Kunjungan pertama saya ke warung kopi setelah lewat tiga bulan terkarantina karena wabah mempertemukan saya dengan seorang teman lama. Ia dulu penata letak buku pelajaran di kantor di mana saya jadi penulis, dan kini ia adalah dosen Sejarah di almamaternya dan sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Eropa untuk menempuh pendidikan tingkat doktoralnya. Agak lama tak bertemu, mungkin sekitar sepuluh tahunan, saya mengira akan menjumpai seorang homo akademikus yang serius, tapi rupanya ia tetap sosok kocak yang sama yang dulu sering saya ajak ngobrol soal bola di warung depan kantor.

Sebagai dosen Sejarah, tentu saja cerita-cerita konyolnya tetap saja serius. Misalnya, ia bercerita mendapat proyek penelitian tentang sebuah perkebunan peninggalan Jepang yang terlantar di pedalaman Kalimantan seluas 23 ha. Dengan kepala Wonosari-nya, dan semesta pandangnya tentang tanah-tanah sempit di Jawa dengan segala permasalahannya, ia membayangkan akan dihadapkan dengan sebuah riwayat sengketa panjang dan rumit dan melibatkan banyak orang dari sebuah lahan tak jelas yang cukup luas. Sesampainya di lokasi, yang ditemukannya tak lebih dari sebidang kebun belakang rumah yang digarap seorang warga setempat.

Ia juga punya cerita tentang kebingungan seorang sejarawan Belanda yang tengah memberi kuliah di Jogja ketika disodori buku bajakan dari karyanya yang diterjemahkan sebuah penerbit terkenal di Jogja oleh seorang mahasiswa untuk ditandatanganinya. Bukan semata karena buku itu bajakan, tapi karena sang sejarawan tak pernah tahu buku tersebut telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Tapi bahkan masalah terbesarnya bukan di situ: buku tersebut adalah karya lama yang sudah tak lagi terbit karena dianggap, oleh penulisnya sendiri, ditulis dengan metodologi dan pendekatan yang sudah tak relevan lagi atau bahkan salah.

Namun, yang membuat saya tertawa lebar bukanlah cerita sejarawan muda dari Jawa yang petantang-petenteng di pedalaman Kalimantan atau sejarawan Belanda yang kebingungan karena mesti menandatangani buku yang tak pernah diketahuinya di sebuah kampus di Jogja. Ceritanya tentang bagaimana hidup sehari-hari seorang dosen muda di salah satu jurusan ilmu humaniora paling disegani di Indonesia yang sekaligus seorang bapak muda di sebuah desa di Gunungkidul-lah yang paling menarik. Ya, ini cerita tentang dirinya sendiri.

Menggarap banyak laporan penelitian sekaligus mesti menyelesaikan banyak beban tugas administratif, dosen muda kita ini sering lembur sampai dini hari, bahkan di akhir pekan, sehingga sering kali ia baru bisa tidur saat pagi. Namun, di sisi lain, orang Gunungkidul pantang tidur pagi, bahkan di akhir pekan. Dan itulah yang terjadi. Ketika ia tengah mencoba untuk pejam, seorang tetangga mengetuk pintunya dan meminta bantuannya untuk ikut memanen singkong. Tak ada pilihan, kandidat doktor lulusan Belanda itu mesti ikut mencabut singkong dengan badan sempoyongan karena belum tidur.

Di hari lain, riset-riset kecil yang dikerjakannya menuntutnya untuk banyak membaca. Namun, kerja-kerja mengajar kadang hanya menyisakan waktu-waktu kosong di akhir pekan. Mungkin karena anak-anaknya menguasai seisi rumah, atau kesejukan ruang terbuka dibutuhkannya untuk keasyikan membaca, ia membawa buku-bukunya ke beranda. Sungguh malang, seorang tetangga melintas di depan rumah dan memutuskan mampir. Lalu, dengan nada bijaksana, sang tetangga yang telah tua menasihati dosen kita bahwa seorang lelaki Jawa tak baik hanya duduk-duduk saja; lelaki Jawa harus bekerja, pantang berleha-leha.

Saya terkekeh bukan saja karena bisa membayangkan kejengkelan sekaligus kerikuhannya (dan berkomentar “I feel you” seperti ibu-ibu muda urban di media sosial). Lebih dari itu, saya sangat mengenal situasi semacam itu.

Dan setelah berhari-hari, saya masih tersenyum-senyum mengingat cerita itu.

***

Teman saya itu mungkin tak akan diajak memanen singkong dan dinasihati tentang bagaimana sebaiknya seorang pria Jawa bersikap seandainya ia hidup sezaman dengan Sastro Darsono, tokoh fiktif di Para Priyayi-nya Umar Kayam, dan memilih cara dan sikap hidup sepertinya. Hidup di masa akhir kolonial, ia mestilah patriark bagi keluarga besarnya, tinggal di rumah besar dengan beberapa rewang dan anak-anak angkat, bergaul hanya dengan ambtenaar yang sederajat atau yang lebih tinggi, kalau bisa melakukan kebiasaan-kebiasaan mereka (minum jenewer, main ceki, meniduri penari ledek), punya bendi akan lebih baik, bersikap budiman dengan orang kebanyakan sekaligus meninggikan diri dan membuat jarak. Mana ada orang yang akan mengajaknya mencabut singkong jika orang-orang sekitar mesti memanggilnya “raden” atau “ndoro” dan mesti merundukkan badan sebelum dengan sangat sopan dan bahasa terpilih untuk berbicara dengannya. Tapi, masa Sastro Darsono sudah lewat. Kelokan-kelokan dan benturan besar yang dilewati bangsa ini, mulai dari Indonesia Merdeka, ‘65, bangkit dan tumbangnya Orba, membuat cara hidup itu kikis, atau, jika masih bertahan, pasti hanya menyisakan residunya yang paling buruk.

Baca juga:  Tidak Bahagia dengan Pekerjaan Baru Walau Penghasilannya Besar

Bahkan era Oemar Bakri, prototipe “pahlawan tanpa tanda jasa” ala Orde Baru, pun sudah lewat. Meski oleh Iwan Fals digambarkan sebagai pahlawan tragis sekaligus sosok komikal yang patut ditertawakan, dengan tas kulit dan sepeda kumbangnya, setidaknya Oemar Bakri masih akan dilekati dengan panggilan hormat “Guru” di depan namanya, yang berlaku tak hanya di sekolah tapi juga di tengah masyarakat. Mungkin hanya itu privilege yang tersisa untuknya dari masa Sastro Darsono, tapi itulah kenapa 30 tahun lalu seorang guru biasanya adalah orang terpintar di desanya dan semua orang tahu soal kepintarannya.

Pada era ketika presiden terpilih kita adalah calon yang berkampanye dengan keluar-masuk gorong-gorong, dan dianggap istimewa karena karakter kejelataannya, saya kira tak ada lagi keistimewaan yang tersisa bagi “guru Jawa” selain kenaikan gaji dan tunjangannya, sebagaimana yang dijanjikan sang presiden terpilih. Ia tinggal sebagai “sebuah profesi”, sama dengan profesi-profesi lain. Namun, pada saat yang sama, tak dipahami benar renik-renik kecil dari profesi itu. Dan itulah yang dialami teman saya, sang dosen Sejarah.

Dalam posisi sebagai profesi yang tak cukup dipahami ini, apa yang dialami seorang guru, atau malah dosen dalam kasus teman saya, tak jauh berbeda dengan apa yang saya alami sebagai penulis, sebuah profesi yang bahkan masih harus terus diupayakan pengakuannya di mata masyarakat, alih-alih memiliki privilege yang bersifat tradisional.

***

Tiga hari terakhir, truk-truk besar dan pick-up ukuran sedang hilir mudik di sekitar rumah kontrakan saya. Kendaraan-kendaraan bermuatan material bangunan itu menumpah batu, pasir, kerikil cor, dan batang besi, dan para kuli ramai menurun-pindahkannya. Induk semang saya rupanya sedang memulai pembangunan rumah baru di pekarangan kosong tepat di belakang rumah utama. (Tampaknya saya memang salah sangka soal ayam-ayam yang dikirim ke penjagalan beberapa waktu sebelumnya: itu bukan tindakan ekonomi subsisten seperti yang saya kira, tetapi sebuah ekspansi pembangunan.) Mungkin harga material bangunan sedang murah di saat wabah.

Hal yang kemudian tak terhindarkan adalah suasana hiruk-pikuk. Batu-batu besar yang dilempar dari atas bak truk dan dibelah, sekop yang disurukkan di gundukan pasir basah, dan batang-batang besi yang diseret, mengganti suara kotek ayam yang biasanya terdengar di sekitar rumah saya. Dan karena semua itu dilakukan di halaman depan rumah kontrakan saya, para kuli yang berseliweran akan dengan mudah memutar ekor matanya dan melihat ke dalam rumah, tempat saya tengah mengetik atau membaca.

Saya terus terang terganggu dengan itu. Bukan oleh suasana bisingnya—saya bukan penulis pemuja kesunyian dan suasana tenang; saya terbiasa membaca atau menulis dengan iringan musik dalam suara keras. Tapi terutama oleh rasa tidak enak: bahwa di dalam kamar saya sedang “bersantai” di kursi dengan kaki pendek dan senderan rendah sembari membaca buku, sementara di depan rumah, persis di depan rumah, para kuli berpeluh-peluh menyorong bongkahan batu dan menyereti batang-batang besi yang berat. Seperti yang sudah sering saya alami saat di kampung, perasaan tak enak itu membuat saya seperti terasing dari kenyataan.

Tidak, tak ada seorang pun yang mengetuk pintu dan meminta bantuan, seperti yang dialami teman saya yang dosen. Tak juga ada yang menghampiri kemudian menasihati bahwa lelaki Indonesia mesti begini dan begini. Dan bisa jadi mereka tahu bahwa pekerjaan saya berbeda dengan pekerjaan mereka, dan karena itulah mereka kalem saja melihat seorang lelaki sehat seumuran mereka suntuk dengan kertas berhuruf sembari mendengar lagu-lagu Mansyur S. Tapi itu tak serta-merta membuat masalah menjadi selesai.

Baca juga:  Kolom: Beradab

Dicemooh karena terlalu banyak tahu tentang sepakbola, dipandang “ora beg” (separoh kosong) karena terlalu serius dengan sandiwara radio dan film, dan dianggap tak melakukan apa-apa karena “hanya” membaca, adalah pengalaman yang terbiasa saya rasakan pada masa-masa tumbuh. Pada saat yang lebih awal, saya juga menyaksikan telunjuk yang sama, mungkin dengan kata yang sedikit berbeda, diarahkan kepada Bapak, anak petani yang “takut pematang” dan lebih suka nongkrong baca koran. Saya bersikukuh dengan apa yang saya lakukan, melawan, dan mencoba membuat tafsir yang lebih luas tentang “akas” (giat bekerja), dan melakukan apa yang ingin saya lakukan, dan sekarang sedang saya lakukan. Tapi, itu tak menghentikan saya untuk sesekali menjadi orang lain dan ikut menuding diri sendiri.

Lebih-lebih jika mengingat betapa tipisnya batas yang memisahkan saya dengan orang-orang yang menariki besi dan memecah batu itu. Jika di bulan Juni 1998 saya tak lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri, saya selalu yakin bahwa saya akan sangat mungkin bekerja sebagaimana para kuli di depan rumah, sebagaimana Bapak saya dan beberapa sepupu dan teman-teman saya lakukan di Malaysia. Hingga remaja, saya adalah pemecah batu yang gigih dan cekatan, sejak sangat awal ikut menyusun batu-batu sengkedan di kebun-kebun di lereng bukit di belakang rumah kami begitu sanggup mengangkat batu, terampil dengan sabit dan parang, dan, meskipun kecil dan kerempeng, saya berangkat ke SMA dengan pundak hitam tebal dan telapak tangan kasar. Dan karena satu-dua poin sajalah kira-kira yang membuat saya punya pekerjaan yang berbeda dengan kebanyakan teman masa kecil saya.

Meski senang membaca, termangu dan diam takzim di depan radio menyimak cerita, dan sulit dialihkan jika sedang menonton sepakbola atau film, saya tak pernah membayangkan pekerjaan seperti menulis. Bukan karena itu terlalu mulia, tapi karena memang tak terpikir bahwa pekerjaan macam itu ada. Dan, saya rasa, di balik susahnya menjelaskan “apa yang sedang saya kerjakan” kepada orang lain, pekerjaan jenis ini boleh jadi memang masih sulit dibayangkan oleh kebanyakan orang. (Di luar penerimaan yang murah hati orang-orang Jogja terhadap penulis, dan karena itu banyak penulis tinggal di kota ini, saya masih mengingat kerut petugas Sensus Ekonomi saat menanyakan profesi dan sumber pemasukan saya beberapa tahun lalu; sementara, pada banyak kesempatan, setiap menjelaskan profesi saya kepada orang lain, saya nyaris selalu mendapat menandasan tambahan, “Oh, di percetakan.”.) Dan karena itulah, selalu ada dialog sengit antara yang mendesak atau yang menolak di kepala saya berkait keprofesian menulis.

Maka, meski sedikit berbeda dengan apa yang dialami teman saya sang dosen Sejarah, di satu titik saya rasa kami berbagi hal yang sama: betapa kikuknya posisi kami di tengah masyarakat. Dijelaskan salah, tak dijelaskan juga salah. Namun, yang lebih terasa salah adalah: kenapa beberapa pekerjaan membutuhkan penjelasan, sementara pekerjaan yang lain tidak.

***

Penulis besar India R.K. Narayan, di buku kumpulan esai A Writer’s Nightmare, dengan kocak bercerita tentang suka-dukanya hidup sebagai pengarang. Di satu waktu ia dipuja oleh orang yang tak pernah membaca karya-karyanya, sementara di lain waktu ia tak dikenali oleh orang yang membaca seluruh karyanya. Dengan kejadian yang berbeda, dan tingkat kekikukan yang berbeda, juga konteks dan tingkat persepsi masyarakat yang berbeda, apa yang dialami (dan ditulis) Narayan 50-an tahun lalu itu sampai sekarang masih dialami oleh banyak penulis, termasuk saya—juga oleh orang-orang dengan profesi yang membutuhkan penjelasan lebih untuk dimengerti.

Dalam keadaan (yang masih saja) seperti ini, maka sungguh sulit dimengerti jika kita lagi-lagi mendengar ada orang-orang, kebanyakan anak muda, yang melakukan hampir apa pun agar bisa diakui dan menyebut diri sebagai penulis.

Penulis? “Oh, di percetakan….”

*Untuk Uji Nugroho

BACA JUGA Jendela Depan, Jendela Belakang dan esai Mahfud Ikhwan lainnya di kolom REBAHAN.