ADVERTISEMENT

Nekat Kerja Jadi Guru TK di Jerman Tanpa Agen, Modal Rp60 Juta Terbayar Lunas oleh Masa Depan yang Terjamin

Kerja di Jerman sebagai guru TK tanpa agen. MOJOK.CO

Berawal dari pelarian skripsi, Gandhi sukses kerja di Jerman sebagai guru TK tanpa agen resmi. Modal habis puluhan juta, tapi terbayar impas dengan gaji dan fasilitas yang terjamin, bikin tergiur pindah negara.

***

Sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) yang sudah tinggal di Jerman selama 3,5 tahun, Gandhi (bukan nama sebenarnya) tak sepakat dengan pernyataan Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin.

Pada Juli 2026 lalu, Mukhtarudin pernah mengungkap alasan utama di balik fenomena pelepasan status WNI sebagian besar karena pernikahan lintas negara. Artinya, bukan karena faktor sedikitnya lapangan kerja di Indonesia seperti dugaan masyarakat.

Pernyataan itu seolah menafikan realitas bahwa banyak WNI, seperti Gandhi, memilih pergi ke luar negeri justru karena himpitan ekonomi dan sulitnya mencari kerja di Tanah Air. Oleh karena itu, Gandhi memutuskan pergi ke Jerman sebagai guru TK.

Gandhi yang mulanya hanya ingin mencari pengalaman, justru menemukan kenikmatan sebagai pekerja di Jerman.

Setelah bertahun-tahun tinggal, Gandhi tak menampik bahwa ada banyak tawaran yang lebih menjanjikan daripada Indonesia. Salah satunya, kesejahteraan hidup jangka panjang.

Lari dari skripsi sampai kepikiran kerja di Jerman

Keinginan Gandhi untuk bisa kerja di Jerman muncul sejak masa perkuliahan semester akhir. Gandhi yang burnout karena skripsi, akhirnya menunda penelitiannya hingga beberapa bulan dan justru mencari kegiatan lain. 

“Karena saya suka belajar bahasa maka saya memutuskan belajar bahasa Jerman,” ucap Gandhi kepada Mojok, Jumat (25/9/2026).

Dari tempat les itulah, Gandhi berjumpa dengan banyak orang hingga tebersit ide untuk melanjutkan karier di Jerman. Berbekal rasa penasaran dan kemampuan bahasa yang sudah dia pelajari, Gandhi pun mencari informasi bagaimana caranya kerja di Negeri Para Penyair dan Pemikir tersebut.

“Keinginan kerja di Jerman sekaligus menjadikan motivasi saya agar cepat menyelesaikan skripsi,” tegas Gandhi.

Karena itu Gandhi makin semangat menyelesaikan les bahasanya, setidaknya hingga level B1 atau tingkat menengah untuk percakapan sehari-hari serta situasi umum. Begitu pun dalam menggarap skripsi.

Mimpi jadi nyata dengan modal pribadi

Setelah mengantongi sertifikat bahasa Jerman, Gandhi akhirnya melamar ke beberapa perusahaan di Jerman yang bisa melakukan seleksi wawancara di Indonesia. 

“Sebetulnya ada dua cara, ada yang melalui agen dan ada yang mandiri. Kebetulan saya mandiri,” tutur Gandhi.

Dari beberapa perusahaan yang dia lamar, Gandhi pun berhasil menerima satu panggilan untuk tahap wawancara lewat Zoom. Tak berselang lama, Gandhi mendapat kabar bahwa dia lolos.

Selanjutnya, pihak perusahaan bakal mengirimkan seluruh dokumen lewat pos untuk keperluan visa, serta mengurus semuanya sendiri. Mulai dari pembuatan paspor, menyiapkan uang untuk tiket pesawat dan uang saku selama satu bulan.

“Setelah approved, siap berangkat dan semua biaya ditanggung sendiri,” ujarnya.

Merasakan nikmatnya kerja di Jerman

Gandhi akhirnya berangkat ke Jerman menggunakan biaya sendiri yakni sekitar Rp60 juta pada akhir tahun 2022. Mulanya, ibu Gandhi ragu melepas kepergian anaknya, sebab kakak Gandhi sudah lebih dulu tinggal di luar negeri.

“Saya nggak cerita ke teman-teman, hanya satu sampai dua orang yang tahu, itu pun tidak detail tapi mau bagaimanapun saya harus cerita ke ibu. Setelah saya jelaskan, beliau akhirnya merestui,” tutur Gandhi.

Gandhi pun merasa pilihannya tidak sia-sia dan setimpal dengan apa yang dia korbankan. Sebab sejak tinggal di Jerman, ia jadi punya banyak pilihan karier. Terlebih, Gandhi bisa memulai kariernya dari nol tanpa ada tekanan dari lingkungan sekitar, serta jaminan kerja yang mumpuni.

“Walaupun saya berasal dari Indonesia, gaji saya masih setara orang Jerman, cuti juga masih ada 30+2 hari, karena saya kerja di bidang pendidikan. Saya juga mendapatkan jaminan asuransi kesehatan, uang pensiun, serta asuransi pengangguran,” jelas Gandhi.

Lama kerja di Jerman, tak menghilangkan nasionalisme

Berdasarkan fasilitas dan lingkungan yang Gandhi dapatkan, tak pelak membuat dirinya tergiur untuk tinggal di Jerman lebih lama. Bukan karena dia kepincut dengan orang sana, melainkan kesejahteraan hidup yang terjamin.

“Makanya, saya rasa fenomena pelepasan status WNI ini lebih didasari pada kondisi pemerintahan Indonesia yang makin carut-marut. Kami pun mencari ‘keamanan’ dalam jangka panjang untuk masa depan,” ucap Gandhi.

“Saya yakin teman-teman diaspora yang memutuskan berganti kewarganegaraan sudah memikirkannya matang-matang sebelum mengambil keputusan tersebut,” lanjutnya.

Di sisi lain, Gandhi pun bersyukur karena tidak perlu pusing untuk ganti kewarganegaraan. Sebab, Jerman memberi kesempatan bagi dia untuk mengajukan izin tinggal permanen tanpa harus berganti kewarganegaraan. 

“Toh sebenarnya, saya pribadi sampai sekarang tidak ada niatan untuk melepas kewarganegaraan. Pada akhirnya, Indonesia tetap tempat pulang saya, entah itu sampai 10 atau 30 tahun ke depan,” tegas Gandhi.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: WNI Pilih Jadi Guru di Luar Negeri dengan Gaji 2 Digit daripada Jadi Guru Kontrak di Indonesia yang Hidupnya Nggak Sejahtera atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 25 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Exit mobile version