Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Nestapa Tinggal di Perumahan Elite Jakarta Selatan Dekat Lapangan Padel, Satu Keluarga Stres Sepanjang Malam

Aisyah Amira Wakang oleh Aisyah Amira Wakang
19 Februari 2026
A A
Lapangan Padel di Jakarta Selatan bikin Stres Satu Keluarga. MOJOK.CO

ilustrasi - nggak nyaman tinggal di perumahan elite Jakarta Selatan dekat lapangan padel. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sejak mempunyai bayi di awal Januari 2026 kemarin, Idham jadi paham, kenapa seorang ayah perlu mempertimbangkan kondisi lingkungan sekitarnya saat membeli rumah. Sebab ternyata, punya rumah di samping lapangan padel Jakarta Selatan adalah pilihan paling buruk dalam hidupnya.

Suara dari lapangan padel yang bergema tanpa henti

Suara pukulan demi pukulan raket padel yang mengenai bola terus menggema sampai ke dalam rumah Idham. Bapak satu orang anak itu sontak merasa terganggu karena kebisingan itu berlangsung dari pagi hingga malam.

“Bayangkan dari jam 06.00 WIB hingga 00.00 WIB. Dengan rata-rata permainan padel, 2-3 jam per booking. Mereka silih berganti menimpa kebisingan demi kebisingan,” ucap Idham saat dikonfirmasi Mojok, Rabu (18/2/2026).

“Anak saya yang baru berumur 1,5 tahun setiap harinya harus mendengar suara dentuman itu, yang bahkan dia saja belum tahu namanya,” lanjutnya.

Sebagai informasi, suara dalam permainan padel memang dikenal cukup berisik. Pantulan bola pada raketnya yang padat (tanpa senar) bisa mencapai 70 hingga 90 desibel (dB), sementara tingkat suara normal manusia saat berbicara berada di kisaran 55-65 dB.

Karena bunyi khas “pop”-nya yang intens, lapangan padel indoor juga dianjurkan memakai panel peredam akustik. Belum lagi bunyi-bunyian yang dimunculkan oleh para pemain, baik saat kalah maupun menang.

Nyatanya, rumah Idham yang berada di samping lapangan padel Jakarta Selatan tetap mengganggu istirahat Idham. Begitu pula yang dirasakan oleh tetangganya saat mereka berdua saling bercerita.

“Sejak saat itu kami mencatat, melaporkan, dan mendokumentasikan kebisingan yang ada,” ujar Idham.

Lapangan padel yang dibangun tanpa aturan 

Saking terganggunya dengan suara permainan padel, Idham sampai berdiskusi dengan temannya yang paham soal advokasi lingkungan. Dari mereka, dia jadi tahu soal aturan zonasi, tata ruang, cara mengukur kebisingan, hingga aturan berlaku yang mengatur tentang Baku Tingkat Kebisingan.

Aturan itu tertuang dalam Keputusan Menteri Lingkungan Hidup (Kepmen LH) No. 48 Tahun 1996, serta Peraturan Pemerintah (PP) No. 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Pada umumnya, aturan ini menetapkan batas aman kebisingan untuk berbagai kawasan guna mencegah gangguan kenyamanan. Dalam Kepmen LH tertera bahwa baku mutu kebisingan di kawasan permukiman adalah 55 dBA untuk siang hari, dan 50dB untuk malam hari dengan batas toleransi maksimal +3 dB.

Rumah Idham sendiri berada di sebuah perumahan berjenis R1 di Jakarta. Sebuah rumah tapak tunggal atau rumah taman yang memiliki tingkat kepadatan bangunan sangat rendah, dengan mengandalkan privasi tinggi dan lingkungan asri.

Namun, ketentraman itu buyar dengan adanya lapangan padel dekat rumahnya. Berdasarkan pantauan Idham melalui alat pengukur suara, kebisingan yang dihasilkan dari suara permainan padel dekat rumahnya di Jakarta mencapai 60-77 dB.

“Berdasarkan perekaman berjarak 6-7 meter dari sumber dengan ketinggian tripod 1,5 meter, jelas secara dB ini di luar ambang batas R1,” ucap Idham. 

Iklan

Fasilitas olahraga yang bersinggungan dengan zona R, kata Idham, seharusnya memiliki buffer atau ruang transisi guna meredam kebisingan dan persetujuan lingkungan yang jelas. Dengan begitu, rumah penduduk dapat terhindar dari kebisingan.

Tak nyaman tinggal di perumahan elite Jakarta Selatan

Masalahnya, bukan berarti Idham lebay atau tidak suka dengan olahraga padel, hanya saja dia dan keluarganya ingin hidup tenang. Bisa beristirahat setelah lelah bekerja dan bermain bersama anak seharian tanpa ada gema yang tersisa di kepala. Membiarkan udara dan cahaya masuk saat pintu maupun jendela dibuka. 

“Membayangkan istri saya yang hampir 8 jam tiap harinya berada di rumah, menghabiskan waktu dengan anak sambil bekerja bikin saya iba. Karena suara lapangan padel ini tidak pandang bulu, bahkan di sela-sela mereka makan atau tidur siang bersama,” ucap Idham.

Terlebih, mereka juga tinggal berdampingan dengan ibunya yang sudah sepuh. Akibat suara bising dari lapangan padel dekat rumahnya di Jakarta Selatan itu, ibunya tak bisa lagi menikmati pagi dengan berjemur dan olahraga ringan.

Berharap ada tindak lanjut dari pemerintah setempat

Tak hanya Idham, berbagai keluhan soal kebisingan dari lapangan padel ini juga terlihat dari ulasan di Google Maps. Beberapa orang yang tinggal di sekitar perumahan dekat lapangan padel Jakarta Selatan tersebut tampak memberikan bintang satu.

“Kalau Anda ingin membuka lapangan olahraga di area perumahan, setidaknya pakailah peredam suara agar tidak mengganggu warga setempat,” tulis Innara.

“Setiap malam, saat lapangan beroperasi, suara permainan dapat terdengar jelas di rumah-rumah warga. Peredam suara berbiaya rendah memungkinkan kebisingan berlanjut hingga larut malam, mengganggu istirahat,” ucap Rizki.

“Berisik… rumah saudaraku berisik… bangunannya tidak memikirkan peredaman suara,” tulis Rifki.

Mengetahui bahwa keluhannya tak dirasakan secara pribadi, Idham pun merasa lega sehingga berani melaporkannya ke kanal resmi DKI Jakarta, Jakarta Kini (JAKI). Meskipun belum mendapatkan balasan, Idham berharap pemerintah dapat berpihak pada pelapor atau warga yang dirugikan khususnya kelompok rentan. 

Bukannya lega secara keseluruhan, dia pun merasa lebih bermakna karena tak hanya berdiam diri dan melakukan upaya terbaiknya demi keluarga. “Akhirnya, saya merasa tidak gagal sebagai seorang ayah.” Ujar bapak muda yang baru saja merasakan indahnya punya bayi itu.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 19 Februari 2026 oleh

Tags: jakarta selatanlapangan padelpadelpermainan padelperumahan elitesuara padel
Aisyah Amira Wakang

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.

Artikel Terkait

blok m jakarta selatan.mojok.co
Urban

Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign

5 Februari 2026
Tinggal di perumahan lebih bisa slow living dan frugal living ketimbang di desa MOJOK.CO
Ragam

Salah Kaprah Soal Tinggal di Perumahan, Padahal Lebih Slow Living-Frugal Living Tanpa Dibebani Tetangga ketimbang di Desa

30 Januari 2026
nongkrong di kafe, jakarta selatan.MOJOK.CO
Ragam

Nongkrong Sendirian di Kafe Menjadi “Budaya” Baru Anak Muda Jaksel Untuk Menjaga Kewarasan

14 Januari 2026
Mie ayam di Jakarta jadi saksi para pekerja berusaha tetap waras meski penuh beban hidup MOJOK.CO
Kuliner

Mie Ayam di Jakarta, Saksi Pekerja Berusaha Waras setelah Berkali-kali Nyaris Gila karena Kerja dan Beban dari Orang Tua

14 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua MOJOK.CO

Awal Ramadan Ikut Muhammadiyah atau Pemerintah? Yang Lebih Dulu Puasa Wajib Kirim Kolak ke Orang Tua

18 Februari 2026
Jakarta membunuh nurani kemanusiaan MOJOK.CO

Jakarta Kota “Pembunuh” Nurani: Orang Jatuh malah Ditekan, Lebih Ringan Beri Makan Anak Kucing ketimbang Anak Manusia yang Kelaparan

16 Februari 2026
Lulusan S1 UGM bikin skripsi soal perumahan rakyat di Belanda. MOJOK.CO

Skripsi tentang Perumahan Rakyat di Belanda vs Indonesia bikin Saya Lulus dari UGM dengan Predikat Cumlaude

18 Februari 2026
Sate entok di Kaliurang, Jogja

Sate Entok, Olahan Unggas Terbaik yang Jarang Diketahui padahal Rasanya Lebih “Jujur” daripada Bebek Goreng

18 Februari 2026
Tukang parkir coffe shop di Jogja

Nongkrong di Coffe Shop Jogja Malam Hari, Rela Pulang Pagi demi Hindari Tukang Parkir

16 Februari 2026
pendatang di jogja.MOJOK.CO

Nasib Menjadi “Pendatang” di Jogja: Selalu Disalahkan Atas Masalah yang Terjadi, padahal Menjadi Sumber Penghasilan Para Akamsi

18 Februari 2026

Video Terbaru

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

Dandangan Kudus: Bukan Sekadar Ramai, Tapi Serius Kelola Sampah dan Lingkungan

16 Februari 2026
Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

Damardjati Supadjar: Ketika Filsafat Tak Hanya Tinggal di Kampus

14 Februari 2026
Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

Kiai Faizi: Cara Hidup Merasa Cukup di Dunia yang Terlalu Buru-buru

10 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.