Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Shofiatunnisa Azizah oleh Shofiatunnisa Azizah
9 Februari 2026
A A
Sinefil.MOJOK.co

Ilustrasi - Kenapa Sinefil Nggak Mau Disebut Sinefil? (Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

“Saya bukan sinefil ya, saya pecinta film biasa saja,” ini saya dengarkan langsung dalam salah satu kelas penulisan kritik film yang diampu oleh Dosen Prodi Film Binus University, Ekky Imanjaya, digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki, hampir satu tahun yang lalu (10/5/2025).

Beberapa bulan kemudian, saya menyaksikan di depan mata, seorang mahasiswa mengklaim dirinya sebagai seorang sinefil. “Ya, saya kan sinefil,” katanya.

Terjadi di salah satu ruang perkuliahan Fisipol UGM, deklarasinya adalah untuk menegaskan posisinya yang terlibat aktif dalam perfilman, baik menyukai maupun memproduksi. Saya tidak tahu pasti seberapa besar kiprahnya, tetapi mengira-ngira bahwa takarannya tidak bisa lebih dari seseorang yang sudah berkecimpung dalam perfilman bertahun-tahun lamanya yang justru memilih untuk tidak dipanggil demikian.

Saya bertanya-tanya. Bukan hanya sejak hari itu, lalu mendengar orang lain mengklaim dirinya sinefil pada kesempatan berbeda. Pertanyaan saya mengenai istilah “sinefil” ini sudah ada sejak pertama kali mengetahuinya, tapi belum benar-benar terjawab.

“Si paling sinefil,” kata orang-orang yang sering saya dengar, di dunia maya ataupun nyata. 

Lalu, akan ada jawaban semacam, “Nggak,” dengan ekspresi cukup ogah-ogahan yang disiratkan. Seakan-akan menunjukkan bahwa sinefil bukan sanjungan, tetapi sebaliknya: sebuah ejekan. 

Padahal, sinefil secara literal bermakna cinta

Mencoba menelusuri maknanya, sinefili (sinefil), dalam KBBI, diartikan sebagai pecinta film. Mereka sangat tertarik dan antusias terhadap film sebagai bentuk seni dan memiliki pengetahuan yang luas tentang film. Situs komunitas Cinejourneys menyederhanakannya dalam makna mencintai film lebih dari sekadar menontonnya. 

“Sinefil sebenarnya kan pecinta film. Film fans, film lover, atau film enthusiast. Jadi, orang ada kecintaan atau gairah passion-nya terhadap film,” kata Ekky Imanjaya yang juga menjabat sebagai anggota Komite DKJ kepada Mojok, Kamis (5/2/2026).

Menurut Ekky, cinta terhadap film adalah sesuatu yang bernilai positif. Kecintaan penggemar film dinilai dapat mendorong perkembangan film dan industrinya. Namun, di lain sisi, penggemar juga dapat mereduksi nilainya sendiri dalam beberapa kasus.

Negatifnya sinefil, saling menjelekkan seakan lumrah

“Sebagai sinefil, sah-sah aja kalau saling membanggakan sama kayak kolektor bangga bahwa dia punya koleksi, punya kegemaran yang niche, yang nggak mainstream, yang di atas rata-rata. Itu sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar aja, cuma memang sebagaimana fans lainnya ada sisi-sisi negatif,” kata Ekky.

Sebelumnya, Ekky mencoba menjelaskan sinefil dari sudut pandang penggemar yang termaktub dalam teori cultural studies. Di antaranya hadirlah golongan die hard fan atau militan. Penggemar juga disebut mempunyai otoritasnya sendiri terkait wawasan terhadap film yang disukai. Sebab, dia tidak berjarak terhadap karya tersebut apabila dibandingkan dengan pengkaji yang tidak terlalu mendalaminya.

Profesor Film dan Media di Universitas Huddersfield, Matt Hills, dalam bukunya yang berjudul Fan Cultures, menjelaskan, penggemar acap kali memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang suatu subjek dibandingkan penciptanya sehingga dianggap sebagai audiens aktif. 

Pengalaman penggemar berada di antara dua sisi kontradiktif dialektika nilai, yakni keterikatan emosional pribadi dan konstruksi sosial dalam komunitas. Kemungkinan militansi sinefil sebagai penggemar muncul dari kebutuhan untuk menjustifikasi diri atas keterikatannya.

“Fans itu punya otoritasnya sendiri terkait dengan wawasan atau pengetahuan terhadap film atau hal yang disukainya karena dia tidak berjarak dibandingkan dengan, misalnya, pengkaji film atau kritikus yang tidak terlalu suka horor, tapi dia ngomong soal horor. (Kedekatan) itu beda dengan orang yang sudah di sana, yang memang benar-benar suka dengan film-film horor,” terangnya.

Iklan

Namun sebagaimana adanya kedekatan acap kali menimbulkan sentimen khusus, hal ini juga tidak terhindarkan dari penggemar film yang menyebut dirinya sebagai sinefil. Kebanggaan terhadap sesuatu yang diketahuinya memunculkan sisi “si paling sinefil” atau yang menganggap dirinya lebih tahu, bahkan lebih baik. 

Ekky mengakui, inilah sisi negatif dari eksistensi sinefil itu. Rasa unggul terhadap film yang digemari tidak jarang mendorong mereka menjelekkan sesuatu yang tidak dianggap sesuai dengan preferensinya.

“Sisi negatif ini, misalnya, merasa dirinya si paling fans, si paling sinefil, sedemikian rupa sehingga merendahkan selera orang atau menjelek-jelekan selera orang atau sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan harapan atau ekspektasi sebelumnya,” kata Ekky.

Fenomena lama, dipahami sebagai politik selera

Menarik sedikit lebih jauh fenomena sinefil, Ekky merujuk pada disertasinya. Lulusan doktor dari Film Studies: School of Arts, Media and American Studies di University of East Anglia ini mengatakan, sinefil sudah ada sejak lama.

Dahulu, istilah ini terwujud dalam politik selera. Adanya elit budaya yang merumuskan film Indonesia pada tahun 80-an sampai 90-an sehingga membentuk wajah sinema Indonesia, termasuk selera pasarnya dapat tergolong sebagai sinefil dalam terminologi kontemporer.

“Sinefil ini terkait erat dengan politik selera. Kalau zaman dulu ada selera adiluhung atau selera tinggi, selera rendah, kelas A, kelas B, sehingga ada kecenderungan dari zaman dulu pengkastaan,” kata Ekky.

Hal ini, ujarnya, tidak hanya terjadi dalam dunia sinema. Ekky mengumpamakan, industri musik mempunyai tingkatan-tingkatan yang lebih jelas. Misalnya, ada penggemar musik pop yang dinilai lebih tinggi daripada musik dangdut, atau penggemar musik bergenre rock yang merasa lebih baik dari pop. Ini sudah lama melekat di budaya penggemar.

Asalkan nggak songong, jadi sinefil boleh saja

Eksistensi sinefil sebagai bagian penggemar membuatnya menjadi sah-sah saja. Klaim terhadap diri sendiri juga tidak dinilai melanggar aturan apa pun. Belum lagi, perkembangan kultur penggemar film saat ini membuat besaran cinta yang ditunjukkan terhadap film dapat diakses dan diukur.

“Sebenarnya sah-sah saja kalau sinefil mengklaim dirinya si paling pecinta film karena, misalnya, dibuktikan dengan berapa banyak dia nonton,” kata Ekky.

Yang digarisbawahi adalah lagak sinefil yang cukup menyebalkan. Dalam memahami ini, perdebatan sebagai “si paling sinefil” itu adalah gambaran paling dekat melihat komunitas penggemar saling terbentur dalam preferensi yang tidak juga harus sama. Cap sinefil selanjutnya menimbulkan kegetiran tersendiri bagi sebagian orang. Sebab, takut dinilai merupakan bagian dari mereka yang terkesan menghakimi selera personal.

Dampaknya pernah saya saksikan langsung dalam suatu festival film. Orang-orang yang menghadirinya memperdebatkan mengenai harus membeli atau tidak membeli merchandise dengan pertimbangan tambahan di luar harga dan fungsi, yakni labelisasi.

“Mau beli jaket ini, terlalu sinefil nggak sih?”

“Iya ya, keren. Tapi, sinefil banget.”

“Kalau pakai topi ini dikatain sinefil nggak, ya?”

Situasi ini menunjukkan tidak sehatnya sinefil yang mencapai ketidakinginan seseorang dijuluki sebagai salah satunya. Pasalnya, konotasi sinefil cenderung buruk. Perilaku tinggi diri mereka secara lebih jauh bahkan dapat berdampak pada ekosistem film. Alasannya, sikap semacam ini menimbulkan perdebatan dalam ruang literasi dan apresiasi film itu sendiri.

“Kalau di film mainstream pada akhirnya kalau sudah merasa paling benar, paling keren, si paling pecinta film, si paling sinefil itu menyebabkan dia merendahkan orang lain. Itu menurut saya tidak sehat. (Perilaku) itu sama kayak di agama, sudah saling menghormati saja kalau dia tidak suka, tapi jangan sampai berlebihan sehingga sampai berantem-berantem,” terangnya.

“Semua fans, mau itu mendalami (film), mau itu pecinta (film) mainstream, semua sama berhak untuk hidup dan mencintai apa yang dia cintai. Kenapa harus diserang-serang?” Ekky menambahkan.

Jadilah memahaminya, arogansi yang berdampingan bersama klaim sebagai sinefil perlu disingkirkan. Mau sinefil mau bukan, melecehkan selera yang berbeda seolah si paling “punya selera” nggak bisa dilihat sebagai suatu kebanggaan.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

 

Terakhir diperbarui pada 9 Februari 2026 oleh

Tags: budaya penggemarfan warFilmfilm indonesiapecinta filmpenggemar militanpilihan redaksisinefilsinema
Shofiatunnisa Azizah

Shofiatunnisa Azizah

Artikel Terkait

Parijoto, pecel pakis, hingga lalapan kelor. Khazanah kuliner di Desa Colo yang erat dengan dakwah Sunan Muria MOJOK.CO
Lipsus

Rasa Sanga (2): Sajian Parijoto, Pecel Pakis, dan Lalapan Kelor di Desa Colo yang Erat dengan “Syiar Alam” Sunan Muria

27 Februari 2026
Gen Z photobox di Tugu Jogja
Urban

Gen Z Jogja Rela Antre buat “Ibadah” Photobox di Tugu, Pilih Tahan Kantuk setelah Sahur karena FOMO

27 Februari 2026
KIP Kuliah di Jogja.MOJOK.CO
Edumojok

Ironi Penerima KIP Kuliah di Jogja: Uang Beasiswa Habis Buat Bayar Utang Keluarga, Rela Makan Rp20 Ribu per Hari Demi Tak Putus Kuliah

27 Februari 2026
UMR Jakarta, merantau ke jakarta, kerja di jakarta.MOJOK.CO
Urban

Modal Ijazah S1, Nekat Adu Nasib ke Jakarta: Sudah Bikin Syukuran karena Keterima Kerja, Perusahaan Malah Bubar padahal Gaji Pertama Belum Turun

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bukber, ASN, kantor.MOJOK.CO

Ikut Bukber Kantor di Acara ASN Itu Bikin Muak: Isinya Orang Cringe dan Seksis yang Bikin Risih, tapi “Haram” Buat Ditolak

22 Februari 2026
Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi MOJOK.CO

Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi

26 Februari 2026
Muhammadiyah selamatkan saya dari tabiat buruk orang NU. MOJOK.CO

Saya Bukan Muhammadiyah atau NU, tapi Pilih Tinggal di Lingkungan Ormas Bercorak Biru agar Terhindar dari Tetangga Toxic

25 Februari 2026
Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Honda Scoopy, Motor Busuk yang Bikin Konsumen Setia Kecewa (Wikimedia Commons)

Karena Cinta dan Setia, Rela Membeli 11 Motor Honda tapi Berakhir Kecewa karena Honda Scoopy Hanya Jual Tampang tapi Mesinnya Menyedihkan

25 Februari 2026
Yang paling berat dari mudik lebaran ke kampung halaman bukan pertanyaan kapan nikah atau dibandingkan di momen halal bihalal reuni keluarga, tapi menyadari orang tua makin renta dan apa yang terjadi setelahnya MOJOK.CO

Hal Paling Berat dari Mudik Bukan Pertanyaan atau Dibandingkan di Reuni Keluarga, Tapi Ortu Makin Renta dan Situasi Setelahnya

27 Februari 2026

Video Terbaru

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

Prof. Al Makin: Filsafat sebagai Seni Bertanya dan Jalan Melawan Kemiskinan Nalar

25 Februari 2026
Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

Konservasi Muria: Menjaga Hutan Tanpa Memiskinkan Warga

23 Februari 2026
Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

Zine Subversif: Ar Risalah dan Masjid yang Pernah Ditakuti Negara

21 Februari 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.