ADVERTISEMENT

7 Profesi Layak Dicoba untuk Fresh Graduate, Mudah Diterima dan Cuan Gede

Profesi Untuk Fresh Graduate. Mudah Diterima dan Cuan Gede!

Bagi fresh graduate, wisuda bukan akhir perjuangan, melainkan awal dari kecemasan baru. Setelah bertahun-tahun kuliah, mereka harus menghadapi kenyataan bahwa ijazah tidak otomatis mendatangkan pekerjaan. Di tengah ekonomi yang serba mahal, menjalani profesi lintas jurusan kadang bukan lagi soal mengejar passion, melainkan cara bertahan hidup.

***

ADVERTISEMENT

Mencari pekerjaan tidak selalu harus dimulai dari profesi yang sesuai dengan jurusan kuliah. Di Jogja, saya menemukan sejumlah anak muda yang bekerja di bidang berbeda dari pendidikan mereka. Ada yang menjadi customer service perusahaan business process outsourcing (BPO), host live streaming, hingga pembuat konten pernikahan. Mereka membuktikan bahwa keterampilan praktis bisa menjadi pintu masuk ke dunia kerja.

dilansir dari RRI, Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan data pada Agustus 2025 terdapat 904.440 penganggur dengan pendidikan terakhir universitas. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) lulusan universitas mencapai 5,39 persen. Angka tersebut bukan khusus fresh graduate, tetapi menunjukkan bahwa gelar sarjana tidak otomatis menjamin seseorang segera memperoleh pekerjaan.

Bahkan, terdapat 2,34 juta penganggur berusia 20–24 tahun pada periode yang sama. Lantas, profesi apa saja yang bisa dipertimbangkan Gen Z dan fresh graduate yang ingin segera bekerja, meski harus lintas jurusan?

1. Customer service BPO, modalnya komunikasi yang bisa dicoba fresh graduate

Dalam liputan Mojok sebelumnya, saya bertemu Akbar (25), lulusan Magister Pendidikan Biologi yang memilih bekerja sebagai customer service di perusahaan BPO. Setelah lamaran ke sejumlah kampus tak kunjung membuahkan hasil, ia akhirnya mengambil pekerjaan yang tidak berhubungan dengan bidang studinya.

Kemampuan komunikasi, ketelitian, penguasaan komputer, dan kesiapan mengikuti sistem kerja menjadi modal penting untuk posisi ini. Akbar bahkan bisa memperoleh gaji hingga Rp3,5 juta, ditambah asuransi kesehatan.

Namun, pekerjaan ini bukan tanpa tekanan. Menghadapi pelanggan dari berbagai negara, mengejar indikator kinerja, dan bekerja dengan sistem sif membutuhkan kesabaran tersendiri. Setidaknya, pekerjaan ini bisa menjadi pintu masuk bagi lulusan baru yang ingin memperoleh pengalaman kerja formal.

2. Host live streaming adalah jalan ninja fresh graduate yang layak dicoba

Hampir dua tahun Kiki (26) bekerja sebagai host live streaming untuk sebuah merek pakaian di Jogja. Di depan kamera, ia harus menawarkan produk, menjaga interaksi dengan penonton, dan mengulang promosi agar calon pembeli tertarik.

Profesi ini bisa dilirik lulusan Sastra, Pertanian, hingga Filsafat yang percaya diri berbicara di depan kamera. Penghasilan dapat berasal dari gaji pokok, bayaran per sesi, atau insentif penjualan sesuai skema perusahaan.

ADVERTISEMENT

“Kalau ditotal memang bisa melebihi UMR Jogja, tergantung nanti kalau laku banyak ya point, kalau tidak yaudah gaji pokok di bawah UMR saja,” ujar Kiki kepada saya, Rabu (21/10/2026).

Saat kampanye tanggal kembar atau peak season, peluang memperoleh insentif bisa meningkat apabila penjualan memenuhi ketentuan. Namun, tenggorokan harus kuat, energi mesti dijaga, dan wajah ceria kadang tetap harus dipasang meski penonton sedang sepi.

3. Digital marketing, mencari proyek sekaligus menjaga klien

Sandy (25) sudah setahun bekerja sebagai staf agensi digital marketing. Pekerjaannya tidak melulu membuat konten. Ada urusan mencari klien, menyusun penawaran, berkomunikasi dengan tim produksi, hingga memastikan proyek berjalan sesuai kesepakatan.

Lulusan lintas jurusan bisa mencoba posisi account executive atau pekerjaan pendukung pemasaran apabila memiliki kemampuan komunikasi, negosiasi, dan administrasi yang baik.

“Gajinya memang besar, bisa lebih dari UMR Jogja. Namun, gaji besar itu konsekuensinya adalah jam kerja yang tidak pasti, karena kadang ada klien yang menghubungi di jam-jam yang tidak bisa diprediksi,” ujar Sandy melalui WhatsApp.

Penghasilan dari gaji pokok bisa bertambah melalui insentif proyek jika tersedia. Namun, di balik istilah pitching dan presentasi, ada klien yang meminta revisi berkali-kali serta tim internal yang harus mengejar tenggat.

4. Sales otomotif atau properti, cuan bergantung closing

Aan (30) sudah empat tahun menjadi sales otomotif. Ia pernah berpindah-pindah merek kendaraan, mulai dari mobil dan motor hingga kendaraan angkut.

Profesi sales bisa dipertimbangkan fresh graduate yang punya kemampuan menawarkan produk dan membangun relasi. Pelatihan biasanya diberikan perusahaan, meski calon pekerja tetap perlu memahami produk, administrasi transaksi, dan target penjualan.

“Yang menarik dari pekerjaanku ya kalau bisa menjual atau minimal unit dikredit customer itu komisinya gede, bulan kemarin bisa dapat dua digit dari jualan mobil,” ujar Aan.

Komisi dua digit tentu terdengar menggiurkan bagi lulusan baru. Namun, pendapatan seperti itu tidak otomatis diterima setiap bulan. Sebelum closing, sales harus siap menghadapi calon pembeli yang lama mempertimbangkan barang, lalu menghilang tanpa kabar.

5. Mantri bank, CMO, hingga desk collection cocok untuk fresh graduate

Ardi (23) baru lulus kuliah ketika bekerja sebagai mantri di sebuah bank milik negara. Menurut pengalamannya, kemampuan membangun komunikasi dengan calon nasabah menjadi modal penting.

Posisi mantri bank, credit marketing officer (CMO), dan desk collection dapat menjadi pilihan bagi pencari kerja lintas jurusan. Meski berada di sektor pembiayaan, tugasnya berbeda-beda, mulai dari mencari calon debitur hingga menghubungi nasabah mengenai angsuran.

Gaji pokok, tunjangan, dan insentif bisa menjadi daya tarik. Namun, target, kepatuhan terhadap prosedur, dan tekanan ketika nasabah kesulitan membayar juga menjadi bagian pekerjaan. Jangan sampai demi mengejar target, pekerja mengabaikan prosedur pemeriksaan kelayakan calon debitur.

6. Social media specialist, dari Mimin sampai pegang banyak akun

Ulfah (23), lulusan Psikologi, bekerja sebagai social media specialist. Ia bahkan merasa lebih akrab dengan sebutan Mimin karena sehari-hari mengurus media sosial.

Profesi ini bisa dilirik Gen Z yang memahami tren, mampu menulis, menyunting video pendek, dan membaca respon audiens. Portofolio konten dapat membantu pelamar menunjukkan kemampuan meski jurusannya tidak berkaitan langsung dengan pemasaran digital.

Penghasilan tambahan juga terbuka jika seseorang mengambil proyek pengelolaan akun UMKM di luar pekerjaan utama. Namun, pekerjaan sampingan tetap membutuhkan waktu dan kesepakatan yang jelas. Mengejar views, membalas pesan, serta memikirkan ide konten setiap hari bisa menguras energi.

7. Wedding content creator, mengabadikan momen orang lain

Erlyn (26) bekerja sebagai wedding atau event content creator. Sekilas, pekerjaannya terlihat seperti datang ke acara, merekam momen, lalu mengunggahnya ke media sosial. Kenyataannya, ia harus sigap menangkap kejadian penting dan mengolah konten sesuai kebutuhan klien.

Fresh graduate tidak selalu membutuhkan ijazah fotografi untuk memulai. Kemampuan merekam dengan ponsel, menyunting video, memahami alur acara, dan bekerja cepat dapat menjadi modal awal.

Bayaran per acara berpotensi menarik, terutama saat musim pernikahan dan wisuda. Namun, tarif bersih bergantung pada durasi, tanggung jawab, serta kesepakatan dengan vendor. Jam kerja akhir pekan dan tuntutan menyerahkan hasil dengan cepat juga perlu diperhitungkan.

Bekerja dulu, bukan berarti berhenti bermimpi

Tujuh profesi tersebut bukan jalan pintas yang menjamin semua fresh graduate langsung diterima atau memperoleh penghasilan besar. Setiap pekerjaan punya persyaratan, target, dan risiko berbeda. Komisi besar pun tidak selalu datang setiap bulan.

Namun, pengalaman para pekerja ini menunjukkan bahwa jurusan kuliah bukan satu-satunya penentu awal karier. Bagi Gen Z yang masih mencari pijakan, membangun keterampilan, menyiapkan portofolio, dan berani mencoba bidang baru bisa menjadi langkah realistis.

Sebab, pekerjaan pertama tidak harus menjadi pekerjaan terakhir. Kadang, jalan menuju karir yang diinginkan justru dimulai dari pekerjaan yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: 7 Profesi yang Diremehkan Padahal Cuan dan Work-Life Balance di Kampung atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 21 Oktober 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.