ADVERTISEMENT

Mahasiswa Perempuan Asal Daerah Timur Sulit Cari Kos di Jogja, Ditolak meski Ada Kamar Kosong

Mahasiswa asal daerah timur kesulitan mencari kos di Jogja karena stigma MOJOK.CO

Di Jogja, menjadi mahasiswa perempuan asal daerah Indonesia Timur ternyata berpengaruh serius bahkan ke perkara mencari tempat tinggal tinggal: kos. 

Ketika hendak mencari kos di Jogja, Stela (nama samaran) sempat diperingati oleh temannya: “Kalau ditanya asalnya dari mana oleh pemilik kos, baiknya jangan jawab dari daerah Indonesia timur.” Kata si teman, hal itu menjadi upaya agar terhindar dari serangan stigma hingga penolakan sebagaimana kerap terjadi pada mahasiswa-mahasiswa dari daerah Indonesia Timur. 

ADVERTISEMENT

”Apalagi media sosial juga menguatkan stigma tentang orang timur itu kasar,” ujar Stela saat bercerita dengan Mojok, Minggu (18/10/2026). 

Pemilik kos di Jogja tidak segan tolak mahasiswa dari Indonesia Timur

Tahun 2023, Stela diterima oleh salah satu kampus swasta di Jogja. Saat itu, ia mencari informasi kos dari dunia maya. Ia kemudian menemukan salah satu kos yang cocok untuk mahasiswa perantau seperti dirinya: harganya pas di kantong, lokasinya tak jauh dari kampus, dan fasilitasnya juga lengkap. Stela pun 

Saat menghubungi kontak pemilik kos yang tertera, ia mendapat informasi kalau kos incarannya tersebut masih dalam tahap renovasi dan akan selesai tepat seminggu lagi. Pas sekali, Stela akan tiba di Jogja pada hari ketika renovasi selesai. 

Namun, Stela tidak mengira, ketika bapak-bapak pemilik kos bertanya daerah asal Stela dan kemudian tahu kalau Stela berasal dari sebuah provinsi di Indonesia Timur, respons si pemilik kos langsung berubah. 

“Katanya, kos itu sudah tidak beroperasi lagi,” kata Stela. ”Awalnya bilang direnovasi, selang beberapa menit bilangnya gak beroperasi.” Sebuah penolakan tanpa tedheng aling-aling. 

Walau ada kamar kosong, pemilik kos Jogja menyarankan untuk cari di tempat lain

Penolakan juga dialami oleh Angel (bukan nama asli). Sama seperti Stela, di tahun 2023 ia diterima di salah satu kampus swasta di Jogja. Saat turun dari bandara, ia dan kakak perempuannya langsung mencari kos. 

Mereka menenteng tas dan koper sembari menyusuri daerah Seturan. Hari yang sudah gelap menuntut keduanya untuk segera menemukan tempat tinggal.

Bagai mendapat angin segar, di salah satu pagar kos tertulis bahwa masih ada kamar kosong. Tanpa ragu, Angel mengetuk pintu dan bertanya. Sekilas, dari teras kos Angel melihat masih ada satu kamar kosong.

ADVERTISEMENT

”Ibunya tuh bilang udah penuh kosnya,” ujar Angel. Angel menduga, penolakan itu ia terima setelah sang pemilik kos melihat perawakan fisiknya yang mengindikasikan sebagai mahasiswa asal Indonesia Timur. 

Stigma yang menguat setelah insiden di Barbarsari pada 2022 

Praduga Angel cukup beralasan. Setahun sebelumnya, terjadi konflik serius yang melibatkan mahasiswa dari daerah timur. Peristiwa itu tumpah di Barbarsari. Apalagi, baik Angel maupun Stela, berangkat ke Jogja pada 2023, baru satu tahun selepas kejadian. Tentu ingatan peristiwa tersebut masih lekat di benak banyak orang di Jogja. 

Ketika akhirnya Stela mendapatkan kos yang menerimanya, si pemilik kos benar-benar mewanti-wanti Stela. Pemilik kos tersebut beberapa kali menyinggung soal peristiwa Barbarsari. 

Stela tidak masalah dengan percakapan itu. Ia menyadari, bahwa lewat obrolan itu ibu kosnya berusaha untuk berkomunikasi secara terbuka. Setelah beberapa tahun menetap, Stela justru mendapat predikat anak kos yang baik. Terlebih, dirinya cukup jarang keluar kos. 

”Aku berusaha membuktikan kalau sebenarnya orang timur tuh gak gitu, itu hanya oknum mahasiswa,” jelas Stela.

Pemilik kos yang ditempati Angel juga menerapkan cara serupa. Komunikasinya pun dalam bentuk aturan lisan terkait larangan menimbulkan masalah. Selain itu, pemilik kos Angel juga mewajibkan penyerahan data diri sebagai bentuk komitmen.

”Jadi kita dikasih persyaratan untuk kasih fotokopi KTP, setelah itu baru diperbolehkan untuk tinggal di sana,” kata Angle.

Menanggung akibat dari ulah oknum

Sebenarnya, Stela bisa memahami kekhawatiran yang ada di masyarakat. Dirinya mengakui bahwa memang ada mahasiswa asal timur yang membuat masalah.

Stela menyayangkan cara pemilik kos yang menolaknya lewat kebohongan. Baginya, kesalahan yang okum mahasiswa buat di Jogja tidak ada hubungannya dengan mahasiswa lain. 

”Yang membuat masalah kan oknum mahasiswa timur, tapi kayak aduh kenapa disangkut-pautkan ke kami?” keluh Stela.

”Mereka [Pemilik kos-kosan] memang menolak untuk teman-teman dari timur karena mungkin takut juga ya karena stigmanya buruk,” sementara begitu kata Angel.

Kontrol lewat stigma dianggap wajar

Dalam bukunya yang berjudul Black Feminist Thought, Patricia Hill Collins mengupas tentang penindasan struktural. Narasinya berfokus pada perempuan Afrika-Amerika yang didiskriminasi karena ras dan gendernya.

Dalam kasus Angel dan Stela, diberi label karena ciri fisik mereka identik dengan masyarakat Indonesia timur. Label ditempelkan oleh masyarakat luas kepada keduanya dengan begitu erat. 

Di sisi lain, keduanya berjenis kelamin perempuan. Sebagai perempuan, keduanya diwajibkan untuk lebih lembut, halus, dan tidak sering berpergian. Karena ras dan gendernya, mereka dituntut bersikap lebih baik berkali-kali lipat dibanding mahasiswa asal daerah lain yang cenderung tidak berstigma.  

Pada kasus Angel dan Stela, ada controlling images yang berperan. Masyarakat luas menggunakan controlling images untuk menyebarkan pesan tentang mahasiswa timur. Dari sana, ketidakadilan yang mereka rasakan dianggap wajar dan alami. Apalagi sebagai perempuan, mereka juga dituntut untuk lebih feminin. 

Label kasar dan pembuat masalah terhadap mahasiswa timur yang kemudian disebarkan sebagai stigma lantas diamini oleh masyarakat: terjadi generalisasi bahwa setiap mahasiswa timur adalah pembuat masalah sehingga harus dihindari dan ditolak. Dari sini lah benih-benih diskriminasi tumbuh dan menyebar. 

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Jurnalistik Mojok.co periode Agustus-November 2026

Penulis: Feninda Rahmadiah

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Hak Cuti Haid Dirampas Kantor Memaksa Perempuan Bekerja Sambil Kesakitan, Tak Masuk karena Nyeri Berarti Potong Gaji atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 Oktober 2026 oleh .

Feninda Rahmadiah

Feninda Rahmadiah. Mahasiswa magang departemen liputan di Mojok.co. Sedang menempuh pendidikan akhir Sastra Indonesia di UNY. Mengambil konsentrasi linguistik dan sedang mempelajari jurnalisme. Tertarik dengan isu perempuan.