“Saya bukan sinefil ya, saya pecinta film biasa saja,” ini saya dengarkan langsung dalam salah satu kelas penulisan kritik film yang diampu oleh Dosen Prodi Film Binus University, Ekky Imanjaya, digelar Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki, hampir satu tahun yang lalu (10/5/2025).
Beberapa bulan kemudian, saya menyaksikan di depan mata, seorang mahasiswa mengklaim dirinya sebagai seorang sinefil. “Ya, saya kan sinefil,” katanya.
Terjadi di salah satu ruang perkuliahan Fisipol UGM, deklarasinya adalah untuk menegaskan posisinya yang terlibat aktif dalam perfilman, baik menyukai maupun memproduksi. Saya tidak tahu pasti seberapa besar kiprahnya, tetapi mengira-ngira bahwa takarannya tidak bisa lebih dari seseorang yang sudah berkecimpung dalam perfilman bertahun-tahun lamanya yang justru memilih untuk tidak dipanggil demikian.
Saya bertanya-tanya. Bukan hanya sejak hari itu, lalu mendengar orang lain mengklaim dirinya sinefil pada kesempatan berbeda. Pertanyaan saya mengenai istilah “sinefil” ini sudah ada sejak pertama kali mengetahuinya, tapi belum benar-benar terjawab.
“Si paling sinefil,” kata orang-orang yang sering saya dengar, di dunia maya ataupun nyata.
Lalu, akan ada jawaban semacam, “Nggak,” dengan ekspresi cukup ogah-ogahan yang disiratkan. Seakan-akan menunjukkan bahwa sinefil bukan sanjungan, tetapi sebaliknya: sebuah ejekan.
Padahal, sinefil secara literal bermakna cinta
Mencoba menelusuri maknanya, sinefili (sinefil), dalam KBBI, diartikan sebagai pecinta film. Mereka sangat tertarik dan antusias terhadap film sebagai bentuk seni dan memiliki pengetahuan yang luas tentang film. Situs komunitas Cinejourneys menyederhanakannya dalam makna mencintai film lebih dari sekadar menontonnya.
“Sinefil sebenarnya kan pecinta film. Film fans, film lover, atau film enthusiast. Jadi, orang ada kecintaan atau gairah passion-nya terhadap film,” kata Ekky Imanjaya yang juga menjabat sebagai anggota Komite DKJ kepada Mojok, Kamis (5/2/2026).
Menurut Ekky, cinta terhadap film adalah sesuatu yang bernilai positif. Kecintaan penggemar film dinilai dapat mendorong perkembangan film dan industrinya. Namun, di lain sisi, penggemar juga dapat mereduksi nilainya sendiri dalam beberapa kasus.
Negatifnya sinefil, saling menjelekkan seakan lumrah
“Sebagai sinefil, sah-sah aja kalau saling membanggakan sama kayak kolektor bangga bahwa dia punya koleksi, punya kegemaran yang niche, yang nggak mainstream, yang di atas rata-rata. Itu sesuatu yang sebenarnya wajar-wajar aja, cuma memang sebagaimana fans lainnya ada sisi-sisi negatif,” kata Ekky.
Sebelumnya, Ekky mencoba menjelaskan sinefil dari sudut pandang penggemar yang termaktub dalam teori cultural studies. Di antaranya hadirlah golongan die hard fan atau militan. Penggemar juga disebut mempunyai otoritasnya sendiri terkait wawasan terhadap film yang disukai. Sebab, dia tidak berjarak terhadap karya tersebut apabila dibandingkan dengan pengkaji yang tidak terlalu mendalaminya.
Profesor Film dan Media di Universitas Huddersfield, Matt Hills, dalam bukunya yang berjudul Fan Cultures, menjelaskan, penggemar acap kali memiliki pengetahuan yang lebih mendalam tentang suatu subjek dibandingkan penciptanya sehingga dianggap sebagai audiens aktif.
Pengalaman penggemar berada di antara dua sisi kontradiktif dialektika nilai, yakni keterikatan emosional pribadi dan konstruksi sosial dalam komunitas. Kemungkinan militansi sinefil sebagai penggemar muncul dari kebutuhan untuk menjustifikasi diri atas keterikatannya.
“Fans itu punya otoritasnya sendiri terkait dengan wawasan atau pengetahuan terhadap film atau hal yang disukainya karena dia tidak berjarak dibandingkan dengan, misalnya, pengkaji film atau kritikus yang tidak terlalu suka horor, tapi dia ngomong soal horor. (Kedekatan) itu beda dengan orang yang sudah di sana, yang memang benar-benar suka dengan film-film horor,” terangnya.
Namun sebagaimana adanya kedekatan acap kali menimbulkan sentimen khusus, hal ini juga tidak terhindarkan dari penggemar film yang menyebut dirinya sebagai sinefil. Kebanggaan terhadap sesuatu yang diketahuinya memunculkan sisi “si paling sinefil” atau yang menganggap dirinya lebih tahu, bahkan lebih baik.
Ekky mengakui, inilah sisi negatif dari eksistensi sinefil itu. Rasa unggul terhadap film yang digemari tidak jarang mendorong mereka menjelekkan sesuatu yang tidak dianggap sesuai dengan preferensinya.
“Sisi negatif ini, misalnya, merasa dirinya si paling fans, si paling sinefil, sedemikian rupa sehingga merendahkan selera orang atau menjelek-jelekan selera orang atau sesuatu yang dianggapnya tidak sesuai dengan harapan atau ekspektasi sebelumnya,” kata Ekky.
Fenomena lama, dipahami sebagai politik selera
Menarik sedikit lebih jauh fenomena sinefil, Ekky merujuk pada disertasinya. Lulusan doktor dari Film Studies: School of Arts, Media and American Studies di University of East Anglia ini mengatakan, sinefil sudah ada sejak lama.
Dahulu, istilah ini terwujud dalam politik selera. Adanya elit budaya yang merumuskan film Indonesia pada tahun 80-an sampai 90-an sehingga membentuk wajah sinema Indonesia, termasuk selera pasarnya dapat tergolong sebagai sinefil dalam terminologi kontemporer.
“Sinefil ini terkait erat dengan politik selera. Kalau zaman dulu ada selera adiluhung atau selera tinggi, selera rendah, kelas A, kelas B, sehingga ada kecenderungan dari zaman dulu pengkastaan,” kata Ekky.
Hal ini, ujarnya, tidak hanya terjadi dalam dunia sinema. Ekky mengumpamakan, industri musik mempunyai tingkatan-tingkatan yang lebih jelas. Misalnya, ada penggemar musik pop yang dinilai lebih tinggi daripada musik dangdut, atau penggemar musik bergenre rock yang merasa lebih baik dari pop. Ini sudah lama melekat di budaya penggemar.
Asalkan nggak songong, jadi sinefil boleh saja
Eksistensi sinefil sebagai bagian penggemar membuatnya menjadi sah-sah saja. Klaim terhadap diri sendiri juga tidak dinilai melanggar aturan apa pun. Belum lagi, perkembangan kultur penggemar film saat ini membuat besaran cinta yang ditunjukkan terhadap film dapat diakses dan diukur.
“Sebenarnya sah-sah saja kalau sinefil mengklaim dirinya si paling pecinta film karena, misalnya, dibuktikan dengan berapa banyak dia nonton,” kata Ekky.
Yang digarisbawahi adalah lagak sinefil yang cukup menyebalkan. Dalam memahami ini, perdebatan sebagai “si paling sinefil” itu adalah gambaran paling dekat melihat komunitas penggemar saling terbentur dalam preferensi yang tidak juga harus sama. Cap sinefil selanjutnya menimbulkan kegetiran tersendiri bagi sebagian orang. Sebab, takut dinilai merupakan bagian dari mereka yang terkesan menghakimi selera personal.
Dampaknya pernah saya saksikan langsung dalam suatu festival film. Orang-orang yang menghadirinya memperdebatkan mengenai harus membeli atau tidak membeli merchandise dengan pertimbangan tambahan di luar harga dan fungsi, yakni labelisasi.
“Mau beli jaket ini, terlalu sinefil nggak sih?”
“Iya ya, keren. Tapi, sinefil banget.”
“Kalau pakai topi ini dikatain sinefil nggak, ya?”
Situasi ini menunjukkan tidak sehatnya sinefil yang mencapai ketidakinginan seseorang dijuluki sebagai salah satunya. Pasalnya, konotasi sinefil cenderung buruk. Perilaku tinggi diri mereka secara lebih jauh bahkan dapat berdampak pada ekosistem film. Alasannya, sikap semacam ini menimbulkan perdebatan dalam ruang literasi dan apresiasi film itu sendiri.
“Kalau di film mainstream pada akhirnya kalau sudah merasa paling benar, paling keren, si paling pecinta film, si paling sinefil itu menyebabkan dia merendahkan orang lain. Itu menurut saya tidak sehat. (Perilaku) itu sama kayak di agama, sudah saling menghormati saja kalau dia tidak suka, tapi jangan sampai berlebihan sehingga sampai berantem-berantem,” terangnya.
“Semua fans, mau itu mendalami (film), mau itu pecinta (film) mainstream, semua sama berhak untuk hidup dan mencintai apa yang dia cintai. Kenapa harus diserang-serang?” Ekky menambahkan.
Jadilah memahaminya, arogansi yang berdampingan bersama klaim sebagai sinefil perlu disingkirkan. Mau sinefil mau bukan, melecehkan selera yang berbeda seolah si paling “punya selera” nggak bisa dilihat sebagai suatu kebanggaan.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”: KDRT Tidak Selalu Datang dari Kekerasan, tapi Juga Lewat Ketidakpedulian atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan













