Gara-gara ucapan Pandji Pragiwaksono, Purwokerto—sebuah kecamatan di Banyumas—memang menjadi daya tarik tersendiri dengan bayangan slow living. Tidak terkecuali bagi pekerja Jogja. Tapi ada kekagetan saat pekerja Jogja mencoba pindah kerja di daerah tersebut.
***
Ketika nama Purwokerto mulai kerap disandingkan dengan narasi slow living, Echa (26) yang sebelumnya menjadi pekerja di Jogja, pun ikut terpancing.
Maka, pada 2024, setelah bekerja di Jogja sejak 2022, ia kemudian memutuskan resign dan pindah kerja ke Purwokerto.
Secara gaji, ia sebenarnya sudah menghitung kalau Purwokerto menawarkan gaji yang lebih rendah dari Jogja. Walaupun di tempatnya bekerja berada di atas UMK Banyumas sedikit.
Tapi saat itu Echa memang tidak sedang mencari gaji besar. Toh hasil kerjanya memang untuk diri sendiri alias tidak ada tanggungan. Motivasinya ke Purwokerto, ia ingin mencari ketenangan baru setelah merasa semakin ke sini Jogja semakin sumpek.
Tapi Echa menggarisbawahi, apa yang ia paparkan tentang karakter orang Purwokerto ini berbasis subjektivitasnya selama 1,5 tahun berada di sana:
Tidak harus menjadi orang lain sebagaimana saat kerja di Jogja
Kekagetan Echa dimulai dari betapa mudahnya Echa masuk dalam pergaulan teman-teman kerjanya yang mayoritas asli Purwokerto.
Saat itu, Echa hanya memperkenalkan diri secara normatif. Namun, respons yang ia terima justru sambutan seolah-olah sudah saling kenal sejak lama. Teman-temannya yang berlogat ngapak langsung melempar candaan-candaan yang pada akhirnya cepat akrab.
“Masuk ke sebuah circle ternyata bisa semudah itu. Beda ketika pertama kali aku kerja di Jogja, karena ada lapis-lapis hal yang harus kutembus. Setidaknya di circle tempatku kerja,” ujar Echa, Minggu (5/4/2026).
Ketika pertama kali masuk kerja di Jogja, Echa mengaku harus bekerja keras menyesuaikan diri dengan kultur setiap orang. Dari gaya berpakaian, budaya tongkrongan di coffee shop, hingga upaya menjadi relevan lain.
“Misalnya, aku harus menyamakan selera genre film atau musikku biar nyambung. Aku nggak bisa leluasa menikmati jadi diri sendiri karena takut nggak relevan,” ungkapnya.
Sementara di Purwokerto ia tidak harus susah payah melakukan itu. Pertemanan terjalin sebagaimana apa adanya.
Orang Purwokerto blak-blakan tapi tulus
Hal itu memang selaras dengan ciri khas orang Purwokerto yang cenderung blak-blakan—yang sering disalahpahami orang lain sebagai ungkapan kasar. Karena memang, sepengalaman Echa, orang Purwokerto itu kalau ngomong seperti tanpa filter.
Itu membuat Echa sempat kaget. Sebab, ia takut, kalau-kalau omongan yang tanpa filter itu bisa menyakiti orang lain. Pada kenyataannya, gaya bicara tanpa filter itu justru merekatkan satu sama lain.
“Memang blak-blakan, tapi dasarnya orang-orangnya tulus kalau berteman. Waktu masih kerja di Jogja, aku ngerasainnya kan memang halus. Tapi ada modelan halus di depan, tapi kalau udah di belakang, keluar aslinya. Muka dua lah,” kata Echa.
Mukhamad Hamid Samiaji (Pegiat Literasi di Lembaga Kajian Nusantara Raya UIN Prof. KH. Saifuddin Zuhri Purwokerto) dalam Wong Banyumasan dan Identitas Ceblaka, menjelaskan kalau karakter orang Purwokerto itu memang cablaka. Yakni karakter yang dicetuskan secara spontan terhadap fenomena yang tampak di depan mata, tanpa ditutup-tutupi.
Cablaka sering dimaknai sebagai karakter yang mengedepankan keterusterangan. Karena masyarakat Banyumas lebih senang berbicara apa adanya dan tidak menyembunyikan sesuatu.
Meski begitu, lanjut Samiaji, orang Purwokerto menjunjung tinggi nilai gemblung-gemblung ari rubung (biar gila asal berkumpul), dengan maksud untuk menjalin keakraban dan kebersamaan dengan jujur dan apa adanya, tanpa penghalang.
Kaget, tapi Echa mengaku terkesan. Karena ia merasakan sebuah hubungan yang solid dan jujur.
Etos kerja orang Purwokerto bikin pekerja Jogja kaget: tidak ada santai-santainya
Pindah kerja di Purwokerto dengan bayang-bayang slow living membuat Echa kaget dengan etos kerja teman-temannya. Pekerja Jogja itu bahkan mengaku sempat agak kepontal-pontal mengikuti etos kerja mereka.
“Kelihatannya mereka ini santai, guyon-guyon. Tapi kalau soal kerja memang sungguh-sungguh. Gaji kecil itu urusan lain, tapi kerja tetap harus disiplin dan kerja sungguh-sungguh,” beber Echa.
Itu berbeda dengan apa yang Echa pernah alami di Jogja. Sebab, ada saja temannya di tempat kerja lama yang kalau kelihatan santai, ya santai saja. Kerja sekadarnya karena mengukur gaji yang terima. Sederhananya: kalau gaji kecil, ngapain kerja sungguh-sungguh.
Tapi di lingkungan pertemanannya di Purwokerto: teman-teman Echa percaya kalau disiplin dan etos kerja yang baik suatu saat akan mengantarkan pada jalan rezeki yang lebih baik. Sekarang gaji boleh kecil, tapi dengan sungguh-sungguh bekerja, siapa tahu ada skema—walaupun agak aneh—si bos bakal menaikkan gaji.
“Tapi itu skema jeleknya. Skema bagusnya, modal etos kerja semacam itu bisa bikin dia punya catatan bagus. Sehingga kalau suatu saat pindah kerja di tempat yang lebih bagus, orang nggak akan ragu merekrut dia,” papar Echa.
Dalam jurnal Beberapa Karakter Orang Banyumas, Sugeng Priyadi menyebut, orang Banyumas punya ungkapan: ibarat endhas enggo sikil, sikil enggo endhas (ibarat kepala jadi kaki, kaki jadi kepala). Ungkapan itu adalah gambaran betapa dalam bekerja orang Banyumas—termasuk Purwokerto—siap jungkir balik.
Tidak menye-menye: gaji kecil buat bercanda, mengurangi potensi makan hati
Dan, kata Echa, berbeda dari pekerja Jogja yang kerap mengeluh dengan UMR kecil, orang Purwokerto menolak untuk itu.
Mengeluhkan gaji kecil sebenarnya sah. Tidak ada yang salah. Hanya saja, ketika kerja di Purwokerto, Echa memiliki cara baru dalam menghadapi gaji kecil atau nasib tidak menyenangkan lain: jadi candaan.
“Ya memang bosnya kere, jadi bisanya ngasih gaji seupil. Misalnya jadi guyonan kayak gitu di teman-temanku,” kata Echa. “Kalau mau gaji besar, ya jangan ke Purwokerto buat slow living-slow living itu.”
Contoh lain, misalnya seorang karyawan habis ditegur atau bahkan dimarah-marahi bos, tidak lantas menye-menye dan kena mental. Tapi malah jadi candaan di tongkrongan.
Bukannya tidak sakit hati. Tapi, kata Echa, lebih baik jadi candaan daripada makan hati terus-menerus. Malah bikin sumpek.
Memahami cara pandang lain soal slow living
Pada akhirnya, Echa mendapat pemahaman lain soal narasi slow living di Purwokerto.
Bagi Echa, sebenarnya Purwokerto tidak istimewa-istimewa amat. Kecuali kamu adalah seorang pensiunan yang jaminan hari tua aman. Tapi bagi pekerja biasa seperti Echa dan teman-temannya, hidup lama-lama di Purwokerto tanpa beban finansial sama sekali agaknya mustahil. Sebab, gaji kecil di sana benar-benar terasa tidak ada nilainya di tengah kondisi ekonomi yang terus memburuk.
“Slow living mereka lebih ke keberanian menghadapi kenyataan. Survive dan berani menekan banyak hal untuk mencukup-cukupkan gaji. Tapi kalau kamu berharap lepas beban, nggak serta merta begitu,” kata Echa.
Karena narasi biaya hidup murah di salah satu kecamatan di Banyumas itu tidak sepenuhnya besar. Bahkan cenderung beda tipis dengan Jogja yang sudah masuk kategori tinggi.
Oleh karena itulah, karena ujung-ujungnya Echa harus tunduk pada kebutuhan finansial dan tuntutan gaya hidup, setelah 1,5 kerja di Purwokerto ia pun memutuskan pindah lagi ke Jogja.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
