Keputusan Trisna (31) untuk berhenti kerja di Jakarta dan pulang kampung tidak disambut baik oleh semua orang. Di desanya, banyak tetangga dan teman yang mempertanyakan keputusannya mencari kerja di dekat rumah saja.
Bagi kebanyakan orang desa, termasuk rekan-rekan Trisna, merantau ke Jakarta masih dianggap sebagai jalan paling masuk akal untuk sukses.
Apalagi usia Trisna sudah menginjak 31 tahun. Di pandangan orang umum, itu adalah usia yang sudah matang untuk mengumpulkan uang, menata masa depan, dan memikirkan biaya menikah.
“Jadi ya aku pulang itu malah dianggap kemunduran,” kata Trisna, Senin (5/10/2026). “Tapi ya aku menanggapi omongan miring santai saja, cuek. Meskipun awal-awal dulu terasa jadi beban pikiran.”
Kerja di Jakarta tapi gaji pas-pasan
Tiga tahun bekerja di Jakarta membuat Trisna sadar kalau cerita soal enaknya merantau tidak berlaku untuk semua orang. Menurutnya, kerja di Jakarta memang enak, asalkan gajinya jauh di atas UMR.
“Tapi kalau pas-pasan, atau malah di bawah standard, ya cuma bakal habis buat bertahan hidup,” tegasnya.
Pada tahun pertamanya bekerja di ibu kota, Trisna mendapat upah sekitar empat juta rupiah. Angka itu masih di bawah UMR Jakarta pada saat itu.
Memasuki tahun kedua, ia baru bisa merasakan gaji UMR. Sayangnya, kenaikan upah itu tidak otomatis membuat hidupnya tenang dan sejahtera.
Uang itu habis begitu saja setiap bulan. Kebutuhan hariannya sangat banyak. Ia harus membayar sewa kos, mengeluarkan ongkos transportasi harian, dan membeli makan.
“Belum lagi kalau ada kebutuhan mendadak dari keluarga di kampung. Boro-boro bisa menabung untuk persiapan masa depan, menyisakan uang di akhir bulan saja susahnya minta ampun.”
Mojok sendiri beberapa kali membuat liputan tentang kerasnya hidup pekerja ibu kota. Termasuk yang saya tulis sendiri. Misalnya:
- Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
- Jakarta Tak Cocok bagi Fresh Graduate yang Cuma “Pengen Cari Pengalaman”
- Kerja Mentereng di SCBD Jakarta tapi Tiap Hari Menangis di KRL, dan masih banyak lagi.
Alhasil, saya sangat memahami kondisi Trisna. Nasib pekerja dengan gaji pas-pasan di Jakarta memang sering kali sama. Gajinya sekadar lewat. Jangankan menabung, bisa hidup wajar tanpa terjerat pinjol saja sudah bagus.
Memilih menyerah pada ibu kota
Kerja di Jakarta dengan rutinitas yang begitu-gitu saja membuat Trisna merasa hidupnya tidak berkembang. Ia lelah. Ia akhirnya keluar dari pekerjaannya dan mencoba peruntungan di kota yang biaya hidupnya lebih murah, seperti Salatiga dan Solo.
Dalam kondisi bingung, ia bahkan sempat berpikir untuk menjadi TKI ke luar negeri demi mendapat penghasilan yang lebih besar. Namun, niat itu ia batalkan karena merasa tidak punya cukup keberanian.
“Kerja ke luar pulau aja mikir berkali-kali. Kalau mau ke luar negeri, kayaknya belum berani nekat sih,” ujarnya.
Jalan keluar justru muncul dari obrolan sederhana. Suatu hari ia mengobrol dengan salah satu saudara jauhnya yang baru saja menikah. Saudaranya itu bekerja di dekat rumah, dan Trisna iseng bertanya apakah di sana ada lowongan pekerjaan.
Ternyata ada. Trisna pun melamar ke tempat pemotongan ayam di dekat kampungnya, daerah Jawa Tengah. Ia langsung diterima.
Ia bercerita, tempat kerja barunya ini sangat dekat, hanya butuh waktu 15 menit dari rumah.
Gaji kecil tapi cukup, lebih enak daripada kerja di Jakarta
Bekerja di pemotongan ayam tentu membuat pendapatannya turun drastis. Gaji pokok Trisna di sana cuma Rp80 ribu rupiah sehari.
Kalau dihitung dengan hari kerja normal sebanyak 20 hari dalam sebulan, ia hanya mendapat gaji pokok Rp1,6 juta rupiah.
Tentu saja ada tambahan lain. Setiap bulan selalu ada alokasi bonus dan uang lembur. Tapi kalau ditotal semua, upah paling tinggi yang bisa ia terima hanya sekitar 2,5 juta rupiah.
Gaji pokok harian ini nilainya jauh lebih kecil dibanding UMR Jakarta yang dulu ia terima. Anehnya, ia justru merasa sangat menikmati penghasilan yang kecil ini.
Menikmati hidup yang lebih lambat
Keputusan pulang kampung membuat Trisna menemukan kembali hal-hal yang hilang saat ia merantau. Di Jakarta, ia hidup jauh dari orang tua, berjarak dengan saudara, dan kehilangan interaksi dengan tetangga.
“Di desa, bisa slow living sih,” kata Trisna.
Gajinya memang kecil, tapi uang itu terasa utuh. Ia tidak perlu lagi membayar sewa kamar karena tinggal di rumah keluarga. Untuk urusan makan, tempat kerjanya sudah menyediakan jatah makan siang.
Pengeluarannya setiap bulan praktis hanya untuk membeli bensin dan jajan seadanya. Tidak ada lagi biaya-biaya besar yang membebani pikirannya.
Trisna menyadari, baik saat kerja di Jakarta maupun di desa, ia sama-sama kesulitan menabung dalam jumlah banyak. Namun, bagi dia, kehidupan di desa terasa lebih bermakna.
Soal keuangan, ia malah merasa jauh lebih aman karena pengeluarannya sangat minim. Walaupun ia sadar betul, kenyamanan hidup di kampung seperti yang ia rasakan mungkin tidak bisa didapatkan oleh semua perantau.
“Ini pilihan hidup sih. Mungkin ada yang sepakat, ada yang nggak sepakat. Cuma aku merasanya lebih nyaman di desa,” pungkasnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Real Hidup Slow Living dan Frugal Living di Delanggu Klaten, Kebutuhan Pangan Ditopang dari Sawah dan Kebun atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan