Nasib Suram Pekerja Jakarta Rumah Bekasi, Dituntut Siaga Bekerja dan Pulang ke Rumah sampai Tumbang Mental dan Fisik

Hidup mati pekerja Jakarta harus tetap masuk, menerjang arus dari Bekasi

Ilustrasi - Bekerja di Jakarta (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bekerja di Jakarta tidak pernah seindah yang dikatakan orang-orang, bahkan bagi mereka yang memang berasal dari Jabodetabek, seperti Bekasi. Pengalaman kerja di Jakarta sering masih mengejutkan sampai berujung kena mental dan fisik, alhasil tumbang dalam kondisi tidak baik.

***

Raya (24) adalah salah satu pekerja Jakarta yang lahir dan tumbuh besar di Bekasi. Meski terbilang bagian dari Jabodetabek, Raya tidak pernah mengira pengalaman kerjanya akan tetap membuatnya kewalahan

Ia sudah tahu, orang-orang di Jakarta hidup dalam pola cepat (fast-paced). Begitu juga dengan cara kerja mereka, tapi Raya tidak pernah mengira dirinya akan kesulitan dalam mengikuti ritme tersebut.

“Di Jakarta itu, benar-benar semua orang fast-paced,” kata dia kepada Mojok, Senin (16/3/2026).

Raya bilang, saking cepatnya ritme itu, jarak tempuh yang jauh seakan-akan bukan persoalan bagi pekerja Jakarta dengan rumah di luar Jakarta, seperti Bekasi. Sebagian dari mereka sanggup menghabiskan berjam-jam untuk pulang pergi dari rumah ke tempat kerja, juga sebaliknya, sehingga terlihat sebagai sesuatu yang biasa.

“Sebenarnya jarak tempuh itu struggle, tapi kayaknya 50 persen orang Jabodetabek tuh PP (pulang pergi) KRL. Jadi, bukan sesuatu yang wow,” katanya.

Namun sekalipun dianggap biasa, bukan berarti Raya akan menghadapinya dengan biasa. Khususnya, ketika tubuhnya telah memberikan sinyal tidak biasa-biasa saja.

Jarak tempuh Jakarta-Bekasi adalah pintu masuk masalah

Jarak rumah Raya dan tempat kerjanya sekitar 45 kilometer. Untuk dapat mencapai kantor tempatnya bekerja, Raya harus menggunakan transportasi umum selama hampir 2 jam. 

Ia harus turun dan berganti setidaknya 3 kali transportasi sebelum sampai di tujuan.

Bagi pekerja Jakarta yang tahan banting, ini terlihat wajar. Namun selang beberapa waktu dijalani, Raya mulai merasakan tanda-tanda tak nyaman. Ia harus berangkat kerja di pagi buta sebelum matahari terbit dan berebut kursi dengan sesama pekerja, lalu pulang  ke rumah begitu matahari terbenam.

Sesampainya di rumah, Raya sudah berada dalam kondisi lelah fisik dan mental karena menghabiskan 5 jam perjalanan pulang pergi.  Padahal, kepulangannya tidak terlalu penting, tetapi menjadi kewajiban dari orang tua yang menginginkannya untuk tetap pulang ke rumah.

Ibaratnya, ada keinginan orang tua untuk tetap melihatnya hadir sebagai anak, meski tidak berperan signifikan.

“Harus PP sekitar 5 jam per hari, tubuhnya kaget kali ya,” kata Raya.

“Jadi, efeknya lemas yang benar-benar lemas dan menstruasi tuh jadi nggak teratur banget,” ujar dia menambahkan.

Bagaimanapun, berbagai hal yang bertubi-tubi menghantam dalam satu hari membuat Raya merasa kewalahan. Ia harus berangkat kerja, bekerja, pulang, dan menjadi anak. Ada beban finansial dan emosional sekaligus di dalam dirinya sehingga tubuhnya memberi tanda peringatan.

Pekerja Jakarta tetap dibebankan keharusan pulang sebagai anak

Ketika Raya mencoba mensortir satu per satu penyebabnya, ia belum bisa menemukan solusi pada ranah pekerjaan. Ia masih butuh pekerjaan. Ia memiliki kebutuhan sehari-hari yang tidak bisa dipenuhi hanya dengan leyeh-leyeh.

Karena itu, ia mencoba bernegosiasi untuk tidak harus pulang ke Bekasi. 

Sebab, Raya merasa emosinya tertahan ketika harus pulang ke rumah. Ia tidak bisa melampiaskan emosi saat merasa lelah, atau sekadar keinginan untuk menangis, karena akan membuat orang tua yang tinggal satu atap dengannya merasa khawatir.

“Di rumah aku kan berperan sebagai anak. Jadi, nggak bisa melampiaskan emosi, misal lagi capek atau mau nangis karena pasti bakal bikin orang tua overthinking,” katanya.

Namun, sekuat-kuatnya Raya menahan diri, ia kelepasan pada suatu ketika. Perempuan ini mengeluarkan emosinya di rumah, berujung menerima respons yang “mengkerdilkan” perjuangannya dalam bekerja.

Kerja keras Raya dinilai bukan apa-apa jika dibandingkan dengan orang tuanya.

“Pernah sekali kelepasan, tapi orang tua ngerespons ya semua orang juga begini. Orang tua juga lebih parah perjuangannya,” akunya.

Mencari jalan keluar sementara dengan ngekos di dekat kantor

Akhirnya, Raya memutuskan untuk mengeluarkan biaya lebih dengan menyewa kos-kosan di dekat kantornya, wilayah Jakarta Barat. Ia menyisihkan sekitar Rp1,5 juta untuk kos-kosan standar di Jakarta dari gajinya yang tidak terlalu jauh dari Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta, sekitar Rp6 juta.

Artinya, seperempat dari gaji Raya sudah habis digelontorkan untuk biaya tempat tinggal.

Namun ternyata, keputusan untuk kos tidak menjadi jalan keluar seutuhnya. Raya menemui dirinya dalam masalah dengan negosiasi bahwa akan pulang setiap akhir pekan, padahal pekerjaan menuntutnya untuk siap sedia hampir setiap hari.

Hal itu berarti, Raya tetap membawa pulang pekerjaannya pada hari libur.

“Kerjaan ini dibawa pulang sampai Sabtu Minggu,” katanya.

“Walau tipis-tipis, ya masih kerja,” tambah Raya.

Dengan ponsel kantor yang dikantonginya, Raya seakan dibayar untuk stand by setiap saat kalau sewaktu-waktu (hampir setiap waktu) ada kebutuhan pekerjaan. Kebebasan Raya juga ditukar saat dia menerima ponsel kantor itu, untuk mendedikasikan hidup dan mati hanya untuk memantau pekerjaannya.

Beban kerja di Jakarta tidak masuk akal

Setelah solusi sementara gagal, Raya menyadari bahwa permasalahannya tidak hanya terletak pada jarak tempat tinggal dan tempat kerja. Ia diam-diam mengakui, beban kerjanya yang menjadi sumber permasalahan.

Namun dalam hal ini, Raya yang tergolong fresh graduate saat itu seolah-olah dibutakan keyakinan bahwa pekerjaannya tidak bermasalah. Banyak orang yang kesulitan mencari kerja di luar sana sehingga ia berusaha menerimanya begitu saja.

“Aku berusaha memahami dunia kerja seperti apa,” kata Raya mengakui.

Sayangnya, setiap kali ia berusaha belajar, ia akan dirotasi ke peran lain yang mengharuskannya mengulangi dari nol. Dengan beban kerja yang tidak berkurang. “Terus, setelah 2 bulan kerja dimutasi ke role lain. Jadi, harus belajar dari 0 lagi.”

Menurutnya, pekerjaan di industri kreatif ini bukan hanya melelahkan. Raya merasa diberikan beban ganda akan pekerjaan dan keharusan menjadi anak dengan pulang, padahal kembali diingatkan soal pekerjaan yang harus diselesaikan di mana pun ia berada.

Belum lagi, pekerjaannya menuntut Raya untuk banyak menginisiasi dan mengeksekusi ide kreatif. Tanpa disadarinya, ia merasa diperas secara mental dan fisik untuk dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik.

“Kerjaan ini tuh juga shooting sana sini. Jadi, nggak cuma capek di jalan, tapi capek shooting juga,” kata dia.

Meskipun demikian, Raya mencoba untuk tetap menjalaninya sampai kondisi fisiknya terasa semakin berbeda. Ia jatuh sakit dalam kondisi yang belum pernah dialaminya. Tubuhnya lemas, serta jadwal menstruasinya semakin tidak teratur.

Setelah diperiksakan, Raya didiagnosis kelebihan hormon akibat stres dan kelelahan. Tidak pulang ke rumah untuk koos yang diperkirakan menjadi solusi permasalahan jarak tidak benar-benar membuahkan hasil. Beberapa tahun mencoba menjalani kegiatannya pun, Raya berakhir memutuskan untuk mengundurkan diri demi kesehatan mental dan fisik, serta mencari kesempatan yang lebih baik.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sebagai Pekerja Jakarta yang Terbiasa Kerja “Sat Set”, Saya Nggak Nyaman dengan Etos Orang Jogja yang Terlalu Santai dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version