orang di pemerintahan. Lalu blio sering dituduh terlibat gerakan makar dan partisan PKI. Jadi, sudah teranglah alasan mengapa Rangga menghilang.

Sungguh malang, sebenarnya Rangga sudah kenal Cinta, cuma belum sempat yang-yangan karena sibuk dihukum saat orientasi sekolah. Wajar sih ya.

Jadi pesan moral yang dapat dipetik adalah, kalau kamu keturunan PKI, kafir, liberal, suka bikin puisi perlawanan, jangan sesekali berharap hidup damai apalagi berharap mendapatkan pendidikan yang layak. Mending pura-pura jadi galon aja seharian.



Loading...



No more articles