Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Lulusan SMK Ngaku Kerja Gaji 20 Juta Perbulan agar Ortu Tak Direndahkan, Tapi Masih Tak Cukup buat Ikuti Standar Sukses di Desa

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
12 Februari 2026
A A
Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa MOJOK.CO

Ilustrasi - Lulusan SMK ngaku dapat gaji 20 juta saat kerja di Sidoarjo agar orang tua tidak direndahkan karena standar sukses di desa. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berita lulusan SMK bergaji 20 juta menyebar di desa, dianggap penuhi standar sukses

Sesekali ketika Wiwin pulang ke kampung halamannya di Jawa Tengah, dia mendapati situasi yang berbeda sama sekali. Tidak ada lagi saudara dan tetangga yang mengajak berbicara dengan konotasi merendahkan. 

Sebaliknya, justru setiap orang mencoba akrab dan bersikap baik pada Wiwin. Wiwin sadar belaka, itu semua karena pengakuan kerja di Sidoarjo dengan gaji 20 juta itu. 

Bahkan, dengar-dengar, Wiwin menjadi tolok ukur pemuda sukses sebagai standar sukses yang berlaku di desanya: hanya lulusan SMK tapi bisa meraup uang segede itu dalam waktu perbulan. 

“Serangan orang desa berbalik ke sarjana, lulusan S1 yang susah kerja atau kerja bergaji rendah. ‘Sekolah thok yang tinggi, gajinya nggak’. Ya begitu lah. Realitas lain di desa, kayak nggak ada yang bener di mata tetangga,” tutur Wiwin. 

Tetangga dan saudara datang demi berutang

Sisi pahitnya lagi, lanjut Wiwin, kabar kerja di Sidoarjo dengan gaji Rp10 juta itu bak pijar lampu yang menarik banyak laron. 

Beberapa kali orang tua menelepon Wiwin, memberitahu kalau ada saudara A, saudara B, bahkan tetangga yang nembung ke bapak Wiwin: utang. 

Bapak Wiwin agak kebingungan meresponsnya. Sebab, ia saja tidak pernah meminta uang pada Wiwin. Uang hasil kerja Wiwin ya untuk WIwin sendiri. 

“Aku jawab, nggak ada lah buat utang-utang. Wong selama ini keluarga kita sering diremehkan kok,” kata Wiwin. 

Standar sukses di desa yang merepotkan dan tidak ada habisnya

Tapi sejujurnya Wiwin tidak menjawab narasi kerja di Sidoarjo dengan gaji 20 juta rupiah itu dalam konteks serius. Dan ia pikir sang ibu, saat teleponan dengannya, juga tidak menangkapnya sebagai keseriusan. 

Sialnya, sang ibu justru menangkapnya sebagai keseriusan dan terlanjur menyebut angka tersebut saat ada saudara atau tetangga yang bertanya. 

Awalnya Wiwin bingung. Namun, lama-lama membiarkan narasi liar itu berkembang di masyarakat. Walaupun sebenarnya ia juga merasa tidak enak dengan orang tuanya: karena ia tidak pernah bisa mengirim uang pada mereka. 

“Karena sejujurnya aku nggak dapat gaji segede itu. Udah nggak masuk akal lah,” kata Wiwin. 

Wiwin pada akhirnya jujur pada orang tuanya perihal yang sebenarnya. Orang tua Wiwin memaklumi. Tapi kerepotan sering kali datang justru dari orang luar (tetangga atau saudara). 

Sebab, gara-gara pengakuan gaji 20 juta rupiah tersebut, banyak orang akhirnya mempertanyakan: Ke mana larinya uang sebanyak itu? Karena kehidupan keluarga Wiwin masih begitu-begitu saja. 

Iklan

Standar hidup di desa itu memang merepotkan dan tidak ada habisnya. Tidak kerja dicibir, sudah kerja diremehkan kalau gajinya kecil. Jika punya gaji besar, masih salah lagi kalau tidak mampu beli ini-beli itu (tanah, mobil, dan seterusnya). 

“Sekarang masih kerja di tempat yang sama. Kayaknya orang desa juga belum ada yang tahu soal kebenarannya. Karena aku minta ibu dan bapak diam saja. Tapi memang, situasinya berubah drastis. Awalnya banyak yang sok baik ke keluarga kami karena mau utang. Terus karena nggak dikasih, ya balik nyinyir lagi,” tutup Wiwin. 

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Ironi Kerja di Luar Negeri: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Tak Pulang demi Gengsi dan Standar Sukses yang Terus Berganti atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 14 Februari 2026 oleh

Tags: 20 jutagaji 20 jutagaji lulusan smkgaji sidoarjokerja di Sidoarjolulusan SMKSidoarjostandar hidupstandar suksesstandar sukses desa
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Sarjana (lulusan S1) susah cari kerja. Sekali kerja di Sidoarjo dapat gaji kecil bahkan dapat THR cuma Rp50 ribu MOJOK.CO
Urban

Ironi Sarjana Kerja 15 Jam Perhari Selama 3 Tahun: Gaji Kerdil dan THR Cuma 50 Ribu, Tak Cukup buat Senangkan Ibu

17 Maret 2026
Ambisi beli mobil pribadi Toyota Avanza di usia 23 biar disegani. Berujung sumpek sendiri karena tetangga di desa cuma bisa iri-dengki dan seenaknya sendiri berekspektasi MOJOK.CO
Sehari-hari

Ambisi Beli Mobil Avanza di Usia 23 Demi Disegani di Desa, Berujung Sumpek karena Ekspektasi dan Tetangga Iri-Dengki

15 Maret 2026
Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO
Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

14 Maret 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah Mojok.co

Pekerja Jogja Kangen Mengadu Nasib di Bali, Kerjanya Sama-Sama Santai dan Biaya Hidup Lebih Murah

30 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya MOJOK.CO

Menjadi Dosen itu Ibarat Aktor Drakor: Dari Tri Dharma jadi Triduka, Saking Diminta Bisa Segalanya

27 Maret 2026
tunggu aku sukses nanti.MOJOK.CO

“Tunggu Aku Sukses Nanti”: Ketika Sandwich Generation Bermimpi, Orang Lain Tak Kehabisan Cara Buat Mencaci

26 Maret 2026
Work from home (WFH) untuk ASN tidak peka kondisi pekerja informal MOJOK.CO

WFH 1 Hari ASN Perlu Lebih Peka terhadap Kondisi Pekerja Informal

30 Maret 2026
3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja Mojok.co

3 Alasan yang Membuat Stasiun Lempuyangan Lebih Unggul Dibanding Stasiun Tugu Jogja

26 Maret 2026

Video Terbaru

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

Serat Centhini dan Asal Usul Jamus Kalimasada dalam Tradisi Jawa

29 Maret 2026
Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

Klinik Kopi dan Mitos Slow Living yang Ternyata Cuma Ilusi

28 Maret 2026
Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

Arman Dhani & Lya Fahmi: Kita Dituntut Sukses, Tapi Tidak Pernah Diajarkan Menghadapi Gagal

26 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.