Jika siang malas karena lapar, sementara saat malam malas karena kekenyangan. Terdengar familier di hari-hari Puasa ini?

Tapi saya tak sedang bicara tentang bocah kecil yang melewati Puasa pertamanya, juga tak sedang mengenang masa kecil—seperti biasanya. Saya sedang membicarakan diri sendiri saat ini, dan kini; seorang yang baru beberapa hari lalu melewati ulang tahun ke-40-nya, yang jika bikin CV untuk sebuah pekerjaan kantoran kira-kira akan mencantumkan keterangan “sudah menulis ribuan halaman buku”—sementara beberapa ulasan atas buku dan tulisan saya dengan sedikit kurang ajar malah menyebut “penulis kawakan ini”.

Ini sudah empat pekan sejak saya bercerita, juga di kolom ini, bahwa saya baru saja menyelesaikan novel baru dan karena itu merasa berhak malas, bersantai, bebas dari apa yang saya bayangkan sebagai “kerja”, apa pun bentuknya. Saya membutuhkan menulis “permakluman” semacam itu memang agar dimaklumi, tapi yang terutama karena bayi besar kolokan yang masih ngendon pada diri saya perlu diingatkan. Tapi, rupanya, bayi besar ini sedang bandel-bandelnya; kemanjaannya sedang tak terleraikan. Lebih-lebih karena baginya sedang tersedia sangat banyak alasan.

Secara teoretis, (bulan) Puasa adalah (dan seharusnya) sebuah “residensi alami” bagi setiap penulis. Dan, saya selalu merasa ada ekspektasi seperti itu setiap jelang Puasa. Karena itu, setidaknya sejak 10 tahun terakhir, hari-hari Puasa lebih banyak saya habiskan di kampung, dan biasanya dengan membawa misi menyelesaikan sesuatu: draf novel yang sudah sepuluh tahun tak selesai, atau memulai tulisan-tulisan baru yang lebih serius tentang film India, atau bisa juga membaca ulang buku-buku sepakbola yang sudah lama ngendon, menerjemahkan beberapa yang menarik, dan menghimpunnya dalam sebuah kumpulan yang kokoh. Tapi Puasa macam itu hanya ada dalam kepala saya, seperti naskah seperempat jalan dan ide-ide lama yang terbengkalai dan tak kunjung dieksekusi; itu adalah Puasa yang ada di buku ajar Fikih anak Ibtidaiyah, atau di kolom-kolom Cak Nun, atau di ceramah menjelang berbuka di radio dan layar kaca, tapi tidak di dunia nyata. Ia adalah ideal yang mesti dikejar, dan itu bisa sama sulit dicapainya dengan Lailatur Qadar.

Bayangkanlah Anda membuat matriks kerja yang tak terlalu muluk sebagai berikut: 1) memulai menulis sepulang Tarawih dan berhenti sampai datang kantuk; 2) boleh tidur lagi setelah salat Subuh, tapi mesti menulis atau setidaknya membaca begitu bangun; 3) dua-tiga jam menjelang berbuka adalah waktu yang sangat nyaman untuk membaca, jadi mari susun daftar bacaan dan habiskan. Sayangnya, Tarawih di kampung tak pernah selesai begitu rakaat terakhir Witir selesai. Ada obrolan-obrolan enteng yang mesti dilakukan setidaknya hingga setengah jam kemudian. Ada obrolan yang lebih berat karena seseorang yang lama tak bertemu Anda begitu bersemangat mengajak bicara, dan biasanya akan berakhir lebih lama. Kadang tidak ada obrolan, tapi tiba-tiba seseorang datang dengan ide cemerlang, “Ayo cari bakso ke kecamatan!” Dan lima menit kemudian, belasan bapak-bapak, sebagiannya sudah punya anak usia SMA, dengan keceriaan wajah bocah tujuh tahunan yang diajak ke pasar malam untuk pertama kalinya, terguncang-guncang di atas bak Tossa menuju Bakso Abang. Dan kami baru balik ke rumah masing-masing berjam-jam kemudian dalam keadaan kekenyangan. Atau, jika tak ada obrolan, tak juga ajakan cari bakso, Anda pulang dan menemukan pesan sangat singkat di ponsel: “Ngopi.” Bubarlah semua.

Saya kadang mencoba membendung “obrolan, bakso, dan ngopi” dengan memilih Tarawih di rumah. Namun, satu pertandingan sepakbola (satu saja!) dengan hasil buruk (atau bahkan kemenangan yang terlalu indah) di akhir pekan bisa jadi bara api kecil yang membakar seluruh rumah; ia merusak ritme tidur, meruntuhkan mood sepanjang pekan, dan membuat “obrolan, bakso, dan ngopi” menjadi lebih menarik dari sebelum-sebelumnya. Dan lingkaran kemalasan akan berputar dari awal lagi.

Puasa kali ini saya tidak sedang di kampung—dan kelihatannya tak akan bisa mudik. Saya juga belum pernah ke masjid untuk ikut salat Tarawih, sebagaimana saya sudah tak berangkat Jumatan nyaris delapan pekan. Tak ada obrolan di teras masjid sampai jauh malam. Tak ada Tossa dan Bakso Abang (ah, saya sangat merindukannya!) Hanya ada kopi, tapi tidak ngopi, dan sudah berbulan-bulan tak ada teman yang mengajak ke warung kopi, dan memang seharusnya begitu. Sepakbola lenyap dari televisi. Hanya ada pandemi. Dan, seharusnya, ini adalah sebuah residensi paling sempurna untuk penulis mana pun.

Sayangnya, saya menyelesaikan sebuah novel hanya beberapa hari saja sebelum Puasa. Ini membuat “Program Ideal Puasa” sebagaimana yang biasa saya pancang, segagal apa pun, jadi tak relevan. Yang lebih buruk, berkat alarm dini yang saya nyalakan berkait dengan kemalasan, sejak itu saya merasa sudah cukup produktif. Masalahnya, merasa produktif tak pernah sama dengan produktif.

***

Draf novel yang “selesai” itu telah saya cetak-coba dan jilid untuk saya diamkan. Beberapa teman, dengan beberapa latar belakang, saya minta membaca dan saya sedang menunggu komentar mereka. Beberapa obrolan dan masukan telah saya dengar, dan itu menggelisahkan. Tapi saya belum akan mengutak-atiknya. Biarlah ia jadi semacam masa remedi, ketika nanti diksi dan kalimat, bahkan bab, yang memang tak berhak lolos rontok sendiri; atau, dengan sedikit jarak, saya nanti akan datang kembali sebagai pembaca pertama yang penuh curiga untuk naskah saya sendiri.

Keluhan tak mengerti seorang pembaca pertama terhadap sebuah gojekan politik dalam satu dialog kecil seorang tokoh di novel saya membuat saya gelisah. Meski ia memberi pembelaan bahwa tak mesti semua harus dipahami pembaca sepertinya, dan ia bilang yang penting ia tahu bahwa gojekan itu berfungsi memberi konteks, tetap saja tak membuat saya tenang. Jangan-jangan, demikian saya berpikir, seorang pembaca tidak konek dengan gojekan itu bukan karena pembaca tak mengerti konteks melainkan karena gojekan itu memang hanya bisa dimengerti sangat terbatas orang. Malah, lebih jauh, saya juga mulai memikirkan kemungkinan bahwa itu adalah gojekan yang salah. Jadi, “mari kita cek ulang,” itu tekad saya.

Baca juga:  Kolom: Sepeda

Gojekan yang sedang saya bicarakan di sini adalah jenis kata atau kalimat yang bertahun-tahun lebih dulu saya temukan dibanding keseluruhan ide novel. (Saya punya kata dan kalimat sejenis itu di novel-novel sebelumnya, sebagaimana di novel ini.) Jadi, sejak sangat awal, saya sudah yakin bahwa itu berdasar pertimbangan yang telah matang dan solid. Namun, respons dari pembaca pertama seperti di atas memaksa saya untuk mundur dan memeriksa kembali. Saya membutuhkan kembali membaca. Dan saya pun membaca. Dan, saya kira, inilah pentingnya seorang penulis menumpuk buku.

Tak ingin seperti seorang mahasiswa semester pertama yang mengerjakan ujian terbukanya, saya tak ingin memburu jawaban itu sesegera mungkin dan dengan cepat menumpuk lembar soal. Saya tahu, saya akan menemukannya di suatu tempat di sebuah halaman buku tentang sejarah berdirinya Orde Baru, atau setidaknya berupa puzzle yang mesti saya tata ulang dari beberapa buku, tapi biarlah ia di tempatnya dulu. Bertahun-tahun secara intuitif saya mengumpulkan buku-buku tentang sejarah Orde Baru, jadi kenapa tak dibongkar dulu saja semua, diturunkan dari rak, dibersihkan, dilihat tanggal belinya, dan mari kita lihat sudah berapa tahun buku-buku itu menunggu momen seperti ini, ketika ia disentuh karena dibutuhkan, bukan karena seorang pembaca snob sedang ingin berkompetisi dengan pembaca snob di luar sana. Ada beberapa buku yang saya bayangkan menyimpan jawaban itu, jadi saya tak akan menyentuhnya dulu. Van Dijk, Vatikiotis, Adam Shchwarz, semua terlihat gemuk dan seram, dan berbahasa Inggris; mereka pasti bisa menunggu, toh baru belakangan mereka berpindah tangan dari lapak-lapak online ke rak ini. Brian May dan Howard P. Jones mungkin lebih awal datang, tapi mereka juga bisa dibaca nanti. Ketika saya sedikit lupa dengan tujuan awal kenapa saya mesti membongkar buku-buku sejarah Orde Baru itu, saat agak kesulitan tidur, saya menjambret begitu saja sebuah buku yang tampaknya paling lama di rak dan terlihat paling mungkin untuk bisa ditutupkan ke muka: Zaman Edan-nya Richard Lloyd Parry.

Saya bermaksud mencari tahu apa yang ditulis seorang wartawan bule di hari-hari menjelang dan setelah Reformasi ‘98, dan berakhir dengan mengalami mimpi buruk dalam keadaan mata terbuka. Itu buku paling tak tepat untuk pengantar tidur. Mengerikan, depresif, penuh adegan kekerasan, beberapa terlalu grafis, dan secara ironis menghancurkan semua upaya yang coba ingin dicapai penerbit Indonesianya, yaitu sebagai peringatan 10 tahun Reformasi (buku itu terbit dalam bahasa Indonesia pada 2008) sekaligus 100 tahun Kebangkitan Nasional, seperti yang tercantum di sampul. Ia pasti akan membuat novel ngepop macam The Year of Living Dangerously dari Christopher Koch seperti komedi murahan, sementara upaya keras para pengarang Indonesia untuk memberi nuansa “realisme magis” di novel-novelnya agar bisa diterima komunitas sastra dunia jadi terlihat seperti tempelan-tempelan tak perlu—sebab buku Lloyd Parry menggambarkan apa yang realis dan yang magis, dan itu asli Indonesia, sampai batas paling ekstremnya. Padahal Lloyd Parry tidak menulis novel, melainkan sebuah buku hasil kerja jurnalistik. Dan saya merasa beruntung terlambat belasan tahun membacanya, sebab jika saja saya membacanya di saat yang lebih tepat, Dawuk, yang saya bayangkan memberi gambaran tentang betapa mengerikannya dendam dan prasangka, sesuatu yang secara genuin kita punya dan pelihara, mungkin tak berakhir seperti yang tercetak di buku dan dibaca orang-orang. Dawuk, yang saya mulai dari sebuah berita pengeroyokan tak jauh dari kampung saya, telah cukup membuat saya mual ketika menulis beberapa bagiannya, jadi saya tak bisa bayangkan mimpi buruk macam apa yang dialami Lloyd Parry yang telah melihat dengan mata kepalanya sendiri ratusan kekejaman yang serupa peristiwa yang menginspirasi Dawuk.

Saya berhenti dari Lloyd Parry ketika ia sampai di Jogja, dan saya putuskan untuk berpindah dari akhir Orde Baru ke asal mula berdirinya. Beberapa teman memberi tahu kepada saya untuk tak melewatkan memoar Jusuf Wanandi, Menyibak Tabir Orde Baru. Saya belum lama mendapatkan buku itu. Dan, cukup untuk membaca beberapa bab awal, saya segera tahu bahwa saya sedang memegang salah satu buku sejarah terbaik tentang Orde Baru yang ditulis orang Indonesia. Di masa kecil saya yang islami, lewat media-media Islam politik macam Media Dakwah dan Sabili, ada rumor bahwa di belakang Orde Baru, di belakang Soeharto yang “menindas umat Islam”, berdiri sebuah lembaga think tank kecil namun sangat berpengaruh bernama CSIS. Jusuf mengonfirmasi dengan terang-terangan semua itu, juga menjelaskan hubungan mereka dengan sosok-sosok enigmatik yang menjadi deking mereka (yang selama ini dicatat sebagai “musuh-musuh umat Islam”), yaitu Ali Moertopo dan Soedjono Hoemardani dan kemudian Benny Moerdani. Tapi, betapa besar pengaruh lembaga kecil itu bagi arah yang di tempuh negeri ini sejak suksesi berdarah dari Sukarno ke Soeharto tetap saja membuat saya tercengang. Meski begitu, itu tetap tak sepadan dengan ketercengangan saya terkait betapa mudahnya Jusuf, orang yang ada di jantung gerakan mahasiswa antikomunis saat itu, yang ke mana-mana bawa pistol di hari-hari genting itu (meskipun katanya tak berpeluru), cuci tangan dari kubangan darah yang ditimbulkan oleh gerakan itu, dengan menyebut bahwa mereka “tak bisa selalu mengendalikan Soeharto” sekaligus menunjuk bahwa pembantaian itu sebagian karena motif balas dendam pribadi Sarwo Edhie atas kematian A. Yani. Sayangnya, di sepanjang buku, Jusuf kurang mendalam terkait dua pesaing mereka di hadapan Soeharto, yaitu 1) orang-orang bekas PSI di awal Orde Baru, dan 2) kubu Islam politik di masa-masa akhir Orde Baru. Yang pertama hanya sekilas ia sebut terkait Mafia Berkeley, sekelompok orang yang menurutnya tak pernah mengkritik Soeharto agar aman kedudukannya, sementara untuk yang kedua hanya terwakili dari sosok Habibie dan ICMI-nya, yang sebenarnya lebih menggambarkan satu faksi di Golkar dan tentara yang mereka benci.

Baca juga:  Kolom: Pulang

Meski begitu, bagi saya, hal paling menarik usai membaca memoar Jusuf adalah tentang uang besar yang dikelola kalangan tentara sejak era Nasionalisasi 1958, skandal harta warisan Haji Taher di Bank Sumitomo Singapura tahun 1977, juga tentu saja uang yang masuk dan dikelola oleh anak-anak Soeharto dan kroni-kroninya, dst.. “Jadi di mana dan siapa saja yang mengelola uang-uang itu hari ini?” tanya saya kepada seorang teman yang membaca lebih banyak buku dibanding saya. Ia memberi jawaban yang mudah saya duga, sembari menerawang betapa berkuasanya pemegang uang itu di hari-hari ini. Tapi ini sekaligus menjadi pendorong baru bagi saya untuk menyusuri kembali buku-buku kajian militer yang berdebu di atas rak sesi Orde Baru.

Dari Jusuf saya lompat ke buku babon kajian militer Indonesia-nya Crouch dan Sundhaussen, sementara buku-buku sejarah tentaranya Salim Said menunggu giliran. Tapi, kematian dua bintang Bollywood dalam dua hari, terutama Irrfan Khan, mendisrupsi ritme itu. VICE meminta wawancara, dan ketika saya baca hasil wawancaranya saya merasa harus menulis semacam obituari saya sendiri untuk melengkapi yang tak terutarakan. Itu membuat saya mesti membaca banyak wawancara Irfan, baik yang tertulis maupun dalam bentuk audiovisual. Juga wawancara orang-orang yang bersinggungan dengan karier Irfan. Sebagian bahan tulisan saya dapat dari wawancara terhadap Tigmanshu Dhulia, sutradara yang memberi tiga film penting untuk Irrfan, dalam buku Brave New Bollywood.

Lalu tiba-tiba saja saya juga ikut-ikutan rombongan besar “merayakan” kematian Didi Kempot. Itu tulisan yang mudah, sekali duduk, terutama karena separohnya adalah tulisan yang gagal saya selesaikan berbulan-bulan lalu saat mau berkomentar soal fenomena Sobat Ambyar. Itu bukan tulisan yang terlalu saya banggakan, terutama karena pada dasarnya saya membenci orang-orang yang banyak bicara tentang hal yang terlalu sedikit diketahuinya. Tapi tak ayal, menyelesaikan beberapa tulisan dengan sangat mudah memberi saya keyakinan bahwa kondisi badan dan psikis saya dalam keadaan “enak diajak kerja”. Itulah kenapa saya juga mulai mengerjakan tugas editing buku seorang teman, setelah berbulan-bulan tak saya sentuh. Dan karena kerja editing selalu saja membuat saya jatuh bosan, saya menyelinginya dengan kembali ke naskah terjemahan yang sudah setahun yang lalu saya serahkan ke sebuah penerbit meski dalam keadaan rumpang (hanya saya terjemahkan sebagian). Karena tak bisa berharap naskah terjemahan itu akan terbit dalam waktu dekat, terutama ketika para penerbit sedang tiarap seperti saat ini, saya mencicil menerjemahkan bab-bab yang dulu saya lewati. Dan saya sudah mengerjakan belasan halaman terjemahan sejak memulai beberapa hari lalu.

Puasa yang tak terlalu buruk kan? Sayangnya, saya justru gelagapan ketika mesti menghadapi tulisan yang seharusnya saya kerjakan.

***

Di Bantul tempat saya tinggal, Jumatan belum lagi dibuka setelah ditiadakan sejak dua bulan lalu. Namun, suasana Puasa berangsur-angsur memulih. Pujian dan bacaan tilawah menjelang berbuka dan menjelang Tarawih sudah mulai ramai, dan semakin ramai saja. Ketika saya keluar ke jalan untuk mencari pulsa dan beras, dan sedikit ketela, saya dapati penjual sayur yang sebulan lebih menghilang telah kembali. Tukang gorengan juga muncul lagi, kali ini dengan pesaing musimannya yang membuka lapak tak jauh lokasinya. Sebagaimana saya masih menahan diri untuk masuk ke tukang pangkas rambut, saya sebenarnya masih enggan mampir membeli gorengan. Tapi bagaimana kamu melewatkan sebulan penuh berbuka puasa di Jogja tanpa pernah beli gorengan?

Maka, di sebuah lapak gorengan baru, saya berhenti. Di hari-hari yang normal saya biasa membeli 10 ribuan bahkan untuk saya makan sendiri. Kali ini saya mencukupkan diri membeli 5 ribu. Tak saya sangka, saya mendapat banyak sekali. “Berapaan gorengannya, Bu?” saya bertanya. “Lima ratusan, Mas,” jawabnya. (Ah, bukankah sejak dua tahun terakhir, gorengan di Jogja sudah pakai harga yang aneh: dua ribu dapat tiga?) Itu pun saya bisa melihat ia menambahkan satu-dua gorengan lebih ke kantong plastik saya. Tapi itu masih tak cukup. Penjual gorengan itu mengucapkan terima kasih untuk pembelian saya. Di Jogja, penjual mengucapkan terima kepada pembeli adalah kebiasaan. Tapi saya melihat lebih dari itu. Saya seperti melihat terima kasihnya orang lapar yang disedekahi makanan. Gorengan itu sudah dingin ketika waktu berbuka datang, tapi hati saya hangat sampai berhari-hari kemudian.

Esok sorenya, seorang teman yang sudah setahunan tak bertemu tiba-tiba datang ke rumah. Awalnya, ia mengirim pesan WhatsApp apakah saya pulang atau tidak, yang kemudian berakhir dengan tawaran apakah saya mau ikan layur asin. “Ya tentu saja!” tukas saya. Saya mengirimkan lokasi dan alamat, membayangkan ia mengirimkan ikan asin itu dengan layanan antar. Ternyata ia membawa sendiri ikan asin itu ke rumah. “Kemarin aku mimpi kamu dan Anam mengajakku mudik,” katanya, menjelaskan sebagian alasan kunjungannya. Saya menertawakannya, terutama atas kegagalannya menambah teman, sehingga masih memimpikan teman lamanya. Tapi ketika ia pamit, saya melepasnya dengan mata merembang. Saya tahu saya pernah makan ikan layur yang lebih mahal, tapi ini pasti ikan layar terenak yang saya pernah makan.

Ini jelas bukan Puasa yang terlalu buruk. Sayangnya, saya belum tahu apa yang mesti saya tulis untuk akhir pekan.

BACA JUGA MZ dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.