Saat pertama kali mendaftar CPNS, Wira* sebenarnya ingin ditempatkan di kota, tapi ia harus memenuhi kuota di salah satu desa di luar Jawa. Alih-alih mundur, Wira mencoba berpikir positif. Dan ternyata kerja jadi PNS di desa lebih menyenangkan daripada di kota.
Suara azan dan doa yang masih terdengar di desa
Nyatanya, kerja jadi PNS di desa bikin Wira bisa berhemat. Biaya kos dan makanan yang lebih murah, serta lokasi kantornya yang strategis membuat Wira bisa berjalan kaki tanpa harus naik kendaraan umum. Ia juga tak perlu jengkel untuk menghadapi macet, seperti yang terjadi saat dirinya kerja di kota.
Selain itu, Wira bersyukur bisa tinggal di desa yang mayoritasnya muslim sehingga masih sering mendengar suara azan di masjid, baik Subuh sampai Isya. Bahkan orang tuanya yang pertama kali mengantar Wira ikut kaget, karena mereka mengira orang Islam adalah minoritas di daerah tersebut.
“Di sini, 04.30 WITA sudah ada anak kecil mulai mengaji di beberapa masjid sampai masuk waktu salat subuh. Sambil nunggu azan, mereka biasanya selawat tarhim bareng-bareng. Nah, baru sekitar pukul 06.00 WITA ada suara azan (ngebang) untuk memanggil orang Hindu sembahyang,” jelas Wira, Minggu (19/4/2026).
Bentuk toleransi itu seketika bikin Wira terkesima. Bahkan, tidak hanya kepada umat beragama, warga di desa sana juga amat menghargai orang lain, meskipun berbeda warna kulit, turis atau bukan, perantau, semua disambut dengan baik.
Tak hanya itu, Wira juga jadi lebih mudah menemukan makanan halal dan enak. Sebagai orang yang berasal dari Jawa, tak sulit baginya menemukan lalapan seperti pecel lele, nasi campur, hingga nasi banyuwangi.
“Beda dengan di kota, sepengalamanku ya orang-orang di sana lebih individualis dan pelayanannya juga kurang,” kata Wira yang akhirnya dipindahkan ke kota setelah bekerja jadi PNS selama 3 tahun.
PNS di desa lebih nyaman daripada di kota
Selama kerja jadi PNS di desa, Wira tak terlepas dari budaya lembur. Saking banyaknya tugas, ia sering pulang pukul 22.00 WITA. Namun, ia bersyukur masih dibebaskan untuk berinovasi tanpa harus terkukung dengan birokrasi yang njelimet.
Hal itu pun tak jadi soal bagi Wira, asal lingkungan kerjanya nyaman. Wira mengaku teman-teman PNS-nya di desa punya nilai kekeluargaan yang kental. Mereka saling peduli dan kompak dalam menjalankan tugas.
“Mereka juga support dan perhatian. Misalnya, pagi-pagi ditanya udah sarapan belum? Kalau belum diajak beli nasi bareng. Siangnya dapat makan dari kantor dan kalau malam lembur juga dapat makan,” kata Wira.
Ketika pekerjaan terasa berat, pegawai PNS di desa akan saling membantu. Misalnya, ketika hanya Wira yang mendapat tugas seorang, teman-temannya berkenan untuk membantu. Terlebih, mereka juga orang yang bertanggung jawab sehingga Wira tak masalah jika harus membagikan penghasilannya dari tugas yang ia dapat.
“Karena mereka juga selalu membela aku waktu pekerjaanku dijelek-jelekkin. Dan itu sebenarnya yang paling susah dicari di kantor lain seperti saat aku dipindahkan ke kota,” kata Wira.
PNS kekeluargaan vs individual
3 tahun setelah kerja jadi PNS di desa, Wira akhirnya dipindahkan ke kota. Wira yang tak bisa menolak akhirnya mau-mau saja dipindahkan. Masalahnya, Wira justru merasa kesepian karena banyak PNS di kota yang individualitasnya tinggi.
“Di kota orang-orangnya nggak kompak, sering pulang tenggo. Jadi kalau sudah jam 17.00 WITA ya pulang. Nggak ada juga acara kumpul-kumpul di kantor,” ujar Wira.
Berbeda dengan kesibukan Wira biasanya saat kerja jadi PNS di desa, kali ini Wira bisa dibilang gabut alias tak ada kerjaan. Bukannya tidak senang karena pekerjaannya jadi lebih berkurang, hanya saja Wira merasa dibayar tanpa melakukan apa-apa.
“Di kota ini aku ditempatkan di seksi yang nggak ada pelayanannya, otomatis tugasku di sana jadi nggak ada. Terus aku yang biasanya bertugas sebagai pelaksana, jadi harus belajar banyak soal hukum daripada soal teknis,” kata Wira.
Selain suasana kantor, Wira juga harus beradaptasi lagi di sekitar kosnya. Saat itulah Wira merasa menyesal pindah ke kota. Bukannya mendapat ketenangan seperti di desa, Wira jadi tidak bisa tidur saat malam karena suasana riuh di kota alih-alih suara azan. Meski gajinya lebih besar dibanding saat ia kerja di dewa, Wira mengaku rindu dengan kantor lamanya dulu.
“Kalau di desa dulu kan ayem tentrem, tapi di kota makin malam malah ramai. Padahal, kami juga butuh istirahat,” ucap Wira.
Penulis: Aisyah Amira Wakang
Editor: Muchammad Aly Reza
BACA JUGA: Lolos Seleksi CPNS dalam Sekali Coba, Aman Finansial tapi Hidup “Tersandera” karena Leha-leha Dapat Gaji Buta atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
