Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Edumojok
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Urban

Gara-gara Tuntutan, Nekat Jadi Orang Kaya Palsu: “Hambur-hamburkan” Uang demi Cap Sukses padahal Dompet Menjerit

Muchamad Aly Reza oleh Muchamad Aly Reza
14 Maret 2026
A A
Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses MOJOK.CO

Ilustrasi - Tuntutan sosial dan gengsi bikin kelas menengah jadi orang kaya palsu hingga abaikan tabungan demi kejar standar sukses. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Memasuki era serba validasi sekaligus penuh dengan tuntutan sosial dan gengsi, banyak orang terutama di kalangan kelas menengah  berlomba-lomba tampak “menghambur-hamburkan” uang yang dipunya demi terlihat kaya dan sukses. Padahal aslinya hidup dalam kerapuhan karena persoalan tabungan. 

***

Sialnya, kita hidup di tengah situasi merepotkan, ketika standar sukses berarti harus berdompet tebal (menjadi orang kaya). Kalau tidak mampu menunjukkannya, alamat direndahkan—bahkan di lingkaran keluarga sendiri—karena dianggap gagal. 

Alhasil, banyak orang mengaku ogah berada di tengah keluarga dan lingkungan asalnya (dalam konteks Idulfitri: ogah mudik lebaran dan kumpul keluarga). Karena ujung-ujungnya selalu dicecar soal pencapaian. 

Selain itu, ada pula yang mencoba agak terlihat sebagai orang kaya: tidak pikir panjang kalau meloloskan uang sekalipun untuk konsumsi tidak produktif (bukan untuk kebutuhan primer). Setidaknya dengan begitu tidak dicap gagal, karena terjerat tuntutan sosial dan gengsi. 

Gara-gara standar medsos, kelas menengah kejar pengakuan sebagai orang kaya dan sukses 

Saat ini, memang banyak orang hidup dalam standar sukses ala media sosial (disebut sukses kalau kaya, punya aset/uang banyak). Karena media sosial kerap menampilkan standar gaya hidup mulai dari liburan, restoran mahal, hingga barang bermerek yang kemudian dijadikan tolok ukur kesuksesan. 

Menurut Dosen Sekolah Bisnis IPB University, Tanti Novianti, kondisi tersebut memunculkan demonstration effect. Yaitu kecenderungan seseorang meniru gaya hidup kelompok lain yang mereka lihat lebih sukses atau lebih tinggi statusnya.

Alhasil, banyak orang berlomba-lomba dalam menampakkan pola konsumsi mereka. Karena dari situlah mereka akan mendapat pengakuan sosial. 

“Hal ini sejalan dengan teori conspicuous consumption yang diperkenalkan oleh Thorstein Veblen. Yakni saat konsumsi tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan, tetapi juga menjadi cara menunjukkan status sosial, kekayaan, atau prestise,” begitu penjelasan Tanti dalam paparan tertulisnya di laman resmi IPB University. 

Terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu, padahal dompet menjerit 

Pada akhirnya banyak orang, terutama di kalangan kelas menengah, terjebak dalam pilihan menjadi orang kaya palsu. Atau dalam istilah yang belakangan ramai diperbincangkan: fake rich middle class. 

Tanti menjelaskan, orang kaya palsu ini adalah kelompok masyarakat yang secara kasat mata terlihat mapan secara gaya hidup (sesuai standar sukses). 

Mereka mampu memiliki gawai terbaru, sering berlibur, atau aktif mengunjungi kafe dan pusat perbelanjaan. Ya wajar saja jika data menyebut adanya peningkatan daya beli masyarakat Indonesia. 

Akan tetapi, realitasnya mereka sebenarnya memiliki ketahanan finansial yang lemah karena minim tabungan, investasi, dan perlindungan keuangan. Sampai-sampai muncul proyeksi kalau 10 tahun nanti, akan ada ratusan WNI yang menua dalam keadaan miskin, seperti dalam tulisan, “Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara“.

Tanti mengakui, tuntutan sosial dan gengsi atas standar hidup sukses memang bukan satu-satunya faktor. Selain itu ada juga faktor pertumbuhan ekonomi. Lengkap sudah dorongan untuk menjadi orang kaya palsu: mengutamakan konsumsi dibandingkan pembentukan aset.

Iklan

“Ketika pendapatan meningkat, banyak rumah tangga mengalami lifestyle inflation, yaitu peningkatan standar hidup yang mengikuti kenaikan pendapatan,” ujar Tanti. Hanya saja tidak diikuti dengan kesadaran bahwa mereka butuh jaring pengaman di masa tua. 

“Di sisi lain, akses terhadap kredit konsumsi seperti kartu kredit, cicilan kendaraan, hingga layanan pay-later semakin mudah,” sambung Tanti.

Orang kaya palsu nggak mikirin tabungan?

Masalah lain di balik munculnya kelompok orang kaya palsu, kata Tanti, adalah rendahnya literasi keuangan.Banyak masyarakat belum memiliki pemahaman memadai mengenai pentingnya dana darurat, tabungan, pengelolaan utang, maupun investasi jangka menengah maupun jangka panjang.

“Tanpa tabungan, investasi, atau kepemilikan aset produktif, peningkatan pendapatan tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan yang berkelanjutan,” tegas Tanti. 

Meski kenyataan tidak sepenuhnya demikian. Mojok menemukan fakta bahwa sebenarnya tidak sedikit masyarakat yang sudah mulai menyadari pentingnya dana darurat atau investasi jangka panjang. Misalnya dengan menyiapkan tabungan likuid. 

Akan tetapi, realitas yang dihadapi oleh sebagian banyak masyarakat Indonesia: uang yang dikumpulkan dari kerja saja masih hanya cukup atau bahkan kurang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Susah sekali bagi mereka untuk memiliki tabungan, seperti diuraikan dalam tulisan, “Punya Tabungan Likuid untuk Jaga-jaga PHK Memang Penting, Tapi Banyak Pekerja RI Tak Sanggup karena Realitas Hidup“.

Penulis: Muchamad Aly Reza

Editor: Ahmad Effendi

Sumber: IPB University

BACA JUGA: Kumpul Keluarga Jadi Ajang Menambah “Dosa”: Dengar Saudara Flexing hingga Pura-pura Sukses agar Tidak Dihina Tetangga di Desa atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 14 Maret 2026 oleh

Tags: Kelas Menengahorang kayaorang kaya palsustandar suksestabungantuntutan sosial
Muchamad Aly Reza

Muchamad Aly Reza

Jurnalis Mojok.co asal Rembang, Jawa Tengah. Pernah belajar di S1 Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Banyak menulis isu sosial, keislaman dan spiritualitas, pendidikan kritis, dan realitas sehari-hari. Mengisi waktu dengan membaca buku, nonton film, dan traveling.

Artikel Terkait

Nasib selalu kalah kalau adu pencapaian untuk kejar standar sukses keluarga besar. Orientasinya karier mentereng dan gaji besar, usaha dan kerja mati-matian tidak dihargai MOJOK.CO
Urban

Nasib Selalu Kalah kalau Adu Pencapaian: Malu Gini-gini Aja, Sialnya Punya Keluarga Bajingan yang Tak Bakal Apresiasi Usaha

14 Maret 2026
Nasib ratusan juta WNI 10 tahun nanti: terancam tidak punya jaminan sekaligus tabungan di masa pensiun MOJOK.CO
Aktual

Nasib WNI 10 Tahun Lagi: Terancam Tua Miskin karena Tak Punya Jaminan untuk Tabungan Pensiun dari Negara

11 Maret 2026
Mudik ke desa naik mobil pribadi Honda Brio, niat ikuti standar sukses dan pencapaian hidup tapi tetap dihina MOJOK.CO
Sehari-hari

Mudik ke Desa Naik Mobil Honda Brio Hasil Nabung karena Muak Dihina, Berharap Dicap Sukses Malah Makin Direndahkan

2 Maret 2026
Mudik ke desa pakai motor setelah bertahun-tahun merantau di kota seperti Jakarta jadi simbol perantau gagal MOJOK.CO
Urban

Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga

26 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Mudik Lebaran dengan pesawat

Saya Tidak Peduli Keluar Duit Lebih Banyak demi Tak Mengorbankan Kenyamanan, Pilih Mudik dengan Pesawat daripada Mode Apa Pun

11 Maret 2026
Cerita Felix. Kuliah di universitas Australia berkat beasiswa LPDP usai diejek dan ditertawakan. Tolak tawaran kerja dewan demi ajar anak-anak di kampung pedalaman MOJOK.CO

Lulusan Beasiswa Australia Tolak Tawaran Karier Mentereng, Lebih Pilih Jadi Guru Kampung karena Terbayang Masa Lalu

10 Maret 2026
Saya Orang Jogja yang Iri pada Klaten yang Keberadaannya Makin Diperhitungkan Mojok.co

Klaten Daerah Tertinggal yang Perlahan Berubah Menjadi Surga, Dulu Diremehkan dan Dianggap Kecil Kini Sukses Bikin Iri Warga Jogja

11 Maret 2026
Orang "Gagal" yang Dihina Hidupnya, Buktikan Bisa Lolos CPNS hingga PNS. MOJOK.CO

Dulu Kerap Dihina, Ditolak Kampus Top hingga Nyaris DO dan Beasiswa Dicabut, Kini Buktikan Bisa Lolos Seleksi CPNS

10 Maret 2026
Ilustrasi - Anak pertama dicap gagal.MOJOK.CO

Rela Hidup Miskin di Desa demi “Kebahagiaan” Adik-Adiknya di Kota, tapi Malah Dicap Pemalas dan Beban Keluarga

11 Maret 2026
Pemuda Kediri Nekat kerja di luar negeri (Selandia Baru) sebagai Tukang Cukur. MOJOK.CO

Pemuda Kediri Nekat ke Selandia Baru sebagai Tukang Cukur usai Putus Cinta dan Ditolak Ratusan Lamaran Kerja

10 Maret 2026

Video Terbaru

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA

Dr. Fahruddin Faiz: Sikap Anak Muda Menghadapi Era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity)

9 Maret 2026
Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

Sunan Geseng: Dari Petani Nira Jadi Wali Utama

8 Maret 2026
Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

Merawat Harapan Kopi Robusta Desa Japan: Dari Petik Asalan ke Petik Merah

4 Maret 2026

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Aktual
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.