Kopi di starling atau kopi dorong keliling memang tidak semewah jika ngopi di coffee shop. Apalagi bagi pekerja kantoran di Kebayoran Baru Jakarta Selatan (Jaksel) yang sering kali harus berbenturan dengan gengsi gaya hidup elite. Namun, dengan kopi di gelas plastik seharga Rp5 ribu-Rp8 ribu, tetap memberi suntikan kekuatan untuk kerja keras tanpa Work Life Balance demi mengejar rezeki Ibu Kota.
***
Memasuki jam istirahat makan siang, trotoar di depan kawasan perkantoran elite di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mulai dipadati lalu-lalang orang-orang berbusana kasual dengan lanyard menggantung di leher.
Kebanyakan melipir ke warung-warung makan terdekat. Beberapa yang lain mengambil pesanan makanan dari jasa pesan-antar makanan.
Di tengah hiruk-pikuk tersebut, seorang penjual starling yang mangkal tidak jauh dari kawasan perkantoran pun turut menjadi jujukan. Tangannya pun lincah menggunting sachet demi sachet kopi, menuangkan air panas atau es batu ke dalam gelas plastik, lalu menyajikannya untuk si pemesan. Termasuk saya siang itu, Selasa (12/5/2026) di sela menunggu sebuah acara penganugerahan jurnalistik yang saya ikuti di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
“Buat makan siang saya bawa bekel dari rumah. Jadi kalau jam istirahat makan siang gini, saya keluar buat ngopi aja sambil sebat,” ujar Ikram (31), salah seorang pekerja kantoran di Jakarta Selatan yang saya temui di sebuah starling.
Kantor di Kebayoran Baru punya kopi mahal, tapi ngopi di starling tetap jadi pilihan
Kantor tempat Ikram bekerja bukannya tidak menyediakan kopi di pantry. Justru kantor menyediakan biji-biji kopi berharga mahal. Tetapi, jam makan siang selalu dihabiskan Ikram untuk membeli kopi dari starling atau penjaja kopi keliling (kopi dorong) yang marak belakangan.
Bagi Ikram, jam makan siang adalah jam jeda dari riuh-rendah pekerjaan di balik meja dan laptop. Ia butuh suntikan kekuatan lagi untuk menyambung pekerjaan berikutnya hingga petang hari.
Sentuhan kekuatan itu bisa ia dapat dari ngopi di luar kantor dan sebat. Sering kali hanya dengan melamun sembari menyesap kopi pesanan (baik dari starling maupun kopi dorong keliling), tidak jarang pula sembari berbincang dengan orang random dari kantor lain.
“Obrolan receh aja. Nggak ngurus pekerjaan dulu. Bener-bener jeda. Kalau akrab sama tukang starlingnya karena langganan malah asyik, karena obrolan bisa ke mana-mana, bisa saling bercanda,” beber Ikram.
Canda tawa dan obrolan random itu setidaknya bisa membuat Ikram bisa sejenak melupakan tekanan kantor. Re-charge mood kalau katanya. Jika mood sudah membaik lagi, maka ia mengaku siap menghadapi pekerjaan lagi—seberapa menekan pun pekerjaan tersebut.
Rp5 ribu cukup untuk kejar tanpa Work Life Balance, tak butuh coffee shop
Malam harinya, selepas mengikuti rangkaian acara siang itu, saya sebenarnya hendak bersantai dulu di beberapa coffee shop yang direkomendasikan teman.
Namun, seorang pedagang starling justru tampak memikat gara-gara membawa sekresek gorengan. Sebab, beberapa kali di Jakarta, saya jarang mendapati pedagang kopi starling jual gorengan sekalian. Paling mentok jual Pop Mie sebagai menu makanan.
Memesan segelas kopi susu, saya kemudian duduk ngemper di trotoar jalan tidak jauh dari kawasan perkantoran elite di Kebayoran Baru, Jaksel, tempat acara berlangsung siang tadi. Sembari mencomot gorengan demi gorengan.
Di sana sudah duduk seorang pekerja kantoran Kebayoran Baru, Jaksel, dengan kemeja dan celana rapih. Namanya Jaya (27). Ia mengaku, selepas ngantor, beberapa teman ngantornya sebenarnya mengajak nongkrong di sebuah coffee shop. Tapi Jaya tidak tertarik bergabung.
“Ngopi segelas bisa Rp35 ribu-Rp50 ribu. Nggak dulu kalau buatku. Aku kopi starling Rp5 ribu atau kopi dorong keliling seharga Rp8 ribu udah cukup, walaupun kerap diejek: kopi sachet itu bukan kopi,” ujar pemuda asal Purwakarta, Jawa Barat itu.
Ngopi di coffee shop, bagi teman-teman kantor Jaya adalah bagian dari upaya Work Life Balance. Sesekali juga party di kelab malam, demi meluruhkan kesumpekan pikiran karena pekerjaan.
“Lagi pula, gaya hidup elite seperti ngopi Rp50 ribu kalau dituruti terus-menerus nggak sepadan dengan gajiku (Rp5,5 juta),” kata Jaya. Karena harus dibagi untuk kos, kebutuhan sehari-hari, menabung untuk diri sendiri, dan mengirim sebagian untuk orang tua di rumah.
“Aku nggak kenal apa itu Work Life Balance. Walaupun pengin juga. Tapi di dunia yang menuntut apa-apa serba uang ini, sepertinya harus mengorbankan kemungkinan Work Life Balance buat survive,” sambungnya.
Sama seperti sejumlah pekerja di Jakarta yang pernah saya wawancara, Jaya pun mengambil pekerjaan sampingan (side hustle): desain logo untuk sejumlah instansi atau event tertentu. Selain juga menerima jenis desain lain.
Adu produktif usai ngopi di kopi starling vs coffee shop Jakarta Selatan (Jaksel)
Tidak hanya nongkrong-nongkrong. Ajakan ngopi di coffee shop di Kebayoran Baru, Jaksel, sering juga dengan alasan Work from Cafe (WFC): mengerjakan lemburan atau deadline side hustle dari coffee shop.
Beberapa teman Jaya mengaku bisa lebih produktif dengan WFC, karena merasa mendapat suntikan energi dari kopi-kopi seharga Rp50 ribu yang katanya sangat nikmat. Selain itu juga, katanya, didukung oleh suasana coffee shop tertentu yang memang didesain untuk WFC.
“Ngopi di starling memang nggak bisa sambil buka laptop. Tapi begini, aku ngopi, tarik napas sejenak, ngumpulin energi yang habis terkuras di kantor. Setelah itu, pas pulang ke kosan, energiku untuk buka laptop ngerjain lemburan atau side hustle-ku udah kekumpul,” beber Jaya. “Sama-sama produktif, cuma beda di harga kopi aja.”
Tiap duduk di trotoar sembari menyesap kopi starling di gelas plastik, ada banyak hal beradu dalam pikiran Jaya. Mulanya adalah keluh kesah dan rasa lelah. Mulanya adalah perasaan ingin menjalani hidup dengan Work Life Balance.
Namun, tidak lama setelahnya, ia disadarkan pada kenyataan bahwa perannya di keluarga memang harus bekerja keras. Sehingga tidak ada alasan untuk malas atau hanya menggerutu. Menggerutu toh tidak lantas membuat finansialnya berubah lebih terjamin.
Sumber kekuatan semua kalangan, tidak hanya pekerja kantoran Jakarta Selatan (Jaksel)
Kopi starling tidak hanya menjadi sumber kekuatan dan ruang jeda bagi pekerja-pekerja kantoran di Jaksel, tapi bagi semua kalangan.
Sejak Selasa pagi (12/5/2026), ketika saya baru turun dari kereta di Stasiun Pasar Senen dan bergerak menuju Kebayoran Baru, pemandangan di jalan menunjukkan betapa magis kopi starling yang penjualnya adalah orang Madura itu. Driver ojek online (ojol), tukang kebersihan, hingga kuli proyek, memulai aktivitas dan menjeda aktivitas dengan pesan segelas kopi plastik seharga Rp5 ribu itu.
Selain itu, di depan sejumlah perkantoran, saya mendapati kopi dorong keliling juga banyak diserbu terutama oleh karyawan kantor berbusana kasual.
Malam harinya, ketika saya menunggu kereta keberangkatan Jakarta-Jogja di Stasiun Gambir, yang tersaji pun pemandangan serupa.
Di depan stasiun, banyak kopi starling berjejer. Tidak henti-henti para porter stasiun, karyawan minimarket di dalam stasiun, sopir taksi, hingga driver ojol yang baru mengantar penumpang, memilih memesan segelas kopi, duduk sembari nyebat, sebelum kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing.
“Jadi kalau di kalangan ojol itu sampai ada slogan begini: Akan kuhadapi kerasnya Jakarta, tapi ngopi Kapal Api dulu,” begitu seloroh seorang penjual kopi starling di Stasiun Gambir dengan logat Madura saat saya katakan: betapa mereka (para penjual kopi starling) menjadi oase bagi para pekerja keras di Ibu Kota.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Blok M dan Jakarta Selatan Aslinya Banyak Jamet tapi Dianggap Keren, Kalau Orang Kabupaten dan Jawa Eh Dihina-hina atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
