Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Resign dari Perusahaan Bergaji 3 Digit di Luar Negeri karena Tak Merasa Puas, Kini Memilih Kerja “Sesuai Passion” di Kampung Halaman

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
2 April 2026
A A
Pilih resign dan kerja jadi penulis di desa ketimbang kerja di luar negeri di Singapura

Ilustrasi - Pilih kerja jadi penulis di ota asal ketimbang kerja konsultan di luar negeri (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Namrata (28) selalu menyukai seni. Akan tetapi, setelah lulus dari kuliah, ia tidak dapat menekuni pekerjaan di bidang kreatif. Ia justru bekerja di luar negeri sebagai konsultan di sebuah perusahaan bergengsi di Singapura, berujung merasa tidak puas dan memilih resign untuk menulis puisi di kampung halaman.

Kerja kreatif tidak didukung keluarga, dianggap tidak bisa biayai hidup

Namrata mengakui dirinya selalu mempunyai ketertarikan untuk menulis dan melakoni pekerjaan kreatif. Namun sebagaimana sebagian orang tua menganggap pekerjaan yang berkaitan dengan seni tidak menguntungkan, begitulah yang dialami Namrata.

Perempuan ini tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk menggantungkan hidup melalui tulisan. Menurut kedua orang tuanya, keputusan itu tidak logis untuk kondisi ekonomi saat ini.

“Aku selalu suka menulis dan berkreasi. Namun bagi orang tuaku, gagasan aku menekuni dunia kepenulisan adalah hal yang nggak masuk akal,” kata dia, seperti dikutip dari Business Insider, Kamis (2/4/2026).

Bagi kedua orang tua Namrata yang berasal dari pedesaan, keputusan bekerja kreatif terdengar tidak dapat memenuhi kebutuhan hidup. Berkaca dari mereka yang rela pindah dari desa ke kota agar dapat memberikan kehidupan yang lebih nyaman untuk Namrata dan saudara-saudaranya, bekerja di bidang seni dianggap “nol” dalam menghasilkan.

Karena itu, pekerjaan yang tidak menguntungkan akan ditolak mati-matian.

Bukan hanya orang tua Namrata yang menolak, mengambil contoh dari orang tua di Afrika, seorang make-up artist juga mengaku tidak didukung dalam berkarier di bidang kreatif oleh kedua orang tuanya. 

Penolakan tersebut membuat Namrata memilih untuk berkuliah di bidang hukum. Ia melakukan pekerjaan “serius” yang dinilai lebih menguntungkan melalui penelitian dan kerja konsultan selama 10 tahun.

Namun pada akhirnya, Namrata tak tahan dengan pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion-nya dan memutuskan untuk resign dari perusahaan multinasional tempatnya bekerja, KPMG. Dirinya memutuskan pulang dari luar negeri dan kembali menjadi penulis di kota asalnya.

Beberapa kali berganti karier selama kerja di luar negeri

Sebelum mencapai keputusan resign, Namrata pernah mencoba melakukan perubahan dalam pekerjaannya. Setelah lulus dari kuliah hukum di India, ia banting setir dengan melanjutkan kuliah di luar negeri, tepatnya Program Studi Magister Hubungan Internasional di National University of Singapore pada tahun 2019 hingga 2021.

Ia kemudian menjadi analis riset di universitas tempatnya berkuliah selama enam bulan.

Keputusan tersebut menuntun Namrata pada keinginan mencoba bekerja di perusahaan besar. Jadilah, ia berpindah kerja ke perusahaan konsultan, tepatnya KPMG yang disebutkan sebagai big 4—salah satu dari empat kantor akuntan terbesar dan bergengsi di dunia. 

“Aku belum pernah kerja di perusahaan sebelumnya, jadi aku pindah ke KPMG pada tahun 2022 dan mencoba peran konsultan dan bekerja di perusahaan besar,” kata Namrata.

Perempuan ini mengakui, tidak ada yang salah dengan pekerjaannya. Budaya kerja di KPMG cukup baik, serta gaji yang didapatkannya pun terbilang besar sekitar 57.000 dolar Singapura atau setara Rp753 juta. 

Iklan

Saking stabilnya penghasilan Namrata, dirinya mengaku tidak pernah merasa kekurangan uang selama hidup di luar negeri. Ia menghabiskan 3.200 dolar Singapura per bulan (sekitar Rp42 juta), tetapi selalu bisa menyisakan dan menabung lebih banyak.

“Singapura kota yang mahal, aku menghabiskan hingga 3.200 dolar Singapura per bulan untuk pengeluaran, termasuk sewa, tetapi nggak pernah merasa kurang,” akunya.

Namun perlahan, Namrata menyadari bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan pekerjaannya. Ia merasa lebih dominan menggunakan otak kanan, sedang pekerjaannya menuntut otak kiri. Perempuan ini merasa dirinya tidak bekerja sesuai dengan passion yang dirinya inginkan, yakni pekerjaan kreatif.

“Tapi, aku segera sadar kalau aku terlalu dominan otak kanan untuk pekerjaan ini, dan kehidupan korporat nggak terasa sesuai buatku,” kata dia.

Selain itu, ada jam kerja panjang yang membuat Namrata kelelahan. Ia harus bekerja selama 40 jam seminggu. Akibatnya, tidak mempunyai waktu luan selain akhir pekan, yang berujung juga digunakan untuk beristirahat.

“Jam kerjanya panjang dan menuntut. Aku nggak ingin weekend jadi pelarian dari 40 jam kerja seminggu,” tambahnya.

Akhirnya memilih resign dari big 4 demi menjadi penulis

Buntut panjang dari ketidaksanggupannya bekerja, Namrata mengaku mulai tidak bisa menulis, padahal menulis sangatlah penting baginya.

“Selama bekerja di KPMG, aku merasa tidak dapat meluangkan cukup waktu untuk menulis,” kata dia.

Sebelumnya, untuk menjaga kewarasan selama berada di negara lain yang asing,  dia bilang, mulai tekun menulis.dalam bahasa asalnya. Ia menulis tentang hubungan, keluarga, persahabatan, cinta, dan hal sehari-hari yang membuatnya merasa lebih nyaman saat kerja di luar negeri.

Namun, karena tidak lagi bisa melakukan hal itu, dirinya berpikir serius untuk resign dari pekerjaan di luar negeri. Ia lebih memilih untuk melakukan hal yang benar-benar disukainya.

“Ketidakpuasan aku kerja di KPMG membuatku berpikir tentang apa yang benar-benar aku suka,” kata dia.

Pada Desember 2024, Namrata bilang, dirinya terpilih untuk membacakan puisi di sebuah festival sastra di India. Festival tersebut membuatnya makin menyadari bahwa ia ingin seperti orang-orang yang ditemui dan disaksikannya di festival sastra itu.

“Jadi ketika aku kembali ke Singapura, aku memutuskan untuk menyelesaikan urusan dan pindah kembali ke India,” tandasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: “Side Hustle” Bisa Hasilkan hingga Rp500 Juta per Bulan Melebihi Gaji Kerja Kantoran, tapi Bikin Tersiksa karena Tidak Pernah Berhenti Bekerja dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 2 April 2026 oleh

Tags: berhenti kerjacareer switchgaji kerja di luar negeriindiakerja di big 4kerja di luar negerikerja jadi penulispulang ke desaresignSingapura
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Resign after lebaran karena muak dengan kantor toxic demi work life balance di Jogja MOJOK.CO
Urban

Nekat Resign After Lebaran karena Muak Kerja di Kantor Toxic, Pilihan “Ngawur” untuk Cari Happy tapi Stres Tetap Tak Terhindarkan

30 Maret 2026
Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan.MOJOK.CO
Edumojok

Rela Melepas Upah 75 Juta di Prancis demi Pulang ke Tanah Air, Kini Menikamti Hidup Sebagai Pengajar Bergaji Pas-pasan

10 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO
Urban

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026
lulusan s2 pilih slow living untuk wujudkan ketahanan pangan. MOJOK.CO
Sosok

Lulusan S2 IT, Rela Tinggalkan Gaji 2 Digit demi Jadi Peternak di Bogor untuk Wujudkan Ketahanan Pangan

3 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Oleh-Oleh “Red Flag” Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Ulang sebagai Buah Tangan Mojok.co

4 Oleh-Oleh Gunungkidul yang Sebaiknya Dipertimbangkan Berkali-kali sebelum Dibeli

29 Maret 2026
Siswa terpintar 2 kali gagal UTBK SNBT ke Universitas Brawijaya (UB). Terdampar kuliah di UIN malah jadi mahasiswa goblok dan nyaris DO MOJOK.CO

Siswa Terpintar 2 Kali Gagal UTBK SNBT ke UB, Terdampar di UIN Jadi Mahasiswa Goblok dan Nyaris DO

1 April 2026
Lewat Setu Sinau, Jalan Malioboro Kota Yogyakarta tidak hanya jadi tempat wisata. Tapi juga ruang edukasi untuk belajar budaya Jawa, termasuk aksara Jawa MOJOK.CO

“Setu Sinau” bikin Jalan Malioboro Tak Hanya Jadi Tempat Wisata, Tapi Juga Ruang Edukasi Aksara Jawa

29 Maret 2026
Perjuangan UTBK SNBT demi lolos universitas terbaik di Semarang (Universitas Diponegoro alias Undip). Numpang di masjid hingga andalkan makan dari warga saat kelaparan MOJOK.CO

UTBK SNBT Modal Nekat dan Keberuntungan demi Undip: Tak Bawa Uang, Numpang Tidur di Masjid-Bergantung Makan dari Warga saat Kelaparan

30 Maret 2026
Pekerja Jakarta resign setelah terima THR dan libur Lebaran

Pekerja Jakarta Resign Pasca-THR Bukan karena Gaji, tapi Muak dan Mati Rasa akibat Karier Mandek dan Rekan Kerja “Toxic”

30 Maret 2026
Naik pesawat Super Air Jet untuk mudik Lebaran ke Jogja

Terpaksa Naik Super Air Jet karena Tiket Murah, tapi Malah Dibikin “Plonga-plongo” karena Kelakuan Sok Asik Awak Kabin

1 April 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.