Orang Jakarta Tak Akan Sanggup Slow Living di Salatiga Selama Masih Anti-Srawung, Modal Financial Freedom pun Tak Cukup

Slow living di desa, jakarta.MOJOK.CO

Ilustrasi slow living di desa. (Mojok.co/Ega Fansuri)

Melihat tren konten slow living di media sosial akhir-akhir ini kadang bikin senyum-senyum sendiri. Banyak orang kota, khususnya Jakarta, meromantisisasi kehidupan desa. Mulai dari bangun pagi disambut kabut, ngopi di teras menghadap sawah, dan hidup tenang jauh dari kemacetan ibu kota. 

Padahal, “brosur” keindahan itu jarang mencantumkan satu syarat mutlak untuk bertahan hidup di desa: srawung.

Hidup mapan di Jakarta, memutuskan slow living ke desa

Kevin (35), salah satu kawan saya, adalah salah satu orang yang harus menelan pil pahit dari ekspektasi tersebut. Di usia awal tiga puluhan, sebenarnya Kevin sudah mencapai impian banyak pekerja Jakarta. Ia punya istri, satu anak usia tiga tahun, dan kondisi finansial yang sangat mapan.

Sumber uang Kevin mengalir deras dari beberapa pintu. Sebagai old money, ia mengelola bisnis keluarga yang sudah “auto-pilot”. Ia juga punya hobi jual-beli merchandise band yang keuntungan bulanannya cukup untuk menghidupi keluarga. 

Yang paling bikin tenang, Kevin punya instrumen investasi berupa portofolio saham blue-chip dan perbankan yang rutin membagikan dividen. Singkat kata, Kevin sudah menyentuh level kebebasan finansial alias financial freedom. Ia tak perlu lagi pusing memikirkan gaji bulanan.

Berbekal kebebasan finansial itu, pada tahun 2022 lalu saat pandemi mulai mereda, Kevin memutuskan membawa keluarganya pindah ke kampung halaman sang istri di sebuah desa di Salatiga, Jawa Tengah. Niatnya satu, yakni buat slow living

“Niatnya sih ingin pensiun dini dari hiruk-pikuk kota. Bayangin dulu aja enaknya jadi bapak-bapak santai yang tiap pagi mengantar anak sekolah, memelihara burung, ngopi di teras sambil memantau grafik saham,” kata dia, Minggu (5/4/2026.

Namun, gagasan ideal itu nyatanya cuma bertahan kurang dari satu tahun.

Saking tertutupnya sampai dianggap punya pesugihan

Bulan-bulan pertama di Salatiga, Kevin bahkan sudah mulai merasakan ada yang salah. Akar masalahnya ada pada gaya hidup individualis khas orang kota yang tak sengaja ia bawa ke desa. 

“Di Jakarta, nutup pintu seharian udah biasa dong. Berarti tuan rumah sedang sibuk, butuh privasi, atau ya sekadar nggak pengen diganggu. Nah, di desa nggak gitu,” jelasnya.

Kata Kevin, di desa aturannya beda total. Pintu rumah yang tertutup rapat dari pagi sampai sore dianggap sebagai “pelanggaran sosial”. Tetangga akan mengira pemilik rumah sedang sakit, nggak ada di rumah, atau yang paling nggak enak dianggap sombong karena sengaja membatasi diri dari lingkungan.

“Itu culture shock pertama waktu aku ke desa. Kalau di rumah, apalagi sedang di teras, ya pintu wajib dibuka.”

Lucunya lagi, masalah Kevin tidak berhenti di situ. Warga desa, kata dia, punya standard pekerjaan yang sangat rigid: kalau tidak pakai seragam dinas, ya pergi pagi pulang sore ke tempat kerja. 

Alhasil, melihat keseharian Kevin, tetangga pun kebingungan. Ada bapak-bapak sehat, kerjanya cuma duduk di teras pakai celana pendek, main burung, tapi tiap hari ada kurir paket datang membawa belanjaan online. Mobilnya pun bagus dan istrinya sering jajan.

Karena tidak paham konsep passive income atau dividen saham, imajinasi liar ibu-ibu tetangga mulai bermain. Desas-desus menyebar cepat. Ada yang mengira Kevin main judi online

“Paling parah, dulu ada yang nyangka kalau aku punya pesugihan. Memelihara tuyul gitu. Soalnya kayak nggak ngapa-ngapain tapi tiap hari tukang paket datang.”

Warga desa sebenarnya sungkan dengan orang Jakarta yang tertutup

Melihat kasus Kevin ini, jujur saja saya sangat paham. Sebagai orang yang sejak lahir dan besar di desa, fenomena “orang kota cari ketenangan” semacam ini sudah sering saya saksikan.

Banyak pendatang dari kota membeli atau menyewa rumah di desa, tapi kemudian memilih hidup di balik tembok tinggi dan pagar yang digembok. Mereka biasanya cuma keluar rumah saat mau ke belanja atau mengambil paket dari kurir. Interaksi dengan tetangga sebelah rumah nyaris tidak ada.

Dulu, saya dan teman-teman karang taruna di desa sering merasa serba salah menghadapi warga model begini. Saat kami mau menyebar undangan kerja bakti atau acara tahlilan, rasanya sungkan luar biasa. Rumah mereka sepi dan tertutup rapat. 

Bukannya kami kepo atau sengaja mau mengganggu privasi. Kami sangat sadar dan menghormati kalau itu memang pilihan hidup mereka.

Namun, masalahnya, nyawa utama dari kehidupan desa itu ya srawung, alias bergaul dan membaur. Kalau memang mau hidup seutuhnya sendirian tanpa tegur sapa dan tanpa mau tahu urusan tetangga, sebenarnya lebih cocok tinggal di apartemen di Jakarta, bukan di kelurahan.

Baca halaman selanjutnya…

Srawung di desa bikin orang kota terkuras energinya. 

Jadwal srawung yang menguras energi

Alhasil, tekanan yang Kevin rasakan di desa perlahan makin berat. Kata siapa slow living di desa itu santai? Nyatanya, menurut Kevin, jadwal sosial di desa seringkali lebih padat daripada jadwal meeting di perusahaan ibu kota.

Setiap minggu, selalu ada saja kegiatan yang menuntut kehadiran fisik. Mulai dari ronda malam, kerja bakti membersihkan makam, arisan RT, tahlilan tetangga yang meninggal, sampai rewang hajatan tetangga yang jarak rumahnya beda RT. 

“Masalahnya kan di desa kalau nggak hadir di acara-acara sosial seperti ya kelar, bakal habis jadi omongan. Menabung aib,” kata dia.

Bagi Kevin yang terbiasa dengan batasan personal di kota, rutinitas ini menyedot habis energinya. Saat Kevin kelelahan dan mulai sering membolos srawung dengan alasan butuh me-time, sang istri lah yang akhirnya menjadi tameng. 

“Istri kadang cerita, sering disindir ibu-ibu gitu gara-gara suami nggak pernah kelihatan. Ya ujung-ujungnya bikin berantem kan hal kayak beginian sama istri,” ujarnya.

Belum lagi soal hilangnya batasan privasi fisik. Di kota, kalau mau bertamu biasanya orang akan mengirim pesan WhatsApp dulu. Di desa kampung halaman istrinya, tetangga atau kerabat bisa tiba-tiba nyelonong masuk lewat pintu dapur hanya untuk memberikan sayur atau meminjam perkakas. 

“Sering kayak gitu. Aku yang kadang cuma koloran di ruang tengah sering banget ngerasa salting di rumah sendiri.”

Cari-cari alasan buat balik ke Jakarta

Setelah beberapa bulan “mencoba bertahan”, energi Kevin akhirnya benar-benar habis. Uang financial freedom pun ternyata tidak bisa ia gunakan untuk “membeli” kebebasan dan privasinya di desa. Ia menyerah dan memutuskan untuk memboyong keluarganya pulang ke hiruk-pikuk kota.

Namun, sebagai orang yang tahu tata krama dan tak mau mencoreng nama baik mertuanya di desa, Kevin tidak mungkin pamit dengan jujur. Ia tak mungkin bilang capek dan tak betah di desa.

Ia pun mengaku menggunakan jurus alasan klasik yang sering dipakai orang kota saat gagal beradaptasi. Kepada para tetangga, ia beralasan bahwa anaknya harus segera bersiap masuk sekolah TK yang bagus di Jakarta. 

Selain itu, ia juga berdalih bahwa bisnis keluarganya pasca-pandemi sedang butuh perhatian langsung sehingga ia diwajibkan untuk bekerja di kantor lagi. Alasan yang sopan, masuk akal, dan tentu saja menyelamatkan gengsi semua pihak.

“Percayalah, uang kamu banyak tapi nggak siap srawung, jangan mimpi bisa slow living di desa,” pungkasnya.

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, Kini Temukan Kedamaian Usai Resign dan Kerja Remote di Purwokerto atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version