Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Ilustrasi - Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Memasuki era serba validasi sekaligus penuh dengan tuntutan sosial dan gengsi, banyak orang terutama di kalangan kelas menengah  berlomba-lomba tampak “menghambur-hamburkan” uang yang dipunya demi terlihat kaya dan sukses. Padahal aslinya hidup dalam kerapuhan karena persoalan tabungan. 

***

Sialnya, kita hidup di tengah situasi merepotkan, ketika standar sukses berarti harus berdompet tebal (menjadi orang kaya). Kalau tidak mampu menunjukkannya, alamat direndahkan—bahkan di lingkaran keluarga sendiri—karena dianggap gagal. 

Alhasil, banyak orang mengaku ogah berada di tengah keluarga dan lingkungan asalnya (dalam konteks Idulfitri: ogah mudik lebaran dan kumpul keluarga). Karena ujung-ujungnya selalu dicecar soal pencapaian

Selain itu, ada pula yang mencoba agak terlihat sebagai orang kaya: tidak pikir panjang kalau meloloskan uang sekalipun untuk konsumsi tidak produktif (bukan untuk kebutuhan primer). Setidaknya dengan begitu tidak dicap gagal, karena terjerat tuntutan sosial dan gengsi. 

Gara-gara standar medsos, kelas menengah kejar pengakuan sebagai orang kaya dan sukses 

Saat ini, memang banyak orang hidup dalam standar sukses ala media sosial (disebut sukses kalau kaya, punya aset/uang banyak). Karena media sosial kerap menampilkan standar gaya hidup mulai dari liburan, restoran mahal, hingga barang bermerek yang kemudian dijadikan tolok ukur kesuksesan. 

Menurut Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Tanti Novianti, kondisi tersebut memunculkan demonstration effect. Yaitu kecenderungan seseorang meniru gaya hidup kelompok lain yang mereka lihat lebih sukses atau lebih tinggi statusnya.

Alhasil, banyak orang berlomba-lomba dalam menampakkan pola konsumsi mereka. Karena dari situlah mereka akan mendapat pengakuan sosial. 

“Hal ini sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen. Yakni saat konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi cara menunjukkan status sosial, kekayaan, atau prestise,” begitu penjelasan Tanti dalam paparan tertulisnya di laman resmi IPB University

Terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu, padahal dompet menjerit 

Pada akhirnya banyak orang, terutama di kalangan kelas menengah, terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu. Atau dalam istilah yang belakangan ramai diperbincangkan: fake rich middle class. 

Tanti menjelaskan, orang kaya palsu ini adalah kelompok masyarakat yang secara kasat mata terlihat mapan secara gaya hidup (sesuai standar sukses). 

Mereka mampu memiliki gawai terbaru, sering berlibur, atau aktif mengunjungi kafe dan pusat perbelanjaan. Ya wajar saja jika data menyebut adanya peningkatan daya beli masyarakat Indonesia. 

Akan tetapi, realitasnya mereka sebenarnya memiliki ketahanan finansial yang lemah karena minim tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan. Sampai-sampai muncul proyeksi kalau 10 tahun nanti, akan ada ratusan WNI yang menua dalam keadaan miskin, seperti dalam tulisan, “Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara“.

Tanti mengakui, tuntutan sosial dan gengsi atas standar hidup sukses memang bukan satu-satunya faktor. Selain itu ada juga faktor pertumbuhan ekonomi. Lengkap sudah dorongan untuk menjadi orang kaya palsu: mengutamakan konsumsi dibandingkan pembentukan aset.

“Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan,” ujar Tanti. Hanya saja tidak diikuti dengan kesadaran bahwa mereka butuh jaring pengaman di masa tua. 

“Di sisi lain, akses terhadap kredit konsumsi seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay-later semakin mudah,” sambung Tanti.

Orang kaya palsu nggak mikirin tabungan?

Masalah lain di balik munculnya kelompok orang kaya palsu, kata Tanti, adalah rendahnya literasi keuangan.Banyak masyarakat belum memiliki pemahaman memadai mengenai pentingnya dana darurat, tabungan, pengelolaan utang, maupun investasi jangka menengah maupun jangka panjang.

“Tanpa tabungan, investasi, atau kepemilikan aset produktif, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan,” tegas Tanti. 

Meski kenyataan tidak sepenuhnya demikian. Mojok menemukan fakta bahwa sebenarnya tidak sedikit masyarakat yang sudah mulai menyadari pentingnya dana darurat atau investasi jangka panjang. Misalnya dengan menyiapkan tabungan likuid. 

Akan tetapi, realitas yang dihadapi oleh sebagian banyak masyarakat Indonesia: uang yang dikumpulkan dari kerja saja masih hanya cukup atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Susah sekali bagi mereka untuk memiliki tabungan, seperti diuraikan dalam tulisan, “Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup“.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: IPB University

BACA JUGA: Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version