Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Meninggalkan Pekerjaan Gaji Rp150 Ribu per Hari di Desa Demi Ego Merantau, Berujung Sesal karena Kerja di Jakarta Tak Sesuai Ekspektasi

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
11 Februari 2026
A A
merantau, karet tengsin, jakarta. apartemen, kpr MOJOK.CO

ilustrasi - tinggal di Jakarta (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Hasil yang didapat pun jauh dari ekspektasi

Lalu, mari bicara soal uang. Inilah bagian paling menyakitkan dari realitas merantau di Jakarta.

Di atas kertas, gajinya memang naik menjadi Rp4,5 juta. Namun, di Jakarta, uang segitu ternyata tidak ada artinya. Begitu gajian turun, uang itu langsung habis dipotong berbagai kebutuhan dasar yang dulu gratis di kampung.

Mislanya, ia harus membayar kos sebesar Rp700 ribu per bulan. Itu pun hanya kamar petak sempit. Lalu biaya makan. Pras kaget bukan main dengan harga makanan di Jakarta. Sekali makan plus minum dan rokok, ia bisa menghabiskan Rp75 ribu sehari. 

Jika dikalikan 30 hari, artinya, biaya untuk perut dan rokok saja sudah menelan Rp2,25 juta lebih. Belum lagi untuk pulsa, sabun, bensin, dan kebutuhan mendadak lainnya. 

“Ya rata-rata, di akhir bulan aku hanya pegang sisa uang nggak sampai sejuta. Seringkali malah dompet kosong melompong, sebelum tanggal gajian berikutnya tiba,” ujar Pras, lesu.

Perbedaannya sangat jomplang. Dulu di desa, ia bisa menabung dengan santai. Kini di Jakarta, jika ada kebutuhan mendadak dari keluarga di kampung, Pras kelabakan. Ia tak punya dana darurat untuk ditransfer.

Merantau bikin susah, tapi kalau pulang malu, tak pulang hidup susah mulu

Kini, yang tersisa hanyalah penyesalan. Pras sadar ia telah melakukan kesalahan perhitungan yang fatal. Ia menukar kenyamanan finansial yang nyata dengan sebuah ekspektasi semu tentang “sukses di perantauan”.

Namun, nasi sudah menjadi bubur. Pras terjebak dalam dilema yang dialami banyak perantau. Hatinya ingin pulang, kembali memotong ayam dan hidup tenang. 

Namun, rasa malu menahannya. Ia tak sanggup membayangkan cibiran tetangga jika ia pulang dengan tangan hampa dan dianggap gagal menaklukkan Jakarta.

Terpaksa, ia harus menjalani hari-hari berat di gudang logistik, bertahan hidup dengan gaji pas-pasan, sembari merutuki egonya sendiri yang dulu terlalu tinggi. 

“Ternyata, gaji besar di kota orang belum tentu lebih nikmat daripada gaji biasa saja tapi hidup enak di kampung sendiri,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Rasa Gagal dan Bersalah Para Perantau: Merantau Lama tapi Tak Ada Hasilnya, Tak Sanggup Bantu Ortu Malah Biarkan Mereka Bekerja di Usia Tua atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Iklan

 

 

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 12 Februari 2026 oleh

Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Tak diizinkan kuliah di UGM. MOJOK.CO
Sehari-hari

Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu

4 Maret 2026
Kurir Alfagift, layanan Alfamart penyelamat pekerja Jakarta
Urban

Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan

4 Maret 2026
Ironi kerja di Jerman lewat program Au Pair. MOJOK.CO
Sehari-hari

Mati-matian Kerja di Jerman demi Bantu Ekonomi Keluarga, Pilih Bertahan meski Diusir Majikan dan Nyaris Dideportasi

4 Maret 2026
Perbandingan BBM di SPBU, Pertalite dan Pertamax
Sehari-hari

Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Kualitas Pertalite-Pertamax Dinilai Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan Tak Mau Menunggu

4 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kepribadian Perfeksionis

Derita Punya Kepribadian Perfeksionis: Dianggap Penuh Kesempurnaan, padahal Harus Melawan Diri Sendiri agar Tak Kena Mental

27 Februari 2026
Honda Scoopy Jual Tampang Bikin Malu, Mending Supra X 125

Honda Scoopy yang Cuma Jual Tampang Seharusnya Malu kepada Supra X 125 yang Tampangnya Biasa Saja, tapi Mesinnya Luar Biasa

28 Februari 2026
lolos snbp, biaya kuliah ptn.MOJOK.CO

Derita Kakak yang Jadi Tulang Punggung Keluarga: Adik Lolos SNBP Malah Overthinking, Pura-Pura Bahagia Meski Aslinya Menderita

2 Maret 2026
Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina MOJOK.CO

Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan

2 Maret 2026
Pemuda Jakarta kerja di Jepang untuk bayar utang keluarga. MOJOK.CO

Gila-gilaan Kerja di Jepang tapi Tak Bisa Menikmati Upah Besar, sebab Saya Generasi Sandwich yang Harus Tebus Utang Keluarga

26 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026

Video Terbaru

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

Zen RS: Tan Malaka Tokoh Pemikir Bebas dan Pejuang yang Tidak Terikat Struktur Politik

3 Maret 2026
Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

Budaya Tionghoa Jogja dan Rahasia yang Jarang Dibicarakan

28 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.